Yosfiqar Iqbal Travel Blogger Wanna Be Kalau Merasa Hidup Tidak Berguna, Inget Aja AC di Dashboard Angkot

 

Jujur saja, saya termasuk orang yang tidak memiliki pengetahuan literasi luas. Walaupun istilah literasi luas itu masih bisa diperdebatkan bagaimana dan ukuran batasnya, tapi ketika orang-orang banyak memuji karya-karya Eka Kurniawan, atau mengutip salah satu kalimat buku Tere Liye berbau motivasi untuk dijadikan status media sosial, saya tidak melakukannya karena tidak pernah membaca karya kedua penulis Indonesia yang sangat produktif tersebut.

Saya juga tidak membaca semua Harry Potter, menyerah membaca Madilognya Tan Malaka, dan, oh iya, mohon maaf juga karena belum punya satu pun buku Fiersa Besari. Semoga anak senja, pecinta kopi, penyemai rindu, pembaca semesta, peluruh daki, pembesar tiang listrik, dan penikmat bau bensin tidak marah.

Eh, tapi walaupun literasi saya terbilang terbatas, saya masih punya kok beberapa karya yang bisa dibilang begitu nyangkut di kepala hingga sekarang. Karya-karya yang mungkin terdengar jadul karena memang saya nikmati ketika kecil, remaja, bahkan sampai sekarang. Dulu, tiap anak remaja pasti punya role model yang ingin dia tiru habis-habisan setelah menonton atau membaca sebuah novel.

Novel berjudul Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar, misalnya. Membaca novel tersebut ketika masa puber sedang berada pada puncaknya sungguh menambah akselerasi hormon menuju manusia dewasa. Sosok tokoh utama Anton Rolimpande yang flamboyan dan menarik perhatian  cewek semudah menarik upil gantung membuat diri ini ingin sekali seperti dirinya. Gebet sana-sini. Marini, Erika, dan dosen tercantik di kampusnya habis kalau tidak dighosting, ya di PHP-in Anton. Fakboi baca novel ini langsung insecure kayaknya. Waktu saya SMA karya ini diangkat versi sinetronnya, Anton yang di versi filmnya diperankan Roy Marten, di versi sinetron dimainkan oleh Indra Brugman.

Lalu ada juga Catatan si Boy.  Saya kurang tahu apakah karya legendaris ini berasal dari sebuah buku atau bukan. Yang jelas penggambaran sosok Boy yang sempurna menjadi khayalan tingkat tinggi remaja seperti saya agar bisa menjadi tokoh ikonik yang diperankan Ongky Alexander itu. Bagaimana tidak, Boy yang anak orang kaya, lulusan luar negeri, digilai banyak wanita, punya teman lucu macam Emon, pergaulan luas, namun tetap rajin sholat. Boy adalah Fahri Ayat-ayat Cinta yang lebih humanis. Walau begitu, sebetulnya cerita Catatan si Boy ini cukup sederhana, cenderung cetek bahkan. Hanya tentang kisah cinta yang kepentok restu orang tua. Pelajaran yang bisa diambil adalah lihat Si Boy, yang begitu sempurna saja calon mertuanya tidak setuju, terus kamu yang masih makan indomi pake nasi, motor beat, odolnya ciptaden, sendalnya swallow beda warna, OOTD-nya kaos partai, dan hobinya rebahan sambil mantengin berita Aurel-Atta ngarep dapet mertua kayak Abu Rizal Bakrie? Ckckckckck…

Namun, semua kembali kepada bahwa sebuah karya menajdi sangat bagus jika sangat relate dan dekat dengan penikmatnya. Mungkin karena itu dilahirkanlah ke dunia seorang Hilman Hariwijaya untuk menulis kisah Lupus. Setelah membaca Anton Rolimpande, menonton Boy, lalu  menikmati Lupus, maka saya putuskan bahwa “Ini nih gue banget!”. Tokoh Lupus anak sekolahan yang sederhana, selalu susah payah menarik perhatian lawan jenis, suka menulis di majalah, penggemar band Duran Duran menjadikannya begitu hidup dan mudah diterima.

