Yosfiqar Iqbal Travel Blogger Wanna Be Kalau Merasa Hidup Tidak Berguna, Inget Aja AC di Dashboard Angkot

Tanda dewasa (atau tua) salah satunya adalah mulai malas dengerin lagu-lagu baru. Makanya seenak apapun lagu-lagu di album terbarunya Tulus, saya enggak pernah denger kalau bukan dari Instastory kawan-kawan yang memvideokan jalan tol dari point of view dashboard mobil lalu diberi sisipan lagu Hati-Hati di Jalan. Preferensi musik saya berhenti di jaman Sheila on 7, Padi, Dewa pas Dhani masih sama Maia, sampai paling jauh ya Fourtwnty, lah. Setelah itu, ya sudah, lagu-lagu kekinian saya jarang yang tau.


Ini membuat fungsi aplikasi streaming audio saya sangat jarang memutar musik. Saya lebih suka memutar siniar (podcast). Semakin bertambah usia, saya menyadari bahwa lebih asyik ngobrol daripada nyanyi, walau cuma mendengarkan. Dulu saat radio masih jaya saya pernah merasakan asyiknya mendengar obrolan tongkrongan Jimi-Buluk di siaran pagi, atau jokes-jokes receh namun relate ala Surya-Molan. Nah, karena sekarang radio lebih banyak lagu dan iklannya, maka saya beralih dengerin podcast.




Saya ada beberapa siniar langganan yang kerap menjadi teman perjalanan saya dari rumah ke kantor. Kebanyakan kreator siniar tersebut diisi oleh publik figur dan stand up komedian. Harus diakui, kemampuan stand up komedian dalam public speaking dan mengolahnya jadi humor menjadi daya tarik tersendiri untuk saya. Berikut podcast langganan saya:

1. Podcast Senggol Bacot

Konten ini saya dengerin di platform Spotify. Siniar ini berisi 4 komika Betawi yaitu David Nurbiyanto, Afif Xavi, Dicky Diffie, dan Yudha Brajamusti. Karena dibesut oleh 4 seniman Betawi, premisnya tentu saja soal keresahan sebagai suku Betawi. Atribut Betawi ini yang membuat saya tertarik sejak pertama dengerin. Karena saya juga Betawi asli. Soal tanah warisan, keluarga Betawi, politik, hingga rumah tangga sebagai orang Betawi dibahas dengan format obrolan lepas ceplas-ceplos khas Betawi. Saking dekatnya topik obrolannya dengan kehidupan saya, enggak jarang tanpa sadar saya tertawa ngakak atau mata berkaca-kaca karena terharu.


2. Podcast Berbeda Tapi Bersama

Mungkin ini siniar paling berisi daging yang saya dengerin. Pengisinya adalah Habib Husein Ja’far Al Hadar. Temanya adalah mengangkat segala sesuatu yang kalau dilihat sekilas adalah kelompok minoritas namun ada di tengah-tengah kehidupan sehari-hari kita. Misalnya pembaca kartu tarot, agama Sikh, suku-suku di Indonesia. Walaupun begitu, sentuhan dan pandangan dari balik kacamata agama dalam memandang itu semua tetap menjadi tambahan wawasan tanpa membuat kita merasa diceramahi. Secara implisit podcast ini ingin bilang kita enggak pernah sendirian di dunia ini. Siniar ini bis akita dengarkan di Noice.


3. Podcast Boba

Boba adalah akronim dari Bola Banget. Sebagai anak bola, rasanya ini podcast yang paling enak didenger. Kualitas Jerry Arvino sebagai sportcaster dan Afif Xavi sebagai komedian betul-betul perpaduan apik antara trivia-trivia dunia sepak bola dan humor satir di dalamnya. Kadang ada juga bintang tamu yang ngefasn dengan klub tertentu, mulai dari komedian hingga politikus. Episode favorit saya ketika mereka kedatangan Tsamara Amany, wonder kid dunia politik eks kader PSI. Pengetahuannya soal sepak bola bikin minder coy! Cus, ketik saja Boba di kolom pencarian Noice.


4. Podcast Hiduplah Indonesia Maya

Netizen mestinya suka dengan podcast yang satu ini. Dibawakan oleh Pandji Pragiwaksono di Noice. Sebelum review isinya, saya ingin mengutarakan kekaguman saya terhadap Pandji. Ini satu-satunya podcast yang pembicaranya sendirian dan saya suka. Kapasitas Pandji Pragiwaksono sebagai salah satu public speaker terbaik di dunia hiburan tanah air sangat terlihat dari cara dia menghandle siniarnya ini. Enggak heran dia pernah didapuk jadi juru bicara salah satu calon gubernur. Di podcast-nya ini, Pandji ngomongin apa-apa yang lagi rame dan viral di dunia maya. Mulai dari review film, statement viral di medsos, dan tentu saja politik. Pandji bisa mengulik perbincangan yang sedang hits dari sudut pandang berbeda dari arus utama. Untuk yang enggak mau ketinggalan topik-topik hangat dunia maya dan keributan netizen dengan opini yang insightful, podcast ini layak masuk daftar subscribe.


