Yosfiqar Iqbal Travel Blogger Wanna Be Kalau Merasa Hidup Tidak Berguna, Inget Aja AC di Dashboard Angkot

Rasanya hegemoni bule sebagai ‘warga’ ekslusif yang selalu terlihat superior entah ketika mereka sebagai turis, atau ekspat pekerja, akan segera berakhir. Atau setidaknya dikotomi bahwa mereka spesial, bahkan, mempunyai privilege lebih dibanding warga negara Indonesia harus segera disudahi.

Apalagi belakangan banyak berita baik di portal berita daring maupun maupun kejadian viral di media sosial mengabarkan betapa mengganggunya bule yang terlantar, hingga mengemis ketika plesiran di sejumlah destinasi wisata tanah air. Modusnya berbeda-beda, mulai dari mengemis hingg jadi tour guide ilegal. 


Sepengalaman saya, biasanya mereka datang negara maju ke negara berkembang yang secara hukum peraturan keimigrasian dan penegakkan hukumnya lebih longgar. Negara berkembang, seperti Indonesia, biasanya menetapkan barrier entry yang tidak terlalu ketat bagi negara-negara Eropa, Australia, Asia Timur, dan Amerika Utara sebagai pasar utama produk pariwisata. Mereka masuk Indonesia dengan visa turis, lalu party-party, belanja-belanja, hidup bak royal family yang sedang tetirah, lalu kehabisan uang, dan akhirnya menyalahgunakan izin wisata dengan menjadi pencari uang untuk pulang, bahkan gilanya, ada yang terang-terangan bilang untuk melanjutkan liburannya.

Kalau sudah kehabisan uang, aneh-aneh memang tingkah bule ini. Bukan hanya di Indonesia. Saya beberapa kali mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana ajaibnya bule-bule kere bertingkah ketika kehabisan uang.

1. Di Siem Reap, Kamboja
Pertama kali masuk hostel di Siem Reap saya langsung disambut masalah aliran listri hostel yang padam. Akibatnya saya check-in dengan manual, cuma dicatat di buku panjang mirip buku catatan kasbon di warung. Saya mendapat bunk bed di seberang kasur seorang pelancong dari Spanyol. Dari awal saja ini bule udah banyak tingkah, suka keluar masuk hostel dengan seorang perempuan yang berbeda. Suatu pagi ketika saya bersiap packing, dia menyapa saya. Ramah.

“Hi, how are you? Where you from?”

“Fine. Indonesia. You?”

“Mallorca.”

“Spain. Awesome!”

“Indonesia too…”

Chitchat basa-basi itu nyaris menjadi sebuah diskusi menyenangkan sebelum,

“My friend…could you lend me some money?”

“Sorry?”

“Just 25 dollars…”

TAEK!

LU KIRA GUE NAHAN LAPER DARI TADI KARENA PUASA SENEN KEMIS ATAU DIET MAYO? KARENA NGIRIT, SUPRIYATNA!

2. Di Pnom Penh, Kamboja Masih di Kamboja. Ini saya yang pilih penginapan atau memang ini negara punya masalah serius soal perturisan, sih? Ketika pengelola hostel mengantar saya ke sebuah dormitory room, dia mengingatkan saya supaya tidak mengganggu seorang Amerika yang tertidur di kasur paling pojok. Menurut si pengelola, turis tersebut sedang sakit. Okelah, not big deal. Saya pun keluar untuk eksplore sekitar Pnom Penh. Ketika kembali ke hostel, di kamar hanya ada saya dan si bule sakit. Bedanya, dia mengeluarkan suara-suara mengerang seperti orang demam. Ya sudahlah, namanya juga orang sakit. Saya pun bersiap tidur dengan starter pack andalan, buka baju, pakai celana kolor, dan streaming film sambil menunggu kantuk datang.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan cara yang bisa bikin orang mati bangun lagi karena kaget. Saya yang sedang asyik nonton dengan telinga tersumbat earphone saja terlonjak saking kagetnya. Beberapa petugas berseragam bertampang bule masuk menyergap. Dalam hati saya bertanya-tanya, “SALAH APA NIH GUE SAMPE DIGEREBEK CIA GINI? APA KARENA GUE TERLALU MIRIP LENARDO DI CAPRIO?”

Ternyata badan telanjang dada dan perut bergelambir lemak saya sama sekali tidak menarik perhatian petugas-petugas tersebut. Mereka menyambangi bule sakit di pojok ruangan. Terjadi lah perdebatan dan adu argument antara si bule dan petugas. Ternyata petugas ini adalah utusan dari kedutaan Amerika Serikat untuk menjemput paksa si bule. Jadi bule ini sudah lama overstay di Kamboja, tidak kuat membayar kamar, dan kepolisian Kamboja tidak berani menangkapnya karena memang tidak ada pelanggaran hokum yang mengharuskan mereka menggunakan wewenangnya. Maka dari tu pihak hostel menghubungi US Emabssy.

