Monday, 4 February 2019

Drama Bollywood India Mah Kalah

Disclaimer, harap dibaca biar tidak kecewa: Postingan ini akan banyak menyebut beberapa merek atau brand yang tidak membayar saya, karenanya namanya saya plesetkan, dikira-kira aja lah ya pasti paham.

Tokoh yang terlibat: Saya, temen saya (Centong), beberapa figuran petugas imigrasi India, beberapa traveler lain, dan seorang selebgram.

Tepat sebelum postingan ini, saya menulis tentang drama sebelum saya traveling ke India. Gimana seru, nggak? Biasa aja pasti. Oke. Nah, saya kira drama itu cukup berhenti di Indonesia dan saya bisa menikmati liburan ke India dengan tenang. Namun, apa yang terjadi saudara-saudara sebangsa dan setanah wakaf? Tragedi demi tragedi mengikuti perjalanan saya dan kawan hingga ke tanah Hindustan di sana. Saya mengira plot dramatis India itu hanya ada di film, ternyata ketika traveling ke sana pun kisah berliku itu eksis. Baik, mari saya ceritakan satu per satu.

1. Visa Visa Ulala  
Huru-hara dimulai dari membuat visa India. Sedikit ada angin segar ketika pertengahan tahun 2018 terjadi kesepakatan Indonesia-India yang membebaskan biaya bagi pengajuan e-visa India. Bagaimana cara mengurusnya akan saya tuliskan di lain postingan. Karena ini e-visa dan gratis, jadi saya dan kelima teman yang lain sepakat untuk mengurus visa terpusat di satu orang. Entah apes atau untung, saya yang kebagian submit visa-visa kami. At the end, visa kami semua diapprove, cihuy lah! Berangkat lah kami ke India setelah transit 12 jam di KL. Sampai imigrasi Bandara Jaipur kami semua menyiapkan dokumen yan diperlukan untuk diperiksa.

Jadi sebelum sampai meja imigrasi, ada petugas yang mengecek manual bagi mereka yang menggunakan e-visa. Saya berada tepat di belakang si Centong teman saya. Giliran Centong diperiksa dokumennya oleh petugas imigrasi.

“Sorry, sir, why number passport in your e-visa and your passport didn’t match?”

Saya dan Centong terdiam dengan air muka perlahan berubah pias. Setelah kami cek, memang benar beda. Jadi nomor passport yang digit akhirnya 229 malah tertulis 299.

Saya ingat betul Centong menatap saya dengan tatapan singa belum makan selama empat purnama.

“Elu ngisinya gimana waktu itu? Gue kagak cek juga, sih. Duh!”

“Iya, sori. Typo gue kayaknya.”

Centong diinterogasi karena ketidakcocokan data. Diminta menunjukkan copy paspor, tiket pulang, dan tanda lahir di pantat kanan atas. Semua diserahkan. Saya yang dokumennya tidak ada masalah tetap menemani Centong di ruang imigrasi. Kami diam. Petugas imigrasi balik lagi, kami menghampirinya kayak keluarga pasien nyamperin dokter yang abis keluar dari ruang operasi.

“Sorry, Sir. Kami harus menghubungi beberapa pihak dulu, nanti akan diputuskan apakah anda boleh masuk, atau harus pulang ke negara anda.”

Kami berdua lemas. Centong lemas karena liburannya ke India terancam gagal, saya lemas karena terancam miskin harus tanggung jawab membelikan Centong tiket pulang.

Seorang bapak dengan setelan jas keluar. Kayaknya kepala imigrasinya. Centong dipanggil. Centong lega setelah si bapak bilang,

“Kamu kalau mau masuk negara orang harus teliti! Ini yang pertama saya maklumi, yang kedua dan ketiga nanti tidak akan! Sudah ambil sepedanya sana, eh, masuk sana!”

Hamdalah! Lutut saya kembali kuat dan nafas lega mampu lagi saya hembuskan. Kesalahan typo saya hampir membuat seorang WNI dideportasi. Sebetulnya bisa saja, sih, protes kenapa kalau datanya tidak sesuai visa Centong bisa diapprove. Tapi yah, namanya juga mau bertamu ke negara orang, kita harus sopan karena bisa jadi kalau kita ngotot malah tidak boleh masuk.

“Cen, kalo tadi akhirnya lu disuruh pulang, masih mau temenan ama gue nggak?”

“GAK!!!”

