Yosfiqar Iqbal Travel Blogger Wanna Be Kalau Merasa Hidup Tidak Berguna, Inget Aja AC di Dashboard Angkot

Alhamdulillah, Ramadan tiba. Dari sisi apa pun bulan penuh berkah ini benar-benar ditunggu oleh semua orang. Walaupun dua tahun terakhir ini kita lalui di tengah pandemi, namun berkah Ramadan tetap tidak berkurang. Salah satu yang paling ditunggu ketika Ramadan tiba, selain keutamaan pahala ibadah, adalah Tunjangan Hari Raya yang berarti juga semakin dekat. Hayo, yang jago financial planning pasti sudah membagi sedemikian rupa pos-pos penggunaan uang setara dengan sekali gaji itu.

Memang kebutuhan orang berbeda-beda, sih. Tetapi tidak sedikit pula yang memanfaatkan uang THR ini untuk mengganti handphone mereka. Perkembangan teknologi dan internet yang semakin cepat memang memungkinkan bagi produk-produk berbasis digital cepat sekali terasa usang meski rasanya produk tersebut belum lama rilis. Semakin ke sini, HP juga seperti dituntut untuk memiliki fitur tambahan. Mungkin kurang dari sepuluh tahun yang lalu kita hanya tahu fungsi benda ini untuk telpon, SMS, dan paling jauh browsing internet yang kecepatannya setelah diklik kita masih sempat bikin candi atau bantu pemda bikin sodetan kali Ciliwung.

Lalu sekarang, HP dengan fitur yang multitasking seperti wajib berada dalam genggaman. Fitur-fitur ini bukan hanya pelengkap, melainkan sudah menjadi komponen primer yang mesti ada. Contoh kecilnya seperti kamera, dahulu kamera di HP ya buat lucu-lucuan selfie atau foto profil Friendster. Nah sekarang kamera HP sudah bisa untuk fotografi bahkan bikin video utuh dari mulai pengambilan gambar hingga editing.

Solusinya, untuk mengakali supaya tidak terlalu tertinggal antara fungsi dan pendukung teknologinya, maka kita perlu mencari HP yang secara spesifikasi sudah high end. Kalau saya perlu mengganti HP saya, maka akan saya alokasikan THR saya untuk beli OPPO A54. Baru rilis tanggal 1 April 2021 kemarin, masih gress.

 

Desain

Desain stylish dan kokoh menjadi salah satu factor kenapa saya akan memilih HP ini. Kesan modernnya dengan 3 kamera utama, lampu flash, di sudut kiri atas bikin pede nenteng-nenteng ini HP. Semakin eye cathing karena bagian ini memiliki warna berbeda dari keseluruhan bodi perangkat. Materialnya juga terbuat dri bahan terbaik. Rangka tengah setebal 0,2mm yang dipadukan dengan alumunium membuatnya penuh kesan kekar, dan solid. Walau kokoh bingkai perangkat ini tidak membosankan karena memiliki tampilan gradasi bingkai yang smooth. Dengan dimensi163.6 mm x 75.7 mm x 8.4 mm dan berat: Sekitar 192 gram, perangkat ini sudah sangat ergonomis.

 


Layar

Coba deh jembrengin macem-macem HP yang sekelas dengan OPPO A54, maka akan kita temukan bahwa layar OPPO A54 ini paling modern. Kehadiran layar bertipe single punch-hole 6.51 inci menjadi pembeda perangkat ini disaat kompetitor lain menawarkan solusi layar waterdrop pada harga yang setara. Kehadiran layar ini juga dilengkapi berbagai teknologi tinggi yang sebelumnya diperkenalkan pada perangkat Reno5 F.

Ada juga fitur eye comfort yang bisa menyesuaikan cahaya biru supaya mata tidak terlalu tegang. Fitur ini bisa diaktifkan secara manual, loh. Fitur ini cukup membantu untuk bapak-bapak yang kecerahan layar HP nya secerah masa depan Rafathar. Teknisnya begini: Sunlight Screen menawarkan visibilitas terbaik untuk layar smartphone pada kondisi di bawah sinar matahari terik. Kecerahan layar akan meningkat 14,5% secara otomatis atau setara dengan 550 nits.Moonlight Screen secara otomatis mengurangi keceraha layar hingga 2 nits pada lingkungan rendah cahaya atau malam hari, membuat cahaya layar menjadi lembut dan tidak menyilaukan mata. AI Smart Backlight dapat mempelajari kebiasaan pengguna saat menyesuaikan lampu latar dan merekam kecerahan yang disukai pengguna. Setelahnya, fitur ini dapat menyesuaikan secara otomatis kecerajan layar sesuai preferensi dan waktu yang dipelajari dari pengguna.

Soal keamanan jangan khawatir, perangkat ini dilengkapi dengan sensor sidik jari samping untuk mencegah yang suka iseng bajak membajak atau kepo dengan isi HP kita.

