Yosfiqar Iqbal Travel Blogger Wanna Be Kalau Merasa Hidup Tidak Berguna, Inget Aja AC di Dashboard Angkot

Tulisan ini dibuat untuk melunasi utang saya kepada sebuah kota yang sebetulnya indah, namun keindahannya tidak muncul saat saya berkunjung ke sana. Tagaytay. Saya traveling ke Filipina sekitar awal tahun 2020, waktu itu kasus Covid-19 belum masuk ke Indonesia. Sebetulnya kota dataran tinggi ini tidak masuk list itenenary saya alias hanya plan B. Awalnya kepingin main di laut Palawan, tetapi karena kawan-kawan seperjalanan banyak yang undur diri dan biaya jadi membengkak, akhirnya saya dan beberapa teman tersisa memutuskan untuk eksplore Manila dan sekitarnya saja.

BACA JUGA: TRAVELING KE FILIPINA: 5 FAKTA TENTANG FILIPINA

Balik lagi soal traveling ke Tagaytay. Jadi apa yang bikin kota ini bisa masuk rencana saya untuk dikunjungi? Jujur, saya hanya bermodalkan Google. Saya punya waktu satu minggu untuk berplesir mengunjungi pulau-pulau tropis di Palawan. Namun, Palawan harus dicoret. Ke mana dong selain ke Palawan? Masak iya satu minggu Cuma ngider-ngider Manila yang katanya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Ketemulah dengan rekomendasi ke Tagaytay, sebuah kota berjarak kurang lebih 3 jam perjalanan dari Manila.

  • ·       Cara ke Tagaytay

Ke Tagaytay sangat mudah. Sama dengan perjalanan dari Kp. Rambutan ke Bandung. Dari Manila, saya memulai dari terminal bus Quezon. Terminal ini merupakan terminal utama di Manila dan sekitarnya. Jadi tidak perlu bingung, semua transportasi umum mulai dari MRT sampai Jeepney pasti punya rute yang melewati atau berakhir di terminal ini. Masuk agak ke dalam terminal, banyak PO bus yang menjual tiket ke berbagai kota termasuk Tagaytay. Tiket dijual on the spot tanpa melalui booking atau online. Harganya berkisar Sembilan puluh ribuan rupiah (Kurs 1 Peso= 280 Rupiah) untuk satu orang.

  • ·      Tempat Wisata di Tagaytay

Perjalanan dari Manila ke Tagaytay melalui jalan yang menanjak dengan konsisten. Semakin lama udara pun makin sejuk, bahkan kadang kabut tipis turun. Ya udara dan ambience-nya mirip-mirip Lembang lah, walau tidak sehijau Lembang. Ketibaan saya disambut oleh sebuah landmark bertuliskan ‘TAGAYTAY’ segede bacot netizen.

Lalu apa yang bis akita kulik jika traveling ke Tagaytay? Ini yang saya sayangkan. Saya jadi tidak bisa menikmati Tagaytay secara menyeluruh karena dua hal. Pertama karena waktu itu gelombang Covid-19 sudah masuk Filipina, dan negara yang punya kaitan sejarah erat dengan Spanyol ini sudah menutup perbatasan dari kunjungan negara-negara tertentu seperti negara Asia Timur, Amerika, dan Eropa. Kedua, karena atraksi utama Tagaytay, yaitu Gunung Taal sedang mengalami erupsi. Jadi sangat wajar jika saat itu kota ini sudah seperti kota mati. Pandemi dan bencana alam, sebuah paket kombo komplit buat bikin orang berpikir sejuta kali untuk traveling ke Tagaytay.

Namun, setidaknya masih ada tempat wisata yang buka. Saya hanya mengunjungi dua tempat. Yang pertama adalah Tagaytay Sky Ranch. Sesuai namanya, tempat ini mengusung konsep sebuah theme park di dataran tinggi dengan pemandangan langsung ke arah Danau Taal dan perkotaan di pinggirannya. Pagi itu saya dan dua teman jadi yang pertama masuk, kami datang kepagian karena taman ini dibuka mulai pukul 09.00 waktu setempat. Wahana di Sky Ranch ini ya standar theme park pada umumnya, sih. Ada kincir, semacam kora-kora, hingga komidi dan gerai merchandise. Hingga siang tempat ini tetap sepi dan banyak wahana yang tidak beroperasi.

