Yosfiqar Iqbal Travel Blogger Wanna Be Kalau Merasa Hidup Tidak Berguna, Inget Aja AC di Dashboard Angkot



Pergi liburan ke luar negeri tidak semua orang mampu baik dalam segi waktu, materi, atau kesanggupan. Namun, jauh sebelum saya memiliki semua itu, bepergian ke luar negeri masih bisa saya bayangkan. Yan tidak pernah terbayang adalah, pergi ke luar negeri yang daerahnya adalah bagian dari konflik horizontal antarbangsa.

Mungkin tidak seekstrim Afganistan, Irak, atau negara-negara Afrika yang sedang berjibaku dengan perang saudara berkepanjangan. Pergi ke Kashmir, sebuah daerah yang sejak kurang lebih tujuh puluh tahun lalu menjadi ‘lahan’ sengketa antara India, Pakistan, dan Tiongkok sungguh tidak pernah terbayangkan bahkan dalm mimpi terindah saya.

Saya tidak bisa cerita panjang tentang sejarah Kashmir Karena selain saya bukan ahlinya, tujuan ditulisnya artikel ini bukan untuk itu. Intinya, Kashmir adalah kawasan indah di kaki Himalaya yang sangat layak masuk ke daftar tempat wajib dikunjungi sebelum mati. Seberapa indahnya Kashmir? Well, beberapa kali saya ke tempat-tempat indah di Indonesia atau luar negeri, tetapi belum pernah saya membaca statement penuh percaya diri berbentuk sebuah plang di bandara bertuliskan, “WELCOME TO PARADISE ON EARTH”. Sebuah pernyataan yang tidak mungkin ada jika Kashmir biasa-biasa saja.

Saya ke Kashmir melalui India. Karena Kashmir adalah daerah konflik dengan treatment khusus dari pemerintah India, maka traveling ke sana pun perlu persiapan yang berbeda. Karena saya ke sana di Bulan Januari ketika musim dingin sedang berada pada puncaknya, maka saya akan berbagi tips traveling ke sana dengan beberapa kondisi musim dingin. Berikut yang mesti diperhatikan jika berencana traveling ke Kashmir.

1. Transportasi, dan Jadwal Penerbangan Setahu saya, dari kota-kota besar di India, Kashmir hanya bisa diakses lewat udara melalui New Delhi. Penerbangan saya ke Kashmir sempat dicancel dan saya mencari alternatif lain ke sana melaui bandara lain, tetapi tidak ada. Tujuannya adalah Kota Srinagar. Ada dua maskapai budget yang saya rekomendasikan tujuan Srinagar, yaitu Air Asia dan Indigo. Ingat, masing-masing maskapai hanya punya sekali jadwal terbang ke Srinagar dalam sehari.

Jika sedang musim dingin, bersiap-siap dengan delay cukup lama atau bahkan reschedule penerbangan karena bisa jadi Srinagar dan sekitarnya sedang dilanda cuaca buruk akibat lebatnya salju. Kalau musim dingin, pesawat adalah satu-satunya moda transportasi yang bisa ke Kashmir melalui Srinagar. Bus dan kereta tidak akan bisa karena jalur ke sana ditutup akibat salju.

2. Bersikap Wajar Saya sudah memberi highlight sekilas bahwa Kashmir adalah daerah konflik, dan seperti daerah konflik lain, pemerintah India seperti memberlakukan darurat militer di sini. Mulai dari bandara, kawasan pertokoan, perempatan jalan, hingga gang-gang rumah penduduk kita akan biasa menjumpai serdadu berpakaian loreng lengkap dengan senjata laras panjang tersampir di bahu.

Jangan panik atau bersikap aneh, sudah tugas mereka untuk waspada hingga kadang seperti mengintimidasi. Mereka kerap melakukan random checking terutama bagi turis. Di beberapa tempat wisata, mobil yang saya tumpangi disuruh berhenti, saya disuruh turun lalu isi tas diperiksa, dan diminta menunjukkan paspor. Pernah botol minum saya oleh tentara dibuka lalu dicium isinya, entah lah, mungkin mereka mengira isinya cairan kimia yang bisa meledak. Padahal kalau itu betul, saya sudah meledak sejak di New Delhi.

Agak mengganggu memang perlakuan tentara di sana. Ini saya rasakan ketika akan pulang kembali ke New Delhi. Mau masuk bandara, saya masih di dalam mobil dicek satu-satu semua dokumen dan tiket. Lalu di suruh turun dan berjalan ke sebuah pos jaga lalu melewati beberapa pemeriksaan x-ray. Sesudah di dalam bandara pun kegiatan lewat melewati mesin x-ray masih terjadi beberapa kali. Itu belum termasuk pemeriksaan manual di mana semua isi tas saya diperiksa, kamera SLR saya disuruh dinyalakan dan dicek isi fotonya, hingga payung biru kesayangan saya hampir disita karena dikira senjata tajam.

Ribet? Iya. Tapi itu lah harga kedaulatan sebuah negara, dan kita mesti hormati.

3. Berpakaian Sopan
Sebetulnya tidak hanya ke Kashmir saja, berpakaian sopan wajib di mana pun. Kashmir adalah wilayah yang free dominantly muslim, dan tujuan wisatanya ada masjid juga. Tidak ada salahnya kita berpakaian sopan, minimal bercelana panjang. Kita tidak pernah tahu tingkat standar kepatutan di sana. So, yes, lebih aman kalo berpakaian yang tidak banyak memancing perhatian.

Waktu saya ke sana kebetulan sedang winter. Jadi tidak ada alasan untuk menggunakan pakaian aneh-aneh. Saya merasakan suhu paling dingin di Kashmir menyentuh minus dua belas derajat celcius. Di penginapan, di tengah Danau Dal, suhunya minus tujuh derajat. Saya ingin membuat pengakuan, selama tiga hari di Kashmir saya tidak mandi. Tidak usah membayangkan dinginnya air, membuka baju pun saya tidak berani.

4. Kartu SIM

Sesampai di Kashmir, walaupun kita sudah memiliki kartu SIM India, kita tetap harus ganti dengan nomor lokal atau paling tidak harus reggistrasi lagi. Paket roaming dari provider Indonesia pun tidak berlaku di sini. Entah apa tujuan divisi komunikasi dan informasi India memberlakukan kebijakan ini. Mungkin karena supaya pemerintah sana bisa lebih mengontrol jalur komunikasi yang keluar-masuk kali, ya? Namanya juga daerah konflik.