Itu bule awalnya keukeuh tidak mau diciduk petugas kedutaan. Tetapi bak orang tua yang lagi nakut-nakutin anaknya yang ogah makan dengan cara, “Ayo diabisin makanannya, kalo susah nanti mama laoprin pak Polisi loh biar kamu ditengkep!”, pihak kedutaan pun memberi opsi bagi si bule, mau diserahkan ke Polisi Kamboja karena merugikan orang lain, atau ikut mereka untuk siap-siap di deportasi. Bijak bagi si bule karena dia pilih opsi ke dua. Pulang gratis, coy!

3. Masih di Pnom Penh, Kamboja

Masih di hostel yang sama. Jangan tanya ada masalah apa ini hostel sama bule-bule, kok banyak amat masalahnya, saya juga bingung. Jadi ketika saya baru check-in, di meja lobby yang bisa merangkap sebagai bar ada seorang bule yang sangat tekun memperhatikan laptop. Tanpa bermaksud mengintip, sekilas saya melihat dia sedang main game kartu.

Sore ketika saya ingin berjalan-jalan dan melewati lobby itu bule masih dengan posisi yang sama, teguh dengan permainan di laptopnya. Saya pulang menjelang malam, dia masih ada di sana tidak bergerak. Kalau ada orang yang tidak waspada, mungkin si bule sudah dikira patung hiasan hostel.

Saya check-out sehabis subuh karena harus mengejar bus pertama menuju Laos. Saya hampir berteriak karena di dalam gelapnya lobby ada sosok tinggi yang duduk di depan sebuah layar menyala. Cahaya remangnya menerangi wajahnya dari bawah, jadi mirip setan-setan di film Suzanna tapi ini versi bule. TERNYATA ITU BULE YANG SAMA DENGAN YANG SAYA LIHAT SEJAK CHECK-IN KEMARIN! DENGAN POSISI YANG SAMA! Untung yang jaga lobby sudah bangun lalu mengingatkan saya supaya jangan mengganggu bule itu, karena gampang marah.

“Dia lagi main poker online, berjudi. Kalau kalah suka teriak-teriak.”

Ya Allah, main judi aja jauh-jauh amat ke Kamboja. Lebih baik di rumah aja, ajak siapa gitu taruhan bola, yang kalah harus pindah ke Pluto naik bajaj Blok M.

4. Di Yogyakarta, Indonesia

Ini baru sekali saya alami. Jadi ketika terakhir saya ke Yogya saya menginap di bilangan Prawirotaman. Sebuah daerah yang memang secara de facto adalah pemukiman bule ekonomis yang sedang berlibur di Yogya. Di sana banyak bar yang menjadi tongkrongan bule minum-minum hingga dugem sampai pagi.

Saya menginap di kamar dormitory, ada bule yang baru masuk kamar jam lima pagi. Jam tersebut bagi saya, dan bagi manusia normal pada umumnya, adalah awal dari seluruh kegiatan. Jadi ya mesti bongkar-bongkar tas, ganti baju, budidaya marmut, hingga packing. Karena ini dormitory, semuanya dilakukan di atas kasur. Si bule yang baru pulang teller ini kayaknya ngantuk berat, kepengen langsung tidur tapi terganggu dengan suara-suara yang saya timbulkan. Dia menegur. Oke, saya mengalah dan meminilmalisir bunyi dari kegiatan saya. Tapi sekuat apa pun saya berusaha, suara-suara tetap ada. Ya menurut lo, gimana coba pake baju tanpa menimbulkan suara?

You know what si bule ngomong apa? 
“HEI YOU! GO OUTSIDE!”

DIUSIR DONG!

Sedikit menahan emosi saya keluar dari kamar. Untung ini bukan zaman perang grilya, kalau iya saya sudah cari bambu runcing. Jadi begini rasanya dijajah di negeri sendiri?

Lalu saya cerita ke petugas hostel, bukan complain karena ini sama sekali bukan kelalaian mereka, bahwa ada kelakuan bule yang mentalnya kayak Daendels. Ya namanya juga dormitory, satu kamar ada beberapa orang. Harganya murah karena ada privasi yang sedikit dikorbankan, kalau mau betul-betul tenang ya nginep sono di private room. Toh saya juga sebetulnya tidak berisik, tidak teriak-teriak, tidak ngundang Elvi Sukaesih buat bikin orkes dangdut.



Demikian segelintir kisah-kisah saya dengan bule yang ajaib-ajaib. Saya cukup gelisah dengan beberapa pemberitaan tentang bule ini hingga muncul istilah begpacker. Ernest Prakasa dalam sebuah cuitannya bilang kurang-lebih begini, “sudah saatnya kita tidak merasa inferior dengan menganggap turis bule itu spesial dan kita di bawah mereka.”. Sulit memang mengubah mental feodalisme yang sudah tertanam sejak 350 tahun kita dijajah Belanda.

Untuk bidang pariwisata, saya cukup bersyukur, tidak pernah rasanya terdengar backpacker asal Indonesia terkatung-katung di negara orang. Mungkin sulitnya visa bagi WNI ke negara lain bisa disikapi positif dengan berpikir bahwa dengan begitu kita jadi bisa mempersiapkan segala sesuatunya sebelum liburan, termasuk finansial. Bahkan untuk bersenang-senang pun kita butuh persiapan. Selamat berlibur, semoga tidak bertemu bule yang aneh-aneh =)
Terima kasih Tuhan, atas makanan-makanan enak dan tempat bermalam yang nyaman selama perjalanan…



Liburan ke Yogya tuh memang sudah paling tepat kalau lagi suntuk tapi butuh jalan keluar singkat untuk rehat dari kejaran rutinitas menguras energi. Kota ini punya paket lengkap wahana yang dibutuhkan untuk rekreasi, mulai dari alam, sejarah, hingga budaya. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta menjadi nilai plus tersendiri karena bisa dikunjungi di akhir pekan.

