Halo! Saya Iqbaal Traveler Fakir.Manusia Hanya Berusaha, Rekening Bank Yang Menentukan.

PEMBERITAHUAN: Mohon maaf dengan sedikitnya foto, karena toilet adalah ruang publik yang cukup privat. Jadi saya tidak bisa sembarangan ambil foto, di negara lain pula.

Tidak mudah memang mengurus tata ruang sebuah kota. Harus diperhatikan berbagai aspek mulai dari pembagian wilayah hunian, hingga melengkapi kota itu dengan fasilitas umum bagi warganya. Fasilitas yang tentu saja bukan hanya tersedia, tetapi juga harus layak. 

Pengalaman Menggunakan Toilet Umum di Berbagai Negara
Salah satu fasilitas umum yang vital adalah toilet umum. Saya punya beberapa pengalaman dengan toilet umum ketika traveling ke negara lain. Di Vietnam, saya terpaksa bayar toilet umum dengan mata uang Rupiah karena uang Dong saya tertinggal di mobil, untung yang jaga mau terima.

Di Malaysia saya pernah mandi di toilet bandara, hingga digedor-gedor sama petugas kebersihannya. Di Kamboja, di sebuah rest area bus, toiletnya tidak ada air dan tisunya. Mungkin pengelola toiletnya berpikir cebok bisa pakai aliran udara. Sekalian saja tulis pengumuman, ‘HABIS BUANG AIR HARAP JANGAN LUPA DITIUP HINGGA BERSIH. TERIMA KASIH. –MANAJEMEN’. Memangnya saya Avatar sang pengendali angin?

Dan tiba saatnya saya mengunjungi India. Teman-teman ketika tahu saya akan ke India reaksi mereka sebagian besar kompak, “Ih, India kan bau!”. Saya, sih, tidak terlalu ambil pusing. Toh yang ngomong begitu juga belum pada pernah ke India, hanya berbekal ‘katanya’.

Dan ketika saya mendarat di India opini teman-teman saya tidak salah. Aroma tidak sedap sangat mudah kita hirup di negara yang sensi banget sama Pakistan ini. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah sanitasi yang buruk. Toilet umum di India bisa dikatakan unik-unik. Seperti ini uniknya,

1. TEMBOK BERSEKAT

Waktu eksplor New Delhi, saya jalan kaki dari hostel mau ke Red Fort. Menembus pasar-pasar, dan gang New Delhi. Karena udara dingin, jadi gampang beser. Kabar baiknya toilet umum banyak. Kabar buruknya, toiletnya tidak tertutup. Jadi secara bangunan, yang permanen dari toilet ini hanyalah sebidang tembok yang diberi sekat pemisah tanpa dinding apalagi pintu, dan kran yang, kalau beruntung, airnya keluar. 
Ruwednya New Delhi
Di Pingir Jalan Letaknya persis di pinggir jalan, jadi kita pipis membelakangi jalan. Lalu lintas di Delhi itu bisa bikin tekanan darah seorang paling sabar pun berada pada titik tertingginya. Di sana, kendaraan seperti berlomba-lomba membunyikan klakson tanpa alasan. Macet enggak, lampu merah enggak, lewat terowongan Kasablanka juga enggak, tapi bebunyian klakson sambung menyambung tidak berhenti. Kayaknya bikin SIM di India parameter kelulusannya dinilai dari sejago apa seseorang merangkai nada pakai klakson kendaraannya. 
Bangunan yang ada gentengnya itu adalah toilet

Awas Kaget!
Nah, terbayangkah lagi nikmat-nikmatnya pipis lalu ada motor atau mobil lewat sambil membunyikan klakson lalu kita kaget dan si titit sawan lalu pipis jadi acak-acakan? Jadi alasan kenapa ada anggapan India itu bau sedikit terjawab, toilet umum buat pipisnya terbuka begitu.

Toilet di Jaipur 
Di Jaipur berbeda lagi. Suatu pagi di hari terakhir saya di India, saya jalan kaki mau ke Ajmere Gate buat cari bus menuju Amber Fort. Di kejauhan saya melihat orang berjejer ngobrol, di depan mereka ada puing tembok setinggi dada. Ketika semakin dekat dan sudut pandang saya ada di samping mereka baru saya tahu mereka lagi pada pipis masal. Kesel lihat pengendara motor ngobrol di jalan raya di Indonesia? Yuk ke Jaipur, lihat orang kencing sambil kongkow. Air pipisnya sampai menganak sungai dan mengalir ke jalan raya. Hmmm…pagi-pagi lihat pemandangan demikian, saat yang tepat buat sarapan bubur!

2. TOILET JONGKOK Ini bukan toilet jongkok bermerek TOTO atau INA seperti yang engkau pikirkan wahai para pembaca. Ketika di Jama Masjid, saya kebelet buang air kecil. Saya pun mencari toilet. Ada satu bangunan toilet umum. Aha, kali ini toiletnya ada bangunannya! Tidak khawatir kesamber bajaj, deh. Begitu pikir saya. Saya ikut mengantri dengan beberapa jama’ah masjid yang sebagian besar pakai gamis.

Bayar Dulu Baru Pakai 
Oh iya, toilet umum berbayar di India itu bayar dulu baru pakai. Jadi setelah bayar saya buru-buru masuk. Sampai di dalam saya bingung karena tidak ada bilik WC-nya. Suasana ruangannya gelap dengan penerangan bohlam seadanya. Saya masuk lebih dalam lagi, dan mendapati sekat-sekat kayu yang menempel di dinding. 

APAAN, TUH???
Ketika mata saya terbiasa dengan cahaya minim, saya melihat pemandangan yang, saya tidak percaya akan mengatakan ini, tapi pemandangan itu memang akan sulit dilupakan. Jadi saya melihat orang-orang pipis menghadap tembok, tapi mereka jongkok dengan menyingkap baju gamisnya hingga pinggang. Saya menjerit dalam hati, “LAH INI NGAPA PANTAT SEMUA, ANJIR???”

Pipis Jongkok Itu Repot Saya baru sadar mungkin ini cara pipis di sini. Memang bagus sih secara syariat, lebih aman dari najis. Tapi, tapi, tapi buat saya yang tidak biasa ya repot juga. Saya pakai celana dobel-dobel karena dingin, sudah begitu pakai sepatu pula. Effortnya terlalu besar untuk bisa pipis jongkok. Di tambah harus membiarkan pantat bebas di ruang publik? NO THANKS!

Everlasting Memories
Tidak semua jalan-jalan akan menghasilkan kenangan indah. Pemandangan berbagai bentuk belahan pantat, yang berlesung, yang belahannya kurang presisi, yang bentuk garisnya kayak lambang The Flash, yang berbentuk love terbalik, semuanya akan terus terekam dalam memori otak saya. Saya tidak pernah melihat pantat terbuka sebanyak dengan formasi serapih itu.