5. Podcast Beban Istri

Sumpah ini podcast di Spotify kocak banget, sih. Obrolan selebtwit Renne Nesa (makmummasjid) dan komika Heri Horeh istri-istrinya bekerja sementara mereka pengangguran. Yang bikin podcast ini ‘ngena’ bukan karena relatable-nya dengan saya, tetapi karena mereka membawakannya karena sudah berdamai dengan keadaan bahwa penghasilan istri mereka lebih besar dan teratur. Jadinya ya lucu banget. Kadang ada bintang tamu juga dari kalangan selebtwit atau konten kreator lain yang jadi ‘beban istri’.


Masih ada beberapa sih podcast yang suka saya dengerin untuk menemani rute rumah-kantor. Tetapi podcast di atas yang paling sering. Kalau di akhir tahun yang lain rekap Spotify-nya lagu-lagu, kalau saya ya podcast. 

Gimana, ada podcast rekomendasi lain kah? Skuy ramein, kalo rame lanjut ke Pak RT…


Salah satu kunci sukses yang paling mendasar menurut saya adalah konsistensi. Bahkan, konsisten gagal adalah jalan menuju sukses. Kalau kata Pak Bob Sadino, “habiskan jatah gagalmu sampai sukses”. Kalimat itu menyiratkan bahwa gagal dengan intensitas stabil bisa membawa kita ke pintu keberhasilan.

Masalah kenapa negara kita susah maju, kenapa enggak pernah masuk Piala Dunia, kenapa gini-gini aja, salah satunya ya karena kita kebiasaan dengan ikonsistensi. Malah diperparah dengan kurang spesifiknya informasi ketika berkomunikasi Contohnya nih,

1. Habis [insert waktu sholat]

Ini biasanya untuk merujuk waktu ketika janjian atau prediksi kapan suatu peristiwa akan terjadi. Yang jarang sholat saja kalau janjian sering menyebut “habis maghrib lah gue jalan”. Saya pernah janjian sama teman di hari minggu, dia jawab, “tunggu gua balik gereja, ya. Abis zuhur, lah.” LAH.

Yang jadi masalah untuk penunjuk waktu sehabis sholat ini adalah tentu saja ketidakkonsistenan karena setiap orang pasti punya standarnya sendiri. Misalnya habis ashar, kapan itu persisnya? Apakah ketika tepat muadzin selesai adzan? Adzan di masjid yang mana? Apakah ketika balita-balita habis mandi dengan muka penuh bedak mulai keluar main sama mbak-mbaknya? Ataukah menjelang maghrib? Bukankah waktu isyapun masuk habis ashar?

Coba bayangkan kalau lembaga intelejen suatu negara mendapat informasi kurang valid karena kebiasaan pakai penunjuk waktu ini,
"Target terlihat sedang bergerak, Pak! Ganti kijang satu."
"Kijang dua terima. Bergerak ke arah mana? Ganti."
"Utara. Ganti."
"Kapan kira-kira sampai lokasi? Ganti."
"Ummm...habis lohor, lah."
Singkat cerita kijang satu abis dikeroyok musuh karena kijang dua baru datang jam tiga kurang.


2. Habis Gajian

Sobat UMR pasti paham, nih. Untuk yang pengangguran bisa skip poin ini. Untuk yang punya cicilan mestinya sangat akrab dengan penunjuk waktu ini karena di sinilah hari di mana saldo rekening menggelembung dan menyusut di hari yang sama. Penunjuk waktu karet ini juga sering dimanfaatkan mereka yang pinjam uang ke teman, “gue ganti abis gajian”, begitu janjinya.

Dan lagi, habis gajian ini sangat tidak konsisten. Gajian setiap orang tidak sama. Yang PNS, yang pegawai swasta, yang gaji istrinya lebih gede, yang UMR Yogya gaya CEO startup, yang gajiannya di bank yang ATM-nya jarang, yang kerja di SCBD gaji capede, gajiannya pasti berbeda. Ada yang akhir bulan, ada yang awal bulan. Belum lagi kalau ditelaah lebih detail, habis gajian ini kapan persisnya. Setelah gaji habis? Atau sesaat setelah gaji masuk rekening? Enggak konsisten, kan? Makanya jangan heran banyak yang bikin thread di sosmed ngamuk-ngamuk piutangnya enggak terbayar karena yang berutang seperti aktivis negara Togo jaman dulu yang suka kritik pemerintah, alias hilang.