 

Kamera

Nah, ini nih salah satu fitur yang kadang paling menentukan seseorang beli sebuah HP atau tidak. Kamera. Instagram, Tiktok, Zoom, hingga status WhatSapp memerlukan  kamera HP yang mumpuni. Apalagi target pasar OPPO A54 ini adalah anak muda yang hampir pasti memiliki akun medsos yang saya sebutkan tadi. Memenuhi tuntutan pengguna muda lini seri A di Indonesia, OPPO melengkapi A54 dengan Triple Main Camera yang terdiri dari kamera utama 13MP, 2MP kamera makro dan 2MP kamera bokeh. Kamera ini dilengkapi berbagai fitur kecerdasan buatan yang dapat digunakan pengguna muda untuk mengungkapkan berbagai ekspresi mereka melalui media sosial.

Dazzle Color ketika diaktifkan dapat meningkatkan saturasi dan kecerahan gambar melalui sebuah algoritma kecerdasan buatan, menghadirkan gambar cemerlang yang kaya warna. Sementara, fitur cerdas lainnya, AI Scene Recognition mendukung pengenalan otomatis ketika digunakan, ada 23 suasana yang dapat dikenali oleh perangkat ini. Ultra Night Mode menjadi solusi fotografi malam hari. Fitur ini diaktifkan secara manual, pada lingkungan rendah cahaya secara otomatis eksposur akan meningkat, perangkat melakukan pengukuran berbasis kecerdasan buatan kemudian melakukan penyesuaian untuk memberikan cahaya pada bagian gelap sesuai. OPPO A54 juga dilengkapi fitur untuk mengambil gambar panorama dengan sudut 180°. AI Beautification 2.0 dapat diakses melalui kamera depan dan belakang. OPPO memperbaharui kemampuan fitur ini pada A54 sehingga dapat mekalukan penyesuaian cerdas dengan mengukur cahaya sekitar dan kemudian menerapkan efek percantik sesuai dengan warna kulit orang Indonesia terutama saat mengambil swafoto. Buat saya yang hobi traveling, spesifikasi kamera seperti ini sungguh mewah.

Bisa diset ke kamera makro, loh. Buat yang hobi fotografi bisa memotret objek-objek kecil dengan lebih leluasa dan detail. Ada juga fitur bokeh buat yang menginginkan objek fotonya full fokus dengan latar bokeh yang bak foto dengan kamera berlensa.          

 


Hardware & Software

OPPO A54 dibekali dengan RAM 4GB LPDDR4X, mantap nih, main PUBG atau Mobile Legend tidak perlu takut kena semprot kawan mabar karena pakai HP kentang. Memorinya 128GB dan bisa diupgrade hingga 256GB, puas deh menyimpan berbagai file mulai dari foto-foto traveling hingga file kerjaan kantor. Dengan spek tinggi tersebut, kita tidak perlu sering-sering bawa power bank, karena baterainya berkekuatan 5000mAh dengan fast charging. Untuk internetan saja, baterainya bisa tahan selama 36 jam.

OS-nya sendiri menggunakan ColorOS 7.2 berbasis Android 10, OD tertinggi di kelasnya. Untuk kelir bodinya bisa dipilih apakah starry black atau crystal blue. Dan OPPO A54 ini menjadi rekomendasi smartphone 2 jutaan dari OPPO. Harganya? Dibanderol harga Rp. 2.699.000, saya rela menyisihkan THR saya untuk memboyong HP ini.

Marhabban ya THR….


Tulisan ini dibuat tepat satu tahun dari terkonfirmasinya kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Penyakit anyar berupa virus yang berasal dari sebuah pasar hewan liar di Wuhan, Tiongkok, ini sudah setahun membuat Indonesia begitu kerepotan di berbagai aspek. Mulai dari ekonomi sampai kebiasaan di kehidupan sosial berubah cukup signifikan. Sebuah keadaan yang disukai atau tidak membuat kita harus menyesuaikan diri. Sebuah keadaan yang memaksa kita untuk kembali ingat pada sebuah hal yang mungkin terkadang kita lupakan saking khidmatnya menikmati hidup, yaitu kesehatan.


Menjaga kesehatan memang bisa dibilang gampang-gampang susah. Karena kesehatan ini seperti air, ada di setiap hari sehingga kita lupa memilikinya dan baru sadar betapa pentingnya ketika hilang. Saat COVID-19 menyerang, saya tidak bilang ini sebagai hal positif, tetapi tersebarnya virus ini membuat orang jadi lebih sadar akan kesehatan dan meningkatkan kekuatan imunitas tubuhnya.


Puji Tuhan, selama pandemi COVID-19 ini saya sudah beberapa kali dites PCR atau swab dan semuanya berakhir dengan hasil negatif. Tubuh juga tidak menunjukkan gejala yang aneh-aneh. Pernafasan masih normal, suhu tubuh rata-rata, penciuman moncer, indra perasa oke. Ini berarti imunitas tubuh saya bisa dibilang baik. 


Bagaimana cara menjaga imunitas versi saya? Saya ada beberapa tipsnya:


1. KELOLA STRES

Kadang penyakit datang justru dari pikiran yang kalut, syaraf otak yang menegang, dan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan oleh otak. Bahasa anak sosmednya, overthingking. Situasi ini jika berlebihan bisa menimbulkan stres. Kemampuan kita mengelola stres menjadi sangat penting. Kalau sudah terlampau penat dengan rutinitas sehari-hari, rehatlah sejenak. Lakukan apa yang disuka, beri penghargaan kepada diri sendiri. Kalau ada waktu dan rejeki, pergilah berlibur dengan protokol kesehatan yang ketat.



