Yosfiqar Iqbal Travel Blogger Wanna Be Kalau Merasa Hidup Tidak Berguna, Inget Aja AC di Dashboard Angkot

Hape kentang adalah aib bagi mereka yang suka bermain game mobile. Karena selain bisa menghambat kemampuan kita sebagai pemain, hape kentang juga rawan jadi bahan ledekan saat sedang mabar alias main bareng. Walau sebenarnya ledekan macam itu dilontarkan sebagai bentuk candaan, terkadang orang yang mendapat ledekan tersebut akan membuat mereka minder. Apalagi.. Ya, kita ini kan hidup di Indonesia. Dimana omongan orang lain bisa sangat berpengaruh pada mindset dan hidup seseorang

Tapi kalau ternyata hapemu bukan ROG Phone 2, mending nggak usah ikut-ikutan meledek, deh! Malu, lah. Udah ngeledekin hape orang, eh ternyata hapenya sendiri juga biasa saja. Saya sendiri sih tak pernah meledek seperti itu. Tapi setelah melihat dan mencoba ROG Phone 2 milik seorang teman, entah mengapa diri ini langsung merasa kalau hape yang saya pakai selama ini tuh kentang banget. Tinggal dipotong-potong aja, terus digoreng sampai jadi french fries.



Kalau untuk urusan main game sih harus diakui kalau ROG Phone 2 ini terasa punya kasta yang berbeda jika dibandingkan dengan smartphone lain yang bahkan berada di kelas flagship sekalipun. Kalian pasti tidak percaya, kan? Saya pun demikian awalnya. Tapi seletah mencobanya sendiri (walau cuma modal minjem), saya menemukan setidaknya ada 5 fakta soal ROG Phone 2 yang bikin hapemu jadi terlihat cupu:

1. Performa


Ibarat kata, produk keturunan ROG itu sudah pasti kencang sejak bawaan orok. Karena produsen PC dan laptop gaming ini memang sudah terkenal tidak pernah bercanda untuk urusan performa. Termasuk untuk produk smartphone yang mereka rilis. Berdasarkan data dari Antutu yang merupakan aplikasi benchmark populer untuk menguji performa dari smartphone, ROG Phone 2 sukses menempati posisi puncak klasemen.



Bagaimana tidak? Di sektor dapur pacunya, hape ini dijejali dengan chipset mobile paling powerful saat ini, yaitu Qualcomm Snapdragon 855 plus. Yang merupakan versi overclock dari Qualcomm Snapdragon 855 "biasa" yang sejatinya juga sudah amat kencang. Chip ini punya CPU octa-core berbasis Kryo 485 dengan maksimum clockspeed 2.95GHz. Dalam membangun chip ini. Qualcomm menggunakan teknologi fabrikasi 7nm yang diatas kertas akan membuatnya lebih powerful sekaligus tetap hemat daya.

Ditambah dukungan dari RAM LPDDR4X berkapasitas 8GB sampai 12GB, serta penyimpanan UFS 3.0 berkapasitas 128GB sampai 512GB yang akan membuat performa multitasking serta kecepatan membaca dan menyimpan data menjadi lebih optimal. Iya iya, saya tahu anda butuh pembuktian. Sama seperti wanita-wanita diluar sana yang menunggu dilamar karena sudah bosan digombalin terus. Nih, sudah saya siapkan hasil pengujian performanya:



Jika anda mengikuti perkembangan gadget, tentu anda sudah tahu bahwa ada beberapa smartphone lain yang lebih mahal, yang juga menggunakan chipset dan kapasitas RAM yang sama. Lalu, bagaimana bisa ROG Phone 2 memiliki performa yang mengungguli semua smartphone lain tersebut? Jawabannya adalah karena ROG Phone 2 tak hanya mengandalkan bagian hardware, tapi juga mengoptimalkan software nya. Yaitu dengan penerapan ROG UI yang punya segudang fitur pendukung gaming. Termasuk di dalamnya adalah fitur X-mode yang berguna untuk meningkatkan performa dari smartphone ini.

Tapi, menurut yang punya hape ROG Phone 2 yang saya pinjam ini, sebaiknya kita pakai aksesori original seperti AeroActive Cooler yang merupakan kipas pendingin aktif eksternal jika kita ingin merasakan performa yang optimal saat X-mode diaktifkan. Karena kalau pakai mode ini, ROG Phone 2 akan terasa lebih panas dari normalnya akibat performa yang ditingkatkan tersebut.

Walau demikian, menurut saya tanpa X-mode pun sebenarnya hape ini sudah sangat powerful. Ia mampu menjalankan berbagai game dengan amat lancar di settingan grafis rata kanan. Dan demi menjaga temperatur agar tetap di batas aman saat digunakan bermain game, ROG Phone 2 juga punya sistem pembuangan panas dengan teknologi 3D Vapor Chamber yang terhubung ke heatsink. Nantinya, panas yang diterima oleh heatsink akan dilepaskan melalui ventilasi yang terdapat di bagian belakang body ROG Phone 2. Sehingga, panas yang dihasilkan oleh chipset super kencang tersebut tidak terjebak di dalam smartphone.



2. Layar


Pernah dengar nyinyiran netizen untuk para pemilik supercar? "Itu yang punya mobil super kenceng, mau ngebut dimana?". Nyinyiran yang menurut saya cukup beralasan. Yang menggambarkan betapa mubazirnya performa super dari mobil-mobil tersebut di jalanan Indonesia. Kecepatan mobil yang seharusnya bisa mencapai lebih dari 250km/jam itu tak akan bisa dirasakan benefitnya di tengah padatnya lalu lintas di Indonesia.

Hal serupa sebenarnya juga terjadi dalam dunia smartphone. Hampir semua smartphone flagship yang beredar saat ini memang punya performa tinggi. Tapi, mereka masih menggunakan layar dengan refresh rate standar yaitu 60Hz. Sehingga, mau setangguh apapun performanya saat digunakan bermain game, layarnya hanya mampu menampilkan animasi pergerakan game hingga maksimal 60 frame per detik saja. Lalu, untuk apa punya performa tinggi kalau tampilan layarnya tak bisa diajak ngebut? Mubazir!

Inilah hal yang membuat ROG Phone 2 berbeda dengan smartphone lain. Karena performa ngebut dari dapur pacunya akan dapat ditampilkan secara optimal. Berkat layar AMOLED beresolusi Full HD+ di hape ini yang sudah mendukung refresh rate hingga dua kali lebih cepat dibandingkan layar hape pada umumnya, yaitu 120Hz. Yang artinya, layar tersebut mampu menampilkan animasi pergerakan pada game hingga 120 frame per detik. Sehingga benefit performa tinggi dari hape ini akan bisa kita rasakan secara nyata dan terasa sangat berbeda.



Bukan cuma buat game sih. Karena saya rasa pergerakan di layarnya ini juga terasa sangat mulus ketika kita melakukan scroll pada tampilan layar. Jadi bisa disimpulkan bahwa layar dari ROG Phone 2 juga sangat menyenangkan untuk aktifitas rebahan sambil scroll layar. Anak socmed pasti suka.

Masih soal tampilan layar. Panel yang digunakan oleh ROG Phone 2 sudah didukung dengan teknologi 10-bit HDR. Dan memiliki tingkat reproduksi warna sebesar 100% pada color space DCI-P3. Yang artinya, akurasi warna yang ditampilkan adalah sesuai dengan apa yang ingin dihadirkan oleh developer game.

Kenyamanan saat mengontrol permainan juga mendapatkan perhatian khusus bagi ASUS sebagai pembuat hape ini. Mereka mengklaim bahwa waktu respon yang dibutuhkan setelah pemain menyentuh layar adalah hanya dalam waktu 49 milidetik saja! Pemain juga bisa mengontrol permainan dengan lebih akurat karena layar sentuhnya ini punya touch sampling rate secepat 240Hz. Dengan demikian, layar dapat merespon sentuhan dan pergerakan jari dengan sangat cepat. Sesuatu yang juga saya rasakan sendiri saat bermain game.