3. Segede Gaban

Pernah baca kalau istilah ini ada karena dahulu pernah ada patung Gaban di Dufan dengan ukuran raksasa di salah satu wahananya. Untuk yang belum tahu, sekadar informasi bahwa Gaban adalah salah satu superhero metal buatan Jepang tahun 80-an. Nah, mungkin waktu itu masih relate dengan istilah segede Gaban, tetapi untuk milenial akhir dan gen Z, kemungkinan besar hanya ikut-ikutan saja ketika menggambarkan sesuatu yang besar dengan satuan ukur ‘segede Gaban’. Ini enggak konsisten, karena preferensi orang tentang Gaban ini pasti berbeda. Ada yang membayangkan Gaban asli, ada juga Gaban versi Dono di film Warkop, ada juga Gaban yang jadi lagu anak ‘Gaban-gaban Kita Berjumpa Lagi’.

Ini Gaban ori versi Jepang. Gambar ini saya design sendiri. Yang mau saya bikinin design buat cover blogpostnya, boleh banget, harga nego.


Menurut saya, sih, karena istilah Gaban ini sudah umum, lebih baik dijadikan standar baku saja di Indonesia. Para ilmuwan, insinyur, ahli bahasa, dan Pak Luhut mesti duduk bersama untuk menentukan segede gaban ini ukuran tinggi, panjang, lebar, dan dimensi lainnya seberapa besar. Supaya kalau ada orang yang jual barang lumayan besar di Shopee enggak perlu repot menjelaskan ukuran dimensinya. Tinggal tulis saja, ‘segede Gaban’. Atau bakukan juga di KBBI biar ada kosakata baru dalam berperibahasa, “Semut di seberang lautan kelihatan, gajah segede Gaban di pelupuk mata tidak kelihatan”.

Itu contoh inkonsistensi yang menurut saya ikut berkontribusi kenapa masih banyak warga Indonesia yang hobi nontonin orang live TikTok mandi lumpur sementara negara lain sudah familiar dengan teknologi WC duduk yang air buat ceboknya terdiri dari berbagai varian rasa dan suhu.

Saya masih punya beberapa cerita menarik lagi soan ketidakkonsistenan ini. Gimana, mau lanjut gak? Lihat hasil postingan ini dulu, deh. Kalau rame lanjut part 2…



 23 Mei 2022, Senin pagi yang berbeda saya rasakan dari biasanya. Untuk para fans sepak bola Eropa, biasanya mood di hari awal pekan ini ditentukan oleh hasil hingar bingar pertarungan tim kesayangan di hari Minggu. Jika menang, maka sepanjang Senin hari terasa begitu cepat, hati lapang, dan langkah begitu ringan. Sebaliknya kalau kalah, bisa dipastikan Senin akan terasa seperti neraka kecil.


Senin pagi ini sedikit berbeda dari biasanya. Setelah sebelas tahun penantian merasakan kering kerontang prestasi, akhirnya AC Milan, klub favorit saya juara. Berangkat ke kantor rasanya plong, untuk pertama kalinya kejam kemacetan ibukota Senin pagi tidak mengusik sama sekali.

Menjadi tifosi AC Milan adalah sebuah perjalanan panjang. Kejayaan, keterpurukan, kalah, menang, tragedi Istanbul, tergocek transfer Biabiany, melihat Essien jadi kapten, flank kiri diisi Kevin Constant, Mr. Bee, Barbara Berlusconi, Yonghong Li, jual bus tim, pemain bintang berkode Mr. X yang dijanjikan akan direkrut ternyata Antonio Nocerino, hampir dinyatakan bangkrut, 0-5 lawan Atalanta, hingga kini dapat Scudetto ke-19 telah saya lewati.

Dalam perjalanan itu, ada satu nama yang pasti selalu hadir. Paolo Maldini. Sang legenda hidup, Optimus Prime, one man one club, seorang utusan dalam kitab suci AC Milan. Scudetto ke-19 yang baru diraih Milan malam tadi mustahil terjadi jika Paolo Maldini memutuskan untuk menolak ajakan Elliot Funds untuk ‘beresin’ Milan yang selama 7-8 tahun berada di fase kelam.

“Mereka menghancurkan Milanku!” Ujarnya di tahun 2014, ketika klub kehilangan arah dengan menginvestasikan uang pada pemain-pemain yang kurang tepat. Berani menyatakan pendapat, berani bersebrangan bahkan dengan Milanisti.