Dilihat dari segi teknisnya, Hilman Hariwijaya melalui Lupus ini cukup menawarkan sebuah kebaruan buat dunia literasi yang pada zamannya disominasi drama yan nyastra banget. Lupus hadir dengan humor tongkrongan yang menjadi bacaan wajib remaja kala itu. Dari Lupus pula cikal bakal judul-judul buku  plesetan  bermunculan. Setahu saya ada beberapa judul serial Lupus yang diambil dari judul film hits yang diplesetkan. Seperti Kejar Daku Kau Kujitak, Interview With The Nyamuk, dan yang paling ikonik adalah The Lost Boy, yang covernya bergambar logo film The Lost World namun siluet T-Rex nya diganti dengan siluet khas Lupus yang berjambul dengan gelembung permen karet di mulut.


 

Dari Hilman Hariwijaya dengan Lupusnya lah saya sedikit belajar bahasa prokem peralihan dari tahun 80an ke 90an. Cembokur, sepokat, pembokat, rokum, ogut, kece, hebring, doski,mejeng, ngelancong, kelokur, adalah contohnya. Banyak pula di serial Lupus, kalau kita jeli, berisi keritikan terhadap Orde Baru yang disampaikan dengan humor satir.

Selain Lupus sendiri, yang tidak bisa dilupakan dari kisahnya adalah duo side kick legendaris bernama Boim dan Gusur. Bacalah yang mana saja serial Lupus, saya tidak pernah tidak ketawa kalau kedua makhluk ini kebagian adegan.

Hilman Hariwijaya yang secara tidak langsung  membuat saya sedikit-sedikit menyukai dunia tulis menulis, khususnya tulisan bebas berbau komedi. Walaupun kalau dibaca ulang sekarang serial Lupus ini banyak jokes yang sudah tidak relevan lagi, namun gaya penulisan Hilman pernah saya coba tiru dibeberapa tulisan saya.

Serial Lupus pernah diangkat ke berbagai versi baik film maupun sinteron. Hilman Hariwijaya sendiri pun pernah berperan sebagai Lupus. Tetapi tentu saja yang paling ikonik adalah Ryan Hidayat dalam film dan Irgi Fachrezi di sinetronnya. Pernah juga diremake ke layar lebar dan diperankan oleh Miqdad Ad-dausi dengan lawan main Acha Septriasa. Kurang memuaskan, sih, karena Lupusnya kelewat alim.

Saya masih berharap ada produser yang mau mengangkat lagi kisah Lupus ini. Bintang Emon cocok tuh jadi cast Lupus. Ngocolnya sudah tidak perlu dicasting lagi. Ayo, bangun lagi, dong, Lupus =)

Saya memutuskan berangkat ke Filipina saat pandemi corona sedang mendaki menuju puncak kurva statistik. Di tengah Februari 2020 kala itu, belum ada secara resmi kasus COVID-19 yang menjangkiti manusia di wilayah Indonesia. Karena itu peraturan lalu lintas orang keluar-masuk Indonesia pun belum begitu ketat. Seingat saya, orang masuk Indonesia hanya diharuskan mengisi kartu kesehatan berwarna kuning. Kartu itu memuat data penerbangan, jadi ketika di kemudian hari ada penumpang dari penerbangan yang sama positif COVID-19, maka penumpang lain pun harus ditracing dan diisolasi.