5. Waktu Kunjungan
Jangan ke Kashmir ketika hari kemerdekaan India (26 Januari). Why? Sebagai bentuk protes, pada hari itu nadi kehidupan di Kashmir lumpuh. Semua toko tutup, mereka yang berdagang memilih diam di rumah sementara di berbagai kota lain di India mengadakan peringatan hari kemerdekaan secara meriah. Namun, kita tetap bisa ke tempat-tempat wisata andalan Kashmir seperti Gulmarg, Pahalgam, atau Pari Mahal. Terbayang kan, lagi liburan tapi nyaris semua sarana dan prasarana tutup?

Mengutip perkataan Shani, pemilik house boat tempat kami menginap, waktu terbaik untuk mengunjungi Kashmir adalah saat musim panas. Di mana lembah-lembah sedang hijauh-hijaunya dan bunga tulip bermekaran. Antara bulan April atau Mei.
 
6. Tempat Wisata
Saat musim dingin, dan ini berdasarkan pengalaman saya, tempat wisata utama di Kashmir adalah:

- Gulmarg : Untuk ke sini butuh dua kali ganti mobil karena jalan yang menajak dan bersalju. Di sana kita bisa naik gondola dan main ski.

- Pahalgham : Atraksi utamanya adalah naik kuda poni melewati padang salju dan hutan cemara. 


Tentang pengalaman main ski dan naik gondola di Gulmarg akan saya tuliskan di artikel lain. Kalau ke Kashmir di musim lain, mungkin bisa ke kebun bunga Indira Gandhi.

Demikian informasi yang bisa saya bagi tentang Kashmir. Semoga daerah ini tetap indah adanya, dan yang terpenting selalu damai. Amin.






Ketika travelling ke luar negeri, hal yang membuat saya excited adalah mencoba transportasi umumnya. Khususnya yang tidak ada di Indonesia. Di Indochina ada tuktuk, di India ada auto ricksaw, lalu di Malaysia dan Singapura ada MRT.

Dulu sempat senang tuh waktu proyek monorail di Jakarta digadang-gadang akan menjadi solusi kemacetan ibukota yang sangat semrawut kayak rambut Kunto Aji belom keramas dua siklus revolusi tata surya. Nyatanya, angan-angan saya bisa naik moda transportasi yang seperti dimiliki negara-negara maju tersebut harus tertunda.

Dan pada bulan Maret 2019 yang lalu, akhirnya Indonesia punya angkutan umum massal berbasis rel dengan spesifikasi ‘wah!’ bernama MRT (In English= Mass Rapid Transit, Bahasa Indonesia= Moda Raya Terpadu). Kenapa ‘wah!’? Karena sebelumnya, MRT ini dalam mindset saya hanya dimiliki oleh negara-negara maju.

Peresmian MRT menimbulkan euforia luar biasa bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Berbondong-bondong mereka menjajal seunggul apa transportasi baru berplatform rel ini. Saya pun tidak mau ketingglan, dong, biar tidak dikucilkan dari pergaulan dan tatanan sosial. Sewaktu masa percobaan gratis, ponsel saya sudah seperti Stasiun Manggarai, isinya foto-foto kereta MRT yang diupload kawan-kawan media sosial saya.

Saya baru sempat mencoba MRT ketika masa percobaan gratisnya sudah habis. Jadi mesti bayar. Saya naik dari stasiun Dukuh Atas hingga ke Stasiun Terakhir di Lebak Bulus. Jarak terjauh harga tiket sekali jalannya Rp. 14.000.

Setelah saya coba, saya menemukan dua keunggulan MRT yang paling menonjol di antara moda-moda angkutan umum lain di Jakarta.

1. Ketepatan, dan Kecepatan Waktu Tunggu dan Waktu Tempuh
Menunggu MRT rasanya tidak perlu berlama-lama. Jarak antar satu kereta ke kereta berikutnya tidak sampai 10 menit. Ini penting karena bisa menghindari penumpukan penumpang. Tetapi yang paling krusial adalah waktu tempuh, dari Dukuh Atas sampai Lebak Bulus tidak lebih dari setengah jam. Harusnya, harusnya loh ya, ini menjadi daya tarik cukup signifikan bagi mereka yang mau pindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.


2. Bebas Hambatan 
Di tengah banyaknya keluhan pengguna Commuterline yang sering keretanya tertahan lama karena harus mengalah kepada kereta bandara, dan kereta jarak jauh, atau adanya gangguan sinyal, MRT datang memberi harapan bahwa masalah itu tidak akan terjadi. Karena MRT tidak berbagi jalur dengan kereta lain, dan teknologinya lebih canggih. Kalaupun berdesak-desakkan, setidaknya MRT lebih nyaman dibanding Commuterline.

Lalu apa keluhannya setelah menggunakan MRT? Nah, kemarin ketika saya mencoba MRT ini, saya juga membuat sebuah video pendek. Isinya mengenai pendapat seorang penumpang MRT yang mana teman saya sendiri. Coba diklik videonya, dan jika berkenan disubscribe juga channel Youtube-nya. Hehehe. 


Intinya, saya berharap kedepannya MRT bisa mengubah pola kebiasaan masyarakat dari menggunakan kendaran pribadi ke MRT. Apalagi kalau nanti MRT menambah jalur, wah, pasti lebih seru. Jalur yang menggurita dan integrasi dengan transportasi umum lain, rasanya cukup mengurangi kemacetan Jakarta secara massif.
Tuktuk di Indochina




Kabupaten Pandeglang. Kayaknya masih banyak yang belum tau tentang kabupaten yang satu ini. Khususnya kalau dikaitkan dengan daerah tujuan wisata. Kalaupun ada yang pernah ke Pandeglang untuk berwisata, pasti enggak sadar kalau mereka lagi di Pandeglang. Coba, berapa orang yang ngeh kalau Tanjung Lesung itu masuknya wilayah administratif Pandeglang? Kebanyakan taunya Tanjung Lesung itu ya Anyer. Anyer itu masuknya Kota Serang, lho!