Pemilik Tiongkok datang, ajakan bergabung ditolaknya padahal dijanjikan oleh gelontoran jutaan Euro. Media dan fans menuduhnya tidak lagi cinta Milan. Namun, belakangan semua sadar, itu semua karena Maldini enggan masuk ke sistem tanpa perhitungan yang bisa menjadikan Milan terperosok lebih dalam. Jiwanya yang dialiri darah merah hitam tidak sampai hati. Intuisi yang dibarengi oleh cinta memang tidak pernah salah.

Ketika Elliot datang meminangnya untuk jadi direktur teknik, Maldini menerimanya. Padahal manajemen sudah mewanti-wantinya dengan sumber yang terbatas. Namun, intuisi dan hasrat sang legenda untuk mengembalikan jiwa Milan begitu kuat, ia yakin bahwa yang mampu mengangkat Milan kembali ke tempat tertinggi hanyalah proyek yang berkelanjutan di mana prestasi dan finansial berjalan seiya sekata. Di saat klub rival mendatangkan pemain ‘jadi’ dengan harga mahal, Maldini hanya punya kurang dari 30 juta euro untuk membentuk Milan.

Maldini perlahan membawa Milanisti kembali ke masa kini dan tidak larut dalam utopia sebagai penguasa Eropa di masa silam. Ia seperti tahu, kapan waktunya klub kesayangannya bangkit. Ia terima segala keterbatasan. Ia abaikan ragu publik dalam diri Theo, Leao, Saelamaekers, Kalulu, yang pada awal kedatangannya membuat dahi mengernyit bertanya siapa mereka. Kepercayaannya kepada proses menyembuhkan AC Milan.



Dari keterbatasan itu lah ia bisa menembus batas. Juara dengan skuad murah namun efektif. Scudetto ke-19 ini awalanya seperti kemustahilan. Paolo Maldini membuat batas kemustahilan dan kenyataan menipis hingga musnah. Paolo Maldini. Penerus trah Maldini yang seluruh karirnya untuk AC Milan. Tidak ada yang lebih AC Milan daripada nama Paolo Maldini. Ia anak seorang pemain, dan pelatih AC Milan. Ia adalah simbol kejayaan AC Milan di masa lalu hingga masa kini. Ia adalah seorang ayah dari pemain AC Milan. Bahkan takdir enggan mengijinkan Paolo Maldini untuk angkat piala selain dengan seragam merah-hitam. Tidak untuk klub lain, bahkan ngeranya sendiri. Semua hanya di Milan, Milan, dan Milan.

Entah apakah pernah terbesit dalam benaknya nama klub lain selain AC Milan. Tetapi dua tahun belakangan semuanya tergambar jelas dari tribun penonton saat Paolo mendampingi AC Milan bertanding. Ketika melihatnya tersenyum penuh passion ketika Milan menang, atau muka masamnya yang seperti kena musibah besar ketika kalah, rasanya Milanisti tidak perlu lagi mempertanyakan apakah ada klub lain selain AC Milan di dalam hati seorang Paolo Maldini. Seseorang yang mempu menembus batas dalam keterbatasan.

Tanpa mengurangi hormat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam gelar ke-19 AC Milan, secara pribadi saya mengucapkan Grazie Paolo, untuk Senin yang indah ini!

 

 

Tulisan ini dibuat untuk melunasi utang saya kepada sebuah kota yang sebetulnya indah, namun keindahannya tidak muncul saat saya berkunjung ke sana. Tagaytay. Saya traveling ke Filipina sekitar awal tahun 2020, waktu itu kasus Covid-19 belum masuk ke Indonesia. Sebetulnya kota dataran tinggi ini tidak masuk list itenenary saya alias hanya plan B. Awalnya kepingin main di laut Palawan, tetapi karena kawan-kawan seperjalanan banyak yang undur diri dan biaya jadi membengkak, akhirnya saya dan beberapa teman tersisa memutuskan untuk eksplore Manila dan sekitarnya saja.

BACA JUGA: TRAVELING KE FILIPINA: 5 FAKTA TENTANG FILIPINA

Balik lagi soal traveling ke Tagaytay. Jadi apa yang bikin kota ini bisa masuk rencana saya untuk dikunjungi? Jujur, saya hanya bermodalkan Google. Saya punya waktu satu minggu untuk berplesir mengunjungi pulau-pulau tropis di Palawan. Namun, Palawan harus dicoret. Ke mana dong selain ke Palawan? Masak iya satu minggu Cuma ngider-ngider Manila yang katanya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Ketemulah dengan rekomendasi ke Tagaytay, sebuah kota berjarak kurang lebih 3 jam perjalanan dari Manila.