2. TIDUR YANG CUKUP

Tidur adalah hak tubuh yang wajib kita penuhi. Jika hak ini tidak diberikan tubuh bisa protes dengan cara meminimalisir fungsionalitasnya yang berakhir dengan kita terbaring sakit. Terapkan pola tidur yang teratur seperti tidur sebelum jam 9 malam dan bangun jam 5 pagi. Paling tidak delapan jam.



3. EFEKTIF DALAM BERKEGIATAN

Masa pandemi seperti ini mewajibkan kita untuk sedapat mungkin mengurangi aktifitas di luar rumah. Namun, tidak semua bisa dilakukan di rumah. Ada kalanya kita mesti bekerja atau menghadiri acara yang tidak bisa dihadiri secara daring. Memilah-milah kegiatan dengan membuat prioritas memperkecil peluang kita terpapar virus. Jadi, kesehatan dan produktifitas bisa berjalan bersisian.



4. JAGA POLA MAKAN

Penyakit sebagian besar datangnya dari perut. Kurang makan bisa sakit, kelebihan makan pun bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan. Ada baiknya kita kembali mengingat pola makan klasik empat sehat lima sempurna agar takaran gizi seimbang.



5. CEK KESEHATAN

Dalam suasana pandemi seperti ini, mengecek kesehatan adalah keniscayaan. Bukan hanya untuk memastikan bahwa kita sehat, tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita. Sekarang semua serba mudah, termasuk cek kesehatan ini. Kita hanya perlu instal aplikasi Halodoc, tidak perlu keluar rumah untuk sekadar konsultasi. Kita bahkan bisa menjadwalkan tes PCR, dan antigen. Untuk yang mau beribadah umroh atau haji dan memerlukan vaksin meningitis juga bisa lewat satu aplikasi ini. 




Demikian tips menjaga imunitas dari sepengalaman saya. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan, serta keselamatan. Terpenting, semoga pandemi ini lekas berakhir, kangen rasanya jalan-jalan lagi tanpa dibayangi tenggorokan dan lubang hidung yang diusap-usap tenaga kesehatan. Aamiin.

 Mau ke mana di liburan akhir tahun nanti? Ingin liburan ke tempat yang sejuk, pemandangannya indah, kulinernya beragam dan pilihan wisatanya anti mainstream? Liburan ke Malang yuk!

Kota terbesar kedua di Jawa Timur ini menawarkan banyak destinasi wisata seru yang bisa kamu kunjungi di momen liburan akhir tahun nanti. Berikut ada rekomendasi 5 destinasi wisata seru di Malang untuk kamu.

1. Gunung Bromo

Ingin mengejar sunrise pertama di tahun 2021? Gunung Bromo bisa jadi pilihan  yang super keren lho!

Berada dalam empat wilayah kabupaten; Kabupaten Malang, Probolinggo, Kabupaten Lumajang dan Pasuruan, pesona gunung yang terletak di jantung kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini tak perlu diragukan lagi.

Selain sunrise-nya yang begitu indah dengan siluet Gunung Semeru yang megah di kejauhan, kamu juga bisa menikmati indahnya hamparan savana yang mirip bukit Teletubbies.

Mau yang lebih seru? Jangan lupa sewa tour jip untuk berkeliling di sekitar Bromo. Kamu juga bisa menunggang kuda ke Kawah Bromo lho.

 

2. Gunung Semeru

Bagi kamu yang memang suka mendaki, Gunung Semeru yang juga berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger bisa jadi destinasi menarik nih!

Sama seperti Bromo, menikmati sunrise di atas gunung ini benar-benar magis karena begitu indah. Gunung yang tertinggi di Pulau Jawa ini menawarkan pemandangan luar biasa di puncaknya.

Selain itu selama pendakian kamu juga akan bertemu dengan Ranu Kumbolo, danau super cantik yang jadi tempat favorit bermalam para pendaki sebelum lanjut summit.

Kamu juga bisa menemukan hamparan bunga Edelweiss dan bunga Verbena Brasiliensis Vell yang hanya ada di Indonesia. Kurang keren apa coba!

 

3. The Onsen Hot Spring

Jika kamu bukan termasuk yang suka kegiatan ekstrem dan liburan bersama keluarga, the Onsen Hot Spring bisa jadi pilihan tempat bermalam sekaligus liburan yang pas.

Di sini kamu bisa merasakan sensasi liburan ke Jepang lho! Ada cottage yang desainnya menyerupai rumah tradisional Jepang dan diberi nama sesuai dengan kota yang ada di Jepang.

Pengunjung juga bisa berendam air panas dengan santai di onsen. Tenang, tempat pemandian air panas perempuan dan laki-laki dipisah kok.

Selain itu resort ini juga memiliki banyak spot foto Instagramable yang tak kalah cantiknya dari yang asli. Pemandangan di sekitarnya juga asri. Cocok sebagai tempat ‘lari sejenak’ dari aktivitas ibukota yang sibuk.