Sesampainya di bandar udara Ninoy Aquino International Airport, Manila, pun protokol penanganan COVID-19 baru sebatas pengecekan suhu dan penyediaan hand sanitizer di hampir setiap titik. Kami bahkan tidak diberikan kartu kuning untuk diisi. Menurut informasi, saat itu kasus positif corona di Filipina baru tiga orang. 
Stop berkerumun dulu, ya...
Keadaan di Metro Manila sendiri masih normal, mungkin hanya banyaknya orang yang mengenakan masker yang akan mengingatkan kita bahwa negara tersebut juga sedang berjuang melawan virus corona. MRT masih penuh sesak di jam sibuk, restoran cepat saji antreannya mengular, obyek-obyek wisata seperti Intramurros, Benteng Santiago, hingga Mall of Asia masih dikunjungi banyak wisatawan dalam dan luar negeri.

Masalah muncul ketika teman seperjalanan saya merasa tidak enak badan. Waktu itu kami berasumsi mungkin karena terlalu capek. Maklum, kami banyak berjalan kaki untuk pindah dari satu titik ke titik lain. Suasana Manila yang tingkat stresnya sama seperti Jakarta bisa saja menyerang ketahanan fisik. “Dibawa tidur aja juga besok sembuh ini mah.” Kata teman saya, pede.

Keesokan harinya, sepulang dari Kota Tagaytay, kondisi teman saya justru memburuk. Muncul gejala seperti batuk-batuk, bersin, dan sedikit meler. Kondisi seperti itu di tengah isu COVID-19 tentu sangat mengkhawatirkan. Teringat kami mengunjungi beberapa tempat dengan kerumunan yang padat selama beberapa hari. Lalu kami pun banyak berpindah-pindah penginapan yang tidak diketahui siapa yang pernah tidur di sana. Itu belum termasuk kunjungan kami ke beberapa pasar tradisional di Manila dan bertemu dengan beberapa traveler lain dari negara berbeda yang bisa saja menjadi carrier.

Kalau waktu itu bisa test corona online, sih, enak ya. Seperti aplikasi di Halodoc yang kini bisa mendeteksi dini gejala corona sehingga kita bisa konsultasi awal dengan dokter. Nnanti akan direkomendasikan obat yang diperlukan, hingga kalau perlu dirujuk ke rumah sakit. Kalau sudah ada guidance dari dokter kan lebih tenang. Cukup efektif juga walaupun sedang berada di luar negeri.

Akhirnya kami hanya bisa membeli obat di Guardian-nya Manila. Puji Tuhan, kesehatan teman saya membaik dan ketika pulang, di thermo scanner di Soekarno-Hatta pun suhu tubuhnya normal. Satu minggu setelah kepulangan kami, barulah kasus pertama COVID-19 ditemukan. Filipina, beberapa hari kemudian me-lockdown Metro Manila.

Bersyukur dan sedih bercampur jadi satu. Bersyukur karena Manila dilockdown saat kami sudah pulang. Duh, tidak terbayang kalau sampai ‘terjebak’ di Manila dan gagal pulang ke Indonesia. Sedih juga karena bukan hanya di Filipina, sejak hari itu di Indonesia pun wabah corona menyebar tak terkendali.

Sekarang yang bisa kita lakukan adalah menjaga diri, dan orang sekitar kita. Tetap bersih, pakai masker, jaga jarak, hindari keramaian dan rajin cuci tangan, jangan mudik dan pulang kampung. Eh, mudik sama pulang kampung sama tidak, sih? Anyway, Jika merasa kurang enak badan, istirahat yang cukup dan jangan ragu konsultasi ke dokter. Sebab seperti jatuh cinta, gejala terinfeksi corona harus dikenali sejak awal agar tidak memburuk.


Di film The Terminal, set bandara ternyata bisa menjadi premis sebuah cerita yang menarik. Bayangkan, seseorang yang sedang beperian ke Amerika Serikat mendadak harus stateless secara de jure karena ada kudeta di negara asalnya. Pemimpin baru negara yang disebutkan berada di Eropa timur itu memutuskan hubungan diplomatik dengan dunia luar. Akibatnya, Viktor Narvoski, nggak bisa masuk ke wilayah AS, atau terbang kembali ke negara asalnya karena paspornya nggak berlaku. Silakan tonton sendiri bagaimana Viktor bertemu sahabat baru, bahkan cintanya selama terkurung di bandara. 