3. Fitur Pendukung Gaming

Kalau kamu merasa bahwa apa yang sudah saya sebut tadi sudah lebih dari cukup untuk mendukung urusan gaming, maka tunggulah sampai kamu mencoba fitur AirTrigger pada ROG Phone 2. Fitur ini mirip seperti tombol L1 dan R1 pada controller console game. Letaknya juga persis berada di bagian atas ketika kita menggunakan hape ini dalam mode landscape. Peletakannya pun saya rasa sudah tepat karena ia berada persis dimana jari telunjuk saya sandarkan.

AirTrigger bukan merupakan tombol fisik. Namun akan ada sedikit feedback berupa getaran saat ia mendeteksi adanya input. Menurut keterangan dari ASUS, ia menggunakan sensor sentuh ultrasonic yang mampu mendeteksi dan membedakan antara input tap dan juga input slide (geser). Uniknya lagi, kita bisa mengatur sensitifitas dari sensor ini, lho!

Ia takkan merespon jika kita hanya meletakkan jari diatasnya. AirTrigger baru akan merespon jika ia mendeteksi adanya tekanan. Nah, kekuatan tekanan inilah yang bisa kita atur sensitifitasnya. Sesuai dengan preferensi dari masing-masing pemain. Selain dapat terhindar dari resiko salah input, kenyamanan pemain dapat tetap terjaga karena jari telunjuk tidak harus terus diangkat.



Fungsi dari AirTrigger sendiri bisa dibilang merupakan pintasan yang bisa kita setting untuk bantu menyentuh bagian pada layar yang juga bisa kita tentukan dengan leluasa. Misalnya, AirTrigger bagian kanan bisa kita setting untuk menekan tombol scope, sedangkan AirTrigger bagian kiri kita setting untuk menekan tombol tembak. Bagi saya yang terbiasa menggunakan kontrol dua jari saat main game fps macam PUBG Mobile, fitur ini amat sangat membantu untuk memudahkan dalam mengontrol permainan.  Perpaduan antara respon layar yang cepat serta bantuan dari AirTrigger memungkinkan kita untuk mengendalikan permainan dengan lebih lincah.

Yang membuat ROG Phone 2 bahkan lebih greget lagi, kita bisa mengatur untuk membatasi sinkronisasi background. Sehingga koneksi internet dapat dioptimalkan untuk penggunaan gaming. Dalam pengujian saya, fitur yang bisa kita temukan pada aplikasi Armory Crate tersebut mampu mengurangi latensi koneksi saat bermain game.



Dalam aplikasi Armory Crate, kita juga dapat melakukan berbagai setting yang berkaitan dengan game. Termasuk diantaranya adalah setting sensitifitas AirTrrigger, setting performa hape saat menjalankan masing-masing game, hingga melakukan setting lampu RGB yang ada di bagian belakang body ROG Phone 2. Temperatur serta aktifitas dari CPU dan GPU juga dapat dimonitor dari sini.



Lalu ada pula fitur Game Genie yang bisa kita akses dengan melakukan swipe bagian tepi kiri layar saat bermain game, untuk melakukan setting mapping AirTrigger pada masing-masing games, memblokir notifikasi, mengaktifkan X-mode, hingga melakukan perekaman layar ataupun live streaming. Para yucuber gaming pasti merasa terpanggil nih.

Hadirnya port 3.5mm Jack Audio pada ROG Phone 2 juga akan semakin memanjakan para gamers. Mengingat cukup banyak game populer seperti Mobile Legends dan juga PUBG Mobile yang memiliki fitur voice chat untuk berkomunikasi dengan team. Sebenarnya sih bisa kalau misal ingin mengaktifkan voice chat tanpa earphone atau headset. Tapi, kita tahu sendiri, kan? Terkadang ada saja pemain yang mengeluarkan kata-kata toxic layak sensor saat sedang dalam permainan. Ya malu lah kalau sampai didengar tetangga kosan. Apalagi pada game PUBG Mobile, detail suara bisa sangat mempengaruhi permainan. Karena kita dapat mendengarkan darimana asal bunyi jejak kaki dari musuh.



Dalam pengujian yang saya lakukan, hape ini sanggup untuk digunakan bermain game PUBG Mobile dengan settingan grafis rata kanan selama lebih dari 5 jam. Itupun baterainya masih sisa, lho! Kalau memakai settingan grafis yang lebih rendah serta menggunakan koneksi WiFi, tentu akan bisa lebih lama lagi.

Sedangkan kalau dipakai untuk keseharian tanpa game, baterai berkapasitas 6000 mAh di hape ini sanggup bertahan hingga dua hari lamanya. Baterai jumbo tersebut menurut saya tak hanya akan membuat pengalaman gaming jadi semakin puas, namun juga bermanfaat untuk berbagai hal lain termasuk saat sedang dalam perjalanan jauh.



Berdasarkan keterangan dari ASUS, hape ini punya fitur yang diberi nama HyperCharge Technology yang memungkinkan untuk melakukan pengisian baterai hingga 4.300mAh dalam waktu 56 menit saja. Dengan catatan, ia harus menggunakan charger khusus 30W dari ROG. Sementara charger bawaan untuk versi RAM 8GB adalah 18W.

Keseriusan ASUS dalam membangun  ROG Phone 2 sebagai smartphone gaming semakin terlihat dari dengan dihadirkannya dua opsi port pengisian daya. Yaitu dari bawah ataupun dari samping. Port bagian samping atau disebut juga sebagai side-mouted port akan lebih cocok digunakan untuk melakukan pengisian daya ketika sedang aktif bermain game. Karena, posisi kabelnya takkan mengganggu tangan pemain.

4. Aksesoris Pendukung Gaming


Side-mounted port yang saya sebut tadi tak hanya berguna untuk charging saja. Karena tepat di sebelah port USB Type-C terdapat sebuah custom port yang berfungsi sebagai konektor untuk aksesoris original yang juga disediakan khusus untuk hape ini. AeroActive Cooler adalah aksesori paling sederhana yang merupakan sebuah kipas pendingin untuk menjaga temperatur dari ROG Phone 2 saat X-mode diaktifkan.

Lalu ada Kunai GamePad yang merupakan kontroler fisik berupa tombol dan juga joystick analog yang akan membuat ROG Phone 2 terasa seperti layaknya sebuah gaming console.



Aksesori yang lebih canggih yaitu TwinView Dock II akan memberikan sebuah layar tambahan dan juga baterai tambahan sebesar 5000mAh untuk ROG Phone 2.



Dan yang terakhir ada Desktop Docking yang dilengkapi dengan berbagai port, termasuk diantaranya ada LAN Port, HDMI, Display Port, Audio Jack, dan juga 4 buah USB 3.1 yang memungkinkan kita untuk mengontrol game menggunakan Mouse, Keyboard dan juga bisa menghubunkan dan menampilkan permainan di monitor eksternal. Wah, ini hape, atau PC portable?


5. Kamera

Walau ROG Phone 2 difokuskan untuk gaming, bukan berarti fitur kamera akan dilupakan begitu saja. Dan ya, buat travel blogger wanna be seperti saya, fitur ini amat sangat membantu dalam mengabadikan momen sebagai backup jika saya tak sempat mengaktifkan kamera dengan cepat. Atau, saat saya tak ingin ribet untuk membawa kamera DSLR yang cukup memakan ruang. Sehingga, peranan fitur kamera pada sebuah smartphone saya rasa menjadi cukup penting.

Kabar baiknya, ROG Phone 2 juga telah memiliki kamera dengan sensor Sony IMX586 beresolusi maksimal 48 megapixel. FYI, sensor tersebut adalah sensor yang juga banyak digunakan oleh smartphone kelas flagship. Ia memiliki teknologi yang disebut sebagai Quad-bayer technology. Fungsinya adalah untuk membuat hasil foto terlihat lebih cerah dengan menggabungkan 4 buah piksel menjadi satu. Dengan resolusi efektif adalah 12 megapixel.