Kalau ke Yogya, selalu kepikiran untuk cari penginapan dekat Malioboro. Rasanya kebanyakan orang begitu. Alasannya karena biar mudah kalau mau ke mana-mana. Lokasi yang terletak di pusat kota memang memungkinkan Malioboro memiliki segala akses kemudahan tersebut. Di tambah lagi kawasan ini memang sejak dulu ditetapkan sebagai poros ekonomi kesultanan dengan Pasar Bringharjo sebagai inti. Jadi soal keramaian dan kemasyhuran, Malioboro adalah market leader bagi target pasar para pencari tempat bermalam ketika mereka mengunjungi Yogyakarta.

Namun belakangan, industri properti berupa penginapan murah di Yogyakarta bukan hanya melulu soal Malioboro. Semakin banyaknya destinasi-destinasi wisata baru yang ditemukan, kuliner-kuliner penantang gudeg dengan signature taste Yogya baru banyak bermunculan, dan tentu saja kekuatan media sosial membuat sektor pariwisata meningkat pesat. Penginapan-penginapan pun menjamur.

Bicara soal Yogyakarta, bagi sebagian orang adalah biaya hidupnya yang relatif bersahabat. Harga-harga komoditas yang tidak terlalu mahal namun bisa mendapatkan pengalaman premium, adalah hal utama yang ditawarkan Yogyakarta sebagai tujuan destinasi wisata. Penginapan pun banyak yang harganya terjangkau. Sebagai komponen paling paling penting dalam akomodasi saat traveling, penginapan murah ini sangat menolong saya yang menganggap penginapan dengan harga di atas dua ratus ribu rupiah per malam saja sudah masuk kategori mahal.

Kalau ingin cari penginapan dengan atsmosfer yang berbeda dengan Malioboro, datanglah ke kawasan Parawirotaman, Yogyakarta. Berbeda dengan Malioboro dengan jejeran batiknya, maka di kawasan ini berjejer caf-café, bar, dan tentu saja dengan penginapan amat sangat terjangkau dengan pemandangan bule-bule berlalu lalang. Prawirotaman seperti Kuta di Bali atau Khaosan Road di Bangkok, yang sebagian besar populasinya warga negara asing.

Ada satu penginapan unik di kawasan ini bernama Otu Hostel, cocok bagi yang mencari penginapan murah di Yogyakarta tanpa harus mengorbankan kenyamanan. Dan rasanya ini juga penting di era media sosial sekarang ini, Otu Hostel sangat paham bahwa berdandan supaya ‘pantas’ masuk feed Instagram netizen adalah sebuah kewajiban bagi kebanyakan bisnis.

Setelah masuk sebuah gang di sisi jalan utama Prawirotaman dan melewati beberapa belokan di tengah-tengah rumah penduduk, dari depan pagar sudah terlihat meja resepsionis yang langsung terhubung dengan gathering room dengan bantal kasur, dan kolam renang outdoor. Konsep terbuka tanpa banyak sekat-sekat dan tembok nampaknya menjadi pilihan hostel dengan cat dominan putih ini, menjadikan kesan luas dan bebas sangat terasa begitu kita melewati meja resepsionis.

Di sisi-sisi kolam renang ada kursi-kursi panjang untuk berjemur atau sekadar nonton orang berenang. Di bagian yang tertutup atap ada area santai dengan meja dan kursi kayu bergaya tradisional dengan hiasan dua sepeda ontel yang semakin menguatkan kesan etnisnya. Di dindingnya banyak typografi-typografi menarik dan mural yang bisa digunakan sebagai spot foto. Disediakan pula dapur yang bisa digunakan untuk masak bagi tamu, kopi dan teh gratis selama meginap, dan sebuah PC untuk browsing internet. Wifi? Kenceng, Bro!

Penginapan di Yogyakarta satu ini memiliki hostilitas prima dengan petugas-petugas yang ramah dan sangat helpful, mereka berjaga 24 jam. Karena di kawasan ini banyak bule-bule yang kalau malam dugem dan baru pulang menjelang pagi, jadi pelayanan 24 jam ini memang diperlukan. Mau sewa motor atau mobil tinggal bilang, arrange tur bisa, bikin sarapan oke, bangun candi juga asal kuat bayarnya kayaknya dikerjain juga. Soal kebersihan dan kerapihan pun Otu Hostel ini sungguh menjaganya, ada area untuk menjemur pakaian dan handuk.