Pandeglang memang seperti ‘menyendiri’ di barat Jawa. Jarang orang tau tempat wisata apa yang ada di Pandeglang. Padahal, ya, potensi wisatanya besar sekali. Selain Tanjung Lesung, Taman Nasional Ujung Kulon pun letaknya di Pandeglang. Tapi nama Pandeglang sendiri tidak lebih besar dari Ujung Kulon.

Nah, ini mumpung belum lama saya pulang ke Pandeglang dan mencoba beberapa tempat wisata underrated yang ada di sana, saya coba tulis deh list-nya. Siapa tau berguna bagi yang mau berwisata murah, dekat Jakarta, dan tidak melulu soal Tanjung Lesung yang kalau weekend jalan ke sana macetnya kayak antrian zuppa soup di resepsi kawinan.

Kenapa saya bilang underrated? Karena belum banyak yang tau, dan murah meriah! Apa saja kira-kira tempat wisata di Pandeglang dan sekitarnya yang belum banyak orang tau? Ini menurut saya:

1. Gunung Pulosari  
Anak Gunung mesti coba, nih mendaki ke sini. Namanya memang tidak sebesar Gunung Gede-Pangrango, Salak, Papandayan, atau Ciremai di Jawa Barat. Tingginya pun relatif rendah, 1.346mdpl. Namun, masih aktifnya gunung ini dan terdapat kaldera menjadi daya tarik tersendiri. Ada air terjunnya juga sebelum kita sampai di kawahnya. Menurut Wikipedia, Sunan Gunung Jati pernah ke gunung ini untuk menyebarkan Islam.

2. Duren Jatohan Haji Arif 
Sebetulnya ini masih masuk Kabupaten Serang, tetapi sudah sangat dekat dengan Pandeglang. Penggila durian bisa merasakan ‘surga dunia’ di sini, yaitu merasakan durian fresh yang baru jatoh dari pohonnya. Beraneka ukuran, dan jenis durian ada di sini. Kualitasnya jaminan mutu, kalau lagi makan terus ketemu daging durian yang busuk, garansi diganti utuh. Harganya berkisar antara 125-150 ribu Rupiah, tergantung ukuran. Side dish-nya biar enggak gumoh-gumoh amat, disediakan tahu goreng. Kalau dilihat dari nama tempatnya, pasti ini ownernya bernama Haji Murad atau atau Haji Kelik. Anjay, kagak lucu. Ehe!

3. Pemandian Air Panas Cisolong Kabupaten Pandeglang ternyata menyimpan energi panas bumi. Dan ini dimanfaatkan warga untuk membuat pemandian air panas. Pemandiannya dibuat seperti kolam renang. Tiket masuknya hanya lima ribu rupiah per orang. Awalnya pemandian ini dibuka 24 jam, tetapi karena pengelolanya diprotes warga sekitar, jadi hanya beroperasi hingga jam sepuluh malam. Banyak anak motor yang turing jauh-jauh dari Jakarta melepas lelah mandi di sini. Berendam di sini berasa dipijat-pijat, bikin relaks persendian. Nyessss… 
Yang motret cakep


4. Taman Bunga Kebon Jambu 
Ini pernah crowd di Instagram. Jadi konsepnya adalah sebuah kebun bunga di tengah sawah. Hamparan hijau persawahan diselingi warna-warni beraneka bunga dengan latar belakang Gunung Pulosari, mata mendadak jadi manja di sini. Ajak pacar ke sini cocok banget, deh, asli! Ada juga kebun jambu air di sini, di mana kalau sedang berbuah kita bebas memetik dan memakannya di tempat. Kalau mau bungkus, bayar per kilo sepuluh ribu. Oh iya, harga tiket masuk ke sini cuma tujuh ribu rupiah saja plus dipinjami caping petani untuk keperluan foto-foto. 


Bagaimana Cara ke Tempat-tempat Tersebut? Pandeglang adalah sebuah kota yang tidak bisa dibilang kecil, namun infrastruktur maupun fasilitas transportasinya amat sangat terbatas (enggak tega bilang kurang). Untungnya, tempat-tempat wisata yang saya sebutkan tadi jaraknya berdekatan dan tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Mari asumsikan bahwa pusat kota itu adalah alun-alun kota. Maka untuk mencapai tempat-tempat wisata di Pandeglang tersebut milestone kita yang pertama adalah mencapai alun-alun.

  • Kalau Naik Kendaraan Pribadi
Setelah menyusuri ruas tol Jakarta-Merak arah ke Merak, keluar di tol Serang Timur. Lalu menyusuri jalan raya Serang-Pandeglang. Lurus saja terus. Duren Jatohan Haji Arif terletak di ruas jalan ini, jika sudah memasuki daerah bernama Baros bersiap-siaplah, kedainya ada di sebelah kanan jalan.

  • Kalau Naik Kendaraan Umum
Satu-satunya bus yang langsung ke Pandeglang adalah grup Murni dan Asli Prima dari Kalideres jurusan Labuan. Tapi demi kenyamanan dan kesehatan jantung, saya tidak merekomendasikan untuk naik bus ini. Kenapa? Googling deh, saya enggak mau cerita di sini, ehe.

So, naik saja bus jurusan Merak, dan turun di Serang sesaat setelah keluar tol Seran Timur. Lalu untuk menuju Pandeglang kita mesti berganti angkot dua kali. Setelah sampai di Alun-Alun Pandeglang, untuk menuju masing-masing tempat wisata bisa menggunakan ojek online, ojek konvensional, atau carter angkot.

Atau bisa juga naik Commuter Line dari Tanah Abang ke Rangkas Bitung. Dari Rangkas masih tiga kali lagi naik angkot ke Pandeglang. Saya perah menulis rusuhnya naik Commuter Line ke Pandeglang via Rangkas. Klik di sini-----> Yos Ganteng!

See? Agak ribet, ya. Itu yang saya bilang masih kurangnya infrastruktur dan pilihan transportasi. UMR Kabupaten Pandeglang itu yang paling rendah di Provinsi Banten, jadi untuk menaikkan penghasilan warganya sektor pariwisata yang paling punya potensi.

