Halo! Saya Iqbaal Traveler Fakir.Manusia Hanya Berusaha, Rekening Bank Yang Menentukan.

Saya pernah merasa bahwa kota metropolitan seperti Jakarta museumnya sangat kurang. Namun, setelah beberapa kali mengikuti tour yang diadakan oleh Jakarta Good Guide, saya mendapati bahwa ternyata museum di Jakarta itu salah satu yang terbanyak di Asia Tenggara. Kelihatan sedikit mungkin karena saya tahunya ya Monas lagi, Monas lagi. Paling banter Kota Tua.

Tetapi kalau disimak lagi bagaimana sejarah perkembangan Jakarta, banyak fakta menarik dan penuh cerita. Di setiap tempat, dan nama suatu daerah di Jakarta memiliki banyak kisah menarik dan sarat kejadian penting dalam perjalanan bangsa ini. Bisa dibilang, Jakarta adalah museum itu sendiri.

Cikini adalah salah satu daerah di Jakarta yang memiliki cerita lampau penuh makna. Kawasan di pusat Jakarta ini kini menjadi seperti pusat budaya ibukota dengan Taman Ismail Marzukinya. TIM hanya salah satu tempat yang bisa dikulik lebih jauh di Cikini. Ada beberapa tempat dan fakta lagi yang bisa bercerita dan memuaskan rasa ingin tahu kita.

Cikini adalah kawasan yang dulunya oleh pemerintah Kolonial Belanda dibangun untuk menunjang kehidupan pemukiman para pejabatnya di Menteng. Di sana dibangun fasilitas pertokoan. Seiring berjalannya waktu, Cikini tumbuh pesat di tengah pusat Jakarta yang metropolis namun tetap ada warisan sejarah yang bertahan. Berikut beberapa cerita dan tempat bersejarah itu:

1. Kantor Pos  
Kalau kita melalui Jalan Cikini Raya dari arah Tugu Tani, pasti melewati kantor pos ini. Ini adalah kantor pos pertama di Indonesia yang buka 24 jam, jadi kalau lagi tiba-tiba ada dokumen atau barang dengan urgensi tinggi harus dikirim walau di tengah malam atau hari libur, sudah tahu kan lewat mana mengirimnya? Arsitekturnya tetap mempertahankan gaya kolonial. Kalau masuk, kesan classy langsung terasa.


2. Bakul Coffee  
Menyusuri trotoar di Jalan Raya Cikini, masih satu deret dengan kantor pos, akan kita jumpai sebuah kedai kopi bernama Bakul Coffee. Kedai ini memiliki kaitan erat dengan sejarah kontribusi kopi Indonesia di dunia. Ternyata dulunya kedai ini adalah sebuah warung nasi yang menyuplai makanan untuk karyawan-karyawan Belanda. Syahdan, ada ibu-ibu yang menawarkan kopi dari Jawa untuk dijual di warung nasi tersebut. Dan ternyata laku. Bahkan biji kopinya jauh lebih laku daripada makanannya. Oleh sebab itu pemiliknya memutuskan untuk menjual kopi saja.

Lalu di mana sejarah kopinya? Karena nikmatnya rasa kopi dari Jawa ini, Belanda membuat kebijakan tanam paksa yang mengharuskan daerah pertanian di Jawa ditanami kopi. Belanda lalu menjualnya ke Eropa, sisanya dilelang ke Amerika. Di Amerika, kopi asal Jawa selalu menjadi kopi dengan harga paling tinggi. Bahkan, bangsawan Amerika jika ingin memesan kopi akan berujar, “A cup of Java, please!”

Beratus tahun kemudian ketika komputer sudah ditemukan, ada seorang programmer Amerika bernama James Gosling. Dia berhasil membuat sebuah bahasa pemrograman yang diberinya nama ‘Oak’. Namun, programnya itu tidak laku karena namanya kurang komersil. Hingga akhirnya dia mengganti nama karyanya dengan minuman yang biasa dia minum ketika sedang membuat program. Minuman yang berabad lalu dikenal oleh bangsawan negerinya dengan ‘Cup of Java’. Maka program itu diberi nama ‘Java’ dengan simbol cangkir kopi. Program itu sekarang ada di hampir tiap komputer di seluruh dunia.

3. A. Kasoem 
Kalau lewat ruas Jalan Cikini Raya, pada sisi yang bersebrangan dengan TIM, maka kita akan melihat sebuah plang besar bertuliskan ‘A. KASOEM’. Untuk pengguna setia kacamata, pasti familiar dengan nama Kasoem. Namun, mungkin masih belum semua tahu cerita tentang trah Kasoem ini.

Beliau adalah optician (ahli optik) pertama di Indonesia. Nama lengkapnya Acung Kasoem, asli Sunda. Sewaktu perang masih berkecamuk di Pasifik, dan Indonesia masih dibawah kependudukan Jepang, A. Kasoem bekerja pada seorang birokrat Jerman yang menetap di Indonesia. Karena pada perang tersebut Jerman dan Jepang berada dalam satu kubu, A. Kasoem meminta kepada atasannya itu agar melobi Jepang supaya memberikan kemerdekaan bagi Indonesia.

Atasannya itu bertanya balik, “memangnya kalau bangsamu merdeka mau apa? Kehidupan perekonomianmu tetap akan bergantung pada bangsa lain. Mengisi kemerdekaan itu tidak mudah. Kau kusekolahkan saja ke Jerman, belajar membuat kacamata di sana. Setiap orang berumur di atas empat puluh tahun, kemungkinan memerlukan kacamata. Bangsamu lebih perlu itu sekarang”. Berangkatlah Acung Kasoem ke Eropa.

Sepulangnya dari Eropa, A. Kasoem menjadi pembuat kacamata bagi para pejabat istana di cabinet Presiden Soekarno. Bisnisnya masih langgeng hingga kini. Bahkan usahanya menurun ke anak perempuannya, Lily Kasoem. 


4. Roti Tan Ek Tjoan
Ini roti legenda di Cikini. Tercermin dari namanya, roti ini dibuat oleh orang Tionghoa bernama Tan Ek Tjoan (menurut ngana?). Tapi sebetulnya pembuat rotinya adalah istrinya bernama Li Pan, Bapak Tan sebagai perencana bisnisnya. Dahulu pabri roti ini ada di Jalan Cikini Raya, namun, karena ada peraturan daerah yang melarang pabrik berdiri di tengah kota, maka pabriknya pindah ke Ciputat. Walau begitu, agen-agen dan pengecernya masih banyak yang berjualan di Cikini.