Lensa yang digunakan adalah 6p Largan Lens ber-aperture f/1.79. Keuntungan dari aperture lensa yang besar tersebut adalah untuk dapat menangkap lebih banyak cahaya saat berfoto di area low light. Menariknya, aplikasi kamera pada smartphone ini juga sudah memungkinkan untuk melakukan setting manual pada ISO, shutter speed, fokus, hingga white balance, layaknya sebuah kamera mirrorless atau DSLR.

Fitur EIS alias Electronic Image Stabilization pada ROG Phone 2 juga sangat terasa manfaatnya ketika saya coba mengambil video sambil berjalan. Biar hasil videonya nggak kebanyakan gempa gitu. Siapa tau nanti bisa merambah ke dunia yucup juga yakan? Bisa record resolusi 4K 60fps, Timelapse, sampai slow motion 480fps pun ada.

Kalaupun misalnya ingin mengambil foto atau video panorama, ROG Phone 2 juga punya sebuah kamera wide-angle dengan sudut pandang 125 derajat beresolusi 13 megapixel. Lengkap dengan mode manual juga. Kamera depannya? 24 megapixel, ada mode kamera jahatnya, tapi harus diaktifkan terlebih dahulu. Berikut adalah hasil fotonya.






Kesimpulan


Gimana? Setelah baca ini, hapemu sudah berasa seperti hape kentang belum? Performa tinggi, tampilan output layar juga ngebut, kontrol akurat dan cepat, terus, fiturnya lengkap banget lagi. Saya yang cuma main game sesempatnya saja jadi betah pakai ROG Phone 2. Apalagi kamu, yang doyan nge-game berjam-jam?

Untuk keseharian pun oke. Karena ia punya fitur yang masih bisa dimanfaatkan untuk aktifitas non gaming. Misalnya soal ketahanan baterai, dan juga kameranya. Dengan baterai jumbo itu, sepertinya tak perlu khawatir akan lobat saat ingin mengambil banyak footage. Ya, saya belum coba, sih. Terlebih lagi, kapasitas penyimpanannya juga jumbo. 128GB cuy! Masalahnya cuma satu: hape ini agak berat. Jadi, pastikan kalian menggenggamnya dengan benar. Karena kalau sampai terlepas dan jatuh... Duh, jangan dibayangin deh! Ngeriii ...

#ASUSROGID #ASUSROGPhoneII #SmartphoneGamingPalingKeren
Finally, sampai juga saya di Filipina. Ini adalah negara ASEAN ke-7 yang saya sambangi. Sejujurnya trip ini tidak berjalan seperti yang saya mau. Karena di itinenary awalnya saya dan teman-teman memasukkan wisata pantai dan pulau-pulau ke El Nido, Palawan. Tiket promo dari Cebu Pacific PP Jakarta-Manila-Jakarta pun sudah diamankan dengan harga dibawah satu juta rupiah saja!

Lalu seperti kehidupan pada umumnya, keadaan “manusia hanya berencana takdir Tuhan lah yang menentukan” terjadi pada rombongan kecil kami. Beberapa orang mundur dari trip ini, lalu menyebabkan biaya yang membengkak jika harus dipaksakan ke El Nido. Saya bongkar itinenary, selama sembilan hari di Filipina diputuskan untuk sight seeing Manila dan Tagaytay saja. Dan hasilnya justru teman-teman saya akhirnya hanya tinggal bertiga yang benar-benar berangkat ke Manila. Ada yang tidak berminat kalau hanya traveling ke Manila dan sekitarnya saja, ada juga yang mebatalkan karena berita tentang corona virus yang kian hari semakin memburuk. Terkait soal corona virus di Filipina akan saya bahas sedikit di postingan ini, so, keep reading yak!

Saya katakana tadi saya sembilan hari di Manila dan Tagaytay. Waktu yang terbilang lama untuk ukuran bobot itinenary yang ‘cuma’ memasukkan dua kota di Filipina, tanpa ada wisata biru-biru angin sepoi dan indahnya pasir pantai yang mestinya jadi menu wajib jika traveling ke negara kepulauan. Sangat disayangkan memang saya melewatkan El Nido, tapi mau bagaimana lagi, keterbatasan budget menjadi handicap yan tidak bisa dikompromikan. 
Mabuhay!


Daripada tiket promo hangus dan saya benar-benar kehilangan kesempatan ke Filipina yang entah kapan datang lagi, sembilan hari hanya di Manila dan sekitarnya pun tak apa. Toh masih ada yang bisa saya dapatkan dari sembilan hari traveling di negara olahraga basketnya jago banget ini.

Saya mencoba mengumpulkan fakta-fakta menarik tentang Manila secara khusus, dan mungkin tentang Filipina secara umum menurut sepengamatan saya. Berikut fakta-faktanya, nomor lima akan membuatmu biasa saja:

1. PALING MIRIP INDONESIA, PALING MIRIP JAKARTA   
Pergilah ke Malaysia atau Singapura, di sana bahkan petugas di bandaranya bisa menebak kita orang Indonesia, atau setidaknya bukan dari negara mereka tanpa kita menujukkan paspor. Tapi di Manila tidak begitu. Saya baru menyadari bahwa secara ciri-ciri fisik, orang Indonesia bagian barat hingga tengah itu paling sama dengan Filipina. Di Manila setiap saya berbicara, membeli sesuatu, menanyakan lokasi, bayar angkutan umum, pasti diajak ngomong pakai bahasa Tagalog. Biasanya berujung mereka bete karena sudah berbicara panjang lebar, saya hanya membalas, “Sorry, I don’t speak Tagalog”. Ini tidak terjadi sekali-dua kali, tetapi di sepanjang perjalanan saya di Filipina. Awalnya saya kira yang peling dekat ciri-ciri fisiknya dengan kita adalah rumpun Melayu di Malaysia, ternyata bukan. Kita lebih mirip, bahkan sama, dengan orang-orang Filipina. Saat antri beli tiket masuk Fort Santiago, saya teman-teman bahkan disuruh antri di antrian turis lokal.

Itu dari segi ciri fisik manusianya. Fisik kotanya juga nyaris sama dengan Jakarta. Komposisi gedung-gedungnya, crowd-nya, Jakarta hanya unggul sedikit soal intensitas kemacetan lalu lintas. Misalnya Doctor Strange iseng memakai kekuatan teleportasinya ke seseorang dengan memindahkan orang itu dari Jakarta ke Manila, itu orang selama beberapa saat tidak akan sadar sudah berpindah negara. Manila ada MRT, Jakarta punya punya. Manila punya Bonifacio Global City, yang mirip plek plek sama kawasan SCBD, Sudirman, Thamrin. Di Manila ada America Cemetary, di Jakarta ada Ereveld Menteng Pulo. Berburu senja di Ancol? Di Manila Bay juga bisa! Setiap baliho, neon box, hingga papan pengumuman ditulis dengan huruf latin dan sebagian besar bahasa Inggris, jadi masih similar dengan Jakarta. Beda dengan di Bangkok, Ho Chi Min, atau mungkin Pnom Penh yang bisa langsung dikenali karena sebagian besar aksara di sana menggunakan huruf palawa dan Vietnam. Di kedua kota ini, Manila dan Jakarta, juga tumbuh subur mall dari mulai kelas ITC sampai kelas premium yang luasnya nyusahin kuli bangunan pas bikin itu mall. 


2. TENTANG CORONA VIRUS DI FILIPINA  
Saya berangkat ke Filipina ketika berita tentang corona virus sedang menguasai di hampir semua kanal berita. Filipina adalah salah satu negara yang sudah dikonfirmasi terpapar virus ini. Hingga tulisan ini dipublish, ada tiga pasien yang positif terjangkit dan satunya meninggal dunia. Tidak takut? Ya takut, dong. Sehari menjelang berangkat saja banyak yang mengingatkan saya. 