Nah pas mau pulang keluar India, petugas imigrasinya mempermasalahkan lagi.

“Ini visa kamu statusnya rejected, kok bisa masuk?”

“Loh kan udah diapprove sama bapak yang waktu itu bertugas.”

Tidak mau memperpanjang masalah, paspor Centong pun dapat cap keluar. Jadi selama di India kawan saya itu berkeliaran dengan status visa yang ditolak! Kalau belum ada tulisan atau cerita serupa, hingga tulisan ini diturunkan, maka Centong adalah orang pertama yang bisa masuk India dengan status visa ditolak! Living legend traveler! Salim lo pada kalo ketemu!
Tuan Takur aja kalo ketemu beliau nyetor beras pasti
2. Pesawat Cancel  
Selain Golden Triangle (Jaipur, Agra, New Delhi), tujuan wisata kami adalah Kashmir. Sebuah kota di utara India yang sedang bersalju. Untuk ke sana, kami harus mengambil penerbangan lokal yang hanya ada dari New Delhi. Saya dan Centong mengambil maskapai berbeda dari empat teman yang lain. Yaitu maskapai Aer AihSiah. Baru sampai hotel di Jaipur, rebahan dikit, saya menerima email bahwa penerbangan kami ke Srinagar, Kashmir, pada tanggal yang telah ditentukan dicancel karena adanya pertunjukan udara militer India untuk menyambut hari kemerdekaan.

COBAAN APALAGI INI YA TUHAN??? AMPUNI HAMBA JIKA TERLALU BANYAK NONTON SINETRON AZAB DAN KESERINGAN NGECENGIN FANS ARSENAL.

Kami disuruh hubungi call center, tapi kami tidak tahu call center Air Asia India. Jadi pas hari H keberangkatan kami langsung mnggerebek loket Aer AihSiah minta diterbangin, atau ganti dengan maskapai lain. Tetapi kami hanya dikasih opsi reschedule atau full refund. Akhirnya kami damai dengan memilih opsi reschedule. Mau tidak mau, walaupun harus kehilangan satu hari di Kashmir nanti. Boleh ngomong bangsat, nggak? 
Yang nyebelin dari bandara di India security checknya banyak banget. Sebanyak apa? Tuh itung aja cap stempelnya
3. Kehabisan Uang Hingga Bayar Main Ski Pakai Ringgit Malaysia Pesawat cancel menimbulkan efek domino yang cukup serius bagi perjalanan saya dan Centong. Karena penerbangan kami diundur tiga hari kemudian, kami harus stay lebih lama di Delhi. Banyak keluar uang lagi untuk hotel dan makan. Centong akhirnya memutuskan untuk tarik tunai di ATM mengingat stok Rupee sudah menipis. Dia menggunakan ATM Bank Gamanja. Kenapa namanya Gamanja? Karena bank itu mandiri. Ternyata ATM Bank Gamanja ini tidak berfungsi di India padahal ada logo BISA dan MASTER LIMBAD nya. ATM saya yang Bank ABC dengan chip juga ditolak. Ada sih ATM Bank Megi, tapi kita mikirnya bank gede macam Gamanja dan ABC aja tidak bisa, apalagi Bank Megi coba.

Akibatnya sampai Kashmir duit kami benar-benar nyaris habis, itu pun harus kami keluarkan untuk sewa mobil ke Gulmarg, juga sewa sepatu dan jaket untuk penangkal dinginnya salju. Di Gulmarg, wahana utamanya adalah naik cable car sampai atas bukit. Beruntung tiketnya bisa dibeli dengan kartu kreditnya Centong. Jadi kami tetap bisa main salju di atas. Setelah itu kami diarahkan untuk main ski. Kami menolak sebetulnya, karena sudah capek. Capek fisik, capek dompet. Kami ingat masih punya Ringgit karena kami sempat transit lumayan lama di KL.

“Is it real Malaysian money?” Tanya yang nyewain alat-alat ski.

“Of course!” Yakali kita berani mengedarkan uang palsu, uang negara tetangga pula.

“But you are Indonesian!”

Duh, bagaimana ini menjelaskannya.

“We was transit on Kuala Lumpur, so we had it.”

“Hmmm…so, you are live in Malaysia?”

“BODO AMAT! NGGAK GITU, MAT SANI!”

Setelah dijelaskan panjang lebar, akhirnya kami merelakan 72RM untuk berdua main ski. Rugi apa untung, tuh? Itung sendiri deh. MALES MIKIR!