Roti ini menganut filosofi Yin dan Yang, di mana itu tercermin dari dua varian roti utamanya. Roti gambang yang keras, dan roti bim bam yang empuk. Roti Tan Ek Tjoan di masa awal kemerdekaan adalah roti favorit Bung Hatta. 



5. Taman Ismail Marzuki (TIM)
Ini adalah kawasan paling ikonik di Cikini. Kalau bicara soal Cikini, ya TIM patokannya. Awalnya, TIM adalah bagian dari taman rumahnya Raden Saleh. Sekadar informasi tambahan, rumah Raden Saleh itu adalah yang sekarang Rumah Sakit PGI, sedangkan taman rumahnya ada di TIM. Terbayang betapa luasnya tanah sang pelukis ini. Hal yang wajar karena Beliau adalah pelukis Belanda.

Raden Saleh adalah pecinta binatang, oleh sebab itu taman rumahnya terdapat berbagai macam binatang sehingga terlihat seperti kebun binatang. Ketika Raden Saleh memutuskan tinggal di Belanda, tanah miliknya itu dihibahkan ke yayasan yang sekarang menaungi RS. PGI, dan Pemprov DKI Jakarta.

Di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, taman tersebut diubah peruntukkannya menjadi tempat berkumpul para seniman dan budayawan di Jakarta. Pemberian namanya didasari oleh seniman besar asal Betawi, yaitu Ismail Marzuki. Sementara itu binatang-binatang peninggalan sejak zaman Raden Saleh dipindahkan ke Ragunan. Jadi banyaknya tempat makan di Cikini yang memakai nama ‘Bonbin (kebon binatang)’, bisa terjelaskan.

Taman Ismail Marzuki, dalam perjalanannya bukan hanya pusat budaya dan seni. Di sana dibangun juga planetarium, perpustakaan, bioskop, dan yang terbaru gedung teater bernama Teater Jakarta. Teater Jakarta ini baru selesai pembangunannya tahun 2011, padahal pembangunannya dimulai tahun 1996. Mangkrak karena krisis moneter terjadi. Teater Jakarta ini, jika jadi tepat waktu, maka akan jadi gedung dengan teknologi paling mutakhir di Jakarta. Konsep design-nya terilhami dari bentuk rumah adat Sulawesi Selatan, Tongkonan.

Masih banyak sebetulnya yang bisa diceritakan soal Cikini. Seperti makam Habib Cikini yang selalu banjir ketika mau digusur pengembang, rumah Raden Saleh yang sekarang jadi kantor direksi RS PGI, Masjid Jami Cikini yang jadi tempat bergaul H. Agus Salim, dan masih banyak lagi. Selamat datang di kawasan penuh kisah, Cikini! 



Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah salah satu gunung favorit para pendaki. Akses yang mudah ke basecamp pendakian dan keindahan serta fenomena alamnya yang indah adalah faktor utama mengapa taman nasional ini kerap menjadi tujuan. Untuk akses, bisa dimulai dari Cibodas, Gunung Putri, atau Selabintana. Cibodas mungkin jalur paling dikenal karena berdekatan dengan Kebun Raya Cibodas dan transportasi umum dari Jakarta pun sangat memadai. Jalur Cibodas ini juga yang saya lalui ketika mengalami pengalaman luar biasa dan akan saya ceritakan pada postingan ini.

Tujuan utama para pendaki ke Gunung Gede-Pangrango adalah, selain puncak, ingin melihat atau berkemah di lembah padang bunga edelweiss yang dimiliki oleh masing-masing gunung. Gunung Gede memiliki Lembah Suryakencana, dan Gunung Pangrango mempunyai lembah legendaris yang di gambarkan oleh Soe Hok Gie dalam puisinya sebagai tempat romantis, yaitu Lembah Mandalawangi.

Saya dan ketujuh teman memutuskan untuk ke Gunung Pangrango dan berkemah di Mandalawangi. Bakda subuh kami sudah berangkat, dan beristirahat cukup lama di Telaga Warna. Kami masak sarapan, bahkan tertidur hingga hari beranjak siang. Cuaca cerah, bahkan dari jembatan seteah Telaga Warna puncak Gunung Gede jelas terlihat. Ini jelas bikin kami semangat. Ke gunung dan cuaca cerah adalah kombinasi dua hal yang sempurna.

Tengah hari, kami sampai di Pos Air Panas. Pos ini salah satu daya tarik untuk mendaki Gunung Gede-Pangrango via jalur Cibodas. Kita harus melewati air terjun, dan sungai kecil berair panas. Karena panasnya, sesekali saya harus berjalan melewati kabut asap. Beruntung di sisi kanan sungai dipasang pembatas tambang untuk berpegangan, karena di sisi itu langsung berbatasan dengan jurang. Suhu airnya pun cukup tinggi, saya yang pakai sepatu gunung saja terasa panansnya di ketika air merembes hingga kaos kaki. Tetapi ada satu lokasi yang airnya panasnya pas untuk merendam kaki dan melepas pegal-pegal di persendian. Sebuah tempat relaksasi yang mewah!

Tepat beberapa meter di atas Pos Air Panas, kami tiba di sebuah tanah lapang bernama Pos Kandang Batu. Kandang Batu ini merupakan spot kemah juga karena banyaknya tanah kosong dan landai, sumber airnya pun dekat. Tempat ini sempat terkenal karena pernah ada pendaki yang hipotermia hingga meninggal.

Di sini kami terpecah, tiga orang memutuskan untuk tinggal di Kandang Batu. Sedangkan lima orang (termasuk saya) memutuskan untuk lanjut. Langit sudah tidak secerah tadi pagi. Di beberapa bagian, awan kelabu sudah terlihat. Rombongan saya memutuskan untuk setidaknya sampai di Kandang Badak, agar kalau memang mau summit ke puncak Gunung Pangrango dan Lembah Mandalawangi tidak terlalu jauh.

Rombongan kecil berjumlah lima orang itu adalah saya, Centong, Ian, beserta dua orang gadis, Kris, dan Dechan. Pukul lima sore kami tepat sampai di Pos Kandang Badak. Di pos ini biasanya para pendaki mendirikan tenda karena untuk ke puncak Gunung Gede-Pangrango sudah dekat. Kami berdiskusi apakah mau buka tenda di sini, atau lanjut saja hingga Mandalawangi walaupun dengan resiko berjalan malam.