Tempat-tempat wisata di Pandeglang dan sekitarnya yang saya sebutkan di atas baru segelintir. Masih ada wisata ziarah, Pandeglang memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di Jawa bagian barat, jadi banyak tokoh dan ulama yang dimakamkan di sini. Ada juga pemandian Batu Qur’an dan Cikoromoy yang sebetulnya tidak kalah dengan Umbul Ponggok di KL (Klaten).

Kalau tempat-tempat wisata tersebut sudah terkelola dengan baik dan infrastrukturnya terintegerasi, industri lain pasti bakal tumbuh. Kuliner, dan penginapan murah akan ramai, ekonomi warga sudah otomatis berputar dan berkembang.

Ayo, ke Pandeglang…
PEMBERITAHUAN: Mohon maaf dengan sedikitnya foto, karena toilet adalah ruang publik yang cukup privat. Jadi saya tidak bisa sembarangan ambil foto, di negara lain pula.

Tidak mudah memang mengurus tata ruang sebuah kota. Harus diperhatikan berbagai aspek mulai dari pembagian wilayah hunian, hingga melengkapi kota itu dengan fasilitas umum bagi warganya. Fasilitas yang tentu saja bukan hanya tersedia, tetapi juga harus layak. 

Pengalaman Menggunakan Toilet Umum di Berbagai Negara
Salah satu fasilitas umum yang vital adalah toilet umum. Saya punya beberapa pengalaman dengan toilet umum ketika traveling ke negara lain. Di Vietnam, saya terpaksa bayar toilet umum dengan mata uang Rupiah karena uang Dong saya tertinggal di mobil, untung yang jaga mau terima.

Di Malaysia saya pernah mandi di toilet bandara, hingga digedor-gedor sama petugas kebersihannya. Di Kamboja, di sebuah rest area bus, toiletnya tidak ada air dan tisunya. Mungkin pengelola toiletnya berpikir cebok bisa pakai aliran udara. Sekalian saja tulis pengumuman, ‘HABIS BUANG AIR HARAP JANGAN LUPA DITIUP HINGGA BERSIH. TERIMA KASIH. –MANAJEMEN’. Memangnya saya Avatar sang pengendali angin?

Dan tiba saatnya saya mengunjungi India. Teman-teman ketika tahu saya akan ke India reaksi mereka sebagian besar kompak, “Ih, India kan bau!”. Saya, sih, tidak terlalu ambil pusing. Toh yang ngomong begitu juga belum pada pernah ke India, hanya berbekal ‘katanya’.

Dan ketika saya mendarat di India opini teman-teman saya tidak salah. Aroma tidak sedap sangat mudah kita hirup di negara yang sensi banget sama Pakistan ini. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah sanitasi yang buruk. Toilet umum di India bisa dikatakan unik-unik. Seperti ini uniknya,

1. TEMBOK BERSEKAT

Waktu eksplor New Delhi, saya jalan kaki dari hostel mau ke Red Fort. Menembus pasar-pasar, dan gang New Delhi. Karena udara dingin, jadi gampang beser. Kabar baiknya toilet umum banyak. Kabar buruknya, toiletnya tidak tertutup. Jadi secara bangunan, yang permanen dari toilet ini hanyalah sebidang tembok yang diberi sekat pemisah tanpa dinding apalagi pintu, dan kran yang, kalau beruntung, airnya keluar. 
Ruwednya New Delhi
Di Pingir Jalan Letaknya persis di pinggir jalan, jadi kita pipis membelakangi jalan. Lalu lintas di Delhi itu bisa bikin tekanan darah seorang paling sabar pun berada pada titik tertingginya. Di sana, kendaraan seperti berlomba-lomba membunyikan klakson tanpa alasan. Macet enggak, lampu merah enggak, lewat terowongan Kasablanka juga enggak, tapi bebunyian klakson sambung menyambung tidak berhenti. Kayaknya bikin SIM di India parameter kelulusannya dinilai dari sejago apa seseorang merangkai nada pakai klakson kendaraannya. 
Bangunan yang ada gentengnya itu adalah toilet

Awas Kaget!
Nah, terbayangkah lagi nikmat-nikmatnya pipis lalu ada motor atau mobil lewat sambil membunyikan klakson lalu kita kaget dan si titit sawan lalu pipis jadi acak-acakan? Jadi alasan kenapa ada anggapan India itu bau sedikit terjawab, toilet umum buat pipisnya terbuka begitu.

Toilet di Jaipur 
Di Jaipur berbeda lagi. Suatu pagi di hari terakhir saya di India, saya jalan kaki mau ke Ajmere Gate buat cari bus menuju Amber Fort. Di kejauhan saya melihat orang berjejer ngobrol, di depan mereka ada puing tembok setinggi dada. Ketika semakin dekat dan sudut pandang saya ada di samping mereka baru saya tahu mereka lagi pada pipis masal. Kesel lihat pengendara motor ngobrol di jalan raya di Indonesia? Yuk ke Jaipur, lihat orang kencing sambil kongkow. Air pipisnya sampai menganak sungai dan mengalir ke jalan raya. Hmmm…pagi-pagi lihat pemandangan demikian, saat yang tepat buat sarapan bubur!

2. TOILET JONGKOK Ini bukan toilet jongkok bermerek TOTO atau INA seperti yang engkau pikirkan wahai para pembaca. Ketika di Jama Masjid, saya kebelet buang air kecil. Saya pun mencari toilet. Ada satu bangunan toilet umum. Aha, kali ini toiletnya ada bangunannya! Tidak khawatir kesamber bajaj, deh. Begitu pikir saya. Saya ikut mengantri dengan beberapa jama’ah masjid yang sebagian besar pakai gamis.

Bayar Dulu Baru Pakai 
Oh iya, toilet umum berbayar di India itu bayar dulu baru pakai. Jadi setelah bayar saya buru-buru masuk. Sampai di dalam saya bingung karena tidak ada bilik WC-nya. Suasana ruangannya gelap dengan penerangan bohlam seadanya. Saya masuk lebih dalam lagi, dan mendapati sekat-sekat kayu yang menempel di dinding. 

APAAN, TUH???
Ketika mata saya terbiasa dengan cahaya minim, saya melihat pemandangan yang, saya tidak percaya akan mengatakan ini, tapi pemandangan itu memang akan sulit dilupakan. Jadi saya melihat orang-orang pipis menghadap tembok, tapi mereka jongkok dengan menyingkap baju gamisnya hingga pinggang. Saya menjerit dalam hati, “LAH INI NGAPA PANTAT SEMUA, ANJIR???”