4. Jawa Timur Park

Ke Malang bersama keluarga rasanya kurang pas jika tidak liburan ke salah satu taman hiburan terkeren di Indonesia ini.

Saking besarnya, Jatim Park ini dibagi menjadi tiga kawasan lho! Jatim Park 1 cocok untuk kamu yang suka bermain di berbagai wahana seru.

Ada juga wahana yang berhubungan dengan sains, sejarah dan budaya yang tak kalah menariknya. Terdapat juga kolam renang berukuran besar yang dihiasi patung tokoh sejarah Indonesia; Ken Arok, Ken Dedes dan Mpu Gandring.

Nah, untuk Jatim Park 2 lebih dikhususkan sebagai taman rekreasi alam dan satwa liar. Di sini terdapat Museum Satwa yang menyajikan diorama berbagai satwa liar di habitat aslinya. Ada juga T-rex dalam ukuran besar lho!

Di Jatim park 2 juga ada Batu Secret Zoo; kebun binatang yang berisi ratusan spesies burung, singa, harimau, macan tutul hingga koleksi ular yang pastinya disukai semua anggota keluarga.

Selanjutnya, Jatim Park 3 menawarkan ‘surga’ bagi pecinta dinosaurus karena disini terdapat Jurassic Park yang berisi replika berbagai jenis dinosaurus yang pernah ada.

Di sini terdapat wahana jelajah 5 zaman dimana kamu dan keluarga bisa mengetahui perkembangan dinosaurus di jaman dulu. Jatim Park 3 juga menyediakan Terminal Selfie, Ice Cream World, pameran cahaya Infinite World dan miniatur negara-negara di dunia, seperti Korea hingga India.

5. Museum Angkut

Tempat wisata edukasi yang satu ini juga cocok untuk destinasi liburan keluarga. Museum seluas 3,8 hektar ini memiliki koleksi sekitar 300 kendaran dari berbagai era dan juga negara lho!

Ada delapan zona pameran yang memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari Main Hall yang menampilkan koleksi kendaraan antik, hingga Educational Hall dimana kamu bisa belajar mengenai sejarah transportasi. Ada juga Euro Zone yang jadi tempat menampilkan berbagai mobil dari negara di Eropa; termasuk mobil Range Rover yang pernah dipakai Ratu Inggris.

Puas melihat koleksi museum, kamu bisa lanjut mengunjungi Pasar Apung yang ada di bagian luar museum. Pasar Apung ini merupakan replika pasar terapung yang dipakai untuk menjual berbagai makanan dan minuman.

Bagaimana, sudah siap liburan akhir tahun ke Malang? Jangan lupa pesan tiket busnya pakai Traveloka yuk! Ada banyak agen tiket bus travel terpercaya yang bisa kamu pilih dan sesuaikan harganya dengan budget liburan kamu.

Selamat menyiapkan liburan!

 

Jujur saja, saya termasuk orang yang tidak memiliki pengetahuan literasi luas. Walaupun istilah literasi luas itu masih bisa diperdebatkan bagaimana dan ukuran batasnya, tapi ketika orang-orang banyak memuji karya-karya Eka Kurniawan, atau mengutip salah satu kalimat buku Tere Liye berbau motivasi untuk dijadikan status media sosial, saya tidak melakukannya karena tidak pernah membaca karya kedua penulis Indonesia yang sangat produktif tersebut.

Saya juga tidak membaca semua Harry Potter, menyerah membaca Madilognya Tan Malaka, dan, oh iya, mohon maaf juga karena belum punya satu pun buku Fiersa Besari. Semoga anak senja, pecinta kopi, penyemai rindu, pembaca semesta, peluruh daki, pembesar tiang listrik, dan penikmat bau bensin tidak marah.

Eh, tapi walaupun literasi saya terbilang terbatas, saya masih punya kok beberapa karya yang bisa dibilang begitu nyangkut di kepala hingga sekarang. Karya-karya yang mungkin terdengar jadul karena memang saya nikmati ketika kecil, remaja, bahkan sampai sekarang. Dulu, tiap anak remaja pasti punya role model yang ingin dia tiru habis-habisan setelah menonton atau membaca sebuah novel.

Novel berjudul Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar, misalnya. Membaca novel tersebut ketika masa puber sedang berada pada puncaknya sungguh menambah akselerasi hormon menuju manusia dewasa. Sosok tokoh utama Anton Rolimpande yang flamboyan dan menarik perhatian  cewek semudah menarik upil gantung membuat diri ini ingin sekali seperti dirinya. Gebet sana-sini. Marini, Erika, dan dosen tercantik di kampusnya habis kalau tidak dighosting, ya di PHP-in Anton. Fakboi baca novel ini langsung insecure kayaknya. Waktu saya SMA karya ini diangkat versi sinetronnya, Anton yang di versi filmnya diperankan Roy Marten, di versi sinetron dimainkan oleh Indra Brugman.