Gunung Taal di lihat dari Sky Ranch


Yang kedua, dan seharusnya jadi tujuan utama di Tagaytay, adalah Gunung Taal yang berada di tengah Danau Taal. Untuk menuju ke sana kami harus naik semacam ojek dengan tempat duduk tambahan, sebuah kompartemen yang dirakit sedemikian rupa di samping sepeda motor untuk menuruni bukit. Transportasi semacam ini lumrah di Filipina selain Jeepney. Saya agak lupa berapa ongkosnya, kalau tidak salah untuk bertiga sekitar 150 ribuan rupiah bolak balik. Perjalanan menuruni bukit dengan trek yang lumayan bikin adrenalin naik. Jalan aspal berkelok dengan jurang di tiap ujungnya, hutan-hutan yang cukup rapat, dan laju motor yang kami tumpangi seperti tidak ada niat untuk menurunkan kecepatan sama sekali. Perjalanan turun memerlukan waktu kurang lebih setengah jam, lumayan jauh juga ternyata. Padahal dari atas sana tujuan kami sudah kelihatan. 

Tepi Danau Taal yang sepi


Kami tiba di perkampungan di tepi Danau Taal. Mirip perkampungan di pesisir pantai dengan pasir putih dan perahu tertambat di belakang rumah. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan di atas. Sepi. Beberapa warung buka terlihat antusias dengan kedatangan kami, mengira kami ini turis. Dan tidak lama semangat mereka kuncup lagi karena kami Cuma bertiga. Dari sekian banyak perahu yang berlabuh, tidak satu pun terlihat yang berlayar. Ternyata sejak Gunung Taal Erupsi, memang tidak ada yang boleh mendekat ke sana. Kalau dalam keadaan normal, tempat ini ramai turis mancanegara yang berebut ingin hiking di Gunung Taal. Hasilnya, kami cuma jalan menyusuri desa pesisir itu. Di satu titik, Sky Ranch yang saya kunjungi pagi tadi terlihat di atas sana, di balik kabut tipis.

Sisa waktu traveling ke Tagaytay kami habiskan untuk sekadar ngopi-ngopi di kafe yang banyak tersebar di Tagaytay. Udara sejuk dan pemandangan sky view menjadi jualan utama pebisnis kafe di Tagaytay. Untuk makanan, kami sempat mencoba sarapan dengan jajanan lokal. Yaitu telur rebus yang dicelupin ke adonan terigu berwarna merah, lalu digoreng dan diberi saus. Bukan, Bukan balut yang terkenal itu. Ini telurnya full matang, kok. Untuk waktu makan yang lain, kami cari aman dengan makan di fast food lokal Mang Inasal (Ini asli Filipina, bukan punya warga Leuwi Liang yang bermigrasi ke sana). Sesekali ke McD dan KFC.

Well. Apakah suatu hari saya akan mengunjungi Tagaytay lagi? Entah lah. Karena rasanya Tagaytay belum bisa menawarkan sesuatu yang di Indonesia tidak ada. Jadi, yah, so so lah kesan saya terhadap kota ini untuk sementara. Ada yang mau bayarin? Nah, kalau begini skemanya, sih, ayok!

 

 Set dah, tidak terasa sudah dua tahun ternyata saya tidak traveling. Saya pernah menulis bahwa saya seperti sudah kehilangan ‘hasrat’ pergi-pergi ngebolang seiring dengan perkembangan situasi dunia. Ya pandemi, ya menikah. Pandemi belum kelihatan ujungnya di mana, sementara menikah membuat saya punya dunia baru yang perlu diisi dengan segenap kemampuan mental hingga finansial. Traveling menjadi prioritas nomor sekian, jauh di bawah mengantar istri ke pasar atau sekadar memupuk kebiasaan untuk tidak menimbulkan porak poranda lemari saat mengambil baju di tumpukan bagian tengah.

Tapi biar bagaimanapun, dulu traveling pernah menjadi kegiatan berulang, pendeknya, pernah menjadi hobi bagi saya. Seperti pada umumnya, sesuatu yang dulunya rutin dan sekarang tidak lagi dilakukan akan membuat sebuah rongga di memori otak. Rongga itu berisi kenangan yang kapan saja bisa bisa teraktivasi oleh berbagai pemicu. Kenangan yang bikin rasanya kepingin banget balik ke momen itu padahal dulu waktu rajin jalan-jalan rasanya biasa saja.

Berikut adalah hal-hal yang saya rindukan ketika traveling:

·                Tidur di Stasiun atau Bandara 

Waktu di Singapura selama dua hari, saya sama sekali tidak booking penginapan. Sampai bandara pagi, lalu keliling Singapura sampai malam, balik lagi ke bandara nyari lapak buat tidur. Pas menunggu kurang lebih 5 jam transit di KLIA 2, di sebuah sudut terbuka saya tidur tanpa alas dan berbantalkan ransel dengan bonus siraman sinar matahari Kuala Lumpur. Berbeda lagi cerita waktu ke Cirebon, kereta pulang pukul 8 pagi, sedangkan saya sudah berada di stasiun lepas tengah malam. Jadi lah gelar matras di sela-sela bangku ruang tunggu.