3. TOILET BANDARA Bandara Internasional Indira Gandhi adalah salah satu bandara tersibuk di dunia. Kabarnya bisa sampai 4 juta manusia keluar masuk bandara ini setiap harinya. Ketika saya ke bandara ini untuk me-reschedule tiket yang di-cancel, saya berkesempatan menjajal toiletnya.

Foto di Toilet 
Toilet umum di bandara ini tidak seperti toilet umum di bandara lain. Di tempat lain untuk membedakan toilet pria dan wanita dipasang tanda atau simbol berbentuk siluet bidang yang melambangkan pria dan wanita. Atau jelas ditulis ‘Men’ dan ‘Women’. Namun, toilet di Bandara Indira Gandhi ini berbeda cara membedakannya. Di dinding ujung lorong pintu masuk masing-masing toilet di pasang foto (IYA FOTO!) ukuran superbesar. Toilet cowok pakai foto model cowok, dan yang cewek model cewek. Entah artis Bollywood mana itu yang dijadikan model.

Toilet Atau Baliho?
Masalahnya untuk yang tidak terbiasa dengan konsep pembedaan seperti itu pasti membingungkan. Tulisan ‘Toilet’ nya pun kecil. Jadi kalau kita hanya sekadar lewat bakalan tidak sadar itu adalah toilet, mungkin hanya menyangka seperti space untuk iklan. Kalaupun tahu itu toilet, bakalan bingung mana yang buat perempuan mana yang buat pria. Karena ya itu tadi, butuh waktu untuk yang tidak biasa menyadari bahwa untuk membedakan toilet pria-wanita adalah dengan cara melihat fotonya. Ampun, dah! Siapa juga gitu yang kepikiran buat pasang foto model cantik dan ganteng segede bajaj gitu buat penanda toilet.

HATI-HATI DENGAN TOILET UMUM BERBAYAR Selain bau, yang mengkhawatirkan dari India adalah tingkat scaming yang katanya tinggi. Ini saya kena, nih, di toilet umum di Jaipur ketika mengunjungi Amber Fort. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa toilet umum berbayar di India itu bayar dulu baru pakai. Nah waktu itu saya tidak ada uang kecil, jadi saya bayar pakai uang 200 rupee. Oh iya, harga toilet umum sekali pakai umumnya 10 rupee saja. Saya disuruh masuk dulu, kembaliannya nanti pas sudah selesai.

Rugi Setelah Pipis 
Setelah selesai pipis, saya minta kembaliannya. Tetapi si penjaga hanya memberi 100rupee. Dia bersikukuh tidak ada uang kecil, lalu bilang mau pergi sebentar untuk cari uang kembalian. Dan…ya, dia tidak pernah kembali lagi, atau mungkin nukerin uangnya di Alfamart stasiun Gambir. Tekor 90 rupee, dah! Jadi saran saya, kalau mau pakai toilet umum berbayar di India, pakailah uang pas 10rupee atau pecahan uang yang tidak terlalu besar biar kalaupun kena scam tidak gondok-gondok amat =(






Disclaimer, harap dibaca biar tidak kecewa: Postingan ini akan banyak menyebut beberapa merek atau brand yang tidak membayar saya, karenanya namanya saya plesetkan, dikira-kira aja lah ya pasti paham.

Tokoh yang terlibat: Saya, temen saya (Centong), beberapa figuran petugas imigrasi India, beberapa traveler lain, dan seorang selebgram.

Tepat sebelum postingan ini, saya menulis tentang drama sebelum saya traveling ke India. Gimana seru, nggak? Biasa aja pasti. Oke. Nah, saya kira drama itu cukup berhenti di Indonesia dan saya bisa menikmati liburan ke India dengan tenang. Namun, apa yang terjadi saudara-saudara sebangsa dan setanah wakaf? Tragedi demi tragedi mengikuti perjalanan saya dan kawan hingga ke tanah Hindustan di sana. Saya mengira plot dramatis India itu hanya ada di film, ternyata ketika traveling ke sana pun kisah berliku itu eksis. Baik, mari saya ceritakan satu per satu.

1. Visa Visa Ulala  
Huru-hara dimulai dari membuat visa India. Sedikit ada angin segar ketika pertengahan tahun 2018 terjadi kesepakatan Indonesia-India yang membebaskan biaya bagi pengajuan e-visa India. Bagaimana cara mengurusnya akan saya tuliskan di lain postingan. Karena ini e-visa dan gratis, jadi saya dan kelima teman yang lain sepakat untuk mengurus visa terpusat di satu orang. Entah apes atau untung, saya yang kebagian submit visa-visa kami. At the end, visa kami semua diapprove, cihuy lah! Berangkat lah kami ke India setelah transit 12 jam di KL. Sampai imigrasi Bandara Jaipur kami semua menyiapkan dokumen yan diperlukan untuk diperiksa.

Jadi sebelum sampai meja imigrasi, ada petugas yang mengecek manual bagi mereka yang menggunakan e-visa. Saya berada tepat di belakang si Centong teman saya. Giliran Centong diperiksa dokumennya oleh petugas imigrasi.

“Sorry, sir, why number passport in your e-visa and your passport didn’t match?”

Saya dan Centong terdiam dengan air muka perlahan berubah pias. Setelah kami cek, memang benar beda. Jadi nomor passport yang digit akhirnya 229 malah tertulis 299.

Saya ingat betul Centong menatap saya dengan tatapan singa belum makan selama empat purnama.

“Elu ngisinya gimana waktu itu? Gue kagak cek juga, sih. Duh!”

“Iya, sori. Typo gue kayaknya.”

Centong diinterogasi karena ketidakcocokan data. Diminta menunjukkan copy paspor, tiket pulang, dan tanda lahir di pantat kanan atas. Semua diserahkan. Saya yang dokumennya tidak ada masalah tetap menemani Centong di ruang imigrasi. Kami diam. Petugas imigrasi balik lagi, kami menghampirinya kayak keluarga pasien nyamperin dokter yang abis keluar dari ruang operasi.

“Sorry, Sir. Kami harus menghubungi beberapa pihak dulu, nanti akan diputuskan apakah anda boleh masuk, atau harus pulang ke negara anda.”

Kami berdua lemas. Centong lemas karena liburannya ke India terancam gagal, saya lemas karena terancam miskin harus tanggung jawab membelikan Centong tiket pulang.

Seorang bapak dengan setelan jas keluar. Kayaknya kepala imigrasinya. Centong dipanggil. Centong lega setelah si bapak bilang,

“Kamu kalau mau masuk negara orang harus teliti! Ini yang pertama saya maklumi, yang kedua dan ketiga nanti tidak akan! Sudah ambil sepedanya sana, eh, masuk sana!”