Lalu ada juga Catatan si Boy.  Saya kurang tahu apakah karya legendaris ini berasal dari sebuah buku atau bukan. Yang jelas penggambaran sosok Boy yang sempurna menjadi khayalan tingkat tinggi remaja seperti saya agar bisa menjadi tokoh ikonik yang diperankan Ongky Alexander itu. Bagaimana tidak, Boy yang anak orang kaya, lulusan luar negeri, digilai banyak wanita, punya teman lucu macam Emon, pergaulan luas, namun tetap rajin sholat. Boy adalah Fahri Ayat-ayat Cinta yang lebih humanis. Walau begitu, sebetulnya cerita Catatan si Boy ini cukup sederhana, cenderung cetek bahkan. Hanya tentang kisah cinta yang kepentok restu orang tua. Pelajaran yang bisa diambil adalah lihat Si Boy, yang begitu sempurna saja calon mertuanya tidak setuju, terus kamu yang masih makan indomi pake nasi, motor beat, odolnya ciptaden, sendalnya swallow beda warna, OOTD-nya kaos partai, dan hobinya rebahan sambil mantengin berita Aurel-Atta ngarep dapet mertua kayak Abu Rizal Bakrie? Ckckckckck…

Namun, semua kembali kepada bahwa sebuah karya menajdi sangat bagus jika sangat relate dan dekat dengan penikmatnya. Mungkin karena itu dilahirkanlah ke dunia seorang Hilman Hariwijaya untuk menulis kisah Lupus. Setelah membaca Anton Rolimpande, menonton Boy, lalu  menikmati Lupus, maka saya putuskan bahwa “Ini nih gue banget!”. Tokoh Lupus anak sekolahan yang sederhana, selalu susah payah menarik perhatian lawan jenis, suka menulis di majalah, penggemar band Duran Duran menjadikannya begitu hidup dan mudah diterima.

Dilihat dari segi teknisnya, Hilman Hariwijaya melalui Lupus ini cukup menawarkan sebuah kebaruan buat dunia literasi yang pada zamannya disominasi drama yan nyastra banget. Lupus hadir dengan humor tongkrongan yang menjadi bacaan wajib remaja kala itu. Dari Lupus pula cikal bakal judul-judul buku  plesetan  bermunculan. Setahu saya ada beberapa judul serial Lupus yang diambil dari judul film hits yang diplesetkan. Seperti Kejar Daku Kau Kujitak, Interview With The Nyamuk, dan yang paling ikonik adalah The Lost Boy, yang covernya bergambar logo film The Lost World namun siluet T-Rex nya diganti dengan siluet khas Lupus yang berjambul dengan gelembung permen karet di mulut.


 

Dari Hilman Hariwijaya dengan Lupusnya lah saya sedikit belajar bahasa prokem peralihan dari tahun 80an ke 90an. Cembokur, sepokat, pembokat, rokum, ogut, kece, hebring, doski,mejeng, ngelancong, kelokur, adalah contohnya. Banyak pula di serial Lupus, kalau kita jeli, berisi keritikan terhadap Orde Baru yang disampaikan dengan humor satir.

Selain Lupus sendiri, yang tidak bisa dilupakan dari kisahnya adalah duo side kick legendaris bernama Boim dan Gusur. Bacalah yang mana saja serial Lupus, saya tidak pernah tidak ketawa kalau kedua makhluk ini kebagian adegan.

Hilman Hariwijaya yang secara tidak langsung  membuat saya sedikit-sedikit menyukai dunia tulis menulis, khususnya tulisan bebas berbau komedi. Walaupun kalau dibaca ulang sekarang serial Lupus ini banyak jokes yang sudah tidak relevan lagi, namun gaya penulisan Hilman pernah saya coba tiru dibeberapa tulisan saya.

Serial Lupus pernah diangkat ke berbagai versi baik film maupun sinteron. Hilman Hariwijaya sendiri pun pernah berperan sebagai Lupus. Tetapi tentu saja yang paling ikonik adalah Ryan Hidayat dalam film dan Irgi Fachrezi di sinetronnya. Pernah juga diremake ke layar lebar dan diperankan oleh Miqdad Ad-dausi dengan lawan main Acha Septriasa. Kurang memuaskan, sih, karena Lupusnya kelewat alim.

Saya masih berharap ada produser yang mau mengangkat lagi kisah Lupus ini. Bintang Emon cocok tuh jadi cast Lupus. Ngocolnya sudah tidak perlu dicasting lagi. Ayo, bangun lagi, dong, Lupus =)

Saya memutuskan berangkat ke Filipina saat pandemi corona sedang mendaki menuju puncak kurva statistik. Di tengah Februari 2020 kala itu, belum ada secara resmi kasus COVID-19 yang menjangkiti manusia di wilayah Indonesia. Karena itu peraturan lalu lintas orang keluar-masuk Indonesia pun belum begitu ketat. Seingat saya, orang masuk Indonesia hanya diharuskan mengisi kartu kesehatan berwarna kuning. Kartu itu memuat data penerbangan, jadi ketika di kemudian hari ada penumpang dari penerbangan yang sama positif COVID-19, maka penumpang lain pun harus ditracing dan diisolasi.