Tetapi mengapa saya memutuskan tetap berangkat? Sebagian besarnya, sih, karena belum ada semacam travel advice dari kedua negara baik Indonesia atau Filipina yang merekomendasikan untuk tidak bepergian ke Filipina. Artinya kedua negara masih pede untuk tetap membuka diri saling mengunjungi. Saya percaya saja, karena isu global yang WHO saja turun tangan, kedua negara pasti tidak main-main dengan keselamatan warga dan pengunjung. Pendeknya, saya tidak bilang menjamin Filipina aman dari corona virus, tetapi dibanding Singapura, Thailand, dan Malaysia, Filipina is clearly safer to visit.

Upaya di Filipina juga cukup antisipatif terhadap corona virus ini. Sesaat setelah mendarat di Ninoy Aquino International Airpot, ada screening suhu tubuh. Di semua tempat umum seperti hostel, mall, tempat wisata bertebaran pampflet atau selebaran tentang informasi pencegahan penyebaran virus yang berawal dari Wuhan itu. Pengecekan suhu tubuh juga dilakukan di tempat-tempat yang saya sebutkan di atas, lalu sebelum masuk pengunjung wajib membasuh tangan hand sanitizer.


3. MAKAN JUNK FOOD DENGAN SENDOK-GARPU
Gerai junk food sangat tumbuh subur di Manila, bahkan saya menganggapnya seperti tidak terkendali. Restoran seperti McD dalam satu kawasan bisa berjarak hanya hitungan satuan meter. Itu belum gerai lain seperti KFC, dan Junk Food lokal Filipina yang terkenal, JolliBee. Herannya, walaupun jarak antar gerai begitu rapat, tetapi tidak pernah ada yang sepi alias laku semuanya. Orang Filipina kayaknya terobsesi makan ayam goreng tepung dan minum cola.

Hidangan junk food di Filipina disajikan lengkap dengan sendok dan garpu. Pertama kali melihat itu, WHAT??? APA ENAKNYA MAKAN PAKET NASI AYAM DUA PAKAI SENDOK GARPU?!?!?! PERLU GUE PANGGIL PSIKOLOG GAK SIH, INI?. Ini membuat saya yang dari Indonsia, kalau makan junk food model KFC pakai tangan, terlihat amat bar-bar di mata warga lokal. Gila sih, apa rasanya makan ayam KFC tidak sampai tulang-tulangnya , coba?

4. TIDAK ADA KULINER ENAK 
Entah saya yang kurang eksplor atau bagaimana, tetapi selama sembilan hari di Filipina saya tidak pernah menjumpai makanan enak. Ada sih yang lumayan enak, semacam nasi goreng pingir jalan dengan beef soup, itu pun jadi enak karena ada kecap dicampur sama bawang goreng. Selebihnya, flat.

Di daerah Makati, sebuah kawasan terkenal di Manila, harapan sempat timbul ketika saya makan di sebuah bazaar street food. Beraneka daging mulai dari yang halal, sampai yang membawa kita selangkah lebih dekat kepada api neraka tersedia. Saya memesan tumis cumi-cumi karena sepertinya menggoda sekali. Oke, pesan.

“Spicy, sir?” Tanya yang dagang.

“Very spicy!” Jawab saya. Sekadar informasi, saya tidak suka pedas, tapi selama hampir seminggu makan dish yang tidak memiliki identitas rasa yang spesifik, makan superpedas boleh dicoba.

Tumis cumi datang. Tampilannya menggoda, terlihat sangat apetizing untuk dimakan pakai nasi panas langsung dengan tangan.

Coba sesuap, 
Gak ada rasa.


Sesuap lagi, 
Masih. Belum. Ada. Rasa.


Sesuap lagi,
Gue tadi pesen cumi pedes, apa hubungan yang udah dua tahun tapi udah saling bosen, sih? Hambar gini.


Sesuap lagi,
PENGEN NGAJAK RIBUT YANG JUAL YA ALLAH, TAPI HAMBA BUKAN ANAK KAMPUNG SINI *CRY*

Rasa flat yang biasa saja itu bukan hanya pada makanan, tetapi minuman juga. Saya sempat mencoba boba-bobaan, dan es kelapa beraneka rasa dan rasa manisnya hanya sampai diujung lidah. Kayaknya orang Filipina kalau nyobain Kopi Kenangan langsung pada diabetes. Ngopi di café juga begitu, kopi dan gula terpisah, kalo kopinya kurang manis tinggal tambah gulanya. Di sini problemnya, mau ditambahin gula berapa sendok pun kopinya tidak mau manis. Sudahlah, kayaknya selera kuliner orang Filipina memang yang flat-flat saja.


5. TENTANG BIOSKOP 
Untuk membunuh waktu sebelum kepulangan ke Jakarta, saya memutuskan untuk nonton. Waktu itu nonton Sonic The Hedhog yang lebih cepat beberapa hari rilisnya dari Indonesia. Yang menarik adalah, harga tiket bioskop di Filipina ini beda-beda tergantung film. Film Hollywoood baru keluar biasanya yang paling mahal, diikuti film Hollywood lama tetapi masih ada ditangga box office, dan yang paling murah adalah film asia atau lokal.

Kalau dipikir, strateginya oke juga. Film lokal sama film luar memang harusnya harganya beda, karena biayanya kan juga beda. Film lokal secara hitung-hitungan umum pasti lebih murah biayanya dari film luar yang harus diimpor, kena pajak, dan kendala distribusi lainnya. Ini membuat tiket film lokal lebih murah, dan itu memberi stimulus untuk orang mempertimbangkan nonton film lokal. Secara tidak langsung, penetapan harga seperti ini bisa jadi insentif buat film lokal. Bagaimana? Mau menirunya kah XXI, CGV, dan Cinepolis?

Oh iya, bioskop di Filipina tidak ada subtitle-nya loh, ya. Jadi pastikan kalau mau nonton di sini kita mengerti bahasa filmnya, kalau saya memutuskan nonton Sonic karena berbahasa Inggris. Tidak jago bahasa Inggris sih saya, tapi dibandingkan harus nonton film lokal berbahasa Tagalog atau film Korea, film berbahas Inggris jelas lebih masuk akal. Dan di daerah Makati, bioskop bahkan di gratiskan untuk manula.

Masih banyak sih sebetulnya fakta-fakta tentang Filipina ini. Akan saya ceritakan di posting berikutnya. Stay tune terus di blog kesayangan…kesayangan siapa hayoooo? =)



“Apa prestasi kamu sampe berani-beraninya ngelamar anak saya?”

“Saya waktu liburan ke Yogya gak ke Malioboro, Pak.”

“Mantap! Kamu menantu yang selama ini saya cari, fix, besok kita DP gedung!”

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Yogyakarta dan Malioboro memang bagai dua sisi mata uang. Seperti Julius Caesar dan Kota Roma. Laksana Leonel Messi dan FC Barcelona. Seolah jika keduanya dipisahkan, salah satunya akan kehilangan fungsi. Malioboro menjadi tolak ukur itinenari para wisatawan, dan pasti masuk rundown acara study tour sekolah-sekolah yang berkunjung ke Yogyakarta. Tepat di pusat kota, suasana yang nyaman, dekat dengan Pasar Beringharjo, dan romantisme tak berujung adalah sedikit dari melimpahnya alasan mengapa jika ke Kota Pelajar, maka harus ke Malioboro.

Namun, ketika saya terakhir ke Yogyakarta, tanpa sadar saya melewatkan Malioboro. Ternyata perjalanan saya tetap asyik, tetap berkesan, dan syukurnya mendapat nilai lebih berupa pengetahuan baru. Saya juga menemukan tempat-tempat baru dan kegiatan ‘alternatif’ yang sepertinya underrated jika dibandingkan dengan kedigdayaan turisme Malioboro.