Hamdalah! Lutut saya kembali kuat dan nafas lega mampu lagi saya hembuskan. Kesalahan typo saya hampir membuat seorang WNI dideportasi. Sebetulnya bisa saja, sih, protes kenapa kalau datanya tidak sesuai visa Centong bisa diapprove. Tapi yah, namanya juga mau bertamu ke negara orang, kita harus sopan karena bisa jadi kalau kita ngotot malah tidak boleh masuk.

“Cen, kalo tadi akhirnya lu disuruh pulang, masih mau temenan ama gue nggak?”

“GAK!!!”

Nah pas mau pulang keluar India, petugas imigrasinya mempermasalahkan lagi.

“Ini visa kamu statusnya rejected, kok bisa masuk?”

“Loh kan udah diapprove sama bapak yang waktu itu bertugas.”

Tidak mau memperpanjang masalah, paspor Centong pun dapat cap keluar. Jadi selama di India kawan saya itu berkeliaran dengan status visa yang ditolak! Kalau belum ada tulisan atau cerita serupa, hingga tulisan ini diturunkan, maka Centong adalah orang pertama yang bisa masuk India dengan status visa ditolak! Living legend traveler! Salim lo pada kalo ketemu!
Tuan Takur aja kalo ketemu beliau nyetor beras pasti
2. Pesawat Cancel  
Selain Golden Triangle (Jaipur, Agra, New Delhi), tujuan wisata kami adalah Kashmir. Sebuah kota di utara India yang sedang bersalju. Untuk ke sana, kami harus mengambil penerbangan lokal yang hanya ada dari New Delhi. Saya dan Centong mengambil maskapai berbeda dari empat teman yang lain. Yaitu maskapai Aer AihSiah. Baru sampai hotel di Jaipur, rebahan dikit, saya menerima email bahwa penerbangan kami ke Srinagar, Kashmir, pada tanggal yang telah ditentukan dicancel karena adanya pertunjukan udara militer India untuk menyambut hari kemerdekaan.

COBAAN APALAGI INI YA TUHAN??? AMPUNI HAMBA JIKA TERLALU BANYAK NONTON SINETRON AZAB DAN KESERINGAN NGECENGIN FANS ARSENAL.

Kami disuruh hubungi call center, tapi kami tidak tahu call center Air Asia India. Jadi pas hari H keberangkatan kami langsung mnggerebek loket Aer AihSiah minta diterbangin, atau ganti dengan maskapai lain. Tetapi kami hanya dikasih opsi reschedule atau full refund. Akhirnya kami damai dengan memilih opsi reschedule. Mau tidak mau, walaupun harus kehilangan satu hari di Kashmir nanti. Boleh ngomong bangsat, nggak? 
Yang nyebelin dari bandara di India security checknya banyak banget. Sebanyak apa? Tuh itung aja cap stempelnya
3. Kehabisan Uang Hingga Bayar Main Ski Pakai Ringgit Malaysia Pesawat cancel menimbulkan efek domino yang cukup serius bagi perjalanan saya dan Centong. Karena penerbangan kami diundur tiga hari kemudian, kami harus stay lebih lama di Delhi. Banyak keluar uang lagi untuk hotel dan makan. Centong akhirnya memutuskan untuk tarik tunai di ATM mengingat stok Rupee sudah menipis. Dia menggunakan ATM Bank Gamanja. Kenapa namanya Gamanja? Karena bank itu mandiri. Ternyata ATM Bank Gamanja ini tidak berfungsi di India padahal ada logo BISA dan MASTER LIMBAD nya. ATM saya yang Bank ABC dengan chip juga ditolak. Ada sih ATM Bank Megi, tapi kita mikirnya bank gede macam Gamanja dan ABC aja tidak bisa, apalagi Bank Megi coba.

Akibatnya sampai Kashmir duit kami benar-benar nyaris habis, itu pun harus kami keluarkan untuk sewa mobil ke Gulmarg, juga sewa sepatu dan jaket untuk penangkal dinginnya salju. Di Gulmarg, wahana utamanya adalah naik cable car sampai atas bukit. Beruntung tiketnya bisa dibeli dengan kartu kreditnya Centong. Jadi kami tetap bisa main salju di atas. Setelah itu kami diarahkan untuk main ski. Kami menolak sebetulnya, karena sudah capek. Capek fisik, capek dompet. Kami ingat masih punya Ringgit karena kami sempat transit lumayan lama di KL.

“Is it real Malaysian money?” Tanya yang nyewain alat-alat ski.

“Of course!” Yakali kita berani mengedarkan uang palsu, uang negara tetangga pula.

“But you are Indonesian!”

Duh, bagaimana ini menjelaskannya.

“We was transit on Kuala Lumpur, so we had it.”

“Hmmm…so, you are live in Malaysia?”

“BODO AMAT! NGGAK GITU, MAT SANI!”

Setelah dijelaskan panjang lebar, akhirnya kami merelakan 72RM untuk berdua main ski. Rugi apa untung, tuh? Itung sendiri deh. MALES MIKIR!

Untungnya tiket cable car kami diganti sama operator tur, karena ternyata harga yang kami bayar sudah termasuk tiket tersebut. Kami jadi punya cash lagi. Jama’ahhhh…woi jama’aaahhhh. Alhamdu….lillah…. 
Gaya aja dulu, miskin mah pikirin belakangan
4. Bertemu Traveler Lain dan Seorang Selebgram Di antara tragedi yang terjadi, ini yang paling mendingan sih. Jadi ketika saya dan Centong urus jadwal reschedule di konter Aer AihSiah, kami bertemu dua kakak-beradik. Mereka lebih parah, baru saja mendarat di Indira Gandhi International Airport, lansung diberi tahu kalau penerbangan ke Kashmir Cancel. Itinenary mereka jadi lebih kacau dari kami, karena harus menempatkan Kashmir di akhir perjalanan. Nama mereka Mbak Nuna dan Mbak Sofie.

Lalu yang kedua, ketika kami akan mengakhiri perjalan di Kashmir, menuju bandara kami semobil dengan Mbak Eta. Ngobrol panjang lebar, ternyata doi ini selebgram, followersnya tumpah-tumpah. Coba cek akun @btarimaskha. Dia senasib nih sama kami, kehabisan uang karena tidak menyangka Bank Gamanja tidak berfungsi di India. 
Mbak Nuna, Mbak Sofie, Dipsy, dan Lala
Mbak Eta, Badut Oppo, dan Badut Vivo

5. Pesan Tiket Kereta Pakai Bahasa Planet SX678K07 Yang Berjarak 150 Juta Tahun Cahaya Sabuk Kuiper Efek domino lain akibat pesawat reschedule, kami kehilangan jemputan yang mestinya menjemput kami dari New Delhi menuju Jaipur. Jadi saya dan Centong memutuskan untuk naik kereta (Damn, duit lagi!). Kami nekat datang ke Stasiun Old Delhi untuk beli tiket on the spot. Ternyata bisa. Proses simpelnya, kita harus mengisi form dengan data-data tujuan, nama kereta, jadwal yang diinginkan, hingga data pribadi.