Mohon maaf, lagi nggak punya stok foto bandara =(

Bandara adalah sebuah perpaduan ruang dan waktu dengan banyak sekali persinggungan antarmanusia, bahkan dengan yang nggak saling kenal sekalipun. Akibatnya tempat ini bukan hanya menjadi sekadar ruang transit sebelum terbang. Saya sendiri memiliki beberapa cerita menjurus drama di beberapa bandara.

1. Soekarno Hatta, Indonesia
Setelah memastikan berkali-kali hingga hari H keberangkatan, tepat di hari Valentine tahun ini, saya berangkat ke Manila, Filipina. Mendapat jadwal flight pada jam abu-abu seperti 00.15 membuat saya was-was, takut terlalu cepat satu hari datang ke bandara, atau paling apes ketinggalan pesawat karena mengira penerbangan di hari berikutnya.

Sepulang kantor saya langsung meluncur ke stasiun kereta bandara. Sampai di sana saya makan di KFC. Lalu teringat travelmate langganan, si Centong, dia juga akan bersama saya sdi trip Filipina kali ini. Bedanya, dia ke bandara naik Damri dari Serang. Untuk memastikan posisi, terjadi chat dengan percakapan begini,

“Cen, gue lagi di KFC stasiun nih. Mau nitip gak lu? Ntar gue bungkusin.”

“Wah, boleh. Dada, ya.”

“Sip. Lu di mana?”

“Udah sampe bandara, nih.”

“Gue bentar lagi jalan, setengah jam lah sampe. Lu nunggu di mana?”

“Depan KFC.”

“….”

Beberapa menit kemudian Centong makan paket KFC Stasiun kereta bandara yang sudah dingin di depan KFC bandara. Suplai chain management KFC sungguh kami bikin berantakan hari itu. Kolonel Sanders geleng-geleng kepala di atas sana.
 
2. Indira Gandhi International Airport, India
Masih bersama saya dan Centong. Pagi buta dengan suhu 8 derajat celcius New Delhi kami terobos demi mendapat kejelasan terbang atau nggak kami ke Kashmir setelah tiga hari sebelumnya maskapai yang kami tumpangi memberi tahu bahwa penerbangan kami dicancel secara sepihak.

Driver kami, Atter, dengan perhatian penuh berpesan,

“Kabari kalau flight kalian sudah jelas, nanti saya jemput lagi di sini kalau betul-betul kalian gagal berangkat.”

Saya dan Centong dengan tampilan seadanya dan masih bau iler masuk ke bandara terbesar di India itu. Menurut klaimnya sih, bandara ini tiap hari menampung 4 juta penumpang. Kami melewati pintu setelah sebelumnya diperiksa oleh personel militer lengkap dengan senjatanya.

Di dalam, kami langsung menyerbu konter maskapai berlogo dominan merah.

“Maaf, Pak, penerbangan anda sudah dibatalkan.” Kata petugas dari balik kaca.

“Apa nggak ada opsi lain? Pindah ke maskapai lain?”

“No.”

“Reschedule?”

“No.”

“Saya ganteng, dan idaman mertua?”

“No.” 

Kami hampir pasrah merelakan liburan lihat salju di Kashmir. Bolak-balik ke konter pelayanan, walau dengan petugas berbeda, teteapi hasilnya sama saja. NO! Untungnya Tuhan memberi jalan lain. Seorang petugas perempuan menghampiri kami alih-alih lapor security untuk mengamankan kami, kayaknya kasihan melihat dua orang traveler yang terindikasi kena gizi buruk luntang lantung nggak jelas. Kami diminta menunjukkan tiket, paspor, dan visa.