Pipis Jongkok Itu Repot Saya baru sadar mungkin ini cara pipis di sini. Memang bagus sih secara syariat, lebih aman dari najis. Tapi, tapi, tapi buat saya yang tidak biasa ya repot juga. Saya pakai celana dobel-dobel karena dingin, sudah begitu pakai sepatu pula. Effortnya terlalu besar untuk bisa pipis jongkok. Di tambah harus membiarkan pantat bebas di ruang publik? NO THANKS!

Everlasting Memories
Tidak semua jalan-jalan akan menghasilkan kenangan indah. Pemandangan berbagai bentuk belahan pantat, yang berlesung, yang belahannya kurang presisi, yang bentuk garisnya kayak lambang The Flash, yang berbentuk love terbalik, semuanya akan terus terekam dalam memori otak saya. Saya tidak pernah melihat pantat terbuka sebanyak dengan formasi serapih itu.

3. TOILET BANDARA Bandara Internasional Indira Gandhi adalah salah satu bandara tersibuk di dunia. Kabarnya bisa sampai 4 juta manusia keluar masuk bandara ini setiap harinya. Ketika saya ke bandara ini untuk me-reschedule tiket yang di-cancel, saya berkesempatan menjajal toiletnya.

Foto di Toilet 
Toilet umum di bandara ini tidak seperti toilet umum di bandara lain. Di tempat lain untuk membedakan toilet pria dan wanita dipasang tanda atau simbol berbentuk siluet bidang yang melambangkan pria dan wanita. Atau jelas ditulis ‘Men’ dan ‘Women’. Namun, toilet di Bandara Indira Gandhi ini berbeda cara membedakannya. Di dinding ujung lorong pintu masuk masing-masing toilet di pasang foto (IYA FOTO!) ukuran superbesar. Toilet cowok pakai foto model cowok, dan yang cewek model cewek. Entah artis Bollywood mana itu yang dijadikan model.

Toilet Atau Baliho?
Masalahnya untuk yang tidak terbiasa dengan konsep pembedaan seperti itu pasti membingungkan. Tulisan ‘Toilet’ nya pun kecil. Jadi kalau kita hanya sekadar lewat bakalan tidak sadar itu adalah toilet, mungkin hanya menyangka seperti space untuk iklan. Kalaupun tahu itu toilet, bakalan bingung mana yang buat perempuan mana yang buat pria. Karena ya itu tadi, butuh waktu untuk yang tidak biasa menyadari bahwa untuk membedakan toilet pria-wanita adalah dengan cara melihat fotonya. Ampun, dah! Siapa juga gitu yang kepikiran buat pasang foto model cantik dan ganteng segede bajaj gitu buat penanda toilet.

HATI-HATI DENGAN TOILET UMUM BERBAYAR Selain bau, yang mengkhawatirkan dari India adalah tingkat scaming yang katanya tinggi. Ini saya kena, nih, di toilet umum di Jaipur ketika mengunjungi Amber Fort. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa toilet umum berbayar di India itu bayar dulu baru pakai. Nah waktu itu saya tidak ada uang kecil, jadi saya bayar pakai uang 200 rupee. Oh iya, harga toilet umum sekali pakai umumnya 10 rupee saja. Saya disuruh masuk dulu, kembaliannya nanti pas sudah selesai.

Rugi Setelah Pipis 
Setelah selesai pipis, saya minta kembaliannya. Tetapi si penjaga hanya memberi 100rupee. Dia bersikukuh tidak ada uang kecil, lalu bilang mau pergi sebentar untuk cari uang kembalian. Dan…ya, dia tidak pernah kembali lagi, atau mungkin nukerin uangnya di Alfamart stasiun Gambir. Tekor 90 rupee, dah! Jadi saran saya, kalau mau pakai toilet umum berbayar di India, pakailah uang pas 10rupee atau pecahan uang yang tidak terlalu besar biar kalaupun kena scam tidak gondok-gondok amat =(






Disclaimer, harap dibaca biar tidak kecewa: Postingan ini akan banyak menyebut beberapa merek atau brand yang tidak membayar saya, karenanya namanya saya plesetkan, dikira-kira aja lah ya pasti paham.

Tokoh yang terlibat: Saya, temen saya (Centong), beberapa figuran petugas imigrasi India, beberapa traveler lain, dan seorang selebgram.

Tepat sebelum postingan ini, saya menulis tentang drama sebelum saya traveling ke India. Gimana seru, nggak? Biasa aja pasti. Oke. Nah, saya kira drama itu cukup berhenti di Indonesia dan saya bisa menikmati liburan ke India dengan tenang. Namun, apa yang terjadi saudara-saudara sebangsa dan setanah wakaf? Tragedi demi tragedi mengikuti perjalanan saya dan kawan hingga ke tanah Hindustan di sana. Saya mengira plot dramatis India itu hanya ada di film, ternyata ketika traveling ke sana pun kisah berliku itu eksis. Baik, mari saya ceritakan satu per satu.

1. Visa Visa Ulala  
Huru-hara dimulai dari membuat visa India. Sedikit ada angin segar ketika pertengahan tahun 2018 terjadi kesepakatan Indonesia-India yang membebaskan biaya bagi pengajuan e-visa India. Bagaimana cara mengurusnya akan saya tuliskan di lain postingan. Karena ini e-visa dan gratis, jadi saya dan kelima teman yang lain sepakat untuk mengurus visa terpusat di satu orang. Entah apes atau untung, saya yang kebagian submit visa-visa kami. At the end, visa kami semua diapprove, cihuy lah! Berangkat lah kami ke India setelah transit 12 jam di KL. Sampai imigrasi Bandara Jaipur kami semua menyiapkan dokumen yan diperlukan untuk diperiksa.

Jadi sebelum sampai meja imigrasi, ada petugas yang mengecek manual bagi mereka yang menggunakan e-visa. Saya berada tepat di belakang si Centong teman saya. Giliran Centong diperiksa dokumennya oleh petugas imigrasi.

“Sorry, sir, why number passport in your e-visa and your passport didn’t match?”