Keindahan lembah Mandalawangi Gunung Pangrango dalam puisi Soe Hok Gie membuat kami memutuskan untuk melanjutkan, ditambah karena hari itu lapak tenda di Kandang Badak sudah penuh. Tidak ada tanah kosong datar lagi yang tersedia.

Naik sedikit dari Kandang Banteng, saya dan teman-teman berbelok ke kanan, jalur ke Gunung Pangrango. Kalau ambil lurus akan menuju Lambah Suryakencana Gunung Gede. Tidak seperti jalur ke Gunung Gede, jalur Gunung Pangrango relatif jarang dilewati pendaki. Sebab itu banyak batang pohon tumbang dan semak-semak lebat tanda jalan setapaknya tidak banyak dilalui. Tidak jarang kami harus merangkak untuk melewati batang pohon yang menghalangi jalan. Semakin sulit karena kami membawa keril yang harus dipasang-copot, punggung rasanya remuk.

Tepat setelah hari gelap, setelah kami memasang headlamp masing-masing, hujan deras turun tanpa adanya isyarat seperti gerimis atau angin. Kami kelabakan mebuka keril mencari ponco. Drama pun dimulai.

Hujan semakin deras. Jalur pendakian berubah menjadi sungai kecil. Kami terus berjalan hingga menemui pendaki lain di sebuah tanjakan. Mereka sudah buka tenda di satu-satunya tanah kosong dan datar di wilayah tersebut. Kami tidak bisa mendirikan tenda. Akhirnya kami membuat tempat perlindungan sementara dengan memakai cover tenda yang diikat seadanya ke ranting-ranting pohon. Pengikatnya pun bukan tali, melainkan plastik trash bag yang dipotong-potong memanjang. Kami berteduh dibawahnya sambil berharap hujan berhenti. 



Perkiraan kami salah. Hujan stabil. Cover tenda sudah tidak mampu menahan air hujan karena memang bukan itu fungsinya.

“Bal, Elu tunggu di sini ama cewek-cewek. Gue sama Ian ke atas nyari tanah kosong, gue bawa tenda. Kalo sepuluh menitan gue belom balik lu nyusul ke atas.” Centong memberi kami arahan.

Rasanya lebih dari sepuluh menit saya, Dechan, dan Kris terduduk di tanjakan tadi. Karena terlalu lama diam kami jadi kedinginan. Sudah tidak ada satu jengkalpun dari kami yang kering. Saya mengajak Kris, dan Dechan untuk menyusul Centong dan Ian. Medan yang semakin terjal dan penuh akar pohon semakin menyulitkan pergerakan kami. Samar-samar saya melihat cahaya senter di atas sana. Itu pasti Centong dan Ian yang lagi pasang tenda. Lega hati ini, karena akhirnya kami akan bernaung.

Yang saya dapati pertama kali saat sampai di tempat Centong adalah tenda yang sudah berdiri, tetapi air muka Centong kelihatan tidak enak.

“Tenda kita ukurannya tiga kali tiga, tapi tanahnya cuma dua meteran kayaknya. Jadi nggak muat. Kita harus cari tanah lagi.”

CRAP!

Tenda pun dibongkar. Saat sedang membongkar, terlihat Centong sedikit menahan tawa.

“Ngapa lu? Kesambet?”

“Kagak. Tadi si Ian pas lagi pasang tenda terus tau tendanya kegedean, ngerengek ke gue, ‘A CEN, IAN REK MEWEEEEEKKK’!, anjir ekspresinya lucu banget.” Centong berbisik. Kami tertawa. Lumayan mengurangi dingin.

Setelah tenda dilipat, dan dimasukkan ke plastic trash bag, karena kalau dimasukkan kembali k etas khawatir tambah basah, kami melanjutkan pendakian. Naik terus ke atas. Sekarang pilihannya hanya balik lagi ke Kandang Badak yang sudah sangat jauh di bawah, atau lanjut ke Mandalawangi di tengah hujan.

Kami berpapasan dengan rombongan yang turun. Kami saling menyapa. Saya bertanya apakah Mandalawangi sudah dekat. Dan saya menyesal sudah bertanya setelah mendengar jawabannya.

“Wah, masih jauh, Bang. Kita aja baru turun dari sana dua jam yang lalu, kalo kalian mah naik, apalagi bawa keril gini bisa empat jam lebih baru sampe.”

Empat jam? Rasanya kami sudah tidak kuat. Makan pilihan satu-satunya adalah kembali ke Kandang Badak dan berharap masih ada satu tempat kosong untuk tenda kami. Kami berhenti sejenak, mengambil nafas. Tidak terasa kami kedinginan. Saya, Centong, dan Ian berdekatan sambil mengigil. Dechan tiba-tiba nyeletuk,

“Kalian bertiga pada pelukan, deh, biar anget.”

Kami yang cowok-cowok berpandangan. Mau tertawa tapi tenaga sudah habis. Asli, itu lucu, sumpah! Tida terbanyang kami bertiga berpelukan, terus ada yang baper.

Sampai kembali di Kandang Badak sudah jam satu malam. Puji Tuhan kami menemukan tanah datar di dekat mushola. Keeseokannya kami terbangun jam sembilan. Cukup siang. Kris bahkan harus tidur dengan sebagian baju yang lembab.

Kami harus menunda perjumpaan dengan lembah kasihnya Soe Hok Gie. Lembah Mandalawangi. Ego kami memang berontak minta dipuaskan, tetapi keselamatan jiwa adalah yang utama. Lain kali, ya, Lembah Mandalawangi. Sampai nanti, Gunung Pangrango!

Berpelukan… =)


Sudah beberapa kali saya berlibur ke Kepulauan Seribu. Namun pengalaman liburan kali ini cukup berbeda dengan yang sudah-sudah. Ada pengalaman sedikit horror dan cukup membuat bulu kuduk saya meremang.