Sesampainya di bandar udara Ninoy Aquino International Airport, Manila, pun protokol penanganan COVID-19 baru sebatas pengecekan suhu dan penyediaan hand sanitizer di hampir setiap titik. Kami bahkan tidak diberikan kartu kuning untuk diisi. Menurut informasi, saat itu kasus positif corona di Filipina baru tiga orang. 
Stop berkerumun dulu, ya...
Keadaan di Metro Manila sendiri masih normal, mungkin hanya banyaknya orang yang mengenakan masker yang akan mengingatkan kita bahwa negara tersebut juga sedang berjuang melawan virus corona. MRT masih penuh sesak di jam sibuk, restoran cepat saji antreannya mengular, obyek-obyek wisata seperti Intramurros, Benteng Santiago, hingga Mall of Asia masih dikunjungi banyak wisatawan dalam dan luar negeri.

Masalah muncul ketika teman seperjalanan saya merasa tidak enak badan. Waktu itu kami berasumsi mungkin karena terlalu capek. Maklum, kami banyak berjalan kaki untuk pindah dari satu titik ke titik lain. Suasana Manila yang tingkat stresnya sama seperti Jakarta bisa saja menyerang ketahanan fisik. “Dibawa tidur aja juga besok sembuh ini mah.” Kata teman saya, pede.

Keesokan harinya, sepulang dari Kota Tagaytay, kondisi teman saya justru memburuk. Muncul gejala seperti batuk-batuk, bersin, dan sedikit meler. Kondisi seperti itu di tengah isu COVID-19 tentu sangat mengkhawatirkan. Teringat kami mengunjungi beberapa tempat dengan kerumunan yang padat selama beberapa hari. Lalu kami pun banyak berpindah-pindah penginapan yang tidak diketahui siapa yang pernah tidur di sana. Itu belum termasuk kunjungan kami ke beberapa pasar tradisional di Manila dan bertemu dengan beberapa traveler lain dari negara berbeda yang bisa saja menjadi carrier.

Kalau waktu itu bisa test corona online, sih, enak ya. Seperti aplikasi di Halodoc yang kini bisa mendeteksi dini gejala corona sehingga kita bisa konsultasi awal dengan dokter. Nnanti akan direkomendasikan obat yang diperlukan, hingga kalau perlu dirujuk ke rumah sakit. Kalau sudah ada guidance dari dokter kan lebih tenang. Cukup efektif juga walaupun sedang berada di luar negeri.

Akhirnya kami hanya bisa membeli obat di Guardian-nya Manila. Puji Tuhan, kesehatan teman saya membaik dan ketika pulang, di thermo scanner di Soekarno-Hatta pun suhu tubuhnya normal. Satu minggu setelah kepulangan kami, barulah kasus pertama COVID-19 ditemukan. Filipina, beberapa hari kemudian me-lockdown Metro Manila.

Bersyukur dan sedih bercampur jadi satu. Bersyukur karena Manila dilockdown saat kami sudah pulang. Duh, tidak terbayang kalau sampai ‘terjebak’ di Manila dan gagal pulang ke Indonesia. Sedih juga karena bukan hanya di Filipina, sejak hari itu di Indonesia pun wabah corona menyebar tak terkendali.

Sekarang yang bisa kita lakukan adalah menjaga diri, dan orang sekitar kita. Tetap bersih, pakai masker, jaga jarak, hindari keramaian dan rajin cuci tangan, jangan mudik dan pulang kampung. Eh, mudik sama pulang kampung sama tidak, sih? Anyway, Jika merasa kurang enak badan, istirahat yang cukup dan jangan ragu konsultasi ke dokter. Sebab seperti jatuh cinta, gejala terinfeksi corona harus dikenali sejak awal agar tidak memburuk.


Di film The Terminal, set bandara ternyata bisa menjadi premis sebuah cerita yang menarik. Bayangkan, seseorang yang sedang beperian ke Amerika Serikat mendadak harus stateless secara de jure karena ada kudeta di negara asalnya. Pemimpin baru negara yang disebutkan berada di Eropa timur itu memutuskan hubungan diplomatik dengan dunia luar. Akibatnya, Viktor Narvoski, nggak bisa masuk ke wilayah AS, atau terbang kembali ke negara asalnya karena paspornya nggak berlaku. Silakan tonton sendiri bagaimana Viktor bertemu sahabat baru, bahkan cintanya selama terkurung di bandara. 

Mohon maaf, lagi nggak punya stok foto bandara =(

Bandara adalah sebuah perpaduan ruang dan waktu dengan banyak sekali persinggungan antarmanusia, bahkan dengan yang nggak saling kenal sekalipun. Akibatnya tempat ini bukan hanya menjadi sekadar ruang transit sebelum terbang. Saya sendiri memiliki beberapa cerita menjurus drama di beberapa bandara.

1. Soekarno Hatta, Indonesia
Setelah memastikan berkali-kali hingga hari H keberangkatan, tepat di hari Valentine tahun ini, saya berangkat ke Manila, Filipina. Mendapat jadwal flight pada jam abu-abu seperti 00.15 membuat saya was-was, takut terlalu cepat satu hari datang ke bandara, atau paling apes ketinggalan pesawat karena mengira penerbangan di hari berikutnya.