Saya dan Centong terdiam dengan air muka perlahan berubah pias. Setelah kami cek, memang benar beda. Jadi nomor passport yang digit akhirnya 229 malah tertulis 299.

Saya ingat betul Centong menatap saya dengan tatapan singa belum makan selama empat purnama.

“Elu ngisinya gimana waktu itu? Gue kagak cek juga, sih. Duh!”

“Iya, sori. Typo gue kayaknya.”

Centong diinterogasi karena ketidakcocokan data. Diminta menunjukkan copy paspor, tiket pulang, dan tanda lahir di pantat kanan atas. Semua diserahkan. Saya yang dokumennya tidak ada masalah tetap menemani Centong di ruang imigrasi. Kami diam. Petugas imigrasi balik lagi, kami menghampirinya kayak keluarga pasien nyamperin dokter yang abis keluar dari ruang operasi.

“Sorry, Sir. Kami harus menghubungi beberapa pihak dulu, nanti akan diputuskan apakah anda boleh masuk, atau harus pulang ke negara anda.”

Kami berdua lemas. Centong lemas karena liburannya ke India terancam gagal, saya lemas karena terancam miskin harus tanggung jawab membelikan Centong tiket pulang.

Seorang bapak dengan setelan jas keluar. Kayaknya kepala imigrasinya. Centong dipanggil. Centong lega setelah si bapak bilang,

“Kamu kalau mau masuk negara orang harus teliti! Ini yang pertama saya maklumi, yang kedua dan ketiga nanti tidak akan! Sudah ambil sepedanya sana, eh, masuk sana!”

Hamdalah! Lutut saya kembali kuat dan nafas lega mampu lagi saya hembuskan. Kesalahan typo saya hampir membuat seorang WNI dideportasi. Sebetulnya bisa saja, sih, protes kenapa kalau datanya tidak sesuai visa Centong bisa diapprove. Tapi yah, namanya juga mau bertamu ke negara orang, kita harus sopan karena bisa jadi kalau kita ngotot malah tidak boleh masuk.

“Cen, kalo tadi akhirnya lu disuruh pulang, masih mau temenan ama gue nggak?”

“GAK!!!”

Nah pas mau pulang keluar India, petugas imigrasinya mempermasalahkan lagi.

“Ini visa kamu statusnya rejected, kok bisa masuk?”

“Loh kan udah diapprove sama bapak yang waktu itu bertugas.”

Tidak mau memperpanjang masalah, paspor Centong pun dapat cap keluar. Jadi selama di India kawan saya itu berkeliaran dengan status visa yang ditolak! Kalau belum ada tulisan atau cerita serupa, hingga tulisan ini diturunkan, maka Centong adalah orang pertama yang bisa masuk India dengan status visa ditolak! Living legend traveler! Salim lo pada kalo ketemu!
Tuan Takur aja kalo ketemu beliau nyetor beras pasti
2. Pesawat Cancel  
Selain Golden Triangle (Jaipur, Agra, New Delhi), tujuan wisata kami adalah Kashmir. Sebuah kota di utara India yang sedang bersalju. Untuk ke sana, kami harus mengambil penerbangan lokal yang hanya ada dari New Delhi. Saya dan Centong mengambil maskapai berbeda dari empat teman yang lain. Yaitu maskapai Aer AihSiah. Baru sampai hotel di Jaipur, rebahan dikit, saya menerima email bahwa penerbangan kami ke Srinagar, Kashmir, pada tanggal yang telah ditentukan dicancel karena adanya pertunjukan udara militer India untuk menyambut hari kemerdekaan.

COBAAN APALAGI INI YA TUHAN??? AMPUNI HAMBA JIKA TERLALU BANYAK NONTON SINETRON AZAB DAN KESERINGAN NGECENGIN FANS ARSENAL.

Kami disuruh hubungi call center, tapi kami tidak tahu call center Air Asia India. Jadi pas hari H keberangkatan kami langsung mnggerebek loket Aer AihSiah minta diterbangin, atau ganti dengan maskapai lain. Tetapi kami hanya dikasih opsi reschedule atau full refund. Akhirnya kami damai dengan memilih opsi reschedule. Mau tidak mau, walaupun harus kehilangan satu hari di Kashmir nanti. Boleh ngomong bangsat, nggak? 
Yang nyebelin dari bandara di India security checknya banyak banget. Sebanyak apa? Tuh itung aja cap stempelnya
3. Kehabisan Uang Hingga Bayar Main Ski Pakai Ringgit Malaysia Pesawat cancel menimbulkan efek domino yang cukup serius bagi perjalanan saya dan Centong. Karena penerbangan kami diundur tiga hari kemudian, kami harus stay lebih lama di Delhi. Banyak keluar uang lagi untuk hotel dan makan. Centong akhirnya memutuskan untuk tarik tunai di ATM mengingat stok Rupee sudah menipis. Dia menggunakan ATM Bank Gamanja. Kenapa namanya Gamanja? Karena bank itu mandiri. Ternyata ATM Bank Gamanja ini tidak berfungsi di India padahal ada logo BISA dan MASTER LIMBAD nya. ATM saya yang Bank ABC dengan chip juga ditolak. Ada sih ATM Bank Megi, tapi kita mikirnya bank gede macam Gamanja dan ABC aja tidak bisa, apalagi Bank Megi coba.

Akibatnya sampai Kashmir duit kami benar-benar nyaris habis, itu pun harus kami keluarkan untuk sewa mobil ke Gulmarg, juga sewa sepatu dan jaket untuk penangkal dinginnya salju. Di Gulmarg, wahana utamanya adalah naik cable car sampai atas bukit. Beruntung tiketnya bisa dibeli dengan kartu kreditnya Centong. Jadi kami tetap bisa main salju di atas. Setelah itu kami diarahkan untuk main ski. Kami menolak sebetulnya, karena sudah capek. Capek fisik, capek dompet. Kami ingat masih punya Ringgit karena kami sempat transit lumayan lama di KL.

“Is it real Malaysian money?” Tanya yang nyewain alat-alat ski.

“Of course!” Yakali kita berani mengedarkan uang palsu, uang negara tetangga pula.

“But you are Indonesian!”

Duh, bagaimana ini menjelaskannya.

“We was transit on Kuala Lumpur, so we had it.”

“Hmmm…so, you are live in Malaysia?”