Jadi ceritanya saya dan dua teman kantor, Bhakti dan Mula,, berencana menghabiskan akhir pekan. Kebetulan dua teman saya tersebut hobi fotografi. Yang terpikir oleh saya untuk penggemar fotografi pasti suka memotret landscape atau bentang alam. Berarti kalau tidak ke pantai, yak e gunung. Kami sepakat kalau ke gunung repot bawa peralatannya. Jadi kami mencoret gunung dari daftar tujuan kami. Tersisa pantai. Pantai yang dekat dengan Jakarta, dan biaya terjangkau hanya Kepulauan Seribu. 


Kepulauan Seribu, seperti yang kita tahu terdiri dari pulau-pulau berpenghuni dan tidak berpenghuni. Pulau yang tidak berpenghuni bisa dikunjungi, bahkan kita bisa bermalam dengan menggunakan tenda. Salah satunya adalah Pulau Semak Daun. Ke sanalah kami akan menghabiskan akhir pekan. Walaupun judulnya berkemah, tapi barang bawaan dan perbekalan kami tidak serumit jika kemping di gunung.

Pulau Semak Daun adalah sebuah pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu. Cukup mudah akses ke pulau ini walaupun harus dua kali berganti moda transportasi dan transit. Kita bisa memulai perjalanan dengan naik kapal dari Pelabuhan Kaliadem, atau Pelabuhan Sunda Kelapa jurusan Pulau Pramuka. Dari Pulau Pramuka lanjut naik perahu kecil ke Pulau Semak Daun.

Cuaca cerah, dan tingkat keceriaan kami masih dalam tingkat maksimal. Selepas zuhur, perahukecil kami membelah selat-selat kecil Kepulauan Seribu menuju Pulau Semak Daun. Perjalanan dari Pulau Pramuka memakan waktu sekira setengah jam. Di sela-sela perjalanan, pemilik perahu berpesan supaya kami para pengunjung menjaga ketenangan dan kebersihan selama di Pulau Semak Daun.

Kontak pertama saya dengan Pulau Semak Daun adalah sambutan sebuah dermaga sederhana dari kayu namun panjang. Perahu bersandar di ujung dermaga yang terdapat sebuah bangunan kecil untuk pemilik perahu atau nelayan beristirahat. Kesan teduh saya rasakan ketika melewati batas pantai dan hutan cemara di bagian depan pulau.

Kami bertiga mencari tanah datar untuk buka tenda.

“Cari yang ngadep pantai, Bro, biar pas buka tenda langsung Instagramable gitu.”

“Yang ada pohon buat gantung hammock juga.”

Begitu kriteria kami untuk tanah yang layak dibangun tenda. Kami menyusuri tepian pulau, karena di bagian tengah pulau sudah ada beberapa tenda. Di sebuah sisi Pulau Semak Daun, di sebelah selatan, ada sebuah tanah kosong, pas sekali hanya untuk satu tenda. Di depannya, ada pantai landai dan dangkal menjorok jauh ke tengah laut. Sempurna untuk main air. Hammock? Tidak jauh dari bibir pantai sebuah batang pohon tumbang yang bisa digunakan untuk mengikat tali hammock. Keren, deh, pokoknya! 


Sore hingga malam itu kami habiskan benar-benar untuk bersenang-senang. Menikmati matahari dan angina sepoi-sepoi sambil berayun santai di hammock, atau mengeksplor panatai landai luas yang menjorok hingga tengah laut, sampai foto-foto norak. Saya sempat mencoba loncat dari atas dermaga yang ada bangunannya ke laut. Lumayan tinggi, empat meter. Dan kami mengakui, bahwa sunset di Pulau Semak Daun amatlah cantik. Pantai yang langsung menghadap ke barat tanpa ada penghalang apa pun, blas ke cakrawala Kepulauan Seribu. Matahari turun pelan-pelan dan secara periode hitungan detik, mengubah warna langit dari kuning, jingga, oranye, hingga warna tersier campuran antara ungu dan oranye. 


Malam pun datang. Saat itu bulan purnama dan langit bersih. Saking terangnya, kami tidak perlu menyalakan senter atau headlamp. Cahaya bulan sudah cukup. Selepas makan malam, kami masuk tenda untuk tidur. Bulan tepat berada di atas tenda kami. Cahayanya yang kuat membuat bayangan siluet dedaunan dan ranting pohon terlihat dari dalam tenda seperti sesuatu yang menari.

Kami tertidur.

Untuk beberapa saat.

Sebelum selepas tengah malam kami kompak terbangun. Bhakti menyalakan senter. Kami semua berpandangan satu sama lain.

“Elu denger, nggak tadi?” Mula buka suara.

“Iya, kayak ada yang lewat.”

“Cuman daun ketiup angina kali.” Saya mencoba menemukan alasan paling masuk akal. Memang saat kami terbangun angina bertiup kencang dan deburan ombak semakin digdaya. Efek bulan purnama, sehingga air laut pasang. 

Kami tidur kembali. Walaupun saya yakin tidak ada dari kami yang benar-benar tidur. Tiba-tiba kami kembali mendengar seperti ada yang lewat dan sekarang ditambah ada sesuatu yang menyodok-nyodok bagian bawah tenda kami dari luar.

Kami bertiga kembali bangun dengan keadaan lebih tegang. Masa iya angina bisa menyundul-nyundul tenda dengan tingkat kepadatan seperti itu?

“Tolong dong jangan gangguin kami…” Mula dengan wajah pucat berkomat-kamit sambil melihat ke atas, seolah di atas ada…ada itu lah pokoknya. Siluet dedaunan masih terlihat, menambah suasana semakin mencekam.

Bhakti mengambil tripodnya, saya paham maksudnya, dia mau menggunakannya sebagai alat pukul. Saya membuka tenda, walau gemetaran tetapi penasaran luar biasa. Bhakti keluar dengan langkah ragu dan waspada, siap memukul dengan tripodnya. Jika benar yang menyentuh tenda kami adalah makhluk ghaib, saya ragu tripod tersebut bisa mengusirnya.

Beberapa detik saya, dan Mula menunggu di dalam tenda sebelum Bhakti kembali. Saya lega karena dia normal-normal saja, tidak minta kopi hitam dan teriak, “AINGGGG MAUNNNGGG!”.

“Kagak ada siapa-siapa, dan kagak ada apa-apa, Cuy!” Seru Bhakti.

“Babi hutan kali, ya?”

“Gue sih lebih takut uler.”

“Atau kunt…”

“Ahelah, udah! Yang penting kagak ada apa-apa.”