  • ·       Cara ke Tagaytay

Ke Tagaytay sangat mudah. Sama dengan perjalanan dari Kp. Rambutan ke Bandung. Dari Manila, saya memulai dari terminal bus Quezon. Terminal ini merupakan terminal utama di Manila dan sekitarnya. Jadi tidak perlu bingung, semua transportasi umum mulai dari MRT sampai Jeepney pasti punya rute yang melewati atau berakhir di terminal ini. Masuk agak ke dalam terminal, banyak PO bus yang menjual tiket ke berbagai kota termasuk Tagaytay. Tiket dijual on the spot tanpa melalui booking atau online. Harganya berkisar Sembilan puluh ribuan rupiah (Kurs 1 Peso= 280 Rupiah) untuk satu orang.

  • ·      Tempat Wisata di Tagaytay

Perjalanan dari Manila ke Tagaytay melalui jalan yang menanjak dengan konsisten. Semakin lama udara pun makin sejuk, bahkan kadang kabut tipis turun. Ya udara dan ambience-nya mirip-mirip Lembang lah, walau tidak sehijau Lembang. Ketibaan saya disambut oleh sebuah landmark bertuliskan ‘TAGAYTAY’ segede bacot netizen.

Lalu apa yang bis akita kulik jika traveling ke Tagaytay? Ini yang saya sayangkan. Saya jadi tidak bisa menikmati Tagaytay secara menyeluruh karena dua hal. Pertama karena waktu itu gelombang Covid-19 sudah masuk Filipina, dan negara yang punya kaitan sejarah erat dengan Spanyol ini sudah menutup perbatasan dari kunjungan negara-negara tertentu seperti negara Asia Timur, Amerika, dan Eropa. Kedua, karena atraksi utama Tagaytay, yaitu Gunung Taal sedang mengalami erupsi. Jadi sangat wajar jika saat itu kota ini sudah seperti kota mati. Pandemi dan bencana alam, sebuah paket kombo komplit buat bikin orang berpikir sejuta kali untuk traveling ke Tagaytay.

Namun, setidaknya masih ada tempat wisata yang buka. Saya hanya mengunjungi dua tempat. Yang pertama adalah Tagaytay Sky Ranch. Sesuai namanya, tempat ini mengusung konsep sebuah theme park di dataran tinggi dengan pemandangan langsung ke arah Danau Taal dan perkotaan di pinggirannya. Pagi itu saya dan dua teman jadi yang pertama masuk, kami datang kepagian karena taman ini dibuka mulai pukul 09.00 waktu setempat. Wahana di Sky Ranch ini ya standar theme park pada umumnya, sih. Ada kincir, semacam kora-kora, hingga komidi dan gerai merchandise. Hingga siang tempat ini tetap sepi dan banyak wahana yang tidak beroperasi.

Gunung Taal di lihat dari Sky Ranch


Yang kedua, dan seharusnya jadi tujuan utama di Tagaytay, adalah Gunung Taal yang berada di tengah Danau Taal. Untuk menuju ke sana kami harus naik semacam ojek dengan tempat duduk tambahan, sebuah kompartemen yang dirakit sedemikian rupa di samping sepeda motor untuk menuruni bukit. Transportasi semacam ini lumrah di Filipina selain Jeepney. Saya agak lupa berapa ongkosnya, kalau tidak salah untuk bertiga sekitar 150 ribuan rupiah bolak balik. Perjalanan menuruni bukit dengan trek yang lumayan bikin adrenalin naik. Jalan aspal berkelok dengan jurang di tiap ujungnya, hutan-hutan yang cukup rapat, dan laju motor yang kami tumpangi seperti tidak ada niat untuk menurunkan kecepatan sama sekali. Perjalanan turun memerlukan waktu kurang lebih setengah jam, lumayan jauh juga ternyata. Padahal dari atas sana tujuan kami sudah kelihatan. 

Tepi Danau Taal yang sepi


Kami tiba di perkampungan di tepi Danau Taal. Mirip perkampungan di pesisir pantai dengan pasir putih dan perahu tertambat di belakang rumah. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan di atas. Sepi. Beberapa warung buka terlihat antusias dengan kedatangan kami, mengira kami ini turis. Dan tidak lama semangat mereka kuncup lagi karena kami Cuma bertiga. Dari sekian banyak perahu yang berlabuh, tidak satu pun terlihat yang berlayar. Ternyata sejak Gunung Taal Erupsi, memang tidak ada yang boleh mendekat ke sana. Kalau dalam keadaan normal, tempat ini ramai turis mancanegara yang berebut ingin hiking di Gunung Taal. Hasilnya, kami cuma jalan menyusuri desa pesisir itu. Di satu titik, Sky Ranch yang saya kunjungi pagi tadi terlihat di atas sana, di balik kabut tipis.