Saya diarahkan ke back office konter pelayanan tadi. Di sana lalu ada petugas yang lebih ramah dan memberi kami opsi reschedule lusa. Ya sudah kami ambil daripada nggak ke Kashmir sama sekali. Kami berterima kasih, lalu bergegas pergi. Tetapi petugas itu menahan kami.

“Kalian akan keluar di damping sama petugas. Tunggu.”

Kirain sama petugas maskapai. Nggak tahunya sama petugas militer dengan senjata lengkap. Kami digiring lewat pintu belakang kayak artis kena skandal selingkuh sama marmut.

Selesai? Oh, belum. Kami harus mengabarkan Atter untuk menjemput, karena harus kembali ke New Delhi. Masalahnya, selama di India kami hanya mengandalkan wifi penginapan untuk berkomunikasi. For your very very important information, wifi gratis di Indira Gandhi International Airport itu baru bisa digunakan kalau punya nomor lokal India. Pagi itu saya di pelataran bandara berjalan dari ujung ke ujung demi mencari keajaiban siapa tau ada wifi tak berpassword nyangkut. Nihil.

“Bal, tuh ada kios kopi. Sepik-sepik beli, yuk. Terus minjem tetring.”

Beberapa menit kemudian Atter menjemput kami karena mendapat pesan Whatsap. Terima kasih kepada tukang kopi yang mau baik hati berbagi hotspot internet dari ponselnya.


3. Jaipur International Airport, India
Saya pernah menceritakan kejadian salah tulis nomor paspor si Centong. Intinya kami tertahan karena ada kenggaksesuaian antara nomor passport asli dan yang tercantum di visa. Saya nggak habis pikir kenapa bisa lolos hingga Jaipur padahal pemerikasaan berlapis mulai dari Indonesia.

Apply visa, lolos, approved. Pede.

Di Soekarno Hatta, lolos. Pede.
 
Di KLIA2 Malaysia, lolos. Makin pede. Asik besok liat Taj Mahal

Di Jaipur. Si Centong nyaris dideportasi.


4. Srinagar International Airport, India
Kashmir sebagai wilayah India yang memiliki konflik berkepanjangan membuat provinsi Srinagar, yang berbatasan dengan Pakistan, dijaga ketat. Mulai masuk pintu gerbang bandara, hanya boleh yang pegang tiket yang masuk. Itu pun penumpang harus turun dari mobil untuk melewati beberapa pos pemeriksaan. Tentara yang berjaga pun kelihatannya seperti di negara yang sedang menerapkan status DEFCON atau siap perang. Peralatannya lengkap, senjata, helm, hingga rompi antipeluru.

Sampai depan terminal bandara, Hilal, tour guide sekaligus driver kami mengingatkan,

“Cepat ambil barang kalian, kami di sini cuma diizinkan lima menit. Lebih dari itu kami ditangkap.”

Lah buset! Demi lepas dari tanggung jawab dipenjaranya seorang driver, kami pun buru-buru mengambil tas di bagasi.

 
5. Siem Reap Airport, Kamboja.
Seperti umumnya bandara internasional lainnya, sesaat setelah mendarat, penumpang yang mau masuk tertori Kamboja harus mengisi form kedatangan. Kebetulan saya lupa bawa pulpen, jadi harus antri panjang untuk mengisi form di sebuah meja yang ada pulpennya.

Hampir bosan antri, ada petugas berseragam imigrasi Kamboja. Wajahnya seperti tentara Vietkong di film Rambo.

“Kamu lagi ngapain di sini?” Tanyanya. Tadinya kepengin saya jawab, “LAGI LATIHAN BALET LAH, MASA LAGI TAHLILAN!”. Tapi nggak jadi, taku diangkut Pol PP bandara chapter Kamboja.

“Saya nggak ada pulpen untuk isi ini. Anda punya? May I borrow?”

Wajah angker itu tersenyum,

“Sudah, langsung saja ke konter imigrasi.”