Berikut adalah hal-hal yang saya lakukan selama berlibur di Yogyakarta tanpa ke Malioboro:

1. Makan di Gudeg Sagan
Ya namanya juga di Yogyakarta, kalau wisata kuliner, gudeg pasti ada dalam daftar ‘sikat’. Walaupun ada beberapa orang yang mungkin tidak begitu menyukai panganan dengan rasa dasar manis ini. Gudeg Sagan sangat saya rekomendasikan untuk dikunjungi. Rasa keseluruhannya masih bisa ditolelir oleh orang yang tidak menyukai gudeg karena manisnya. Bahkan sambalnya ada tingkatan kepedasannya. Menu protein utamanya ada ayam, ati ampela, dan telur yang bisa dicampur harmonis dengan krecek, nangka, dan tahu goreng dengan tekstur juicy. Harganya paling tinggi Rp. 34.000 untuk satu porsi gudeg dengan dada ayam. Gudeg Sagan ini terletak di Jl. Herman Yohannes, atau lebih dikenal dengan Jalan Sagan. Patokannya adalah permpatan Rumah Sakit Bethesda dan Galeri Mal. Soal hype, Gudeg Sagan memang masih kalah dengan Gudeg Yu Djum atau Gudeg Pawon. Tapi soal rasa, dan mungkin harga, Gudeg Sagan sangat bisa bersaing. 



2. Ngopi di Kopi Kumpeni
Bagi yang mewajibkan waktu minum kopi ketika berlibur, bersyukurlah karena kini Yogyakarta punya banyak sekali tempat ngopi dengan berbagai macam konsep dan rasa. Jika kegiatan berlibur bersinggungan dengan lokasi yang dekat dengan kawasan Kauman, cobalah mampir ke Kopi Kumpeni. Kedai sederhana ini berada di gang yang berseberangan dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Pencahayaan tungsten yang lembut akan menyambut begitu kita masuk melalui pintu depan bergaya kolonial. Furnitur beraksen tua menguatkan jalinan atmosfer suasana dengan nama kedai ini yang berbau istilah masa lampau. Pewarnaan dinding, lantai, dan kusen-kusen dengan dominan krem diselingi strip-strip hijau mempertegas kesan etniknya. Ruang kerja barista yang dibiarkan terbuka adalah sebuah zona pertemuan antara tradisional ambiance dengan modernitas. Di tengah furnitur bercorak jaman dulu, berjejer alat-alat pembuat kopi masa kini, moka pot, rok presso, french press, aeropress, V60, Vietnam drip, syphon, dan satu mesin kopi otomatis.

Saya hanya penikmat kopi, jadi hanya bisa memberikan pendapat sebatas bahwa rasa kopi di sini jelas tidak mengecewakan. Ada es krimnya juga. Harganya berkisar antara 15-25 ribu rupiah. Saya, sih, suka suasananya. Entah karena kedai kopi ini belum begitu dikenal atau apa, tetapi suasana hening dan sepi di kedai ini bikin betah. 



3. Ikut Walking Tour
Yogyakarta adalah kota dengan sejarah menakjubkan. Sayang sekali jika ke sini tapi tidak pernah tahu apa yang membuat kota ini ditakdirkan menjadi seperti sekarang. Mengikuti walking tour yang diadakan oleh Jogja Goodguide adalah sebuah pilihan tepat jika ingin mencari tahu tentang sejarah Kesultanan Ngayogyakarta. Ada beberapa spot-spot penuh cerita mulai dari mitos, legenda, hingga bukti sejarah sahih yang bisa dikunjungi. Saya mengunjungi Kota Baru, Kota Gede, dan Kauman. Di Kota Baru saya jadi tahu bahwa kawasan ini dibangun Belanda dengan Menteng (di Jakarta) sebagai contoh konsepnya. Kota Gede bercerita tentang Panembahan Senopati dengan Mataram Islamnya. Kauman menginspirasi saya lewat kisah tokoh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.

Wisata model seperti ini ke depannya saya prediksi akan mendapat banyak tanggapan positif. Perpaduan antara konsep wisata sejarah dan Yogyakarta adalah kombinasi sempurna untuk sebuah konten wisata edukasi. Bayangkan, kita bisa mengulik sejarah dari kesultanan yang masih eksis selama berabad-abad dan menjadi satu-satunya kerajaan di nusantara yang secara de facto maupun de jure, rajanya masih mempunyai kuasa atas rakyatnya. Istimewa!

4. Belanja di Pasar Kangen
Saya kurang tahu, apakah Pasar Kangen ini rutin buka atau karena event tertentu saja. Pasar ini letaknya di sebelah Taman Pintar. Seperti namanya, pasar ini menjual pernak-pernik dan segala sesuatu yang membuat kita kangen masa lalu. Vinil, kaset pita, jam tangan Kura-Kura Ninja, Brisk, action figur, komik-komik Gundala dan kawan-kawan, tustel, prangko, hingga poster-poster dengan gambar bintang film angkatan Chuck Norris masih magang semuanya ada. Kualitas barangnya tentu sudah tidak prima lagi, tetapi nilai nostalgianya mampu membuat pengunjung merogoh kocek untuk belanja. Milenial kelahiran 2000 ke atas pasti bingung masuk ke sini. 



5. Menginap di Kawasa Prawirotaman
Nah, biasanya kalau yang sedang berlibur ke Yogya pasti memilih Malioboro sebagai lokasi menginap karena dekat ke mana-mana. Coba sesekali untuk menginap di hostel-hostel budget di kawasan Prawirotaman. Saya pernah menuliskan review untuk satu penginapan bagus di kawasan ini. Ada apa di sini? Ada banyak bule backpackeran. Kalau di Malioboro biasanya bule keren-keren sekeluarga belanja-belanja fancy, di sini akan sering bertemu dengan bule singletan, sandal jepit, celana pendek, sedang mencari bar.

Di kawasan ini juga ada yang hype. Yaitu es krim Tempo Gelato yang memiliki rasa es krim kemangi, cabai, rendang. Ada juga restoran Via Via yang katanya tempat syuting Ada Apa Dengan Cinta 2, betul tidak, sih? Di scene yang mana, ya?



Nah, sekian liburan saya di Yogya tanpa ke Malioboro. Tetap asyik, walau tidak beli oleh-oleh =)
Kolam-kolam air mancur yang menurut cerita pada jaman dahulu kala digerakkan secara manual oleh tenaga manusia mungkin tertawa melihat tinkah dan ekspresi hiperbolis saya ketika untuk pertama kalinya memasuki pelataran Taj Mahal. Saya mengenal Taj Mahal ketika masih belajar IPS di Sekolah Dasar melalui RPUL, ada yang masih ingat kepangjangannya? Ada? Fix, anda semestinya sudah punya anak yang lagi sibuk-sibuknya ikut bimbel persiapan Ebtanas.

Dahulu sempat bertanya-tanya apa pasal yang membuat bangunan mirip masjid ini selalu masuk dalam daftar Tujuh Keajaiban Dunia. Besarnya tidak terlalu gigantis jika dibandingkan dengan Candi Borobudur, misalnya, yang berpredikat sebagai candi bercorak Budha terbesar di dunia. Atau Piramida di Mesir yang hingga kini teknik pembangunannya masih menjadi PR besar para arkeolog dan cerita mitologi seru yang membungkusnya.

Saya bersyukur, karena misteri tentang Taj Mahal yang menggelayuti saya, dan mungkin sebagian orang lain, akhirnya sedikit terkuak ketika saya diberi kesempatan semesta untuk berkunjung langsung menjejaki tanahnya, dan menyentuh dinding marmer pualam halusnya. Saya mengumpulkan beberapa fakta tentang Taj Mahal mengapa bangunan ini konsisten masuk daftar UNESCO sebagai bagian dari Keajaiban Dunia.