Menuju ke kamar, saya menginap di dormitory room berisi 6 orang dengan bunk bed. Beberapa penginapan di Yogyakarta juga sudah mulai banyak yang menyediakan dormitory, tetapi ada sedikit yang membedakan Otu Hostel ini dengan yang lain. Yang pertama, di tiap tempat tidurnya ada gorden penutup. Jadi walaupun tidur rame-rame dalam satu ruangan, privasi masih bisa terjaga. Untuk tamu wanita berhijab tidak perlu khawatir berganti jilbab atau membukanya ketika tidur. Yang ke dua, nah ini yang asyik, di setiap sisi kasur ada semacam perosotan supaya yang tidur di kasur atas tidak perlu angkat-angkat barang kalau mau di bawa turun. Bisa juga sih untuk orang turun, tapi mesti hati-hati. Saya mencoba dan hard landing yang menyebabkan tulang ekor lumayan nyeri. Hehehe. 






Saya sunguh memahami kegelisahan sobat kelas menengah yang membaca artikel ini dan mencari-cari informasi harga, I feel you. Saya waktu itu booking di salah satu travel agent daring mendapat harga 90 ribu rupiah per malam per orang untuk dormitory room. Tersedia juga private room sngle, double, dan family room. Kalau dicek harga berkisar antara 100-400 ribu rupiah.

Jadi dengan harga 90 ribu rupiah itu, saya dapat apa saja?

- Kasur bunk bed dengan colokan, lampu tidur, dan selimut.

- Handuk.

- Wifi

- Loker (ini optional, kalau mau pakai kita harus deposit sebesar lima puluh ribu rupiah)

- Dapur buat nyeduh mie instan

- Teman baru dari berbagai negara (80% turis di Prawirotaman adalah WNA)

- Kopi dan teh gratis

- Berenang sampe kisut

Lumayan banyak untuk ukuran harga 90 ribu. Jika memang tertarik langsung saja booking, atau datang langsung ke Jl. Prawiro Taman I Gang Batik Gringsing No. 517, Brontokusuman, Mergangsan, Brontokusuman, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153. Naik ojol dari Stasiun Lempuyangan atau Tugu kira-kira lima belas menitan. Ada dua tempat kuliner hype di sekitar Otu Hostel ini, yaitu Tempo Gelato, toko es krim beraneka rasa mulai dari yang umum seperti cokelat hingga yang aneh seperti rasa kemangi atau chili chocolate. Yang kedua adalah Via Via restoran, tempat makan yang mengusung menu sehat tanpa MSG ini pernah ngetop karena adegan film Ada Apa Dengan Cinta 2,

“Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu jahat!”

“Maaf Cinta, aku kan cuma mau kirim paket waktu itu di JNE.”

“Aku gak suka ya kamu ngasih-ngasih alamat kamu ke cewek lain!”

“Iya deh nggak, yang aku kasih alamat emailnya Mark Zuckerberg, kok.”

-TAMAT- 
 
 
 
Post Credit Scene:
 
 
 
 

Pergi ke Kashmir akan menjadi perjalanan paling mengesankan dalam hidup saya. Semoga bukan perjalanan menakjubkan yang terakhir, tapi saya pastikan, kalaupun nanti saya mengalami sebuah perjalanan hebat lagi di lain waktu, itu tidak akan menggeser Kashmir dari daftar tujuan paling memorable dalam curriculum vitae traveling saya.

Di Kashmir, untuk pertama kalinya saya yang makhluk tropis tulen ini akhirnya bisa merasakan musim dingin. LIHAT SALJU! Awal tahun adalah puncak musim dingin di sana, tebal saljunya bisa lebih dari tinggi orang dewasa. Di Kashmir, saya merasakan suhu hingga minus dua belas derajat celcius, rasanya kepengen mandi pakai kopi torabika yang baru diseduh.

Sepanjang perjalanan dari bandara Kota Srinagar menuju Dal Lake, sebuah danau besar di kawasan Kashmir, warna dominan putih mengcover tiap petak ladang, atap rumah, hingga batang-batang pohon tanpa daun. Para penduduk dan tentara terlihat tidak banyak bergerak dan memilih mencari kenyamanan dalam pakaian hangat mereka.

Tujuan saya adalah Dal Lake. Di sana lah saya akan menginap, menghabiskan dua malam di bekunya udara Kashmir. Dal Lake menjadi salah satu faktor yang membuat saya cukup antusias. Karena penginapan saya akan berada di tengah-tengahnya berbentuk perahu.

Di tepian danau ada berjejer gat (dermaga) tempat perahu-perahu bersandar untuk mengantarkan penumpang dari dan ke house boat mereka. Biasanya harga menyebrang sudah termasuk dengan harga menginap. Tetapi, kalau ingin menyebrang di luar pergi-pulang ke penginapan, harganya sekitar 15-20Rs.

Perahu yang saya tumpangi bersandar di gat nomor 7, sesuai dengan alamat yang diberikan pemilik house boat. Awalnya saya sempat khawatir akan tersasar mengingat banyaknya dermaga, namun ternyata patokannya cukup mengingat di gat nomor berapa. Semua driver atau travel agent mana pun di Kashmir pasti tahu ke mana harus mengantar atau menjemput.

Pemilik perahu mengendalikan kendaraan yang kami tumpangi dengan sebilah kayu panjang. Perahu kayu kecil itu sudah dipersiapkan menyambut musim dingin. Di deknya terdapat kursi lapis beludru dan selimut. Saya merasa lebih keren dari Sultan Persia saat itu. Cewek-cewek cantik yang naburin bunga mana, nih?