Sisa malam kami habiskan dengan menggelar matras dan menyeduh kopi di depan tenda hingga pagi. Kami tidak banyak bicara, menyimpan masing-masing pertanyaan apa atau siapa yang lewat dan menyentuh tenda kami semalam.

Pulau Semak Daun pada akhirnya memberi kami sunrise yang cantik di pagi harinya. Saya memasak sandwich, kedua teman saya hunting foto, dan ombak kembali tenang. Sangat tenang.

Begitu ceritanya. Masih mau ke Pulau Semak Daun? Saya titip salam buat si dia… =) 

Saya termasuk salah satu orang yang ketika apply paspor, belum tahu mau ke mana. Ketika sesi wawancara (lebih ke formalitas saja), saya jawab jujur untuk jalan-jalan, waktu itu saya jawab ke Bangkok. Lalu paspor ‘nganggur’ sekitar tiga tahun.

Dan ketika tiba kesempatan untuk pertama kalinya saya ke luar negeri, ternyata bukan imigrasi Thailand, negara selain Indonesia, yang mencap tanda kedatangan di paspor saya. Melainkan Malaysia. Saya yakin ada banyak populasi di luar sana yang catatan pertama ke luar negerinya adalah Malaysia. Apalagi untuk urusan jalan-jalan. Simpel, sih, negara ini dekat baik secara geografis dan kultur, dan tentu saja karena murah. Hidup sobat miskin!

Untuk yang paspornya masih mulus, tapi masih bingung mau dipakai traveling ke mana, jangan ragu untuk memilih Malaysia. Karena letaknya yang dekat, otomatis harga tiket pesawatnya pun cenderung murah. Tapi bagian terbaik dari Malaysia adalah, kita bisa mendapat pengalaman traveling yang mengasyikkan yang cukup dilakukan pada akhir pekan. Tidak perlu deg-degan menunggu mood si bos di kantor sedang bagus untuk mengajukan cuti.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah booking tiket pesawat. Ini wajib, sebab kita akan ke Malaysia, bukan Cicaheum. Supaya niat menghabiskan akhir pekan bisa terlaksana, beli lah tiket penerbangan paling malam di hari Jumat, dan tiket pulang dengan waktu yang sama di hari minggu. Jadi kita punya waktu wholeday dari Sabtu pagi sampai Minggu sore untuk keliling eksplor Kuala Lumpur dan sekitarnya.

Jadi garis besar itinenary-nya nanti akan seperti ini, silakan kalau mau detail jamnya bisa dimodifikasi sendiri:

  • Jumat Malam-Sabtu Dinihari
Penerbangan Jumat malam dari Soekarno-Hatta kemungkinan berakhir pada Sabtu dinihari waktu Malaysia. Jam lewat tengah malam seperti itu pasti di KLIA atau KLIA2 sudah sepi. KLIA Express, atau KLIA Transit –kereta bandara untuk ke pusat kota Kuala Lumpur- pasti juga sudah tidak beroperasi. Jangan panik. Saran saya jangan keluar dulu dari imigrasi. Cari spot tidur yang enak untuk beristirahat menunggu pagi. Banyak, kok, backpacker atau bahkan turis yang ‘ngampar’ begitu saja di kursi-kursi atau lantai bandara.

  • Sabtu pagi-siang
Carilah penginapan atau hotel di pusat Kota Kuala Lumpur. Kalau pergi dengan cara backpacker, banyak lho hostel seharga 60-an RM per malam. Waktu dari pagi sampai siang ini bisa dimanfaatkan untuk bersih-bersih, mandi (ingat, dari kemarin sore pasti belum mandi :p), dan istirahat sejenak meluruskan badan atau tidur sebentar.

  • Sabtu siang-sore
Siapkan tenaga, karena dari siang hingga sore kita bisa eksplor Kuala Lumpur dengan berjalan kaki atau pindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Kalau bingung mau ke mana dulu, coba saja ke KL Tower. Ini salah satu bangunan paling tinggi di KL, dilihat dari sudut mana saja pasti terlihat. Saya waktu pertama kali ke KL juga ke sini, tapi tidak naik ke atasnya karena tiketnya mahal menurut tingkat kemampuan ekonomi saya, yaitu 150 RM.

Atau bisa juga cari makan di sekitaran Central Market, banyak Mamak (rumah makan India), dan chinese food. Setelah kenyang, bisa langsung menuju Petaling Street, atau Pasar Seni. Di sini bisa beli barang-barang unik khas Malaysia, dan jajanan-jajanan lainnya. 


Dari sana sudah dekat jalan kaki beberapa blok ke Masjid Jamek, dan Dataran Merdeka. Di salah satu sisi Dataran Merdeka, ada landmark kecil bertuliskan I Love KL yang jadi spot favorit foto wisatawan.

Kalau sempat, dan sekiranya memiliki mobilitas yang prima, sebelum atau sesudah keliling KL bisa sempatkan diri ke Putrajaya. Tempat ini adalah kota pusat pemerintahan Malaysia. Ada istana Perdana Menteri, kantor parlemen dengan halaman luas berhiaskan bendera-bendera negara bagian Kerajaan Malaysia. Ada juga Masjid Putra yang berwarna merah dan arsitektur megah. 



  • Sabtu sore-malam
Sebelum matahari benar-benar tenggelam, segera ke stasiun MRT Pasar Seni. Beli tiket seharga 2 RM, menuju Stasiun KLCC. Ada apa di KLCC? Ya, betul, Petronas Tower! Landmark kebanggaan Malaysia ini lebih asyik dikunjungi ketika malam. Selain lebih sejuk, tata cahaya di seputar menara ini juga penuh warna. 


Ketika hari menjelang malam, dan sudah waktunya makan, cobalah naik bus Go KL. Bus ini gratis, lho. Makanya antreannya lumayan panjang dan akan berangkat tiap lima belas menit sekali. Naik bus ini ke jurusan Bukit Bintang. Di sini banyak toko-toko brand mewah dunia dari mulai fashion samai makanan. Tapi tenang, ada kok tempat makan enak, murah, dan halal. Yaitu di Jalan Alor. Mirip-mirip Pub Street di Siem Reap, atau Khao San Road-nya Bangkok. 