 Dulu saat-saat penuh keterbatasan itu sungguh tidak ideal. Kadang saya merasa tidur di tempat kurang layak seperti itu justru memakan energi yang semestinya ‘dibakar’ untuk sight seeing, atau cari kuliner. Tapi sekarang terkadang saya rindu saat-saat itu. Rindu dengan transisi bandara dari ramai, tenan-tenan tutup, hingga yang tersisa hanya backpacker kayak saya yang sibuk nyari lapak tidur, sambil berharap orang yang melihat saya tidur berpikir sudah terlalu malam untuk keluar bandara, dan bukan karena saya tidak punya duit. Rindu dengan nyamuk-nyamuk di Stasiun Purwokerto. Rindu ketiduran di KLIA 2 lalu dibangunkan oleh last call dan mengharuskan saya lari menyusuri lorong demi tidak ketinggalan pesawat ke Kamboja (tau dong panjangnya lorong menuju gate di KLIA 2?).

·                Packing Ketika Turun Gunung

Ada rasa bangga yang begitu personal kalau bisa mengepak barang bawaan secara efisien. Apalagi ketika naik gunung. Bawaan yang banyak namun dimensi ruang untuk menambawanya amat terbatas menjadikannya tantangan tersendiri. Rasanya begitu gagal kalau naik gunung tapi masih ada bawaan yang ditenteng di tangan bukannya masuk tas.

Nah, packing rapih pas naik gunung sih sudah biasa. Karena sudah direncanakan, dihitung, ditambah antusiasme tinggi sehingga ruang-ruang di dalam keril bisa terisi dengan baik. Packing pas turun gunung jauh lebih seru. Tidak ada yang lebih rusuh dari packing ketika turun gunung. Biasanya beres-beres sebelum turun ini dimulai sesudah summit attack. Badan lagi capek-capeknya tapi harus gulung tenda.

Packing turun ini dilakukan biasanya sambal masak untuk isi tenaga perjalanan menuruni jalan menuju basecamp. Berbeda dari packing ketika naik, packing ketika turun ini bawaannya kepengin cepat-cepat selesai. Baju kotor asal lipat, peralatan masak dan makan yang penting bersih bisa masuk tas entah bagaimana caranya, bodo amat sama sleeping bag yang ditaruh di bagian atas, kaos kaki basah? Bisalah ditaruh di kompartemen samping tas. Bahkan kadang bingung, kok bawaan pulang lebih berat dari bawaan pergi.

Lucunya kalau ada logistik sisa. Teman-teman sependakian pasti main tunjuk-tunjukkan siapa yang harus membawanya turun.  Apalagi kalau itu berbentuk makanan kaleng, haduh, kalau bisa diobral mah udah pasti diobral itu. Belum lagi benda-benda printilan yang pasti ada saja yang ketinggalan dipacking, membuat kita mau tidak mau bongkar tas lagi. Begitulah, saya kepingin merasakan lagi suasana itu.

·                Menyusun Itinenary

Sebetulnya ini dilakukan sebelum melakukan traveling. Tapi saya kepingin lagi Menyusun segala sesuatu supaya acara jalan-jalan bisa in line antara tujuan dan budget. Terutama kalau pergi sendirian, bikin itinenary ini wajib, karena itu satu-satunya pegangan biar di tempat tujuan malah nanya ke diri sendiri, “Ngapain lagi, nih?”. Saya bukan tipe yang jalan-jalan ikut aja ke mana kaki melangkah.

Mencatat perkiraan waktu, cek jadwal kereta, mengukur jarak penginapan dengan bandara, harga tiket masuk suatu tempat, ongkos angkutan umum di daerah tujuan, mengestimasikan biaya, hingga bikin rencana cadangan adalah hal paling mengasyikan dalam Menyusun itenenary. Kebahagiaan bisa berlipat-lipat kalau semua yang ada di dalamnya berhasil terceklis.

Itinenary terpanjang yang pernah saya buat adalah ketika solo traveling ke Kamboja, Laos, dan Thailand. Waktunya kira-kira seminggu lebih. Rencana perjalanan itu saya susun lebih dari sebulan. Karena itu perjalanan menurut saya penuh resiko. Sendirian, ke negara baru, dan tentu saja dengan anggaran pas-pasan. Saya mengusahakan sekecil mungkin deviasi baik dari sisi tujuan maupun keuangan.