Berikut serba-serbi Taj Mahal versi blogger kesayangan dusun tetangga ini:

1. Dibangun Atas Dasar Cinta
Tersebutlah seorang maharaja dari Mughal bernama Shah Jahan. Di suatu garis waktu baginda resah karena sudah memiliki dua orang istri namun belum juga dikaruniai sebuah anugerah yang merupakan ciri dan syarat sebuah kerajaan, yaitu putra mahkota. Hingga suatu hari, Shah Jahan jatuh cinta kepada seorang putri dari Persia bernama Mumtaz Mahal. Menikahlah mereka, dan langsung diberi beberapa keturunan yang sungguh membuat Shah Jahan senang.

Tidak heran Mumtaz Mahal memiliki tempat tersendiri di hati baginda. Sehingga sang raja membangun sebuah monumen berupa bangunan megah yang nantinya digunakan sebagai makam sang permaisuri. Menurut guide yang memandu saya, Mumtaz Mahal meninggal ketika melahirkan anak ke-14. 


2. Serba Simetris, Serba Marmer
Mungkin bukan kisah cinta mahaepik yang membuat bangunan anggun ini masuk daftar Keajaiban Dunia, tapi arsitektur dan material pembangunnya. Bayangkan kita memiliki kemampuan terbangnya Clark Kent dan terbang di atas komplek Taj Mahal, maka akan kita lihat sebuah pola simetris dari sisi mana pun arah mata angin. Mulai dari pelataran, kolam-kolam, fasade, hingga pepohonan yang tumbuhbegitu presisi jika kita tarik garis imajiner dan membagi komplek Taj Mahal menjadi dua, empat, atau delapan bagian. Sebuah kemampuan arsitektur, dan perhitungan civil engineering yang mungkin begitu spesial di tahun 1600-an.
REKOMENDASI PENGINAPAN DI KASHMIR, INDIA

Dari segi material bangunan, bangunan utama berwarna putih, sepenuhnya terbuat dari marmer terbaik dari penjuru Rajashtan, hingga Persia. Di dinding-dindingnya terdapat ukiran kaligrafi arab yang dilapisi oleh batu-batu mulia. Jadi jangan ditanya berapa biaya pembangunan Taj Mahal, sobat miskin seperti saya yang bangun kusen pintu saja mesti nabung tujuh bulan, can’t relate! Ada yang bilang kaligrafi itu adalah 99 Asma Allah (Asmaul Husna), namun guide saya mengatakan bahwa itu adalah Surat Yaasin. Entah mana yang betul, tetapi intinya, Shah Jahan ingin tempat persemayaman terakhir Mumtaz Mahal selalu dinaungi doa dan berdekatan dengan Tuhan. So sweet, kan? Kalau ada cowok yang baru antar-jemput ceweknya tiap hari terus mengeluh sudah berkorban banyak, di atas sana Shah Jahan komentar: “Becanda aje lu, jepitan jemuran...”

3. Tur Bulan Purnama atau Milky Way
Umumnya diberbagai brosur wisata, waktu terbaik mengunjungi Taj Mahal adalah pagi hari menjelang sunrise. Namun, banyak yang belum tahu bahwa Taj Mahal membuka tur malam hari. Tetapi hanya ketika bulan purnama atau ketika gugusan milky way sedang terlihat cerah di langit. Kabarnya, bangunan Taj Mahal yang terbuat dari marmer terbaik dari seluruh penjuru dunia, bisa menyerap cahaya bulan hingga tembus ke bagian dalam. Jadi Taj Mahal akan terlihat seperti transparan. Untuk tur ini pengunjung hanya diperbolehkan melihat Taj Mahal dari pelataran, Taj Mahal akan gelap gulita karena tidak ada satupun penerangan artifisial diijinkan di komplek ini.

4. Harga Tiket Masuk Yang Di Atas Rata-rata 
 Namanya juga Keajaiban Dunia, jadi wajar harga tiket masuknya di atas rata-rata tempat wisata bergenre sejarah di India. Sekadar perbandingan, Hawa Mahal di Jaipur memberi akses gratis, City Palace-nya menetapkan harga 750 rupee. Masih di Jaipur, Amber Fort mematok tiket 500 rupee. Red Fort di New Delhi berharga 500 rupee, begitu juga dengan tetangga Taj Mahal sendiri, Agra Fort. Berapa tiket masuk ke Taj Mahal? 1.300 rupee. Harga segitu kita akan mendapat akses hingga ke bagian replika makam, air mineral, dan kain sebagai pengganti alas kaki karena ketika memasuki area dalam kita wajib membuka sandal atau sepatu.

5. Aturan yang Ketat
Taj Mahal adalah identitas India, dan wahana ilmu pengetahuan bagi dunia. Sudah seharusnya pemerintah sana melindungi aset ini. Peraturan yang cukup ketat pun mesti dipatuhi. Mulai dari antrean masuk, agar lebih teratur dibagi menjadi empat kelompok. Turis asing laki-laki, turis asing perempuan, turis lokal laki-laki, dan turis lokal perempuan. Setiap bawaan pengunjung harus melewati X-Ray seperti di bandara. Jika ada barang-barang yang dilarang, petugas tidak segan menyita. Barang apa saja yang dilarang? Berikut informasi yang saya dapat:
  •  Makanan, dan minuman
  •  Charger alat-alat elektronik
  • Tripod, gimbal, atau alat bantu perekaman gambar atau video. Hanya kamera maksimal SLR atau mirrorless dan ponsel yang diizinkan

Untuk pengambilan foto atau video diizinkan kecuali di area makam. Jadi terjawab sudah, sekeras apa pun saya googling karena penasaran tidak akan pernah dijumpai foto bagian dalam Taj Mahal.

Untuk eksternalnya, pemerintah India melarang industri dibangun dalam radius tertentu dari Taj Mahal. Ini guna menghindari Taj Mahal menjadi kusam karena asap polusi.

6. Spot Foto Ratu Inggris
Sebagai negara persemakmuran Inggris, India tentu pernah dikunjungi oleh Ratu Inggris. Saya lupa pada jaman Ratu Inggris yang mana, tetapi spot foto favorit para turis yang berupa panggung tepat di tengah pelataran depan Taj Mahal, dibangun karena ketika Ratu Inggris berkunjung ke Taj Mahal beliau meminta disediakan spot terbaik untuk menikmati pemandangan Taj Mahal. 


7. Scaming 
 Ini adalah penyakit turisme di India. Bahkan di tempat wisata kelas dunia kaliber Taj Mahal saja ada celah yang bisa dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab. Modus operandinya adalah para pedagang yang menawarkan sovenir dengan cara mengikuti kita ketika hendak berjalan ke luar. Mereka memaksa, dan tentu saja barang dagangannya berharga jauh lebih mahal kalau kita beli di toko oleh-oleh. Mereka tahu banyak orang Indonesia berkunjung ke Taj Mahal, jadi ketika melihat tampang Melayu, mereka dengan fasih teriak “murah, murah!” sehingga menarik simpati. Guide saya sudah mewanti-wanti, “kalau benar-benar tidak mau beli, mohon jangan sekali-sekali kontak mata sama yang nawarin dagangan. Oke?”

Demikian sedikit dari banyaknya cerita tentang Taj Mahal. Bangunan dengan kisah penuh kontras dari dulu hingga sekarang. Dibalik latarbelakang cinta, dahulu banyak budak dan pekerja yang meregang nyawa selama 22 tahun membangun bukti cinta ini. Kini, kemegahannya mesti beradu dengan berbagai masalah di sekitarnya. Mulai dari kebersihan hingga ketimpangan sosial yang kentara.

Selamat berkunjung ke Taj Mahal =)






Naik gunung bisa jadi kegiatan jalan-jalan yang efektif untuk refreshing. Menjauhkan diri dari hiruk pikuk, mengasingkan pikiran dari rutinitas, dan memberi paru-paru udara murni segar baru adalah hal yang diincar jika kita memutuskan untuk naik gunung. Butuh effort lebih memang untuk kegiatan satu ini. Tas carrirer yang berisi aneka peralatan camping (yang tentu tidak ringan), dan fisik yang prima dibutuhkan agar mendaki gunung lancar dan menjadi ‘pelarian’ yang menyenangkan.