Sepulang kantor saya langsung meluncur ke stasiun kereta bandara. Sampai di sana saya makan di KFC. Lalu teringat travelmate langganan, si Centong, dia juga akan bersama saya sdi trip Filipina kali ini. Bedanya, dia ke bandara naik Damri dari Serang. Untuk memastikan posisi, terjadi chat dengan percakapan begini,

“Cen, gue lagi di KFC stasiun nih. Mau nitip gak lu? Ntar gue bungkusin.”

“Wah, boleh. Dada, ya.”

“Sip. Lu di mana?”

“Udah sampe bandara, nih.”

“Gue bentar lagi jalan, setengah jam lah sampe. Lu nunggu di mana?”

“Depan KFC.”

“….”

Beberapa menit kemudian Centong makan paket KFC Stasiun kereta bandara yang sudah dingin di depan KFC bandara. Suplai chain management KFC sungguh kami bikin berantakan hari itu. Kolonel Sanders geleng-geleng kepala di atas sana.
 
2. Indira Gandhi International Airport, India
Masih bersama saya dan Centong. Pagi buta dengan suhu 8 derajat celcius New Delhi kami terobos demi mendapat kejelasan terbang atau nggak kami ke Kashmir setelah tiga hari sebelumnya maskapai yang kami tumpangi memberi tahu bahwa penerbangan kami dicancel secara sepihak.

Driver kami, Atter, dengan perhatian penuh berpesan,

“Kabari kalau flight kalian sudah jelas, nanti saya jemput lagi di sini kalau betul-betul kalian gagal berangkat.”

Saya dan Centong dengan tampilan seadanya dan masih bau iler masuk ke bandara terbesar di India itu. Menurut klaimnya sih, bandara ini tiap hari menampung 4 juta penumpang. Kami melewati pintu setelah sebelumnya diperiksa oleh personel militer lengkap dengan senjatanya.

Di dalam, kami langsung menyerbu konter maskapai berlogo dominan merah.

“Maaf, Pak, penerbangan anda sudah dibatalkan.” Kata petugas dari balik kaca.

“Apa nggak ada opsi lain? Pindah ke maskapai lain?”

“No.”

“Reschedule?”

“No.”

“Saya ganteng, dan idaman mertua?”

“No.” 

Kami hampir pasrah merelakan liburan lihat salju di Kashmir. Bolak-balik ke konter pelayanan, walau dengan petugas berbeda, teteapi hasilnya sama saja. NO! Untungnya Tuhan memberi jalan lain. Seorang petugas perempuan menghampiri kami alih-alih lapor security untuk mengamankan kami, kayaknya kasihan melihat dua orang traveler yang terindikasi kena gizi buruk luntang lantung nggak jelas. Kami diminta menunjukkan tiket, paspor, dan visa.

Saya diarahkan ke back office konter pelayanan tadi. Di sana lalu ada petugas yang lebih ramah dan memberi kami opsi reschedule lusa. Ya sudah kami ambil daripada nggak ke Kashmir sama sekali. Kami berterima kasih, lalu bergegas pergi. Tetapi petugas itu menahan kami.

“Kalian akan keluar di damping sama petugas. Tunggu.”

Kirain sama petugas maskapai. Nggak tahunya sama petugas militer dengan senjata lengkap. Kami digiring lewat pintu belakang kayak artis kena skandal selingkuh sama marmut.

Selesai? Oh, belum. Kami harus mengabarkan Atter untuk menjemput, karena harus kembali ke New Delhi. Masalahnya, selama di India kami hanya mengandalkan wifi penginapan untuk berkomunikasi. For your very very important information, wifi gratis di Indira Gandhi International Airport itu baru bisa digunakan kalau punya nomor lokal India. Pagi itu saya di pelataran bandara berjalan dari ujung ke ujung demi mencari keajaiban siapa tau ada wifi tak berpassword nyangkut. Nihil.

“Bal, tuh ada kios kopi. Sepik-sepik beli, yuk. Terus minjem tetring.”

Beberapa menit kemudian Atter menjemput kami karena mendapat pesan Whatsap. Terima kasih kepada tukang kopi yang mau baik hati berbagi hotspot internet dari ponselnya.


3. Jaipur International Airport, India
Saya pernah menceritakan kejadian salah tulis nomor paspor si Centong. Intinya kami tertahan karena ada kenggaksesuaian antara nomor passport asli dan yang tercantum di visa. Saya nggak habis pikir kenapa bisa lolos hingga Jaipur padahal pemerikasaan berlapis mulai dari Indonesia.

Apply visa, lolos, approved. Pede.

Di Soekarno Hatta, lolos. Pede.
 
Di KLIA2 Malaysia, lolos. Makin pede. Asik besok liat Taj Mahal

Di Jaipur. Si Centong nyaris dideportasi.


4. Srinagar International Airport, India
Kashmir sebagai wilayah India yang memiliki konflik berkepanjangan membuat provinsi Srinagar, yang berbatasan dengan Pakistan, dijaga ketat. Mulai masuk pintu gerbang bandara, hanya boleh yang pegang tiket yang masuk. Itu pun penumpang harus turun dari mobil untuk melewati beberapa pos pemeriksaan. Tentara yang berjaga pun kelihatannya seperti di negara yang sedang menerapkan status DEFCON atau siap perang. Peralatannya lengkap, senjata, helm, hingga rompi antipeluru.