Sisa waktu traveling ke Tagaytay kami habiskan untuk sekadar ngopi-ngopi di kafe yang banyak tersebar di Tagaytay. Udara sejuk dan pemandangan sky view menjadi jualan utama pebisnis kafe di Tagaytay. Untuk makanan, kami sempat mencoba sarapan dengan jajanan lokal. Yaitu telur rebus yang dicelupin ke adonan terigu berwarna merah, lalu digoreng dan diberi saus. Bukan, Bukan balut yang terkenal itu. Ini telurnya full matang, kok. Untuk waktu makan yang lain, kami cari aman dengan makan di fast food lokal Mang Inasal (Ini asli Filipina, bukan punya warga Leuwi Liang yang bermigrasi ke sana). Sesekali ke McD dan KFC.

Well. Apakah suatu hari saya akan mengunjungi Tagaytay lagi? Entah lah. Karena rasanya Tagaytay belum bisa menawarkan sesuatu yang di Indonesia tidak ada. Jadi, yah, so so lah kesan saya terhadap kota ini untuk sementara. Ada yang mau bayarin? Nah, kalau begini skemanya, sih, ayok!

 

 Set dah, tidak terasa sudah dua tahun ternyata saya tidak traveling. Saya pernah menulis bahwa saya seperti sudah kehilangan ‘hasrat’ pergi-pergi ngebolang seiring dengan perkembangan situasi dunia. Ya pandemi, ya menikah. Pandemi belum kelihatan ujungnya di mana, sementara menikah membuat saya punya dunia baru yang perlu diisi dengan segenap kemampuan mental hingga finansial. Traveling menjadi prioritas nomor sekian, jauh di bawah mengantar istri ke pasar atau sekadar memupuk kebiasaan untuk tidak menimbulkan porak poranda lemari saat mengambil baju di tumpukan bagian tengah.

Tapi biar bagaimanapun, dulu traveling pernah menjadi kegiatan berulang, pendeknya, pernah menjadi hobi bagi saya. Seperti pada umumnya, sesuatu yang dulunya rutin dan sekarang tidak lagi dilakukan akan membuat sebuah rongga di memori otak. Rongga itu berisi kenangan yang kapan saja bisa bisa teraktivasi oleh berbagai pemicu. Kenangan yang bikin rasanya kepingin banget balik ke momen itu padahal dulu waktu rajin jalan-jalan rasanya biasa saja.

Berikut adalah hal-hal yang saya rindukan ketika traveling:

·                Tidur di Stasiun atau Bandara 

Waktu di Singapura selama dua hari, saya sama sekali tidak booking penginapan. Sampai bandara pagi, lalu keliling Singapura sampai malam, balik lagi ke bandara nyari lapak buat tidur. Pas menunggu kurang lebih 5 jam transit di KLIA 2, di sebuah sudut terbuka saya tidur tanpa alas dan berbantalkan ransel dengan bonus siraman sinar matahari Kuala Lumpur. Berbeda lagi cerita waktu ke Cirebon, kereta pulang pukul 8 pagi, sedangkan saya sudah berada di stasiun lepas tengah malam. Jadi lah gelar matras di sela-sela bangku ruang tunggu.

 Dulu saat-saat penuh keterbatasan itu sungguh tidak ideal. Kadang saya merasa tidur di tempat kurang layak seperti itu justru memakan energi yang semestinya ‘dibakar’ untuk sight seeing, atau cari kuliner. Tapi sekarang terkadang saya rindu saat-saat itu. Rindu dengan transisi bandara dari ramai, tenan-tenan tutup, hingga yang tersisa hanya backpacker kayak saya yang sibuk nyari lapak tidur, sambil berharap orang yang melihat saya tidur berpikir sudah terlalu malam untuk keluar bandara, dan bukan karena saya tidak punya duit. Rindu dengan nyamuk-nyamuk di Stasiun Purwokerto. Rindu ketiduran di KLIA 2 lalu dibangunkan oleh last call dan mengharuskan saya lari menyusuri lorong demi tidak ketinggalan pesawat ke Kamboja (tau dong panjangnya lorong menuju gate di KLIA 2?).

·                Packing Ketika Turun Gunung

Ada rasa bangga yang begitu personal kalau bisa mengepak barang bawaan secara efisien. Apalagi ketika naik gunung. Bawaan yang banyak namun dimensi ruang untuk menambawanya amat terbatas menjadikannya tantangan tersendiri. Rasanya begitu gagal kalau naik gunung tapi masih ada bawaan yang ditenteng di tangan bukannya masuk tas.