Hal lain yang membuat naik gunung menyenangkan adalah, intens-nya komunikasi bersama teman-teman sependakian. Di gunung, umumnya tidak terjangkau sinyal ponsel, sehingga komunikasi murni dari obrolan tanpa terdistraksi sosial media atau game online. Bercanda, bicara, hingga saling sapa betul-betul terjadi secara genuine.

BACA JUGA: NAIK GUNUNG CIREMAI VIA LINGGARJATI

Idealnya, naik gunung memang sampai puncak. Tetapi bagian paling menariknya adalah justru di jalur pendakian menuju puncak. Di sini terjadi lebih dari separuh interaksi antarteman mendaki, atau pendaki lain yang kebetulan bertemu. Berbincang sambil bercanda menjadi senjata utama supaya lelah tidak terasa dan sekejap lupa jauhnya jarak tempuh. 

Kalau sudah lama berjalan, dan lelah mulai terasa, biasanya timbul pertanyaan-pertanyaan baik dari sendiri maupun teman sependakian. Ada beberapa pertanyaan dari yang paling logis dan bisa dijawab, hingga yang absurd. Berikut contoh-contohnya:

1. Mencari Barang

Biasanya, sebelum memulai pendakian, dilakukan final checking dan repacking barang bawaan. Siapa yang membawa apa, dan siapa yang bertanggung jawab atas apa. Dibriefing biasanya lancar-lancar saja. Tapi begitu sudah berada di jalur pendakian, pasti ada saja yang bertanya mencari sesuatu,

“tisu basah di tasnya siapa, ya? Mau boker, nih!”

Atau,

“kompor mana, ya, kompor? Berenti dulu, nyeduh kopi enak, nih!”

Atau,

“kayaknya tadi gue liat ada yang bawa tumpeng gede kumplit ama perkedel, telor belado, orek tempe, ama ayam goreng srundeng, bagi-bagi dong!”

“ITU MAH LU MIMPI DATENG KE KHITANAN ANAKNYA MANTAN LU!”

2. Saling Tuduh
Udara pegunungan yang dingin, membuat badan rentan kemasukan angin. Bisa ditebak apa yang terjadi. Di antara anggota mendaki pasti ada saja yang buang-buang angin baik yang secara terang-terangan maupun yang secara kalem tak bersuara namun sanggup membuat pohon-pohon disekitar layu sementara. Kalau yang terang-terangnya sih tidak begitu masalah, karena bersuara dan pelakunya langsung ketahuan, paling-paling kena jitak anggota yang lain. Nah yang bahaya yang buang dalam diam ini, bisa menimbulkan pertanyaan yang merembet jadi percekcokan karena saling tuduh,

“anjir, siapa ni yang kentut?”

“Bukan gue. Si Topik kali, noh, baunya dari depan!”

“Apaan, baunya kayak lele mati gini, Burhan pasti nih tadi gue liat sebelom naek dia makan pecel lele.”

“Sumpah, bukan gue! Ini sihbau-baunya ampasnya ngikut, nih, fix si Toto ini mah. Dari tadi dia ribut pengen berak. To, wei, cebok lu!”

3. Tanya Tujuan
Ini biasanya ditanyakan kalau perjalanan sudah setengah jalan. Rasanya sudah berjalan lama namun tujuan belum menunjukkan tanda-tanda akan tercapai. Sebagai manusia biasa, rasa frustasi biasa menghinggapi. Anggota tim pendakian pasti mulai resah dan banyak bertanya,

“masih jauh gak, sih?”

Atau,

“pos tiga masih berapa lama lagi?”

Atau,

“ini naek gunung apa mempertahankan hubungan LDR beda agama, sih? Capeknya sama…”


4. Pertanyaan Absurd

Namanya juga absurd, pertanyaan-pertanyaan ini tidak terduga. Biasanya terlontar ketika sudah benar-benar capek, otak dan kaki sudah tidak sinkron. Bahan obrolan sudah habis, dan miskordinasi antarsaraf membuat orang bertanya sekenanya,

“entar sampe atas nge-gofood mekdi enak kali, ya?”

Atau,

“bebek, bebek apa yang kalo ketemu ayam, salim?”

Atau,

“kita udah berjalan kaki enam jam, ketinggian gunung 2.800an meter, kemiringan lereng sekitar 45 derajat, siapakah yang mandiin kudanya Ken Arok?”

Atau,

“pada tanggal berapakah Konstantinopel berhasil direbut pasukan Muslimin?”

5. Kok Bisa Jalan-Jalan Melulu?
Pertanyaan ketika naik gunung ini terjadi kalau sudah santai di depan tenda sambil menyeruput kopi atau teh manis hangat, atau sambil menikmati Oreo ketika sudah di puncak.

“Yos, elu kok bisa jalan-jalan mulu, sih? Emang duit lu banyak, ya?”

“Ya nggak juga, kalo duit gue banyak mah gue nggak naek gunung, tapi mendingan naek haji.”

Sebetulnya jawaban serius atas pertanyaan tersebut bisa panjang, sih. Karena memang ada banyak poin. Kalau ingin tau jawaban seriusnya, bisa loh datang ke acara TALKACTIVE, Jalan-Jalan Jadi Cuan. Ini event garapannya Fitand Co Space. Nanti saya dan kawan saya Bena, akan share bagaimana caranya mengembangkan hobi jalan-jalan hingga bisa menjadi hobi yang menghasilkan. Bisa tanya-tanya saja dulu dengan Mbak Tika di 0858 8202 3823. Datang, ya. Tiada kesan tanpa kehadiranmu. 
Demikian lah daftar pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan jika sedang mendaki. Teman-teman punya pertanyaan lain waktu naik gunung? Coba dishare di kolom komen berikut dengan kunci jawabannya, siapa tau berguna. Selamat mendaki =)

Rasanya hegemoni bule sebagai ‘warga’ ekslusif yang selalu terlihat superior entah ketika mereka sebagai turis, atau ekspat pekerja, akan segera berakhir. Atau setidaknya dikotomi bahwa mereka spesial, bahkan, mempunyai privilege lebih dibanding warga negara Indonesia harus segera disudahi.

Apalagi belakangan banyak berita baik di portal berita daring maupun maupun kejadian viral di media sosial mengabarkan betapa mengganggunya bule yang terlantar, hingga mengemis ketika plesiran di sejumlah destinasi wisata tanah air. Modusnya berbeda-beda, mulai dari mengemis hingg jadi tour guide ilegal. 


Sepengalaman saya, biasanya mereka datang negara maju ke negara berkembang yang secara hukum peraturan keimigrasian dan penegakkan hukumnya lebih longgar. Negara berkembang, seperti Indonesia, biasanya menetapkan barrier entry yang tidak terlalu ketat bagi negara-negara Eropa, Australia, Asia Timur, dan Amerika Utara sebagai pasar utama produk pariwisata. Mereka masuk Indonesia dengan visa turis, lalu party-party, belanja-belanja, hidup bak royal family yang sedang tetirah, lalu kehabisan uang, dan akhirnya menyalahgunakan izin wisata dengan menjadi pencari uang untuk pulang, bahkan gilanya, ada yang terang-terangan bilang untuk melanjutkan liburannya.

Kalau sudah kehabisan uang, aneh-aneh memang tingkah bule ini. Bukan hanya di Indonesia. Saya beberapa kali mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana ajaibnya bule-bule kere bertingkah ketika kehabisan uang.

1. Di Siem Reap, Kamboja
Pertama kali masuk hostel di Siem Reap saya langsung disambut masalah aliran listri hostel yang padam. Akibatnya saya check-in dengan manual, cuma dicatat di buku panjang mirip buku catatan kasbon di warung. Saya mendapat bunk bed di seberang kasur seorang pelancong dari Spanyol. Dari awal saja ini bule udah banyak tingkah, suka keluar masuk hostel dengan seorang perempuan yang berbeda. Suatu pagi ketika saya bersiap packing, dia menyapa saya. Ramah.