Perahu berjalan pelan namun pasti, seolah ada autopilot yang membuatnya tidak salah memilih jalur di antara gang-gang house boat yang rapat. Setiap berpapasan dengan perahu lain, pemilik dari perahu lain itu menyapa kami. Keramahan ala Khasmir yang membuat musim dingin di sana terasa hangat. Dan ada beberapa perahu yang mendekat untuk sekadar menawarkan saffron, bunga khas Kasmir yang konon katanya memiliki banyak manfaat, harganya mahal.

Saya menginap di sebuah house boat milik Kashmiri bernama Shani. Sebuah perahu kayu berlambung besar dengan dek yang di modifikasi menjadi beberapa ruangan untuk dapur, kamar tidur, gathering room, hingga toilet.

Roti Kashmir dan omelet menjadi menu makan siang saya ketika baru sampai. Penjaga house boat dengan telaten mengenalkan tempat menginap saya soal letak ruangan-ruangan yang mungkin saya perlukan, memberitahu password wifi, mengajari bagaimana cara mengaktifkan pemanas air di toilet, dan menunjukkan arah kiblat karena mereka tahu saya dari Indonesia dan muslim.

Saya menginap di kamar untuk ukuran twin bedroom. Bertumpuk-tumpuk lapisan selimut terbuat dari wol Kashmir disiapkan guna menyelamatkan saya dari suhu minus tujuh saat malam datang. Kasur empuknya juga dilengkapi oleh heater. Interiornya yang dominan merah marun menambah kesan hangat suasana di dalam. Masih kedinginan? Tenang saja, ada alat pemanas tradisional berupa tungku berbentuk tabung alumunium untuk membakar kayu. Sekadar informasi, fasilitas ini tidak akan ditemui jika menginap di hotel konvensional atau berbintang. Ketika malam tiba, duduk di dekat tungku ini sambil menikmati secangkir teh Kashmir sungguh membuat udara dingin menjinak.

“This is for you, the best tea in the world!” Begitu kata mereka ketika menyajikan teh.



Dari kamar, tidak bisa memandang ke luar jendela karena house boat yang berhimpitan. Jadi kalau mau melihat pemandangan Danau Dal, pergi lah ke balkon di bagian belakang house boat. Voila, komplek perumahan perahu dengan latar perbukitan yang seperti ditaburi gula halus berwarna putih siap menemani waktu minum teh atau kopi.

Berapa harga per malamnya? Ada beberapa pilihan untuk ke Kasmir. Jika kita memilih untuk memakai travel agent, biasanya harga sudah masuk di dalam harga paket wisata. Paket paling umum dan ekonomis adalah 17.500Rs untuk tur India dengan rute Jaipur, Agra, New Delhi, dan Kashmir. Tetapi jika memutuskan untuk datang sendiri pun tidak masalah, harga per malam di house boat berkisar antara 100-200 ribu rupiah/pax/night. Tergantung lokasi dan musim. Karena tiap musim memerlukan treatment berbeda bagi pengunjung. Contohnya kalau musim dingin mereka perlu menyiapkan kayu bakar dan pemanas tambahan.

Kekurangan menginap di house boat Danau Dal, Kashmir, ini adalah listriknya yang kadang-kadang mati karena daya yang harus banyak berbagi dengan house boat lainnya. Tetapi biasanya terjadi di malam hari ketika kita nyenyak tidur, itu pun tidak lama. Jadi jangan khawatir untuk mengisi daya gadget semalaman untuk persiapan tur esok hari.

Kashmiri (sebutan untuk orang Kashmir) sangat ramah. Jangan sungkan untuk bertanya. Jika bingung mau ke Kashmir, silakan kontak Kashmiri yang saya temui selama di sana. Mereka sangat helpful. “We aren’t Indian, we are Kashmiri.”. Selamat berlibur, di surga dari bumi =)

Shani : +91 99064 68482

Hilal : +91 70069 70151

Idris : +91 90184 56683


“Kalo mau naek gunung beneran, coba ke Gunung Ciremai lewat jalur Linggarjati”

Ini kedua kalinya saya ke Gunung Ciremai. Yang pertama punya cerita cukup spesial karena saya dan tim mendaki disambut hujan deras di jalur Palutungan, dan ada anggota yang sudah berumur 60-an. Semua pakaian yang saya bawa basah waktu itu, padahal sudah saya lapisi plastik dan tas pun rasanya rapat terlindung rain cover. Bisa dibayangkan derasnya hujan saat itu sedahsyat apa.

Kutipan di atas adalah perkataan seorang teman yang suatu hari sempat berbincang dengan saya tentang gunung. Dan akhirnya datang juga celah waktu, dan kelebihan rejeki untuk saya kembali mengunjungi Gunung Ciremai. Namun, lewat jalur yang berbeda. Melalui jalur yang pernah disarankan teman saya. Jalur Lingarjati.