Maaf fotonya Jalan Sabang. I know, enggak nyambung. Stock foto abis. 

 

·                Luang Prabang

Tentu saja. Suatu hari saya mesti balik lagi ke sini bersama istri dan anak saya. Pemda sana                mengklaim bahwa Luang Prabang adalah the most romantic city in South East Asia, dan saya malah ke sana sendirian waktu itu.                                                                                                     

Ingin rasanya mengulang menyusuri jalan raya yang kanan kirinya berdiri bangunan klasik khas Prancis, melihat lalu lalang biksu, menikmati temaram lampu-lampu bar dan restoran, juga makan siang di long boat tail sambil menyusuri sungai Mekong. Dan saya ingin melakukannya lagi bersama istri, dan anak. Ya Allah, kabulkan ya Allah. Aamiin.

Well, banyak sih sebetulnya kalau mau diingat dan diceritakan satu-satu yang dikangenin waktu traveling. Segini saja dulu ceritanya. Kalau kamu juga sudah lama tidak traveling dan ada hal yang dikangenin juga, boleh loh share di kolom komentar, Jangan lupa ajak sanak saudara, handai taulan, dan segenap jajaran RT/RW setempat.

 

 

 

Jujur, agak sulit memulai sesuatu dari awal lagi. Setidaknya bagi blog ini. Pandemi benar-benar mengubah tatanan dunia dari skala global, makro, hingga unit mikro terkecil seperti blog kesayangan Persatuan Istri Camat seluruh dunia ini. Memang pada awal pembuatannya, blog ini enggak secara spesifik bertujuan memposting tentang hobi saya traveling. Tapi seiring berjalannya waktu, karena mungkin, satu-satunya hal menarik dalam hidup saya adalah traveling, jadilah keninglebar ini pelan-pelan membentuk niche travel.

Lalu kita semua tau apa yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini. Pandemi datang. Perlahan memaksa kelaziman lama menjadi sebuah sistem yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kalau bahasa birokrat resminya ‘New normal’. Normal baru ini bukan main dampaknya.Mulai dari tingkatan menteri negara sampai travel blogger wanna be medioker macam saya kena imbasnya. Gimana mau nulis blog wong enggak jalan-jalan, apa yang mau ditulis?

Ini membuat saya maping kembali tujuan kenapa blog ini dibuat. Saya gulir kembali daftar postingan di dashboard. Ternyata saya menemukan bahwa, “ah, gue enggak setraveling itu”. Banyak unggahan lama yang enggak melulu bicara soal tujuan wisata, tips dan trik cari akomodasi murah, atau cerita tentang pengalaman konyol mendaki gunung. Suprisingly, viewernya lumayan banyak. Saya tiba pada satu kesimpulan bahwa blog ini adalah satu-satunya kanal bagi keresahan saya. Mau ngeYoutube, enggak punya alat yang proper dan kemampuan editing video berada di level di bawah menyedihkan. Ngepodcast? Enggak ada teman ngobrolnya.  Stand up comedy? Untuk saya yang penikmat jokes bapak-bapak tingkat “buah buah apa yang keliatannya enggak enak badan? Alpucat! Jaaaahhhh” rasanya melucu sendiri di depan orang banyak itu enggak dulu, deh. Jadi, ya, blog ini jadi escaping room terakhir buat saya.

Jadi berhenti, nih, nulis traveling? Ya enggak juga. Suatu saat saya pasti bakal jalan-jalan lagi walau mungkin dengan ambiance dan vibe yang berbeda, dan kalau ada yang menarik pasti saya tulis. Ini juga yang menjadi salah satu hal kecil tapi kepikiran. Setelah pandemi ini selesai, apakah jalan-jalan  masih akan seseru dulu?

Jawabannya bisa saja masih. Bahkan mungkin jauh lebih seru. Coba bayangkan, hampir  dua tahun begitu banyak orang yang sudah gatal ingin liburan. Dua tahun, loh, pasangan LDR saja belum tentu tahan. Lalu ketika pandemi mereda, antusiasme baru akan menggerakkan turisme yang sempat berhenti. Ini berlaku untuk kedua sisi, pihak wisatawan maupun pihak penyedia jasa wisata.

Traveler akan menemukan destinasi baru, atau berkunjung ke destinasi lama untuk merasakan nostalgia merayakan waktu yang sempat hilang. Sementara itu pelaku usaha sudah siap dengan konsep baru, cara promosi berbeda, dan segudang tawaran menarik lainnya. Pemerintah bahkan sudah wanti-wanti akan adanya revenge tourism berupa ledakan kunjungan.  Well, kalau dilihat dari sisi terang optimisme, rasanya jalan-jalan bakal tetap seru-seru aja.