Tapi aktualnya tidak sesimpel itu Mulyono! Meminta formnya saja susah, karena petugas di loket tidak mengerti Bahasa Inggris.

“Where can we get that form?” Saya menunjuk seorang calon penumpang yang sedang mengisi form.

Si petugas menatap bingung, godek-godek, dan menunjuk loket sebelah. Oh mungkin saya salah loket. Beralih ke loket sebelah saya mengulangi pertanyaan yang sama dan dijawab,

“!@##*$&$(R%()*#&@&#(#)))&&^$$^”

AU AMAT!

Jam 9 kami memesan tiket, jam satu siang kami baru selesai karena keterbatasan bahasa. Entah bahasa apa yang kami pakai sehingga akhirnya ada titik temu. Saya tidak mengerti mengapa petugas KAI India ini tidak pede menghadapi orang asing. Mereka selalu melempar ke rekan yang lain begitu tahu lawan bicara adalah orang asing. 
Di tapsiun
6. Ke Bandara Jalan Kaki Ini cerita masygul terakhir, nih. Menjelang akhir perjalanan kami di India, saya dan Centong bersiap menuju Bandara Internasional Jaipur. Kami menunggu bus nomor 6A di Ajmeer Gate yang menuju bandara. Setengah jam menunggu akhirnya datang juga itu bus.

Tapi ternyata kami diturunkan tidak tepat di bandara, melainkan di sebuah taman dengan gerbang selamat datang di Rajashtan. Kalau lagi musim panas, bunga-bunga bermekaran di sini.

Dari taman tersebut kami jalan kaki menuju bandara yang ternyata cukup jauh. Untuk pertamakalinya dalam sejarah hidup kami ke bandara tidak didrop oleh kendaraan. Kami sempat ditegur polisi yang jaga, kok ke bandara jalan kaki. 
The Guardian. Welcome to Rajashtan
Malam itu saya dan Centong meninggalkan India. Ada perasaan lega. Karena setidaknya kami lepas dari segala drama Bollywood ini. Ada sedih, lucu, tragis, dan yang jelas, meaningful. Centong enak melewati itu semua dengan setiap pagi video call sama pacarnya. Lah saya? Streamingan FTV tanah air yang ceritanya cuma saling melotot lalu bisa jadian. Ya Allah…
Wah enggak terasa sudah Januari 2019, kayaknya baru sebulan lalu masih 2018. Banyak jalan-jalan dan beberapa trip yang belum saya tuliskan di blog ini, padahal sibuk enggak, pacaran enggak, jadi juru kampanye juga enggak. Intinya mah hidup selow, tapi males!

Tetapi rasanya pengalaman berikut seru juga untuk saya ceritakan di sini. Sekitar awal bulan Desember 2018, saya ikut tur Jakarta Goodguide rute Kuningan. Dalam tur tersebut ada seseorang yang menarik perhatian peserta tur lain. Sosoknya begitu eye catching dengan bentuk muka khas Hindustan berhidung mancung, warna mata kecoklatan dibalik bingkai kacamata, dan rambut pendek tak sampai leher. Untuk ukuran wanita, badannya cukup lurus dan simpel nyaris tanpa lekukan-lekukan. Kulit Asia Selatannya yang coklat bersih berkilau alami.

Kami mengenalnya dengan nama Trupti. Seorang kelahiran India namun berkebangsaan Inggris seperti suaminya. Dia bekerja di salah satu NGO yang sedang ada proyek di Indonesia, untuk mengisi waktu dia mengukuti tur atas saran dari Trip Advisor.

Setelah mengikuti rangkaian tur yang berakhir di Pemakaman Belanda, Menteng Pulo, Trupti mengatakan bahwa dia ingin menjelajahi Kota Tua tapi tidak punya teman. Saya yang beberapa hari dari sekarang mau ke India menawarkan diri untuk menemani, sekalian mau tanya-tanya soal India. Kami berangkat dengan satu lagi teman saya yang ikut, Ocha.

Dari obrolan kami di Commuter Line, Trupti bercerita bahwa India itu luas sekali.

“Kamu tahu, saya sampai sekarang belum pernah ke Taj Mahal. Selain karena saya lebih banyak di Ingris, Ya karena India itu luas banget. Dari Mumbai ke Agra jauh. Jadi ketika ke India saya tidak pernah sempat.”

Dan masih banyak lagi tempat-tempat di India yang belum dikunjungi Trupti. Eh, tapi dia pernah ke Kashmir, salah satu tempat yang nantinya saya kunjungi.

“Ya, saya pernah ke Kashmir, waktu itu bulan madu sama suami saya. Kamu serius Januari mau ke sana? Dingin banget pasti, it must be on peak winter! Tapi pemandangannya juga pasti indah banget, dan kamu mesti coba teh Kashmir. Terbaik di India!”

Sampai di Stasiun Kota Tua tengah hari, waktunya makan siang. Nah ini agak ribet, karena Trupti walau tinggal di salah satu kota besar Eropa, tapi tidak melepaskan budaya dan ajaran agamanya. Dia vegan. Bukan sekadar vegetarian. Mungkin ada yang belum tahu bedanya vegetarian dengan vegan, vegetarian hanya tidak makan daging tok tetapi masih makan daily produk lain yang berasal dari hewan semisal susu, keju, dan telur. Tapi kalau vegan tidak ada toleransi sama sekali, makanan apa pun yang berasal dari makhluk hidup selain tumbuhan mereka pantang.

Nah kan susah cari makanan yang enggak ada unsur hewaninya di Jakarta. Tawarin janur kuning diurap aja apa, nih?

“Gado-gado mau?” Tawar Ocha. 

“No. Saya makan itu terus di hotel.”

Akhirnya kami masuk ke Bakmi GM dengan pertimbangan si Trupti kita pesenin mie jamur. Eh ternyata mie jamurnya enggak bisa dipisah sama ayamnya. Gimana sih, masa misahin jamur ama ayam aja enggak bisa? Gimana mau misahin tawuran anak STM.

“Iya, Mas soalnya jamur sama ayamnya itu sudah diolah dan dicampur.”

Masalahnya Trupti ogah kalau cuma makan mie polos.

“Nasi goreng mau? Makanan kesukaan Obama.”

“No egg?”