Saya informasikan sedikit bagaimana cara ke pos Linggarjati. Kalau dari Jakarta, naik bus tujuan Kuningan, nanti turun di depan minimarket pos Linggarjati. Lalu carter angkot ke basecamp. Jika naik kereta, maka stasiun terdekat adalah Cirebon. Dari sana bisa naik mobil elf, atau travel. Enaknya jalur Linggarjati adalah, selalu ramai di jam berapa pun karena tepat di sisi jalur Pantura. Letak basecamp-nya tidak jauh dari Museum Perjanjian Linggarjati, tempat di mana dulu para founding father kita berunding dengan Belanda yang mengakui secara de facto wilayah RI meliputi Jawa, Madura, dan Sumatera. Biaya simaksi lima puluh ribu rupiah, sudah termasuk paket sekali makan, dan nanti dapat sertifikat.


Gunung Ciremai adalah gunung tertingi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl (meter di atas permukaan laut). Melalui jalur Linggarjati, kita hanya perlu naik angkot 10 menit dari titik turun bus di ruas Pantura untuk sampai basecamp dan mengurus simaksi. Berbeda dengan gunung lain, yang untuk mecapai basecamp-nya saja harus gonta-ganti moda transportasi karena letaknya yang jauh di atas. Jadi, bisa dikatakan mendaki Gunung Ciremai dari pos Linggarjati betul-betul dimulai dari hampir titik nol. Dengan kata lain, kalau memang sampai puncak, maka 3.078mdpl itu nyaris seluruhnya ditempuh dengan kekuatan kaki.

Ada beberapa situasi menantang yang memerlukan perhitungan matang untuk mencapai puncak Gunung Ciremai jika melalui jalur Linggarjati.

1. Minim Air

Sumber air terakhir berada di pos 3. Itu pun harus berjalan sekitar setengah jam untuk mencapainya. Saran saya, beli jerigen di warung-warung dekat basecamp dan isi penuh semuanya di sini. Bijak-bijak menggunakan air, sampai puncak sudah tidak ada lagi sumber air yang proper.

2. Pos Yang Banyak

Mendaki Gunung Ciremai via Linggarjati memerlukan kesabaran dan fisik ekstra. Ada 13 pos yang harus dilewati. 13 pos, cuy! Lewat jalur Palutungan saja hanya ada sekitar 5-6 pos. Di sini saya baru paham, “…naek gunung beneran…”. Situasi seperti ini membuat pendakian rata-rata, jika ingin sampai puncak, membutuhkan waktu 3 hari 2 malam.

This is the situation, kalau di malam ke dua belum sampai, setidaknya pos 10 ke atas, maka lupakan ke puncak. Nikmati saja bermalam di tenda lalu turun keesokan paginya. Sekadar informasi, saya buka tenda di pos 11, summit jam 5 pagi dan baru sampai puncak jam 9-an. Bagaimana kalau berjalan terus walau sudah malam untuk memburu waktu? Bisa saja. Tapi ingat poin nomor 1. Dengan banyaknya pos dan sulitnya medan, konsumsi air akan semakin banyak. Belum bekal untuk perjalanan ke puncak yang kalau cuaca cerah sangat terik dan kering, bikin tenggorokan sangat mudah merindu sentuhan air. Belum untuk keperluan memasak, cuci-cuci, dan lain-lain.

Mendaki Gunung Ciremai lewat pos Linggarjati memang seru, tetapi dilematis. Stamina, persediaan air, dan waktu harus cocok semuanya. Ada salah satu yang terlewat, lupakan ke puncak, atau hanya akan mebahayakan diri sendiri. Selesai? Belum. Satu-satunya pemandangan indah di Ciremai adalah di puncak, selebihnya hutan, hutan, dan hutan belaka. Hayo, kalau mau foto-foto buat konten sosmed ya harus sampai puncak. Untuk sampai puncak, ya harus mempertimbangkan faktor-faktor tadi. Dilematis, kan? Oh iya ada pos yang namanya cukup spooky, ‘Kuburan Kuda’. Cuek saja kalau sampai sini, santai, oke? Oke, selamat mendaki!






Pergi liburan ke luar negeri tidak semua orang mampu baik dalam segi waktu, materi, atau kesanggupan. Namun, jauh sebelum saya memiliki semua itu, bepergian ke luar negeri masih bisa saya bayangkan. Yan tidak pernah terbayang adalah, pergi ke luar negeri yang daerahnya adalah bagian dari konflik horizontal antarbangsa.

Mungkin tidak seekstrim Afganistan, Irak, atau negara-negara Afrika yang sedang berjibaku dengan perang saudara berkepanjangan. Pergi ke Kashmir, sebuah daerah yang sejak kurang lebih tujuh puluh tahun lalu menjadi ‘lahan’ sengketa antara India, Pakistan, dan Tiongkok sungguh tidak pernah terbayangkan bahkan dalm mimpi terindah saya.

Saya tidak bisa cerita panjang tentang sejarah Kashmir Karena selain saya bukan ahlinya, tujuan ditulisnya artikel ini bukan untuk itu. Intinya, Kashmir adalah kawasan indah di kaki Himalaya yang sangat layak masuk ke daftar tempat wajib dikunjungi sebelum mati. Seberapa indahnya Kashmir? Well, beberapa kali saya ke tempat-tempat indah di Indonesia atau luar negeri, tetapi belum pernah saya membaca statement penuh percaya diri berbentuk sebuah plang di bandara bertuliskan, “WELCOME TO PARADISE ON EARTH”. Sebuah pernyataan yang tidak mungkin ada jika Kashmir biasa-biasa saja.