Tetapi, bisa juga jawabannya malah enggak seru lagi. Saya rasa saya enggak sendirian yang hobi jalan-jalan dan merasa bahwa ternyata enggak ke mana-mana itu bukan akhir dari dunia. Ternyata kita enggak sebutuh dan sesakaw itu sama traveling. Kalaupun ada kesempatan jalan-jalan, udah keburu males sama aturan-aturan new normal. Paling banter saya cuma kepikiran  akun Instagram mau diisi konten apa.

Beberapa teman seperjalanan saya juga ada yang memiliki


hobi baru. Ya sepeda, ya main kucing, ya ngurus tanaman, main cupang, memperbaiki akhlak, ngadu panko sama abri dan  banyak lagi. Kalau berkontak sesama kami di grup chat, selalu ada celetukan kangen jalan-jalan, masih sama seperti dulu. Bedanya, kali ini tidak ada follw up yang membuat rindu itu tak tereksekusi.  

Itu baru dari sisi travelmate. Lebih luas lagi kalau ekonomi dimasukkan dalam variabel yang menentukan traveling atau tidaknya seseorang. Ekonomi yang masih tahap membangun setelah diambrukkan pandemi membuat sobat jalan-jalan banyak menahan, bahkan menutup sama sekali niat buat plesiran. Sekarang bisa jalan-jalan ke Dadap liat pesawat dari luar pagar aja udah syukur. Teman enggak ada, duit enggak ada juga, apa serunya jalan-jalan?

Kalau menurut kalian bagaimana? Masih seru, enggak, jalan-jalan setelah pandemi dengan segala tetek bengeknya?


Tahun 2021 memang luar biasa. Tanpa mengecilkan arti tahun-tahun luar biasa sebelumnya, tetapi 2021 ini memang begitu spesial.

Pandemi Covid-19 buat saya tidak melulu soal duka, dan kesusahan. Keadaan yang dibawanya membawa saya secara ajaib, dengan  campur tangan Tuhan juga tentunya, membawa saya ke situasi yang justru ideal buat hidup saya. Keadaan yang saya cari selama ini dalam perjalanan-perjalanan yang saya tempuh, pada puncak-puncak gunung yang saya daki, dalam terumbu karang-terumbu karang lautan yang saya salami. Saya merasa menemukan pulang. Pulang. Tujuan sebenarnya dari segala perjalanan.

Pandemi membuat saya banyak berdiamdiri. Tidak ke mana-mana. Traveling sudah tidak bisa, toh jika pun bisa, bahaya virus corona selalu menjadi momok menakutkan. Namun, di dalam diam dan sepinya lockdown kala itu perlahan saya menyadari, hidup kemarin yang isinya jalan-jalan penuh petualangan justru terasa ‘gini-gini aja’. Kesendirian membuat kehilangan dan jauh dari orang terdekat menjadi kian berlipat dukanya. Melihat teman-teman yang dikala pandemi memiliki kemewahan berupa waktu lebih bersama keluarga, membuat saya ingin menukar seluruh pengalaman traveling saya dengan kemewahan itu. Kemewahan bernama pulang. Kembali ketempat yang seharusnya.

Perlahan saya menata jalan pulang. Walau clueless jalan mana yang harus saya lalui, tetapi saya memutuskan untuk memasuki jalur terdekat lebih dahulu. Pangkal dari jalan yang terlihat adalah menngambil tawaran kerja dengan upah yang lebih tinggi. Perbaikan keuangan adalah hal terpenting setelah tahun sebelumnya uang selalu habis untuk bepergian lalu tiba-tiba mesti berjibaku dengan kejamnya efek pandemi.

Pekerjaaan saya sekarang masih jauh dari ideal,tetapi itu merupakan tiket pulang saya. Perlahan saya bisa melunasi cicilan, dan menabung. Proses yang sungguh menyakitkan. Saya bahkan pernah berada dalam satu titik di mana saya menyesali semua perjalanan-perjalanan sayayang banyak membakar uang tanpa bekas.

Hal berikutnya yang saya lakukan adalah, ini mungkin keputusan terbesar dalam hidup saya, memutuskan untuk berkomitmen dengan seseorang. Menjemput dia yang namanya sudah dituliskan dalam Lauh Mahfuz lima puluh ribu tahun sebelum dunia fana ini diciptakan. Menika .Waktu masih aktif traveling, rasanya berkeluarga adalah hal terakhir yang terpikir karena saya kira dua hal itu bertentangan. Sekarang, jika dilihat dari sudut pandang lain traveling dan berkeluarga justru dua sisi pada mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan.