Nah, packing rapih pas naik gunung sih sudah biasa. Karena sudah direncanakan, dihitung, ditambah antusiasme tinggi sehingga ruang-ruang di dalam keril bisa terisi dengan baik. Packing pas turun gunung jauh lebih seru. Tidak ada yang lebih rusuh dari packing ketika turun gunung. Biasanya beres-beres sebelum turun ini dimulai sesudah summit attack. Badan lagi capek-capeknya tapi harus gulung tenda.

Packing turun ini dilakukan biasanya sambal masak untuk isi tenaga perjalanan menuruni jalan menuju basecamp. Berbeda dari packing ketika naik, packing ketika turun ini bawaannya kepengin cepat-cepat selesai. Baju kotor asal lipat, peralatan masak dan makan yang penting bersih bisa masuk tas entah bagaimana caranya, bodo amat sama sleeping bag yang ditaruh di bagian atas, kaos kaki basah? Bisalah ditaruh di kompartemen samping tas. Bahkan kadang bingung, kok bawaan pulang lebih berat dari bawaan pergi.

Lucunya kalau ada logistik sisa. Teman-teman sependakian pasti main tunjuk-tunjukkan siapa yang harus membawanya turun.  Apalagi kalau itu berbentuk makanan kaleng, haduh, kalau bisa diobral mah udah pasti diobral itu. Belum lagi benda-benda printilan yang pasti ada saja yang ketinggalan dipacking, membuat kita mau tidak mau bongkar tas lagi. Begitulah, saya kepingin merasakan lagi suasana itu.

·                Menyusun Itinenary

Sebetulnya ini dilakukan sebelum melakukan traveling. Tapi saya kepingin lagi Menyusun segala sesuatu supaya acara jalan-jalan bisa in line antara tujuan dan budget. Terutama kalau pergi sendirian, bikin itinenary ini wajib, karena itu satu-satunya pegangan biar di tempat tujuan malah nanya ke diri sendiri, “Ngapain lagi, nih?”. Saya bukan tipe yang jalan-jalan ikut aja ke mana kaki melangkah.

Mencatat perkiraan waktu, cek jadwal kereta, mengukur jarak penginapan dengan bandara, harga tiket masuk suatu tempat, ongkos angkutan umum di daerah tujuan, mengestimasikan biaya, hingga bikin rencana cadangan adalah hal paling mengasyikan dalam Menyusun itenenary. Kebahagiaan bisa berlipat-lipat kalau semua yang ada di dalamnya berhasil terceklis.

Itinenary terpanjang yang pernah saya buat adalah ketika solo traveling ke Kamboja, Laos, dan Thailand. Waktunya kira-kira seminggu lebih. Rencana perjalanan itu saya susun lebih dari sebulan. Karena itu perjalanan menurut saya penuh resiko. Sendirian, ke negara baru, dan tentu saja dengan anggaran pas-pasan. Saya mengusahakan sekecil mungkin deviasi baik dari sisi tujuan maupun keuangan.


Maaf fotonya Jalan Sabang. I know, enggak nyambung. Stock foto abis. 

 

·                Luang Prabang

Tentu saja. Suatu hari saya mesti balik lagi ke sini bersama istri dan anak saya. Pemda sana                mengklaim bahwa Luang Prabang adalah the most romantic city in South East Asia, dan saya malah ke sana sendirian waktu itu.                                                                                                     

Ingin rasanya mengulang menyusuri jalan raya yang kanan kirinya berdiri bangunan klasik khas Prancis, melihat lalu lalang biksu, menikmati temaram lampu-lampu bar dan restoran, juga makan siang di long boat tail sambil menyusuri sungai Mekong. Dan saya ingin melakukannya lagi bersama istri, dan anak. Ya Allah, kabulkan ya Allah. Aamiin.

Well, banyak sih sebetulnya kalau mau diingat dan diceritakan satu-satu yang dikangenin waktu traveling. Segini saja dulu ceritanya. Kalau kamu juga sudah lama tidak traveling dan ada hal yang dikangenin juga, boleh loh share di kolom komentar, Jangan lupa ajak sanak saudara, handai taulan, dan segenap jajaran RT/RW setempat.

 

 

 

Jujur, agak sulit memulai sesuatu dari awal lagi. Setidaknya bagi blog ini. Pandemi benar-benar mengubah tatanan dunia dari skala global, makro, hingga unit mikro terkecil seperti blog kesayangan Persatuan Istri Camat seluruh dunia ini. Memang pada awal pembuatannya, blog ini enggak secara spesifik bertujuan memposting tentang hobi saya traveling. Tapi seiring berjalannya waktu, karena mungkin, satu-satunya hal menarik dalam hidup saya adalah traveling, jadilah keninglebar ini pelan-pelan membentuk niche travel.