Untungnya tiket cable car kami diganti sama operator tur, karena ternyata harga yang kami bayar sudah termasuk tiket tersebut. Kami jadi punya cash lagi. Jama’ahhhh…woi jama’aaahhhh. Alhamdu….lillah…. 
Gaya aja dulu, miskin mah pikirin belakangan
4. Bertemu Traveler Lain dan Seorang Selebgram Di antara tragedi yang terjadi, ini yang paling mendingan sih. Jadi ketika saya dan Centong urus jadwal reschedule di konter Aer AihSiah, kami bertemu dua kakak-beradik. Mereka lebih parah, baru saja mendarat di Indira Gandhi International Airport, lansung diberi tahu kalau penerbangan ke Kashmir Cancel. Itinenary mereka jadi lebih kacau dari kami, karena harus menempatkan Kashmir di akhir perjalanan. Nama mereka Mbak Nuna dan Mbak Sofie.

Lalu yang kedua, ketika kami akan mengakhiri perjalan di Kashmir, menuju bandara kami semobil dengan Mbak Eta. Ngobrol panjang lebar, ternyata doi ini selebgram, followersnya tumpah-tumpah. Coba cek akun @btarimaskha. Dia senasib nih sama kami, kehabisan uang karena tidak menyangka Bank Gamanja tidak berfungsi di India. 
Mbak Nuna, Mbak Sofie, Dipsy, dan Lala
Mbak Eta, Badut Oppo, dan Badut Vivo

5. Pesan Tiket Kereta Pakai Bahasa Planet SX678K07 Yang Berjarak 150 Juta Tahun Cahaya Sabuk Kuiper Efek domino lain akibat pesawat reschedule, kami kehilangan jemputan yang mestinya menjemput kami dari New Delhi menuju Jaipur. Jadi saya dan Centong memutuskan untuk naik kereta (Damn, duit lagi!). Kami nekat datang ke Stasiun Old Delhi untuk beli tiket on the spot. Ternyata bisa. Proses simpelnya, kita harus mengisi form dengan data-data tujuan, nama kereta, jadwal yang diinginkan, hingga data pribadi.

Tapi aktualnya tidak sesimpel itu Mulyono! Meminta formnya saja susah, karena petugas di loket tidak mengerti Bahasa Inggris.

“Where can we get that form?” Saya menunjuk seorang calon penumpang yang sedang mengisi form.

Si petugas menatap bingung, godek-godek, dan menunjuk loket sebelah. Oh mungkin saya salah loket. Beralih ke loket sebelah saya mengulangi pertanyaan yang sama dan dijawab,

“!@##*$&$(R%()*#&@&#(#)))&&^$$^”

AU AMAT!

Jam 9 kami memesan tiket, jam satu siang kami baru selesai karena keterbatasan bahasa. Entah bahasa apa yang kami pakai sehingga akhirnya ada titik temu. Saya tidak mengerti mengapa petugas KAI India ini tidak pede menghadapi orang asing. Mereka selalu melempar ke rekan yang lain begitu tahu lawan bicara adalah orang asing. 
Di tapsiun
6. Ke Bandara Jalan Kaki Ini cerita masygul terakhir, nih. Menjelang akhir perjalanan kami di India, saya dan Centong bersiap menuju Bandara Internasional Jaipur. Kami menunggu bus nomor 6A di Ajmeer Gate yang menuju bandara. Setengah jam menunggu akhirnya datang juga itu bus.

Tapi ternyata kami diturunkan tidak tepat di bandara, melainkan di sebuah taman dengan gerbang selamat datang di Rajashtan. Kalau lagi musim panas, bunga-bunga bermekaran di sini.

Dari taman tersebut kami jalan kaki menuju bandara yang ternyata cukup jauh. Untuk pertamakalinya dalam sejarah hidup kami ke bandara tidak didrop oleh kendaraan. Kami sempat ditegur polisi yang jaga, kok ke bandara jalan kaki. 
The Guardian. Welcome to Rajashtan
Malam itu saya dan Centong meninggalkan India. Ada perasaan lega. Karena setidaknya kami lepas dari segala drama Bollywood ini. Ada sedih, lucu, tragis, dan yang jelas, meaningful. Centong enak melewati itu semua dengan setiap pagi video call sama pacarnya. Lah saya? Streamingan FTV tanah air yang ceritanya cuma saling melotot lalu bisa jadian. Ya Allah…

No comments:

Post a Comment

author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.