  • Minggu pagi-siang
Hari Minggu, bangun lah sepagi mungkin supaya sempat ke Batu Cave. Batu Cave adalah tempat peribadatan Umat Hindu yang terletak di bukit kapur. Ada tangga menuju gua yang lumayan menguras stamina. Di dalam gua ada beberapa kuil tempat pemujaan dewa-dewa dalam mitologi Hindu. Sebelum masuk menapaki ratusan anak tangga, kita akan disambut patung Khrisna raksasa berwarna emas, background favorit untuk berfoto.

  • Minggu siang-sore
Lengkapi liburan di Malaysia dengan merasakan kesejukan di Genting Highland. Dari KL Central bisa dijangkau dengan bus GO Genting. Ada apa saja di Genting Highland?
  1. Chin Swee Temple: Merupakan kuil penganut Tao. Kesan khusyuk, dan meriah menyambut saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini. Dari sisi-sisinya yang terletak di atas bukit, kita bisa melihat kota Pahang dari ketinggian. Banngunan-bangunan kuilnya didominasi warna merah, dan banyak patung-patung diorama.  
  2.  SkyAvenue Mall: Awalnya saya mengira Ggenting Highland adalah wisata alam sepenuhnya karena letaknya seperti di pegunungan. Ternyata saya sama sekali salah. Banyak sekali pusat perbelanjaan dan hotel di sana. Yang paling terkenal SkyAvenue Mall. Kalau yang hobi mengoleksi barang-barang branded kelas dunia, di sini lah tempatnya. Tapi saya, sih, ke sini karena mau coba naik gondola (skyway).
  3. Gondola, Cable Car, SkyWay…Whatever, You Name It: Kalau untuk saya, naik gondola adalah gong dari tur di Genting Highland ini. Mirip-mirip kereta gantung di Taman Mini Indonesia Indah, hanya saja gondola di Genting Highland ini jalurnya naik/turun sepanjang hampir 3 kilometer. Gondola ini juga berfungsi sebagai alat transportasi untuk mencapai beberapa tujuan di Genting Highland. Kalau kita naik bus dari KL, biasanya akan diturunkan di stasiun sky way. Ada dua operator, yaitu Awana Skyway dan Genting Skyway. Ongkosnya 7MYR untuk sekali jalan.
  • Minggu sore-Malam
Bersiap-siap untuk ke bandara. Kalau bisa pilih maskapai yang bisa web check-in supaya tidak terburu-buru. Jadi bisa mampir ke toko Mydin. Di toko ini kita bisa beli oleh-oleh standar orang yang baru pulang dari Malaysia seperti cokelat, Milo, Kitkat, dan Kopi Oldtown. Kelebihan belanja di sini adalah harganya grosiran. Coba takar dulu kadar kekhilafan belanja kita, kalau tinggi, ya siap-siap beli bagasi tambahan.

Nah, itu itinenary kasar versi saya kalau mau menghabiskan akhir pekan di Malaysia. Dekat, cenderung terjangkau, budaya dan bahasa yang masih berkaitan erat, dan tidak perlu visa, menjadikan liburan ke Malaysia cocok bahkan untuk yang baru pertama ke luar negeri. Bahkan tidak perlu takut cuti mentok di bos, karena bisa dilakukan saat akhir pekan. Kalau ada ide lain atau pertanyaan, boleh loh dilempar di kolom komentar. Selamat berlibur =)
Raja Prameswara beranjak dari singasana di dalam lambung utama kapal layarnya. Panglima armada lautnya baru saja melaporkan bahwa awak kapal baru saja melihat daratan di ujung horizon. Prameswara memerintahkan supaya merapat ke sana. Layar pun ditutup, dan jangkar siap dilepaskan di semenanjung yang tidak begitu jauh dari Sumatera, salah satu dari wilayah nusantara dibawah kekuasaan Sriwijaya, kerajaannya.

Kapal bersandar, biduk tertambat, dan sang Maharaja dari Sriwijaya itu turun dari kapalnya. Menapaki untuk pertama kalinya tanah di seberang Sumatera itu. Sang raja berteduh di pepohonan yang tumbuh rindang di daratan tersebut. Baru diketahui bahwa pohon itu bernama Melaka. Dan sejak saat itu, daratan di semenanjung tersebut dinamakan ‘Melaka’.

Dalam perkembangannya, dan seperti sudah menjadi takdir daerah-daerah pesisir yang strategis, Melaka menarik perhatian bangsa Eropa untuk melanggengkan misi Gold, Gospel, dan Glory mereka zaman dahulu. Portugis menjadi yang pertama kali masuk.

Sekarang, Melaka sudah menjadi tujuan wisata yang sangat autentik di Malaysia. Selain ikatan sejarahnya yang kuat, tata kotanya yang baik juga sangat menunjang bagi pariwisata di Melaka. Perjalanan Melaka sedikit mengingatkan saya dengan sejarah Jakarta. Dahulu, sebelum ditaklukan Fatahillah dan menjadi Jayakarta, Sunda Kelapa juga kota pesisir lalu diperebutkan oleh Portugis dan Belanda. Melaka kemudian menjadi kota wisata, pun dengan Jakarta dengan Kota Tuanya.

Ada beberapa spot yang sungguh sayang untuk dilewatkan kalau berkunjung ke Melaka:
 
1. Red Square

Berbentuk seperti alun-alun. Di sana ada gereja, balai kota, museum, hingga kantor pos. Mirip dengan Kota Tua yang dulunya menjadi pusat dari Batavia. Uniknya, bangunan di sini di dominasi oleh warna merah dan bergaya kolonial, mengesankan sebuah tempat sarat cerita. Banyak becak-becak hias yang ‘mangkal’ di sini. 




2. Gereja Saint Paul

Jangan buru-buru meninggalkan Red Square setelah menikmatinya. Di belakangnya ada sebuah bukit. Masuklah ke sebuah gerbang dengan deretan anak tangga dan fasade senada dengan bangunan utama. Di puncak bukit ada sebuah reruntuhan gereja Katolik. Bagi saya pribadi, ini adalah spot favorit saya di Melaka. Back in time-nya lebih terasa. Gereja ini didirikan oleh missionaris Portugis bernama Duerte Coelho. Kemudian dihancurkan Belanda lalu diubah menjadi benteng. Letaknya yang dipuncak bukit, dan langsung menghadap ke laut menjadikan bukit ini sangat sempurna untuk sebuah benteng. Sulit diserang, dan bisa mengetahui dengan cepat jika ada kapal musuh yang datang. Taktik benteng stelsel ini memang terbukti jitu bagi strategi perang Belanda, seperti yang mereka lakukan ketika menaklukan Pangeran Diponegoro pada perang Jawa. 
 