Lalu kita semua tau apa yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini. Pandemi datang. Perlahan memaksa kelaziman lama menjadi sebuah sistem yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kalau bahasa birokrat resminya ‘New normal’. Normal baru ini bukan main dampaknya.Mulai dari tingkatan menteri negara sampai travel blogger wanna be medioker macam saya kena imbasnya. Gimana mau nulis blog wong enggak jalan-jalan, apa yang mau ditulis?

Ini membuat saya maping kembali tujuan kenapa blog ini dibuat. Saya gulir kembali daftar postingan di dashboard. Ternyata saya menemukan bahwa, “ah, gue enggak setraveling itu”. Banyak unggahan lama yang enggak melulu bicara soal tujuan wisata, tips dan trik cari akomodasi murah, atau cerita tentang pengalaman konyol mendaki gunung. Suprisingly, viewernya lumayan banyak. Saya tiba pada satu kesimpulan bahwa blog ini adalah satu-satunya kanal bagi keresahan saya. Mau ngeYoutube, enggak punya alat yang proper dan kemampuan editing video berada di level di bawah menyedihkan. Ngepodcast? Enggak ada teman ngobrolnya.  Stand up comedy? Untuk saya yang penikmat jokes bapak-bapak tingkat “buah buah apa yang keliatannya enggak enak badan? Alpucat! Jaaaahhhh” rasanya melucu sendiri di depan orang banyak itu enggak dulu, deh. Jadi, ya, blog ini jadi escaping room terakhir buat saya.

Jadi berhenti, nih, nulis traveling? Ya enggak juga. Suatu saat saya pasti bakal jalan-jalan lagi walau mungkin dengan ambiance dan vibe yang berbeda, dan kalau ada yang menarik pasti saya tulis. Ini juga yang menjadi salah satu hal kecil tapi kepikiran. Setelah pandemi ini selesai, apakah jalan-jalan  masih akan seseru dulu?

Jawabannya bisa saja masih. Bahkan mungkin jauh lebih seru. Coba bayangkan, hampir  dua tahun begitu banyak orang yang sudah gatal ingin liburan. Dua tahun, loh, pasangan LDR saja belum tentu tahan. Lalu ketika pandemi mereda, antusiasme baru akan menggerakkan turisme yang sempat berhenti. Ini berlaku untuk kedua sisi, pihak wisatawan maupun pihak penyedia jasa wisata.

Traveler akan menemukan destinasi baru, atau berkunjung ke destinasi lama untuk merasakan nostalgia merayakan waktu yang sempat hilang. Sementara itu pelaku usaha sudah siap dengan konsep baru, cara promosi berbeda, dan segudang tawaran menarik lainnya. Pemerintah bahkan sudah wanti-wanti akan adanya revenge tourism berupa ledakan kunjungan.  Well, kalau dilihat dari sisi terang optimisme, rasanya jalan-jalan bakal tetap seru-seru aja.

Tetapi, bisa juga jawabannya malah enggak seru lagi. Saya rasa saya enggak sendirian yang hobi jalan-jalan dan merasa bahwa ternyata enggak ke mana-mana itu bukan akhir dari dunia. Ternyata kita enggak sebutuh dan sesakaw itu sama traveling. Kalaupun ada kesempatan jalan-jalan, udah keburu males sama aturan-aturan new normal. Paling banter saya cuma kepikiran  akun Instagram mau diisi konten apa.

Beberapa teman seperjalanan saya juga ada yang memiliki


hobi baru. Ya sepeda, ya main kucing, ya ngurus tanaman, main cupang, memperbaiki akhlak, ngadu panko sama abri dan  banyak lagi. Kalau berkontak sesama kami di grup chat, selalu ada celetukan kangen jalan-jalan, masih sama seperti dulu. Bedanya, kali ini tidak ada follw up yang membuat rindu itu tak tereksekusi.  

Itu baru dari sisi travelmate. Lebih luas lagi kalau ekonomi dimasukkan dalam variabel yang menentukan traveling atau tidaknya seseorang. Ekonomi yang masih tahap membangun setelah diambrukkan pandemi membuat sobat jalan-jalan banyak menahan, bahkan menutup sama sekali niat buat plesiran. Sekarang bisa jalan-jalan ke Dadap liat pesawat dari luar pagar aja udah syukur. Teman enggak ada, duit enggak ada juga, apa serunya jalan-jalan?

Kalau menurut kalian bagaimana? Masih seru, enggak, jalan-jalan setelah pandemi dengan segala tetek bengeknya?

author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.