Akhirnya setelah ngebujuk dan negosiasi alot sama pramusaji, bisa juga pesan nasi goreng polos tanpa ayam, dan telur. Kami baru saja menurunkan kualitas makanan kesukaan Obama.

Makan selesai. Kami ke museum wayang. Saya senang karena Trupti begitu antusias melihat tokoh-tokoh wayang yang tidak jauh berbeda dengan mitologi kepercayaannya. Tentang Pandawa, Kurawa, Barathayudha, dan perbedaan Mahabharatha versi India dan Jawa.

“Kasihan Dewi Drupadi di Jawa, suaminya cuma satu. Di India dia punya lima, hahahaha!”

Lah? Ngapa ini dia?

Oke, dari Kota Tua kami lanjut ke kawasan silang Monas. Trupti dengan peta di tangannya bersikeras bahwa kita mesti mengunjungi Monas. Okelah kita antar. Di Monas baru sebentar kami berjalan, Trupti yang saat itu berjalan di belakang saya dan Ocha berteriak,

“Guys, HELP!”

Saya dan Ocha menengo ke belakang, terlihat Trupti sudah duduk di tanah dengan isi tas berhamburan. Khawatir itu orang kesurupan setan keder, kami langsung berlari menghampiri. Air mukanya panik.

“My wallet is lost!”

Trupti mengaduk-aduk isi tas. Saya meyakinkan lagi supaya dia memeriksa semua kantong bajunya. Hasilnya dompet merah itu tetap tidak ditemukan. Suasana berubah manjadi tidak enak seketika. Begitu banyak cerita tentang scaming ketika sedang berada di negara lain, dan saya khawatir Trupti berpikiran bahwa dia korban scam. Dan takutnya, dia mencurigai saya dan Ocha.

Untungnya Trupti cukup berpeikir jernih dan tidak mencurigai kami. Karena posisi tasnya tertutup, jadi mana mungkin ada orang yang nyopet, kecuali itu orang punya kemampuan sulap kayak Jesse Eisenberg di film Now You See Me. Jadi kemungkinannya dompetnya jatuh waktu dia ambil uang untuk bayar tiket Transjakarta.

Kami pun membuat laporan kehilangan ke Transjakarta, dan petugasnya berjanji akan mengabari jika ada laporan penemuan sebuah dompet berisi kartu kredit, citizenships ID, beberapa kartu nama, uang 800.000 IDR, dan 21 USD.

“Saya telepon hotel saya, dan suami saya dulu untuk mengabarkan ini.”

Semenit.

Dua menit.

“Ya, ampuunnnn…”

Trupti menunjukkan layar ponselnya. Kelap-kelip dan tidak merespon tiap sentuhan di layarnya. Rusak. Yelah, belum dirukiyah kayaknya nih, apes bener Neng.

“Shit, stupid, fuck!” Makinya. Ternyata orang rendah kolesterol kalo lagi emosi mah sama aja ama yang darah tinggi.

Kami menawarkan untuk mengantarnya ke hotel dengan naik taksi online. Trupti setuju. Sepanjang perjalanan dia nangis, dan kami menghiburnya.

“Masih untung kan di situ nggak ada paspor kamu.”

“Iya, masih untung kamu pergi ngga sendirian.” Begitulah penghiburan khas orang Indonesia, “masih untung”.

Kami tiba di hotel tempat Trupti menginap di bilangan Kuningan. Gile, hotel bintang lima yang isinya kebanyakan ekspat, OB sama cleaning service-nya aja Bahasa Inggrisnya jauh lebih jago dari saya. Trupti memaksa kami untuk mampir dan ngopi di restoran hotel.

Entah rejeki atau bukan, di penghujung hari itu saya bisa menikmati coffee pack termahal. Pisang goreng seharga tujuh puluh ribu rupiah, dan secangkir cappuccino. Sebelum pulang, saya berjanji ke Trupti akan mengirimkannya foto-foto India, kampung halamannya yang sejati.

Namaste! 



 Pantai. Laut. Ombak. Aroma asin. Terumbu karang. Ikan multiwarna. Matahari terbit, dan tenggelam. Siapa tidak sayang dan rindu perpaduan alam sebegitu membuainya?

Namun dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh beberapa waktu lalu, setidaknya ada dua peristiwa viral di jejaring sosial media yang membuat siapa pun pecinta suasana laut dan seisinya akan bersedih. Yang pertama ketika Menteri Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia, Ibu Susi Pudjiastuti, dalam akun Twitternya mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik karena bisa termakan oleh penyu. Lalu yang kedua, adalah berita kematian seekor paus sperma dan ditemukan berkilo-kilo sampah di perutnya. 



Sedih dan pedih tentu saja. Semoga tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan ke laut. Indonesia memiliki aris pantai amat panjang dan terlalu indah untuk dirusak oleh sampah. Kita masyarakat Indonesia telah ditakdirkan untuk menjadikan laut sebagai salah satu penopang utama kehidupan. Untuk perekonomian bagi para nelayan, jalur pendistribusian logistik, memproduksi garam, dan sebagai penyimpan minyak bumi terbesar.

Baiklah, jika memang contoh di atas terlalu makro, mari diperkecil skalanya. Bagi diri saya sendiri. Bagi saya pantai dan laut sangat vital fungsinya bagi pariwisata. Pantai adalah tempat paling general yang dipilih orang untuk tempat berlibur. Setiap akhir pekan tiba, ada saja status sosial media teman-teman yang bilang kangen pantai, atau kebelet snorkeling. Yang anak indie akan bergumam rindu secangkir kopi sambil merelakan mentari terbenam. Lalu anak milenial gaul akan bertutur need a vitamin sea!
Sebegitu pentingnya pantai bagi saya dan teman-teman saya sebagai tempat melepas penat. Semoga saja isu sampah ini tidak meluas ke wilayah Indonesia lainnya. Karena saya sudah berencana untuk berlibur ke Karimunjawa. Akhir tahun ini ada libur Natal, dan sisa cuti saya beberapa hari yang saya sungguh merasa berdosa jika tidak menggunakannya. Walaupun banyak libur, saya mau waktu saya di Karimunjawa lebih lama dan efektif. Supaya lebih puas menginap di homestay terapungnya, dan punya banyak waktu untuk melihat penangkaran hiu

Jadi saya merancang perjalanan saya tidak dengan lewat darat dengan kereta atau bus jurusan Semarang atau Jepara. Namun, melaui udara dengan pesawat. Jadilah saya berburu tiket pesawat. Perjalanan dengan pesawat ke Karimunjawa tidak bisa langsung ternyata, hanya pesawat perintis yang bisa mengudara dari, dan ke Bandara Dewadaru. Jadi harus transit dulu di Semarang. Jadi sibuk buka-tutup beberapa laman web dan aplikasi di smartphone saya.