Tidak bisa membohongi diri sendiri, waktu saya melamar perempuan pilihan saya,adalah momen paling emosional buat saya. Bukan saja karena lamarannya, tetapi juga kelegaan luar biasa melihat air mata bahagia ibu saat itu. Air mata bahagia yang bisa saya dengar suaranya, “Anakku akhirnya pulang”.

Awal Agustus 2021 ini Insya Allah saya menikah. Mohon doakan dan dukung tulisan ini jadi tulisan favoritsupaya dapat hadiah. Lumayan buat booking fotografer.

2021 belum selesai memberi saya kesenangan. Akhir pekan kemarin, setelah penantian delapan tahun lamanya akhirnya AC Milan, klub sepakbola Italia dengan segala dinamikanya yang saya favoritkan setengah mati, kembali berlaga di Liga Champions, liga para juara. Kompetisi tempat seharusnya Milan bermain. Saya pulang, AC Milan pun pulang.

Tuhan, jika hamba di kemudian hari lupa cara bersyukur, mohon ingatkan mahluk lemah ini tentang nikmatMu di momen ini. Hamba akan selalu ingat jalan pulang. Forza Milan.

Allahu akbar, Allahu akbar, waa lilla ilhamd…

Alhamdulillah, Ramadan tiba. Dari sisi apa pun bulan penuh berkah ini benar-benar ditunggu oleh semua orang. Walaupun dua tahun terakhir ini kita lalui di tengah pandemi, namun berkah Ramadan tetap tidak berkurang. Salah satu yang paling ditunggu ketika Ramadan tiba, selain keutamaan pahala ibadah, adalah Tunjangan Hari Raya yang berarti juga semakin dekat. Hayo, yang jago financial planning pasti sudah membagi sedemikian rupa pos-pos penggunaan uang setara dengan sekali gaji itu.

Memang kebutuhan orang berbeda-beda, sih. Tetapi tidak sedikit pula yang memanfaatkan uang THR ini untuk mengganti handphone mereka. Perkembangan teknologi dan internet yang semakin cepat memang memungkinkan bagi produk-produk berbasis digital cepat sekali terasa usang meski rasanya produk tersebut belum lama rilis. Semakin ke sini, HP juga seperti dituntut untuk memiliki fitur tambahan. Mungkin kurang dari sepuluh tahun yang lalu kita hanya tahu fungsi benda ini untuk telpon, SMS, dan paling jauh browsing internet yang kecepatannya setelah diklik kita masih sempat bikin candi atau bantu pemda bikin sodetan kali Ciliwung.

Lalu sekarang, HP dengan fitur yang multitasking seperti wajib berada dalam genggaman. Fitur-fitur ini bukan hanya pelengkap, melainkan sudah menjadi komponen primer yang mesti ada. Contoh kecilnya seperti kamera, dahulu kamera di HP ya buat lucu-lucuan selfie atau foto profil Friendster. Nah sekarang kamera HP sudah bisa untuk fotografi bahkan bikin video utuh dari mulai pengambilan gambar hingga editing.

Solusinya, untuk mengakali supaya tidak terlalu tertinggal antara fungsi dan pendukung teknologinya, maka kita perlu mencari HP yang secara spesifikasi sudah high end. Kalau saya perlu mengganti HP saya, maka akan saya alokasikan THR saya untuk beli OPPO A54. Baru rilis tanggal 1 April 2021 kemarin, masih gress.

 

Desain

Desain stylish dan kokoh menjadi salah satu factor kenapa saya akan memilih HP ini. Kesan modernnya dengan 3 kamera utama, lampu flash, di sudut kiri atas bikin pede nenteng-nenteng ini HP. Semakin eye cathing karena bagian ini memiliki warna berbeda dari keseluruhan bodi perangkat. Materialnya juga terbuat dri bahan terbaik. Rangka tengah setebal 0,2mm yang dipadukan dengan alumunium membuatnya penuh kesan kekar, dan solid. Walau kokoh bingkai perangkat ini tidak membosankan karena memiliki tampilan gradasi bingkai yang smooth. Dengan dimensi163.6 mm x 75.7 mm x 8.4 mm dan berat: Sekitar 192 gram, perangkat ini sudah sangat ergonomis.

 


Layar

Coba deh jembrengin macem-macem HP yang sekelas dengan OPPO A54, maka akan kita temukan bahwa layar OPPO A54 ini paling modern. Kehadiran layar bertipe single punch-hole 6.51 inci menjadi pembeda perangkat ini disaat kompetitor lain menawarkan solusi layar waterdrop pada harga yang setara. Kehadiran layar ini juga dilengkapi berbagai teknologi tinggi yang sebelumnya diperkenalkan pada perangkat Reno5 F.