Saya ke Kashmir melalui India. Karena Kashmir adalah daerah konflik dengan treatment khusus dari pemerintah India, maka traveling ke sana pun perlu persiapan yang berbeda. Karena saya ke sana di Bulan Januari ketika musim dingin sedang berada pada puncaknya, maka saya akan berbagi tips traveling ke sana dengan beberapa kondisi musim dingin. Berikut yang mesti diperhatikan jika berencana traveling ke Kashmir.

1. Transportasi, dan Jadwal Penerbangan Setahu saya, dari kota-kota besar di India, Kashmir hanya bisa diakses lewat udara melalui New Delhi. Penerbangan saya ke Kashmir sempat dicancel dan saya mencari alternatif lain ke sana melaui bandara lain, tetapi tidak ada. Tujuannya adalah Kota Srinagar. Ada dua maskapai budget yang saya rekomendasikan tujuan Srinagar, yaitu Air Asia dan Indigo. Ingat, masing-masing maskapai hanya punya sekali jadwal terbang ke Srinagar dalam sehari.

Jika sedang musim dingin, bersiap-siap dengan delay cukup lama atau bahkan reschedule penerbangan karena bisa jadi Srinagar dan sekitarnya sedang dilanda cuaca buruk akibat lebatnya salju. Kalau musim dingin, pesawat adalah satu-satunya moda transportasi yang bisa ke Kashmir melalui Srinagar. Bus dan kereta tidak akan bisa karena jalur ke sana ditutup akibat salju.

2. Bersikap Wajar Saya sudah memberi highlight sekilas bahwa Kashmir adalah daerah konflik, dan seperti daerah konflik lain, pemerintah India seperti memberlakukan darurat militer di sini. Mulai dari bandara, kawasan pertokoan, perempatan jalan, hingga gang-gang rumah penduduk kita akan biasa menjumpai serdadu berpakaian loreng lengkap dengan senjata laras panjang tersampir di bahu.

Jangan panik atau bersikap aneh, sudah tugas mereka untuk waspada hingga kadang seperti mengintimidasi. Mereka kerap melakukan random checking terutama bagi turis. Di beberapa tempat wisata, mobil yang saya tumpangi disuruh berhenti, saya disuruh turun lalu isi tas diperiksa, dan diminta menunjukkan paspor. Pernah botol minum saya oleh tentara dibuka lalu dicium isinya, entah lah, mungkin mereka mengira isinya cairan kimia yang bisa meledak. Padahal kalau itu betul, saya sudah meledak sejak di New Delhi.

Agak mengganggu memang perlakuan tentara di sana. Ini saya rasakan ketika akan pulang kembali ke New Delhi. Mau masuk bandara, saya masih di dalam mobil dicek satu-satu semua dokumen dan tiket. Lalu di suruh turun dan berjalan ke sebuah pos jaga lalu melewati beberapa pemeriksaan x-ray. Sesudah di dalam bandara pun kegiatan lewat melewati mesin x-ray masih terjadi beberapa kali. Itu belum termasuk pemeriksaan manual di mana semua isi tas saya diperiksa, kamera SLR saya disuruh dinyalakan dan dicek isi fotonya, hingga payung biru kesayangan saya hampir disita karena dikira senjata tajam.

Ribet? Iya. Tapi itu lah harga kedaulatan sebuah negara, dan kita mesti hormati.

3. Berpakaian Sopan
Sebetulnya tidak hanya ke Kashmir saja, berpakaian sopan wajib di mana pun. Kashmir adalah wilayah yang free dominantly muslim, dan tujuan wisatanya ada masjid juga. Tidak ada salahnya kita berpakaian sopan, minimal bercelana panjang. Kita tidak pernah tahu tingkat standar kepatutan di sana. So, yes, lebih aman kalo berpakaian yang tidak banyak memancing perhatian.

Waktu saya ke sana kebetulan sedang winter. Jadi tidak ada alasan untuk menggunakan pakaian aneh-aneh. Saya merasakan suhu paling dingin di Kashmir menyentuh minus dua belas derajat celcius. Di penginapan, di tengah Danau Dal, suhunya minus tujuh derajat. Saya ingin membuat pengakuan, selama tiga hari di Kashmir saya tidak mandi. Tidak usah membayangkan dinginnya air, membuka baju pun saya tidak berani.

4. Kartu SIM

Sesampai di Kashmir, walaupun kita sudah memiliki kartu SIM India, kita tetap harus ganti dengan nomor lokal atau paling tidak harus reggistrasi lagi. Paket roaming dari provider Indonesia pun tidak berlaku di sini. Entah apa tujuan divisi komunikasi dan informasi India memberlakukan kebijakan ini. Mungkin karena supaya pemerintah sana bisa lebih mengontrol jalur komunikasi yang keluar-masuk kali, ya? Namanya juga daerah konflik.