 
3. Masjid Selat Melaka
Keseriusan Kesultanan Melaka, dan Pemerintah Malaysia untuk mengembangkan kawasan ini adalah terlihatnya proyek reklamasi. Mereka berambisi untuk memperluas wilayah ini. Salah satu karya yang sudah bisa dinikmati adalah Masjid Selat Melaka. Letaknya tidak jauh dari pusat kota, hanya 15 menit berkendara. Masjid ini dibangun di atas air pantai Melaka dan menjadi landmark baru bagi Melaka. Datanglah ke sini menjelang matahari condong ke barat untuk menikmati matahari terbenam perlahan di antara kubah dan menara masjidnya. Blue hour-nya pasti sangat disukai penyuka fotografi. 

 4. Melaka River Cruise

Melaka adalah kota yang dikelilingi kanal. Lagi, saya jadi teringat Batavia. Kota-kota pesisir biasanya menjadi pelabuhan penting. Apa pun akan dilakukan untuk mempertahankan kota itu, termasuk membuat kanal. Gunanya untuk memperlancar logistik, transportasi, pengendali banjir, sampai pertahanan dari serangan musuh. Bedanya, kanal di Batavia sekarang sudah hampir tidak terlihat. Di Melaka, sekarang kanal itu menjadi salah satu atraksi favorit wisatawan. Wahananya bernama Melaka River Cruise, di mana kita akan naik perahu dan berkeliling sungai sejauh 9km, melewati jembatan-jembatan penting, dan tata kota Melaka yang rapih. Saran saya, belilah tiket tour di hotel tempat menginap seharga 12 MYR. Karena kalau beli on the spot, harganya 20 MYR. Lumayan kan selisihnya buat jajan teh tarik. Dan lakukanlah tur ini pada malam hari, lighting Melaka yang sendu-sendu menggerus rindu lebih indah daripada siang hari. Di sisi-sisi sungainya kita bisa melihat orang berlalu lalang di broadwalk, atau sekadar menikmati makan malam di kedai-kedai dengan coretan-coretan mural yang artsy. 


5. Jonker Walk

Bagi yang suka belanja, Jonker Walk ini pasti jadi titik favorit. Seperti Russian Market di Kamboja, atau Khao San Road-nya Thailand. Di Indonesia mungkin seperti di Malioboro. Di sini berdiri banyak tempat belanja oleh-oleh, homestay bagi backpacker, sampai klab yang menjajakan bir.

Jika ke Malaysia, tidak rugi jika menyempatkan ke Melaka. Seperti Luang Prabang di Laos, Melaka adalah kota warisan dunia yang keautentikannya sudah tidak diragukan lagi. Selain itu, Melaka adalah simbol keanekaragaman suku, bangsa, agama, dan budaya. Akan sering kita jumpai di mana kuil-kuil berdampingan dengan masjid, dan gereja. 


Jika memang malas untuk pergi ke sini sendirian, coba pakai jasa open trip dari Mbak Tika, bisa dihubungi lewat Instagram sartika.syarif. Jadi tidak perlu lah bingung membuat itinenary, cari penerbangan murah, atau hotel yang prima, serahkan saja ke beliau. Beres semua!

Selamat datang di Melaka =)
Batavia sedang dilanda isu. Pasar-pasar, dan pusat kegiatan perniagaan yang biasanya ramai oleh orang Tionghoa tidak sesemarak seperti biasa. Ketimbang berdagang, mereka lebih sibuk menajamkan telinga dan meninggikan waspada. Tidak ada yang berani memastikan, apakah benar kabar burung yang selama ini beredar bahwa Belanda sedang membangun benteng di Sri Lanka dan membawa orang-orang Tionghoa dari Batavia sebagai tenaga kerjanya secara paksa.

Mereka teringat kembali bagaimana dulu Belanda kekurangan tenaga kerja di Hindia Belanda, sehingga mereka membujuk orang-orang Tionghoa untuk bekerja bagi mereka. Mereka terbujuk. Dan ternyata Batavia adalah tempat yang cocok untuk mereka berusaha dan berdagang. Dan ketika mereka sudah memboyong keluarga, dan memiliki keturunan di Batavia, Belanda ingin mengirim mereka ke Sri Lanka sebagai budak? Tidak masuk akal!

Ketika firasat tertuang menjadi keresahan, dan keresahan memuncak menjadi ketakutan, kelompok Tionghoa itu berkumpul dan memutuskan untuk mengambil sikap berupa perlawanan. Sekali pun harus mengangkat senjata dan mempertaruhkan batang leher. Atas nama kejayaan dan keberhasilan menguasai jalur perdagangan rempah di Hindia, Belanda yang mendengar rencana ini tidak mau kena serangan lebih dulu. Sang Gubernur Jenderal, Adrian Valckeneir, mengambil langkah cenderung praktis. Sebelum pemberontakan terjadi, tangkap, dan bunuh orang-orang Tionghoa di Batavia!

Lalu di sebuah hari di awal abad 18 itu, orang Tionghoa yang rencananya ingin memberontak tidak berdaya menghadapi sergapan mendadak Belanda. Kalah jumlah, kalah persenjataan, dengan mudah Belanda menggelandang sekitar 14.000 (jumlah ini masih digugat karena diyakini lebih banyak) orang Tionghoa ke tepi Sungai Angke, lalu menyembelihnya. Air sungai menjadi merah, mayat-mayat hasil genosida tersebut konon katanya bisa menjadi jembatan. Dalam bahasa Tionghoa ‘Ang’ berarti merah, dan ‘Ke’ berarti sungai. Begitulah mengapa sungai yang mengalir dari barat Jakarta ke teluk di utara itu disebut Angke. Sumber lain mengatakan, mayat-mayat korban kekejaman Belanda itu dibuang ke sebuah daerah. Saking banyaknya tubuh tak bernyawa itu membentuk gunung hanya dalam waktu sehari. Oleh orang setempat disebut gunung sehari, kemudian diserap hingga kini menjadi Gunung Sahari.