Sedang asyik-asyiknya hunting tiket, saya terdistrak oleh tempat menginap di Karimunjawa. Akhir tahun adalah peak season, jadi kemungkinan akan full booked. Haduh, pekerjaan hunting-hunting akomodasi ini cukup pelik ternyata. Ya sudah, daripada saya buka satu persatu web untuk perbandingan, saya buka aplikasi Traveloka saja. Dan beruntungnya saya karena di aplikasi ini ada fitur yang mengakomodir saya untuk pesan tiket pesawat plus hotel/penginapan sekaligus.

Begitu masuk aplikasi, ada beberapa konsol digital yang cukup user friendly. Pilih tombol bergambar pesawat+bangunan bertingkat, maka saya tinggal memilih kapan waktu berangkat, waktu pulang, tanggal check in, serta tanggal check out. Itu semua bisa dilakukan dalam satu layar dan klik kurang dari lima kali. Sungguh penghematan waktu yang cukup signifikan. Sangat membantu sekali layanan booking tiket dan hotel dalam satu paket ini. Nanti setelah itu akan ditampilkan sejumlah pilihan maskapai, dan hotel sesuai kebutuhan dan budget.
Tuh, langsung ada pilihan detail inap untuk pesan hotel
Tinggal pilih sesuai kebutuhan, deh

Dan yang namanya satu paket, harganya juga tentu lebih murah daripada kalau beli satu-satu secara ‘ketengan’. Jika dihitung secara detail, kalau pesan paket pesawat + hotel ini bisa hemat hingga 20% tanpa kode promo apa pun. Pengehematan sangat lumayan, bisa ditabung untuk jajan ikan bakar di pinggir pantai nanti. Saya pernah menulis beberapa tips hemat untuk traveling, dan paket tiket pesawat+hotel ini layak masuk dalam list tips tersebut. Metode pembayarannya pun beragam. Debet rekening? Bisa. Kartu kredit? Selama limitnya masih ada, moggo! Pakai cash lalu bayar ke minimarket? Siapa takut! Pakai duit temen dulu nanti diganti? Wah, ini twit saya yang viral tempo hari, di retweet oleh 26.700an netizen (coba follow @kening_lebar). Oke, yang terakhir tidak penting. Dengan layanan beserta benefitnya tersebut, saya bisa bikin paket tour Karimunjawa sendiri tanpa travel agent. Sok atuh dicoba!

Pantai memang selalu memanggil siapa saja yang pernah mengunjunginya untuk kembali. Tak peduli siapa pun, dan di belahan dunia mana pun. Keanekaragaman hayatinya yang hanya bisa disaingi oleh hutan tropis terlalu berharga untuk dirusak oleh sampah dan polutan lainnya. Semoga tidak ada lagi makhluk laut yang hidupnya berakhir dengan lambung penuh plastik. Mari membuang sampah pada tempatnya, supaya liburan ke pantainya makin asyik! Selamat berlibur, dari saya si pecinta penyu, penyanyang paus, penyuka lumba-lumba, pengagum hiu, dan pendamping Mikha Tambayong! =)

Tahun 2012

Cuaca sudah mendung ketika saya sampai di pasar Cisurupan, Garut, gerbang masuk ke kawasan pendakian Gunung Papandayan. Saya dan ketiga teman sependakian bergegas cari mobil untuk naik ke basecamp untuk mulai mendaki Gunung Papandayan. Tidak banyak pilihan transport untuk naik ke basecamp. Ikut mobil sayur dengan biaya Rp. 20.000 per orang, atau naik ojek dengan harga yang sama. Demi kenyamanan, kami memutuskan untuk naik mobil pengangkut sayur berbentuk kendaraan bak terbuka. Ternyata tidak senyaman perkiraan, sih. jalan yang berliku dan rusak membuat kami jadi waspada mencari pegangan sambil menahan tas keril supaya tidak jatuh. Niat untuk bersantai di bak mobil setelah perjalanan dari tengah malam hingga pagi Jakarta-Garut, musnah sudah. Ketimbang santai-santai, kami lebih memilih menjaga supaya tas tidak jatuh atau badan yang terlempar dari mobil.

Sampai di basecamp, yang belakangan saya ketahui bernama Camp David, kami disambut sebuah gapura tanpa plang tulisan apa-apa, kayu-kayu atapnya terlihat rapuh dan mengesankan bisa roboh sewaktu-waktu. Setelah itu ada tempat parkir sangat luas dengan deretan warung-warung berbentuk gubuk yang berdiri seadanya. Pelataran luas itu pun nasibnya tidak jauh berbeda dari jalan yang kami lalui tadi, rusak dan berbatu.

Gerimis turun ketika kami membayar biaya pendakian yang dipatok seikhlasnya. Selama pendakian hujan deras menyejukkan perjalanan. Butuh waktu tiga jam bagi saya untuk sampai di Pondok Salada, campsite tujuan. Sebuah padang edelweiss luas dan hutan-hutan kecil pohon daun pucuk merah. Terhitung hanya ada dua tenda yang berkemah hari itu.

Di tahun yang sama pula, saya mendaki Gunung Papandayan untuk kedua kalinya. Suasananya masih sama. Hanya saja kali itu saya diberi cuaca cerah dan berkesempatan hiking lebih jauh lagi ke sebuah tempat bernama Tegal Alun. Padang edelweiss di sini beberapa kali lebih luas dari Pondok Salada dan mengingatkan saya akan lembah Surya Kencana di Gunung Gede. Untuk mencapainya, kita harus menaiki medan berbatu yang curam dan licin. Lalu setelah itu masuk hutan yang menyerupai labirin, kabarnya banyak yang tersesat di sini.

Papandayan adalah gunung pertama yang saya daki. Dan walaupun yang pertama itu disambut hujan deras dan badai pada malam harinya, ternyata itu membuat kesan tersendiri bagi saya sehingga saya patut berterima kasih kepada Papandayan. Tanpa pendakian itu, mungkin saya tidak pernah tertarik naik gunung. Catatan-catatan pendakian saya pun di mulai. Untuk beberapa tahun saya tidak berjumpa dengan Papandayan.

Dan…selalu ada kesempatan untuk kembali.

2018 Tahun ini saya masih saja ganteng. Oke, nggak penting. Saya kembali ke Gunung Papandayan bersama teman-teman kantor. Mendaki Papandayan kali ini sedikit lebih ringan karena saya dapat fasilitas pinjam mobil kantor hingga ke Camp David. Dan saya cukup terkejut dengan kemajuan pembangunan di sekitar daerah wisata Pendakian Gunung Papandayan tersebut dibanding enam tahun yang lalu. Lupakan soal jalan jelek dan berbatu, jalan dari Pasar Cisurupan itu kini mulus berlapis aspal. Pemandangannya pun tidak melulu perkebunan dan hutan rimba, di kanan kiri bisa kita jumpai tempat-tempat wisata atau restoran dengan konsep yang menuruti ego milenial, yakni instagramable.