5. Waktu Kunjungan
Jangan ke Kashmir ketika hari kemerdekaan India (26 Januari). Why? Sebagai bentuk protes, pada hari itu nadi kehidupan di Kashmir lumpuh. Semua toko tutup, mereka yang berdagang memilih diam di rumah sementara di berbagai kota lain di India mengadakan peringatan hari kemerdekaan secara meriah. Namun, kita tetap bisa ke tempat-tempat wisata andalan Kashmir seperti Gulmarg, Pahalgam, atau Pari Mahal. Terbayang kan, lagi liburan tapi nyaris semua sarana dan prasarana tutup?

Mengutip perkataan Shani, pemilik house boat tempat kami menginap, waktu terbaik untuk mengunjungi Kashmir adalah saat musim panas. Di mana lembah-lembah sedang hijauh-hijaunya dan bunga tulip bermekaran. Antara bulan April atau Mei.
 
6. Tempat Wisata
Saat musim dingin, dan ini berdasarkan pengalaman saya, tempat wisata utama di Kashmir adalah:

- Gulmarg : Untuk ke sini butuh dua kali ganti mobil karena jalan yang menajak dan bersalju. Di sana kita bisa naik gondola dan main ski.

- Pahalgham : Atraksi utamanya adalah naik kuda poni melewati padang salju dan hutan cemara. 


Tentang pengalaman main ski dan naik gondola di Gulmarg akan saya tuliskan di artikel lain. Kalau ke Kashmir di musim lain, mungkin bisa ke kebun bunga Indira Gandhi.

Demikian informasi yang bisa saya bagi tentang Kashmir. Semoga daerah ini tetap indah adanya, dan yang terpenting selalu damai. Amin.






Ketika travelling ke luar negeri, hal yang membuat saya excited adalah mencoba transportasi umumnya. Khususnya yang tidak ada di Indonesia. Di Indochina ada tuktuk, di India ada auto ricksaw, lalu di Malaysia dan Singapura ada MRT.

Dulu sempat senang tuh waktu proyek monorail di Jakarta digadang-gadang akan menjadi solusi kemacetan ibukota yang sangat semrawut kayak rambut Kunto Aji belom keramas dua siklus revolusi tata surya. Nyatanya, angan-angan saya bisa naik moda transportasi yang seperti dimiliki negara-negara maju tersebut harus tertunda.

Dan pada bulan Maret 2019 yang lalu, akhirnya Indonesia punya angkutan umum massal berbasis rel dengan spesifikasi ‘wah!’ bernama MRT (In English= Mass Rapid Transit, Bahasa Indonesia= Moda Raya Terpadu). Kenapa ‘wah!’? Karena sebelumnya, MRT ini dalam mindset saya hanya dimiliki oleh negara-negara maju.

Peresmian MRT menimbulkan euforia luar biasa bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Berbondong-bondong mereka menjajal seunggul apa transportasi baru berplatform rel ini. Saya pun tidak mau ketingglan, dong, biar tidak dikucilkan dari pergaulan dan tatanan sosial. Sewaktu masa percobaan gratis, ponsel saya sudah seperti Stasiun Manggarai, isinya foto-foto kereta MRT yang diupload kawan-kawan media sosial saya.

Saya baru sempat mencoba MRT ketika masa percobaan gratisnya sudah habis. Jadi mesti bayar. Saya naik dari stasiun Dukuh Atas hingga ke Stasiun Terakhir di Lebak Bulus. Jarak terjauh harga tiket sekali jalannya Rp. 14.000.

Setelah saya coba, saya menemukan dua keunggulan MRT yang paling menonjol di antara moda-moda angkutan umum lain di Jakarta.

1. Ketepatan, dan Kecepatan Waktu Tunggu dan Waktu Tempuh
Menunggu MRT rasanya tidak perlu berlama-lama. Jarak antar satu kereta ke kereta berikutnya tidak sampai 10 menit. Ini penting karena bisa menghindari penumpukan penumpang. Tetapi yang paling krusial adalah waktu tempuh, dari Dukuh Atas sampai Lebak Bulus tidak lebih dari setengah jam. Harusnya, harusnya loh ya, ini menjadi daya tarik cukup signifikan bagi mereka yang mau pindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.


2. Bebas Hambatan 
Di tengah banyaknya keluhan pengguna Commuterline yang sering keretanya tertahan lama karena harus mengalah kepada kereta bandara, dan kereta jarak jauh, atau adanya gangguan sinyal, MRT datang memberi harapan bahwa masalah itu tidak akan terjadi. Karena MRT tidak berbagi jalur dengan kereta lain, dan teknologinya lebih canggih. Kalaupun berdesak-desakkan, setidaknya MRT lebih nyaman dibanding Commuterline.

Lalu apa keluhannya setelah menggunakan MRT? Nah, kemarin ketika saya mencoba MRT ini, saya juga membuat sebuah video pendek. Isinya mengenai pendapat seorang penumpang MRT yang mana teman saya sendiri. Coba diklik videonya, dan jika berkenan disubscribe juga channel Youtube-nya. Hehehe. 


Intinya, saya berharap kedepannya MRT bisa mengubah pola kebiasaan masyarakat dari menggunakan kendaran pribadi ke MRT. Apalagi kalau nanti MRT menambah jalur, wah, pasti lebih seru. Jalur yang menggurita dan integrasi dengan transportasi umum lain, rasanya cukup mengurangi kemacetan Jakarta secara massif.
Tuktuk di Indochina




author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.