Tersebutlah seorang perempuan keturunan Tionghoa bernama Tan Nio, yang bersembunyi berkat bantuan orang-orang Islam dari Banten, mendirikan sebuah masjid pada tahun 1761. Masjid tersebut selain sebagai tempat ibadah, awalnya menjadi tempat perlindungan etnis Tionghoa yang bersembunyi dari amarah tentara Belanda, kemudian menjadi markas pejuang dalam menyusun strategi melawan Belanda. Kebanyakan pejuang dari Cirebon, dan Banten.

Tidak jauh jarak ruang dan waktu dari peristiwa tersebut, di pesisir Sunda Kelapa, hidup seorang alim bestari penyebar agama Islam bernama Habib Husein al-Aydris. Saat itu, orang yang baru pulang dari Mekah (berhaji) sangat dihormati dan diikuti oleh banyak orang. Belanda tidak menyukai itu, karena orang pribumi dengan potensi seperti itu bisa membahayakan kekuasaan Belanda dengan pemberontakan. Sebagai upaya mengontrol orang yang baru pulang haji, Belanda memberikan gelar “Tuan Haji”, sebagai penanda bahwa orang tersebut dibawah pengawasan Belanda. Beberapa abad kemudian, orang akan banggak jika dipanggil “Pak Haji”.

Habib Husein jelas mendapat perlakuan seperti di atas. Karena ceramah-ceramahnya dianggap mengancam kelanggengan kepentingan Belanda, akhirnya Beliau di penjara. Ketika bebas, Habib Husein mendirikan sebuah masjid. Lalu Beliau wafat di masjid tersebut. Dan lagi-lagi dengan culasnya Belanda melarang jenazah Habib Husein dimakamkan dekat masjid karena dikhawatirkan banyak diziarahi pengikut yang berpotensi memberontak. Jenazah sang habib dibawa ke luar Batavia menggunakan kurung batang. Namun ketika sampai ditempat yang jauh, ketika tubuh tanpa nyawa sang habib akan dikebumikan, jenazah  tersebut raib dari kurung batang (dalam bahasa Betawi tertentu, “jenazah” disebut “batang”).

***

Tibalah masa milenium. Di mana saya hidup di dalamnya. Masjid Angke kini namanya menjadi Masjid Jami Al-Anwar, walau masih lebih terkenal dengan nama Masjid Angke. Panas terik siang itu tidak bisa mengalahkan minat saya atas kisah, sejarah, dan ziarah yang terdapat di masjid tersebut. Jika ditempat lain banyak masjid yang merenovasi, dan memperluas bangunannya, Masjid Angke justru ‘membongkar’ bangunan, pelataran, dan plafon-plafon tambahan. Seorang pria yang merupakan pengurus masjid sekaligus keturunan ke-8 Ny. Tan Nio, menjelaskan bahwa dia ingin menjadikan masjid ini seperti aslinya, waktu pertama kali pembangunannya di abad 18 (1700-an). Jadi, kalau sekarang kita melewati jalan Tubagus Angke yang ramai itu, masjid ini seperti satu-satunya rekam sejarah yang tersisa secara fisik. Autentikasinya sangat valid, atau paling tidak mendekati. Hingga sekarang, belum ditemukan data, dokumen, atau kemungkinan bangunan fisik masjid yang lebih tua dari Masjid Angke ini. Jika begitu, masjid yang letaknya bersebrangan dengan makan keturunan Sultan Hamid sang pendiri Kota Pontianak ini adalah masjid tertua di Jakarta. 
Walaupun pendirinya adalah keturunan Tionghoa, namun arsitektur masjid ini begitu majemuk dan plural. Atapnya berupa punden berundak jelas bergaya Jawa. Ukiran pada pintu-pintunya khas Bali, jeruji-jeruji jendelanya sangat Eropa, dan mimbar tempat imamnya adalah adaptasi dari arab Maroko. Sebuah pesan Bhineka Tunggal Ika jauh sebelum para founding father Indonesia mencetuskan konsep Pancasila. Keren? Bingits! 

 Lalu kita beralih ke Masjid Luar Batang masa kini. Saya familiar dengan wilayah Luar Batang ini ketika gubernur Jakarta di era Pak Basuki Thahjapurnama hendak menertibkan kawasan ini. Saat itu terjadi banyak pertentangan. Ketika saya berkunjung langsung ke sana, saya jadi sedikit mengerti kenapa kawasan ini perlu ditertibkan. Derah masjid ini bisa dibilang terpencil di antara megahnya gedung dan apartemen di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa, yang sewaktu-waktu bisa banjir jika air laut pasang. Yang paling menyedihkan, sih, banyaknya pengemis di sini. Bukannya saya antiorang miskin, tapi siapa yang tega melihat pengemis di tengah terik matahari, terlungkup di aspal, berteriak minta-minta, dengan sebuah ember di depannya?

Secara struktur bangunan, sudah tidak ada yang asli dari Masjid Luar Batang ini. Sejak dibangun oleh Habib Husein, tidak terhitung sudah berapakali masjid ini dipugar. Faktor alam adalah penyebabnya, karena ada di daerah pesisir dan semakin tenggelamnya teluk Jakarta, masjid ini juga ‘memaksa’ lantainya untuk naik. Jadi masjid yang kita lihat sekarang, sesungguhnya sudah terendam satu setengah meter. Ada makam Habib Husein al-Aydris di depan masjid. Banyak peziarah yang memanjatkan doa di hadapan mendiang sang habib. Sayang saya tidak sempat mengambil foto di masjid ini.

Dan untuk asal muasal nama ‘Luar Batang’, sebetulnya ada versi yang lebih bisa diterima semua pihak. Syahdan, dahulu di hilir Ciliwung ada batang dari kayu dan besi yang membatasi sungai dan laut. Jadi apabila ada kapal yang melewati batang tersebut akan dikenakan denda. Nah, wilayah ini ada di luar dari batang tersebut.

Demikian cerita saya tentang masjid bersejarah di Jakarta. Ada beberapa masjid lagi yang memegang peranan penting dalam sejarah Jakarta, bahkan Indonesia. Suatu saat saya harus mengunjunginya, dan menemukan harta karun berupa cerita-cerita dan pesan adiluhung tak terkira.

Terima kasih untuk @wisatasekolah, @jktgoodguide, dan Mas Canda yang sudah mereka-reka ulang kisah dengan sangat baik dan menarik tentang rumah-rumah Tuhan di atas sehingga bisa saya tuliskan kembali di sini. Semoga Tuhan memberkati. Amin. =)
author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.