Sebelum sampai Camp David, ada loket pembelian tiket. Biaya untuk pengunjung yang akan berkemah dikenakan sebesar Rp. 65.000. Saya awalnya berpikir, “Wah mahal ya, sama kayak jatah paket internet sebulan.”. Lalu lupakan gapura bobrok nyaris roboh enam tahun yang lalu, berganti sebuah gerbang gagah solid selayaknya pintu masuk tempat wisata yang memang seharusnya dibuat semenarik mungkin. 


Lahan parkiran luas yang dulu bak kota mati berkabut sekarang begitu hidup dengan berbagai warung, penjual makanan, tempat penyewaan alat-alat mendaki gunung, toilet umum yang banyak dan lebih layak, musholla, hingga tempat pemandian air panas. Fafvorit saya, sih, wahana baru berupa menara pandang setinggi tiga lantai. Dari situ bisa melihat pemandangan Kota Garut dan siluet Perbukitan Gunung Papandayan, kalau cuaca cerah, bentuk kerucut Gunung Cikuray juga bisa terlihat.

Jalur pendakian Gunung Papandayan kini pun dipoles sana-sini demi kemudahan pendaki. Beberapa jalur berbatu di kawasan kawah dibuat tangga berlapis semen. Shelter-shelter permanen untuk beristirahat juga banyak dibangun. Ditambah hiasan dengan papan bertuliskan quote-quote penyemangat penuh petualangan. Tanda penunjuk arah pun sangat jelas, sehingga pendaki di Gunung Papandayan bebas memilih rute mana untuk sampai Pondok Salada.

Lalu, bagaimana dengan Pondok Salada? Enam tahun yang lalu, ketika saya mau pipis di tengah malam, saya tidak berani jauh-jauh dari tenda. Bahkan pernah saya pipis sambil memegang salah satu sisi cover tenda, karena saking gelapnya dan tebalnya kabut saya khawatir kehilangan arah dan gagal menemukan tenda. Sekarang jangan khawatir, banyaknya warung-warung yang mendapat pasokan listrik di malam hari lewat genset, dan adanya musholla, suasana malam tidak begitu gelap. Banyak petugas yang patroli juga memastikan kawasan kemah baik-baik saja dan tidak ada api unggun yang lupa dimatikan. 


Dulu pernah ada polemik bahwa Gunung Papandayan akan dikelola swasta. Dan ternyata memang benar, terlihat dari naik secara signifikan untuk biaya simaksi sebesar Rp. 65.000, sekadar informasi, harga segitu termasuk mahal buat simaksi mendaki gunung yang belum masuk kategori taman nasional. Awalnya sih saya apatis, seperti kebanyakan pendaki.

Tapi setelah ke sana setelah perubahan besar-besaran itu, kenyataannya ternayata tidak seburuk bayangan saya. Yang terlintas sebelumnya adalah, harga yang mahal, pungli di sana-sini, dan tata kelola yang kacau pasti terjadi. Pendaki dijadikan sapi perah untuk mengumpulkan keuntungan, aji mumpung karena hobi mendaki gunung sedang digandrungi. Saya salah. Saya harus minta maaf kepada Papandayan. Setelah mengobrol dengan penjaga toilet di Pondok Salada, setelah diambil alih swasta, pengelolaannya menjadi jelas. Lebih transparan. Aturan main bagi para pelaku usaha yang terlibat juga adil. Kekhawatiran saya akan Gunung Papandayan yang akan menjadi tidak terurus sama sekali tidak berujung pada sebuah bukti. Justru banyaknya petugas membuat gunung ini terjaga kelestariannya. Keamanannya juga terjaga karena jalur batu yang berbahaya menuju Tegal Alun sudah ditutup, dan dibuat rute baru yang lebih mudah. 


Pariwisata memang lahan menjanjikan bagi perekonomian. Siapa pun, pasti mau masuk di industri ini. Beragam tanggapan pasti muncul, ada yang mendukung, ada pula yang menentang jika ada pengelola swasta ikut nimbrung. Karena konsekuensinya pasti biaya menjadi mahal karena yang namanya swasta dari zaman Adam Smith main gundu, pasti menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Tapi jika melihat Gunung Papandayan kini, rasanya harga Rp. 65.000 menjadi murah.


Saya pernah merasa bahwa kota metropolitan seperti Jakarta museumnya sangat kurang. Namun, setelah beberapa kali mengikuti tour yang diadakan oleh Jakarta Good Guide, saya mendapati bahwa ternyata museum di Jakarta itu salah satu yang terbanyak di Asia Tenggara. Kelihatan sedikit mungkin karena saya tahunya ya Monas lagi, Monas lagi. Paling banter Kota Tua.

Tetapi kalau disimak lagi bagaimana sejarah perkembangan Jakarta, banyak fakta menarik dan penuh cerita. Di setiap tempat, dan nama suatu daerah di Jakarta memiliki banyak kisah menarik dan sarat kejadian penting dalam perjalanan bangsa ini. Bisa dibilang, Jakarta adalah museum itu sendiri.

Cikini adalah salah satu daerah di Jakarta yang memiliki cerita lampau penuh makna. Kawasan di pusat Jakarta ini kini menjadi seperti pusat budaya ibukota dengan Taman Ismail Marzukinya. TIM hanya salah satu tempat yang bisa dikulik lebih jauh di Cikini. Ada beberapa tempat dan fakta lagi yang bisa bercerita dan memuaskan rasa ingin tahu kita.

Cikini adalah kawasan yang dulunya oleh pemerintah Kolonial Belanda dibangun untuk menunjang kehidupan pemukiman para pejabatnya di Menteng. Di sana dibangun fasilitas pertokoan. Seiring berjalannya waktu, Cikini tumbuh pesat di tengah pusat Jakarta yang metropolis namun tetap ada warisan sejarah yang bertahan. Berikut beberapa cerita dan tempat bersejarah itu:

1. Kantor Pos  
Kalau kita melalui Jalan Cikini Raya dari arah Tugu Tani, pasti melewati kantor pos ini. Ini adalah kantor pos pertama di Indonesia yang buka 24 jam, jadi kalau lagi tiba-tiba ada dokumen atau barang dengan urgensi tinggi harus dikirim walau di tengah malam atau hari libur, sudah tahu kan lewat mana mengirimnya? Arsitekturnya tetap mempertahankan gaya kolonial. Kalau masuk, kesan classy langsung terasa.