Ada juga fitur eye comfort yang bisa menyesuaikan cahaya biru supaya mata tidak terlalu tegang. Fitur ini bisa diaktifkan secara manual, loh. Fitur ini cukup membantu untuk bapak-bapak yang kecerahan layar HP nya secerah masa depan Rafathar. Teknisnya begini: Sunlight Screen menawarkan visibilitas terbaik untuk layar smartphone pada kondisi di bawah sinar matahari terik. Kecerahan layar akan meningkat 14,5% secara otomatis atau setara dengan 550 nits.Moonlight Screen secara otomatis mengurangi keceraha layar hingga 2 nits pada lingkungan rendah cahaya atau malam hari, membuat cahaya layar menjadi lembut dan tidak menyilaukan mata. AI Smart Backlight dapat mempelajari kebiasaan pengguna saat menyesuaikan lampu latar dan merekam kecerahan yang disukai pengguna. Setelahnya, fitur ini dapat menyesuaikan secara otomatis kecerajan layar sesuai preferensi dan waktu yang dipelajari dari pengguna.

Soal keamanan jangan khawatir, perangkat ini dilengkapi dengan sensor sidik jari samping untuk mencegah yang suka iseng bajak membajak atau kepo dengan isi HP kita.

 

Kamera

Nah, ini nih salah satu fitur yang kadang paling menentukan seseorang beli sebuah HP atau tidak. Kamera. Instagram, Tiktok, Zoom, hingga status WhatSapp memerlukan  kamera HP yang mumpuni. Apalagi target pasar OPPO A54 ini adalah anak muda yang hampir pasti memiliki akun medsos yang saya sebutkan tadi. Memenuhi tuntutan pengguna muda lini seri A di Indonesia, OPPO melengkapi A54 dengan Triple Main Camera yang terdiri dari kamera utama 13MP, 2MP kamera makro dan 2MP kamera bokeh. Kamera ini dilengkapi berbagai fitur kecerdasan buatan yang dapat digunakan pengguna muda untuk mengungkapkan berbagai ekspresi mereka melalui media sosial.

Dazzle Color ketika diaktifkan dapat meningkatkan saturasi dan kecerahan gambar melalui sebuah algoritma kecerdasan buatan, menghadirkan gambar cemerlang yang kaya warna. Sementara, fitur cerdas lainnya, AI Scene Recognition mendukung pengenalan otomatis ketika digunakan, ada 23 suasana yang dapat dikenali oleh perangkat ini. Ultra Night Mode menjadi solusi fotografi malam hari. Fitur ini diaktifkan secara manual, pada lingkungan rendah cahaya secara otomatis eksposur akan meningkat, perangkat melakukan pengukuran berbasis kecerdasan buatan kemudian melakukan penyesuaian untuk memberikan cahaya pada bagian gelap sesuai. OPPO A54 juga dilengkapi fitur untuk mengambil gambar panorama dengan sudut 180°. AI Beautification 2.0 dapat diakses melalui kamera depan dan belakang. OPPO memperbaharui kemampuan fitur ini pada A54 sehingga dapat mekalukan penyesuaian cerdas dengan mengukur cahaya sekitar dan kemudian menerapkan efek percantik sesuai dengan warna kulit orang Indonesia terutama saat mengambil swafoto. Buat saya yang hobi traveling, spesifikasi kamera seperti ini sungguh mewah.

Bisa diset ke kamera makro, loh. Buat yang hobi fotografi bisa memotret objek-objek kecil dengan lebih leluasa dan detail. Ada juga fitur bokeh buat yang menginginkan objek fotonya full fokus dengan latar bokeh yang bak foto dengan kamera berlensa.          

 


Hardware & Software

OPPO A54 dibekali dengan RAM 4GB LPDDR4X, mantap nih, main PUBG atau Mobile Legend tidak perlu takut kena semprot kawan mabar karena pakai HP kentang. Memorinya 128GB dan bisa diupgrade hingga 256GB, puas deh menyimpan berbagai file mulai dari foto-foto traveling hingga file kerjaan kantor. Dengan spek tinggi tersebut, kita tidak perlu sering-sering bawa power bank, karena baterainya berkekuatan 5000mAh dengan fast charging. Untuk internetan saja, baterainya bisa tahan selama 36 jam.