“Loh, ini gak perlu diisi?”

“Relaks. Enjoy your trip.”

Saya pun melewati imigrasi tanpa halangan. Kamboja adalah negara paling santuy soal imigrasi. jauh dari kesan mengintimidasi di mana biasanya konter ini yang paling bikin deg-degan jika ingin memasuki suati negara. Kepengen rasanya dadah dadah ke bule yang masih pada antri isi form. Bahkan saya nggak ditanya tiket pulang, menginap di mana, nggak periksa sidik jari, nggak difoto, pokoknya tinggal cap jebret, lolos deh.

 
6. KLIA2, Malaysia
Airport di negara tetangga ini langganan untuk transit kalau tidak ada penerbangan langsung ke nergara yang dituju. Pernah transit selama 12 jam di sini dan tidur di area bebas rokok. Pernah juga nyaris ditinggal pesawat karena lupa menset waktu otomatis di ponsel karena perbedaan waktu di Indonesia dengan Malaysia berbeda satu jam.

Cerita pertama saya cukup berkesan, kalau tidak mau dibilang norak, di bandara ini. Yaitu kucing-kucingan sama petugas kebersihan untuk mandi di toilet. Waktu itu udah dua hari nggak mandi, Hyung! Saya berhasil menyelundupkan handuk kecil, sabun, beserta seperankat alat gosok gigi. Yos 1 – 0 Petugas kebersihan.

Lalu yang paling nyeleneh ya ketika ada seorang lelaki berpaspor kamboja tiba-tiba berbicara sesuatu yang tidak jelas. Saya, dan Centong yang tidak mengerti apa yang beliau maksud hanya saling tatap mencoba menerka. Hingga tiba-tiba si bapak tadi menggesturkan mau membuka resleting celananya. Wait, apaan nih? Mau pamer pola celana boxer? Lalu dia menyebutkan sesuatu berkali-kali yang terdengar seperti,

“Ooohhh…rest room? Dia nanya toilet, Bal.” Teman saya akhirnya mengerti.

“Kirain nanyain mantri sunat.”


7. Ninoy Aquino International Airport, Filipina
Selalu ada pertama kali untuk setiap orang. Filipina membuat itu terjadi kepada saya. Di sini untuk pertama kalinya saya mencoba minum bir. Di sini pula saya selama sepuluh hari berturut-turut makan junk food tiap hari.

Di Ninoy International Airport saya melakukan debut membeli barang di gerai bebas pajak dan cukai bandara. Sebotol Liquid Coentrau, minuman beralkohol untuk dibawa pulang ke Indonesia. Ini pesanan teman. Katanya kalau di Indonesia harganya lebih mahal beberapa ratus ribu.

Membeli barang di toko duty free umumnya bertujuan untuk menghindari pengenaan cukai di negara tujuan, makanya saya membeli minuman itu di bandara. Teman saya sudah menitipkan paspor dan kartu kreditnya untuk digesek guna menuntaskan pembayaran. Nah, saya tidak tahu hingga sesaat ketika mau membayar bahwa untuk belanja di merchant buty free harus menunjukkan boarding pass juga. Dengan kata lain, saya nggak bisa menggunakan kartu kredit teman saya, karena sudah pasti namanya nggak match sama boarding pass.

Di sini pentingnya punya simpanan uang cash sebagai cadangan, atau peluru terakhir di saat darurat. Akhirnya saya merogoh kantung uang terdalam saya, lalu mengambil peluru terakhir berupa selembar pecahan 100USD dan membayar minuman beraroma citrus itu seharga 40 USD. Gagal, deh, nimbun Dollar.