“BODO AMAT! NGGAK GITU, MAT SANI!”

Setelah dijelaskan panjang lebar, akhirnya kami merelakan 72RM untuk berdua main ski. Rugi apa untung, tuh? Itung sendiri deh. MALES MIKIR!

Untungnya tiket cable car kami diganti sama operator tur, karena ternyata harga yang kami bayar sudah termasuk tiket tersebut. Kami jadi punya cash lagi. Jama’ahhhh…woi jama’aaahhhh. Alhamdu….lillah…. 
Gaya aja dulu, miskin mah pikirin belakangan
4. Bertemu Traveler Lain dan Seorang Selebgram Di antara tragedi yang terjadi, ini yang paling mendingan sih. Jadi ketika saya dan Centong urus jadwal reschedule di konter Aer AihSiah, kami bertemu dua kakak-beradik. Mereka lebih parah, baru saja mendarat di Indira Gandhi International Airport, lansung diberi tahu kalau penerbangan ke Kashmir Cancel. Itinenary mereka jadi lebih kacau dari kami, karena harus menempatkan Kashmir di akhir perjalanan. Nama mereka Mbak Nuna dan Mbak Sofie.

Lalu yang kedua, ketika kami akan mengakhiri perjalan di Kashmir, menuju bandara kami semobil dengan Mbak Eta. Ngobrol panjang lebar, ternyata doi ini selebgram, followersnya tumpah-tumpah. Coba cek akun @btarimaskha. Dia senasib nih sama kami, kehabisan uang karena tidak menyangka Bank Gamanja tidak berfungsi di India. 
Mbak Nuna, Mbak Sofie, Dipsy, dan Lala
Mbak Eta, Badut Oppo, dan Badut Vivo

5. Pesan Tiket Kereta Pakai Bahasa Planet SX678K07 Yang Berjarak 150 Juta Tahun Cahaya Sabuk Kuiper Efek domino lain akibat pesawat reschedule, kami kehilangan jemputan yang mestinya menjemput kami dari New Delhi menuju Jaipur. Jadi saya dan Centong memutuskan untuk naik kereta (Damn, duit lagi!). Kami nekat datang ke Stasiun Old Delhi untuk beli tiket on the spot. Ternyata bisa. Proses simpelnya, kita harus mengisi form dengan data-data tujuan, nama kereta, jadwal yang diinginkan, hingga data pribadi.

Tapi aktualnya tidak sesimpel itu Mulyono! Meminta formnya saja susah, karena petugas di loket tidak mengerti Bahasa Inggris.

“Where can we get that form?” Saya menunjuk seorang calon penumpang yang sedang mengisi form.

Si petugas menatap bingung, godek-godek, dan menunjuk loket sebelah. Oh mungkin saya salah loket. Beralih ke loket sebelah saya mengulangi pertanyaan yang sama dan dijawab,

“!@##*$&$(R%()*#&@&#(#)))&&^$$^”

AU AMAT!

Jam 9 kami memesan tiket, jam satu siang kami baru selesai karena keterbatasan bahasa. Entah bahasa apa yang kami pakai sehingga akhirnya ada titik temu. Saya tidak mengerti mengapa petugas KAI India ini tidak pede menghadapi orang asing. Mereka selalu melempar ke rekan yang lain begitu tahu lawan bicara adalah orang asing. 
Di tapsiun
6. Ke Bandara Jalan Kaki Ini cerita masygul terakhir, nih. Menjelang akhir perjalanan kami di India, saya dan Centong bersiap menuju Bandara Internasional Jaipur. Kami menunggu bus nomor 6A di Ajmeer Gate yang menuju bandara. Setengah jam menunggu akhirnya datang juga itu bus.

Tapi ternyata kami diturunkan tidak tepat di bandara, melainkan di sebuah taman dengan gerbang selamat datang di Rajashtan. Kalau lagi musim panas, bunga-bunga bermekaran di sini.

Dari taman tersebut kami jalan kaki menuju bandara yang ternyata cukup jauh. Untuk pertamakalinya dalam sejarah hidup kami ke bandara tidak didrop oleh kendaraan. Kami sempat ditegur polisi yang jaga, kok ke bandara jalan kaki. 
The Guardian. Welcome to Rajashtan
Malam itu saya dan Centong meninggalkan India. Ada perasaan lega. Karena setidaknya kami lepas dari segala drama Bollywood ini. Ada sedih, lucu, tragis, dan yang jelas, meaningful. Centong enak melewati itu semua dengan setiap pagi video call sama pacarnya. Lah saya? Streamingan FTV tanah air yang ceritanya cuma saling melotot lalu bisa jadian. Ya Allah…
Wah enggak terasa sudah Januari 2019, kayaknya baru sebulan lalu masih 2018. Banyak jalan-jalan dan beberapa trip yang belum saya tuliskan di blog ini, padahal sibuk enggak, pacaran enggak, jadi juru kampanye juga enggak. Intinya mah hidup selow, tapi males!

Tetapi rasanya pengalaman berikut seru juga untuk saya ceritakan di sini. Sekitar awal bulan Desember 2018, saya ikut tur Jakarta Goodguide rute Kuningan. Dalam tur tersebut ada seseorang yang menarik perhatian peserta tur lain. Sosoknya begitu eye catching dengan bentuk muka khas Hindustan berhidung mancung, warna mata kecoklatan dibalik bingkai kacamata, dan rambut pendek tak sampai leher. Untuk ukuran wanita, badannya cukup lurus dan simpel nyaris tanpa lekukan-lekukan. Kulit Asia Selatannya yang coklat bersih berkilau alami.

Kami mengenalnya dengan nama Trupti. Seorang kelahiran India namun berkebangsaan Inggris seperti suaminya. Dia bekerja di salah satu NGO yang sedang ada proyek di Indonesia, untuk mengisi waktu dia mengukuti tur atas saran dari Trip Advisor.

Setelah mengikuti rangkaian tur yang berakhir di Pemakaman Belanda, Menteng Pulo, Trupti mengatakan bahwa dia ingin menjelajahi Kota Tua tapi tidak punya teman. Saya yang beberapa hari dari sekarang mau ke India menawarkan diri untuk menemani, sekalian mau tanya-tanya soal India. Kami berangkat dengan satu lagi teman saya yang ikut, Ocha.