Sampai depan terminal bandara, Hilal, tour guide sekaligus driver kami mengingatkan,

“Cepat ambil barang kalian, kami di sini cuma diizinkan lima menit. Lebih dari itu kami ditangkap.”

Lah buset! Demi lepas dari tanggung jawab dipenjaranya seorang driver, kami pun buru-buru mengambil tas di bagasi.

 
5. Siem Reap Airport, Kamboja.
Seperti umumnya bandara internasional lainnya, sesaat setelah mendarat, penumpang yang mau masuk tertori Kamboja harus mengisi form kedatangan. Kebetulan saya lupa bawa pulpen, jadi harus antri panjang untuk mengisi form di sebuah meja yang ada pulpennya.

Hampir bosan antri, ada petugas berseragam imigrasi Kamboja. Wajahnya seperti tentara Vietkong di film Rambo.

“Kamu lagi ngapain di sini?” Tanyanya. Tadinya kepengin saya jawab, “LAGI LATIHAN BALET LAH, MASA LAGI TAHLILAN!”. Tapi nggak jadi, taku diangkut Pol PP bandara chapter Kamboja.

“Saya nggak ada pulpen untuk isi ini. Anda punya? May I borrow?”

Wajah angker itu tersenyum,

“Sudah, langsung saja ke konter imigrasi.”

“Loh, ini gak perlu diisi?”

“Relaks. Enjoy your trip.”

Saya pun melewati imigrasi tanpa halangan. Kamboja adalah negara paling santuy soal imigrasi. jauh dari kesan mengintimidasi di mana biasanya konter ini yang paling bikin deg-degan jika ingin memasuki suati negara. Kepengen rasanya dadah dadah ke bule yang masih pada antri isi form. Bahkan saya nggak ditanya tiket pulang, menginap di mana, nggak periksa sidik jari, nggak difoto, pokoknya tinggal cap jebret, lolos deh.

 
6. KLIA2, Malaysia
Airport di negara tetangga ini langganan untuk transit kalau tidak ada penerbangan langsung ke nergara yang dituju. Pernah transit selama 12 jam di sini dan tidur di area bebas rokok. Pernah juga nyaris ditinggal pesawat karena lupa menset waktu otomatis di ponsel karena perbedaan waktu di Indonesia dengan Malaysia berbeda satu jam.

Cerita pertama saya cukup berkesan, kalau tidak mau dibilang norak, di bandara ini. Yaitu kucing-kucingan sama petugas kebersihan untuk mandi di toilet. Waktu itu udah dua hari nggak mandi, Hyung! Saya berhasil menyelundupkan handuk kecil, sabun, beserta seperankat alat gosok gigi. Yos 1 – 0 Petugas kebersihan.

Lalu yang paling nyeleneh ya ketika ada seorang lelaki berpaspor kamboja tiba-tiba berbicara sesuatu yang tidak jelas. Saya, dan Centong yang tidak mengerti apa yang beliau maksud hanya saling tatap mencoba menerka. Hingga tiba-tiba si bapak tadi menggesturkan mau membuka resleting celananya. Wait, apaan nih? Mau pamer pola celana boxer? Lalu dia menyebutkan sesuatu berkali-kali yang terdengar seperti,

“Ooohhh…rest room? Dia nanya toilet, Bal.” Teman saya akhirnya mengerti.

“Kirain nanyain mantri sunat.”


7. Ninoy Aquino International Airport, Filipina
Selalu ada pertama kali untuk setiap orang. Filipina membuat itu terjadi kepada saya. Di sini untuk pertama kalinya saya mencoba minum bir. Di sini pula saya selama sepuluh hari berturut-turut makan junk food tiap hari.

Di Ninoy International Airport saya melakukan debut membeli barang di gerai bebas pajak dan cukai bandara. Sebotol Liquid Coentrau, minuman beralkohol untuk dibawa pulang ke Indonesia. Ini pesanan teman. Katanya kalau di Indonesia harganya lebih mahal beberapa ratus ribu.

Membeli barang di toko duty free umumnya bertujuan untuk menghindari pengenaan cukai di negara tujuan, makanya saya membeli minuman itu di bandara. Teman saya sudah menitipkan paspor dan kartu kreditnya untuk digesek guna menuntaskan pembayaran. Nah, saya tidak tahu hingga sesaat ketika mau membayar bahwa untuk belanja di merchant buty free harus menunjukkan boarding pass juga. Dengan kata lain, saya nggak bisa menggunakan kartu kredit teman saya, karena sudah pasti namanya nggak match sama boarding pass.

Di sini pentingnya punya simpanan uang cash sebagai cadangan, atau peluru terakhir di saat darurat. Akhirnya saya merogoh kantung uang terdalam saya, lalu mengambil peluru terakhir berupa selembar pecahan 100USD dan membayar minuman beraroma citrus itu seharga 40 USD. Gagal, deh, nimbun Dollar.

Begitulah bandara. Ceritanya nggak pernah biasa-biasa saja. Derap langkah dan suara gesekan di lantai roda koper adalah satu dari sekian banyak hal yang mewakili bunyi antusiasme manusia sebelum mereka pergi, atau hendak kembali. Semuanya, sebelum mengudara.
author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.