2. Bakul Coffee  
Menyusuri trotoar di Jalan Raya Cikini, masih satu deret dengan kantor pos, akan kita jumpai sebuah kedai kopi bernama Bakul Coffee. Kedai ini memiliki kaitan erat dengan sejarah kontribusi kopi Indonesia di dunia. Ternyata dulunya kedai ini adalah sebuah warung nasi yang menyuplai makanan untuk karyawan-karyawan Belanda. Syahdan, ada ibu-ibu yang menawarkan kopi dari Jawa untuk dijual di warung nasi tersebut. Dan ternyata laku. Bahkan biji kopinya jauh lebih laku daripada makanannya. Oleh sebab itu pemiliknya memutuskan untuk menjual kopi saja.

Lalu di mana sejarah kopinya? Karena nikmatnya rasa kopi dari Jawa ini, Belanda membuat kebijakan tanam paksa yang mengharuskan daerah pertanian di Jawa ditanami kopi. Belanda lalu menjualnya ke Eropa, sisanya dilelang ke Amerika. Di Amerika, kopi asal Jawa selalu menjadi kopi dengan harga paling tinggi. Bahkan, bangsawan Amerika jika ingin memesan kopi akan berujar, “A cup of Java, please!”

Beratus tahun kemudian ketika komputer sudah ditemukan, ada seorang programmer Amerika bernama James Gosling. Dia berhasil membuat sebuah bahasa pemrograman yang diberinya nama ‘Oak’. Namun, programnya itu tidak laku karena namanya kurang komersil. Hingga akhirnya dia mengganti nama karyanya dengan minuman yang biasa dia minum ketika sedang membuat program. Minuman yang berabad lalu dikenal oleh bangsawan negerinya dengan ‘Cup of Java’. Maka program itu diberi nama ‘Java’ dengan simbol cangkir kopi. Program itu sekarang ada di hampir tiap komputer di seluruh dunia.

3. A. Kasoem 
Kalau lewat ruas Jalan Cikini Raya, pada sisi yang bersebrangan dengan TIM, maka kita akan melihat sebuah plang besar bertuliskan ‘A. KASOEM’. Untuk pengguna setia kacamata, pasti familiar dengan nama Kasoem. Namun, mungkin masih belum semua tahu cerita tentang trah Kasoem ini.

Beliau adalah optician (ahli optik) pertama di Indonesia. Nama lengkapnya Acung Kasoem, asli Sunda. Sewaktu perang masih berkecamuk di Pasifik, dan Indonesia masih dibawah kependudukan Jepang, A. Kasoem bekerja pada seorang birokrat Jerman yang menetap di Indonesia. Karena pada perang tersebut Jerman dan Jepang berada dalam satu kubu, A. Kasoem meminta kepada atasannya itu agar melobi Jepang supaya memberikan kemerdekaan bagi Indonesia.

Atasannya itu bertanya balik, “memangnya kalau bangsamu merdeka mau apa? Kehidupan perekonomianmu tetap akan bergantung pada bangsa lain. Mengisi kemerdekaan itu tidak mudah. Kau kusekolahkan saja ke Jerman, belajar membuat kacamata di sana. Setiap orang berumur di atas empat puluh tahun, kemungkinan memerlukan kacamata. Bangsamu lebih perlu itu sekarang”. Berangkatlah Acung Kasoem ke Eropa.

Sepulangnya dari Eropa, A. Kasoem menjadi pembuat kacamata bagi para pejabat istana di cabinet Presiden Soekarno. Bisnisnya masih langgeng hingga kini. Bahkan usahanya menurun ke anak perempuannya, Lily Kasoem. 


4. Roti Tan Ek Tjoan
Ini roti legenda di Cikini. Tercermin dari namanya, roti ini dibuat oleh orang Tionghoa bernama Tan Ek Tjoan (menurut ngana?). Tapi sebetulnya pembuat rotinya adalah istrinya bernama Li Pan, Bapak Tan sebagai perencana bisnisnya. Dahulu pabri roti ini ada di Jalan Cikini Raya, namun, karena ada peraturan daerah yang melarang pabrik berdiri di tengah kota, maka pabriknya pindah ke Ciputat. Walau begitu, agen-agen dan pengecernya masih banyak yang berjualan di Cikini.

Roti ini menganut filosofi Yin dan Yang, di mana itu tercermin dari dua varian roti utamanya. Roti gambang yang keras, dan roti bim bam yang empuk. Roti Tan Ek Tjoan di masa awal kemerdekaan adalah roti favorit Bung Hatta. 



5. Taman Ismail Marzuki (TIM)
Ini adalah kawasan paling ikonik di Cikini. Kalau bicara soal Cikini, ya TIM patokannya. Awalnya, TIM adalah bagian dari taman rumahnya Raden Saleh. Sekadar informasi tambahan, rumah Raden Saleh itu adalah yang sekarang Rumah Sakit PGI, sedangkan taman rumahnya ada di TIM. Terbayang betapa luasnya tanah sang pelukis ini. Hal yang wajar karena Beliau adalah pelukis Belanda.

Raden Saleh adalah pecinta binatang, oleh sebab itu taman rumahnya terdapat berbagai macam binatang sehingga terlihat seperti kebun binatang. Ketika Raden Saleh memutuskan tinggal di Belanda, tanah miliknya itu dihibahkan ke yayasan yang sekarang menaungi RS. PGI, dan Pemprov DKI Jakarta.

Di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, taman tersebut diubah peruntukkannya menjadi tempat berkumpul para seniman dan budayawan di Jakarta. Pemberian namanya didasari oleh seniman besar asal Betawi, yaitu Ismail Marzuki. Sementara itu binatang-binatang peninggalan sejak zaman Raden Saleh dipindahkan ke Ragunan. Jadi banyaknya tempat makan di Cikini yang memakai nama ‘Bonbin (kebon binatang)’, bisa terjelaskan.

Taman Ismail Marzuki, dalam perjalanannya bukan hanya pusat budaya dan seni. Di sana dibangun juga planetarium, perpustakaan, bioskop, dan yang terbaru gedung teater bernama Teater Jakarta. Teater Jakarta ini baru selesai pembangunannya tahun 2011, padahal pembangunannya dimulai tahun 1996. Mangkrak karena krisis moneter terjadi. Teater Jakarta ini, jika jadi tepat waktu, maka akan jadi gedung dengan teknologi paling mutakhir di Jakarta. Konsep design-nya terilhami dari bentuk rumah adat Sulawesi Selatan, Tongkonan.

Masih banyak sebetulnya yang bisa diceritakan soal Cikini. Seperti makam Habib Cikini yang selalu banjir ketika mau digusur pengembang, rumah Raden Saleh yang sekarang jadi kantor direksi RS PGI, Masjid Jami Cikini yang jadi tempat bergaul H. Agus Salim, dan masih banyak lagi. Selamat datang di kawasan penuh kisah, Cikini! 



author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.