Dari obrolan kami di Commuter Line, Trupti bercerita bahwa India itu luas sekali.

“Kamu tahu, saya sampai sekarang belum pernah ke Taj Mahal. Selain karena saya lebih banyak di Ingris, Ya karena India itu luas banget. Dari Mumbai ke Agra jauh. Jadi ketika ke India saya tidak pernah sempat.”

Dan masih banyak lagi tempat-tempat di India yang belum dikunjungi Trupti. Eh, tapi dia pernah ke Kashmir, salah satu tempat yang nantinya saya kunjungi.

“Ya, saya pernah ke Kashmir, waktu itu bulan madu sama suami saya. Kamu serius Januari mau ke sana? Dingin banget pasti, it must be on peak winter! Tapi pemandangannya juga pasti indah banget, dan kamu mesti coba teh Kashmir. Terbaik di India!”

Sampai di Stasiun Kota Tua tengah hari, waktunya makan siang. Nah ini agak ribet, karena Trupti walau tinggal di salah satu kota besar Eropa, tapi tidak melepaskan budaya dan ajaran agamanya. Dia vegan. Bukan sekadar vegetarian. Mungkin ada yang belum tahu bedanya vegetarian dengan vegan, vegetarian hanya tidak makan daging tok tetapi masih makan daily produk lain yang berasal dari hewan semisal susu, keju, dan telur. Tapi kalau vegan tidak ada toleransi sama sekali, makanan apa pun yang berasal dari makhluk hidup selain tumbuhan mereka pantang.

Nah kan susah cari makanan yang enggak ada unsur hewaninya di Jakarta. Tawarin janur kuning diurap aja apa, nih?

“Gado-gado mau?” Tawar Ocha. 

“No. Saya makan itu terus di hotel.”

Akhirnya kami masuk ke Bakmi GM dengan pertimbangan si Trupti kita pesenin mie jamur. Eh ternyata mie jamurnya enggak bisa dipisah sama ayamnya. Gimana sih, masa misahin jamur ama ayam aja enggak bisa? Gimana mau misahin tawuran anak STM.

“Iya, Mas soalnya jamur sama ayamnya itu sudah diolah dan dicampur.”

Masalahnya Trupti ogah kalau cuma makan mie polos.

“Nasi goreng mau? Makanan kesukaan Obama.”

“No egg?”

Akhirnya setelah ngebujuk dan negosiasi alot sama pramusaji, bisa juga pesan nasi goreng polos tanpa ayam, dan telur. Kami baru saja menurunkan kualitas makanan kesukaan Obama.

Makan selesai. Kami ke museum wayang. Saya senang karena Trupti begitu antusias melihat tokoh-tokoh wayang yang tidak jauh berbeda dengan mitologi kepercayaannya. Tentang Pandawa, Kurawa, Barathayudha, dan perbedaan Mahabharatha versi India dan Jawa.

“Kasihan Dewi Drupadi di Jawa, suaminya cuma satu. Di India dia punya lima, hahahaha!”

Lah? Ngapa ini dia?

Oke, dari Kota Tua kami lanjut ke kawasan silang Monas. Trupti dengan peta di tangannya bersikeras bahwa kita mesti mengunjungi Monas. Okelah kita antar. Di Monas baru sebentar kami berjalan, Trupti yang saat itu berjalan di belakang saya dan Ocha berteriak,

“Guys, HELP!”

Saya dan Ocha menengo ke belakang, terlihat Trupti sudah duduk di tanah dengan isi tas berhamburan. Khawatir itu orang kesurupan setan keder, kami langsung berlari menghampiri. Air mukanya panik.

“My wallet is lost!”

Trupti mengaduk-aduk isi tas. Saya meyakinkan lagi supaya dia memeriksa semua kantong bajunya. Hasilnya dompet merah itu tetap tidak ditemukan. Suasana berubah manjadi tidak enak seketika. Begitu banyak cerita tentang scaming ketika sedang berada di negara lain, dan saya khawatir Trupti berpikiran bahwa dia korban scam. Dan takutnya, dia mencurigai saya dan Ocha.

Untungnya Trupti cukup berpeikir jernih dan tidak mencurigai kami. Karena posisi tasnya tertutup, jadi mana mungkin ada orang yang nyopet, kecuali itu orang punya kemampuan sulap kayak Jesse Eisenberg di film Now You See Me. Jadi kemungkinannya dompetnya jatuh waktu dia ambil uang untuk bayar tiket Transjakarta.

Kami pun membuat laporan kehilangan ke Transjakarta, dan petugasnya berjanji akan mengabari jika ada laporan penemuan sebuah dompet berisi kartu kredit, citizenships ID, beberapa kartu nama, uang 800.000 IDR, dan 21 USD.

“Saya telepon hotel saya, dan suami saya dulu untuk mengabarkan ini.”

Semenit.

Dua menit.

“Ya, ampuunnnn…”

Trupti menunjukkan layar ponselnya. Kelap-kelip dan tidak merespon tiap sentuhan di layarnya. Rusak. Yelah, belum dirukiyah kayaknya nih, apes bener Neng.

“Shit, stupid, fuck!” Makinya. Ternyata orang rendah kolesterol kalo lagi emosi mah sama aja ama yang darah tinggi.

Kami menawarkan untuk mengantarnya ke hotel dengan naik taksi online. Trupti setuju. Sepanjang perjalanan dia nangis, dan kami menghiburnya.

“Masih untung kan di situ nggak ada paspor kamu.”

“Iya, masih untung kamu pergi ngga sendirian.” Begitulah penghiburan khas orang Indonesia, “masih untung”.

Kami tiba di hotel tempat Trupti menginap di bilangan Kuningan. Gile, hotel bintang lima yang isinya kebanyakan ekspat, OB sama cleaning service-nya aja Bahasa Inggrisnya jauh lebih jago dari saya. Trupti memaksa kami untuk mampir dan ngopi di restoran hotel.

Entah rejeki atau bukan, di penghujung hari itu saya bisa menikmati coffee pack termahal. Pisang goreng seharga tujuh puluh ribu rupiah, dan secangkir cappuccino. Sebelum pulang, saya berjanji ke Trupti akan mengirimkannya foto-foto India, kampung halamannya yang sejati.

Namaste! 



author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.