“Hi, how are you? Where you from?”

“Fine. Indonesia. You?”

“Mallorca.”

“Spain. Awesome!”

“Indonesia too…”

Chitchat basa-basi itu nyaris menjadi sebuah diskusi menyenangkan sebelum,

“My friend…could you lend me some money?”

“Sorry?”

“Just 25 dollars…”

TAEK!

LU KIRA GUE NAHAN LAPER DARI TADI KARENA PUASA SENEN KEMIS ATAU DIET MAYO? KARENA NGIRIT, SUPRIYATNA!

2. Di Pnom Penh, Kamboja Masih di Kamboja. Ini saya yang pilih penginapan atau memang ini negara punya masalah serius soal perturisan, sih? Ketika pengelola hostel mengantar saya ke sebuah dormitory room, dia mengingatkan saya supaya tidak mengganggu seorang Amerika yang tertidur di kasur paling pojok. Menurut si pengelola, turis tersebut sedang sakit. Okelah, not big deal. Saya pun keluar untuk eksplore sekitar Pnom Penh. Ketika kembali ke hostel, di kamar hanya ada saya dan si bule sakit. Bedanya, dia mengeluarkan suara-suara mengerang seperti orang demam. Ya sudahlah, namanya juga orang sakit. Saya pun bersiap tidur dengan starter pack andalan, buka baju, pakai celana kolor, dan streaming film sambil menunggu kantuk datang.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan cara yang bisa bikin orang mati bangun lagi karena kaget. Saya yang sedang asyik nonton dengan telinga tersumbat earphone saja terlonjak saking kagetnya. Beberapa petugas berseragam bertampang bule masuk menyergap. Dalam hati saya bertanya-tanya, “SALAH APA NIH GUE SAMPE DIGEREBEK CIA GINI? APA KARENA GUE TERLALU MIRIP LENARDO DI CAPRIO?”

Ternyata badan telanjang dada dan perut bergelambir lemak saya sama sekali tidak menarik perhatian petugas-petugas tersebut. Mereka menyambangi bule sakit di pojok ruangan. Terjadi lah perdebatan dan adu argument antara si bule dan petugas. Ternyata petugas ini adalah utusan dari kedutaan Amerika Serikat untuk menjemput paksa si bule. Jadi bule ini sudah lama overstay di Kamboja, tidak kuat membayar kamar, dan kepolisian Kamboja tidak berani menangkapnya karena memang tidak ada pelanggaran hokum yang mengharuskan mereka menggunakan wewenangnya. Maka dari tu pihak hostel menghubungi US Emabssy.

Itu bule awalnya keukeuh tidak mau diciduk petugas kedutaan. Tetapi bak orang tua yang lagi nakut-nakutin anaknya yang ogah makan dengan cara, “Ayo diabisin makanannya, kalo susah nanti mama laoprin pak Polisi loh biar kamu ditengkep!”, pihak kedutaan pun memberi opsi bagi si bule, mau diserahkan ke Polisi Kamboja karena merugikan orang lain, atau ikut mereka untuk siap-siap di deportasi. Bijak bagi si bule karena dia pilih opsi ke dua. Pulang gratis, coy!

3. Masih di Pnom Penh, Kamboja

Masih di hostel yang sama. Jangan tanya ada masalah apa ini hostel sama bule-bule, kok banyak amat masalahnya, saya juga bingung. Jadi ketika saya baru check-in, di meja lobby yang bisa merangkap sebagai bar ada seorang bule yang sangat tekun memperhatikan laptop. Tanpa bermaksud mengintip, sekilas saya melihat dia sedang main game kartu.

Sore ketika saya ingin berjalan-jalan dan melewati lobby itu bule masih dengan posisi yang sama, teguh dengan permainan di laptopnya. Saya pulang menjelang malam, dia masih ada di sana tidak bergerak. Kalau ada orang yang tidak waspada, mungkin si bule sudah dikira patung hiasan hostel.

Saya check-out sehabis subuh karena harus mengejar bus pertama menuju Laos. Saya hampir berteriak karena di dalam gelapnya lobby ada sosok tinggi yang duduk di depan sebuah layar menyala. Cahaya remangnya menerangi wajahnya dari bawah, jadi mirip setan-setan di film Suzanna tapi ini versi bule. TERNYATA ITU BULE YANG SAMA DENGAN YANG SAYA LIHAT SEJAK CHECK-IN KEMARIN! DENGAN POSISI YANG SAMA! Untung yang jaga lobby sudah bangun lalu mengingatkan saya supaya jangan mengganggu bule itu, karena gampang marah.

“Dia lagi main poker online, berjudi. Kalau kalah suka teriak-teriak.”

Ya Allah, main judi aja jauh-jauh amat ke Kamboja. Lebih baik di rumah aja, ajak siapa gitu taruhan bola, yang kalah harus pindah ke Pluto naik bajaj Blok M.

4. Di Yogyakarta, Indonesia

Ini baru sekali saya alami. Jadi ketika terakhir saya ke Yogya saya menginap di bilangan Prawirotaman. Sebuah daerah yang memang secara de facto adalah pemukiman bule ekonomis yang sedang berlibur di Yogya. Di sana banyak bar yang menjadi tongkrongan bule minum-minum hingga dugem sampai pagi.

Saya menginap di kamar dormitory, ada bule yang baru masuk kamar jam lima pagi. Jam tersebut bagi saya, dan bagi manusia normal pada umumnya, adalah awal dari seluruh kegiatan. Jadi ya mesti bongkar-bongkar tas, ganti baju, budidaya marmut, hingga packing. Karena ini dormitory, semuanya dilakukan di atas kasur. Si bule yang baru pulang teller ini kayaknya ngantuk berat, kepengen langsung tidur tapi terganggu dengan suara-suara yang saya timbulkan. Dia menegur. Oke, saya mengalah dan meminilmalisir bunyi dari kegiatan saya. Tapi sekuat apa pun saya berusaha, suara-suara tetap ada. Ya menurut lo, gimana coba pake baju tanpa menimbulkan suara?

You know what si bule ngomong apa? 
“HEI YOU! GO OUTSIDE!”

DIUSIR DONG!

Sedikit menahan emosi saya keluar dari kamar. Untung ini bukan zaman perang grilya, kalau iya saya sudah cari bambu runcing. Jadi begini rasanya dijajah di negeri sendiri?

Lalu saya cerita ke petugas hostel, bukan complain karena ini sama sekali bukan kelalaian mereka, bahwa ada kelakuan bule yang mentalnya kayak Daendels. Ya namanya juga dormitory, satu kamar ada beberapa orang. Harganya murah karena ada privasi yang sedikit dikorbankan, kalau mau betul-betul tenang ya nginep sono di private room. Toh saya juga sebetulnya tidak berisik, tidak teriak-teriak, tidak ngundang Elvi Sukaesih buat bikin orkes dangdut.



Demikian segelintir kisah-kisah saya dengan bule yang ajaib-ajaib. Saya cukup gelisah dengan beberapa pemberitaan tentang bule ini hingga muncul istilah begpacker. Ernest Prakasa dalam sebuah cuitannya bilang kurang-lebih begini, “sudah saatnya kita tidak merasa inferior dengan menganggap turis bule itu spesial dan kita di bawah mereka.”. Sulit memang mengubah mental feodalisme yang sudah tertanam sejak 350 tahun kita dijajah Belanda.

Untuk bidang pariwisata, saya cukup bersyukur, tidak pernah rasanya terdengar backpacker asal Indonesia terkatung-katung di negara orang. Mungkin sulitnya visa bagi WNI ke negara lain bisa disikapi positif dengan berpikir bahwa dengan begitu kita jadi bisa mempersiapkan segala sesuatunya sebelum liburan, termasuk finansial. Bahkan untuk bersenang-senang pun kita butuh persiapan. Selamat berlibur, semoga tidak bertemu bule yang aneh-aneh =)
author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.