OS-nya sendiri menggunakan ColorOS 7.2 berbasis Android 10, OD tertinggi di kelasnya. Untuk kelir bodinya bisa dipilih apakah starry black atau crystal blue. Dan OPPO A54 ini menjadi rekomendasi smartphone 2 jutaan dari OPPO. Harganya? Dibanderol harga Rp. 2.699.000, saya rela menyisihkan THR saya untuk memboyong HP ini.

Marhabban ya THR….


Tulisan ini dibuat tepat satu tahun dari terkonfirmasinya kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Penyakit anyar berupa virus yang berasal dari sebuah pasar hewan liar di Wuhan, Tiongkok, ini sudah setahun membuat Indonesia begitu kerepotan di berbagai aspek. Mulai dari ekonomi sampai kebiasaan di kehidupan sosial berubah cukup signifikan. Sebuah keadaan yang disukai atau tidak membuat kita harus menyesuaikan diri. Sebuah keadaan yang memaksa kita untuk kembali ingat pada sebuah hal yang mungkin terkadang kita lupakan saking khidmatnya menikmati hidup, yaitu kesehatan.


Menjaga kesehatan memang bisa dibilang gampang-gampang susah. Karena kesehatan ini seperti air, ada di setiap hari sehingga kita lupa memilikinya dan baru sadar betapa pentingnya ketika hilang. Saat COVID-19 menyerang, saya tidak bilang ini sebagai hal positif, tetapi tersebarnya virus ini membuat orang jadi lebih sadar akan kesehatan dan meningkatkan kekuatan imunitas tubuhnya.


Puji Tuhan, selama pandemi COVID-19 ini saya sudah beberapa kali dites PCR atau swab dan semuanya berakhir dengan hasil negatif. Tubuh juga tidak menunjukkan gejala yang aneh-aneh. Pernafasan masih normal, suhu tubuh rata-rata, penciuman moncer, indra perasa oke. Ini berarti imunitas tubuh saya bisa dibilang baik. 


Bagaimana cara menjaga imunitas versi saya? Saya ada beberapa tipsnya:


1. KELOLA STRES

Kadang penyakit datang justru dari pikiran yang kalut, syaraf otak yang menegang, dan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan oleh otak. Bahasa anak sosmednya, overthingking. Situasi ini jika berlebihan bisa menimbulkan stres. Kemampuan kita mengelola stres menjadi sangat penting. Kalau sudah terlampau penat dengan rutinitas sehari-hari, rehatlah sejenak. Lakukan apa yang disuka, beri penghargaan kepada diri sendiri. Kalau ada waktu dan rejeki, pergilah berlibur dengan protokol kesehatan yang ketat.



2. TIDUR YANG CUKUP

Tidur adalah hak tubuh yang wajib kita penuhi. Jika hak ini tidak diberikan tubuh bisa protes dengan cara meminimalisir fungsionalitasnya yang berakhir dengan kita terbaring sakit. Terapkan pola tidur yang teratur seperti tidur sebelum jam 9 malam dan bangun jam 5 pagi. Paling tidak delapan jam.



3. EFEKTIF DALAM BERKEGIATAN

Masa pandemi seperti ini mewajibkan kita untuk sedapat mungkin mengurangi aktifitas di luar rumah. Namun, tidak semua bisa dilakukan di rumah. Ada kalanya kita mesti bekerja atau menghadiri acara yang tidak bisa dihadiri secara daring. Memilah-milah kegiatan dengan membuat prioritas memperkecil peluang kita terpapar virus. Jadi, kesehatan dan produktifitas bisa berjalan bersisian.



4. JAGA POLA MAKAN

Penyakit sebagian besar datangnya dari perut. Kurang makan bisa sakit, kelebihan makan pun bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan. Ada baiknya kita kembali mengingat pola makan klasik empat sehat lima sempurna agar takaran gizi seimbang.



5. CEK KESEHATAN

Dalam suasana pandemi seperti ini, mengecek kesehatan adalah keniscayaan. Bukan hanya untuk memastikan bahwa kita sehat, tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita. Sekarang semua serba mudah, termasuk cek kesehatan ini. Kita hanya perlu instal aplikasi Halodoc, tidak perlu keluar rumah untuk sekadar konsultasi. Kita bahkan bisa menjadwalkan tes PCR, dan antigen. Untuk yang mau beribadah umroh atau haji dan memerlukan vaksin meningitis juga bisa lewat satu aplikasi ini. 




Demikian tips menjaga imunitas dari sepengalaman saya. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan, serta keselamatan. Terpenting, semoga pandemi ini lekas berakhir, kangen rasanya jalan-jalan lagi tanpa dibayangi tenggorokan dan lubang hidung yang diusap-usap tenaga kesehatan. Aamiin.

author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.