Begitulah bandara. Ceritanya nggak pernah biasa-biasa saja. Derap langkah dan suara gesekan di lantai roda koper adalah satu dari sekian banyak hal yang mewakili bunyi antusiasme manusia sebelum mereka pergi, atau hendak kembali. Semuanya, sebelum mengudara.
Hape kentang adalah aib bagi mereka yang suka bermain game mobile. Karena selain bisa menghambat kemampuan kita sebagai pemain, hape kentang juga rawan jadi bahan ledekan saat sedang mabar alias main bareng. Walau sebenarnya ledekan macam itu dilontarkan sebagai bentuk candaan, terkadang orang yang mendapat ledekan tersebut akan membuat mereka minder. Apalagi.. Ya, kita ini kan hidup di Indonesia. Dimana omongan orang lain bisa sangat berpengaruh pada mindset dan hidup seseorang

Tapi kalau ternyata hapemu bukan ROG Phone 2, mending nggak usah ikut-ikutan meledek, deh! Malu, lah. Udah ngeledekin hape orang, eh ternyata hapenya sendiri juga biasa saja. Saya sendiri sih tak pernah meledek seperti itu. Tapi setelah melihat dan mencoba ROG Phone 2 milik seorang teman, entah mengapa diri ini langsung merasa kalau hape yang saya pakai selama ini tuh kentang banget. Tinggal dipotong-potong aja, terus digoreng sampai jadi french fries.



Kalau untuk urusan main game sih harus diakui kalau ROG Phone 2 ini terasa punya kasta yang berbeda jika dibandingkan dengan smartphone lain yang bahkan berada di kelas flagship sekalipun. Kalian pasti tidak percaya, kan? Saya pun demikian awalnya. Tapi seletah mencobanya sendiri (walau cuma modal minjem), saya menemukan setidaknya ada 5 fakta soal ROG Phone 2 yang bikin hapemu jadi terlihat cupu:

1. Performa


Ibarat kata, produk keturunan ROG itu sudah pasti kencang sejak bawaan orok. Karena produsen PC dan laptop gaming ini memang sudah terkenal tidak pernah bercanda untuk urusan performa. Termasuk untuk produk smartphone yang mereka rilis. Berdasarkan data dari Antutu yang merupakan aplikasi benchmark populer untuk menguji performa dari smartphone, ROG Phone 2 sukses menempati posisi puncak klasemen.



Bagaimana tidak? Di sektor dapur pacunya, hape ini dijejali dengan chipset mobile paling powerful saat ini, yaitu Qualcomm Snapdragon 855 plus. Yang merupakan versi overclock dari Qualcomm Snapdragon 855 "biasa" yang sejatinya juga sudah amat kencang. Chip ini punya CPU octa-core berbasis Kryo 485 dengan maksimum clockspeed 2.95GHz. Dalam membangun chip ini. Qualcomm menggunakan teknologi fabrikasi 7nm yang diatas kertas akan membuatnya lebih powerful sekaligus tetap hemat daya.

Ditambah dukungan dari RAM LPDDR4X berkapasitas 8GB sampai 12GB, serta penyimpanan UFS 3.0 berkapasitas 128GB sampai 512GB yang akan membuat performa multitasking serta kecepatan membaca dan menyimpan data menjadi lebih optimal. Iya iya, saya tahu anda butuh pembuktian. Sama seperti wanita-wanita diluar sana yang menunggu dilamar karena sudah bosan digombalin terus. Nih, sudah saya siapkan hasil pengujian performanya:



Jika anda mengikuti perkembangan gadget, tentu anda sudah tahu bahwa ada beberapa smartphone lain yang lebih mahal, yang juga menggunakan chipset dan kapasitas RAM yang sama. Lalu, bagaimana bisa ROG Phone 2 memiliki performa yang mengungguli semua smartphone lain tersebut? Jawabannya adalah karena ROG Phone 2 tak hanya mengandalkan bagian hardware, tapi juga mengoptimalkan software nya. Yaitu dengan penerapan ROG UI yang punya segudang fitur pendukung gaming. Termasuk di dalamnya adalah fitur X-mode yang berguna untuk meningkatkan performa dari smartphone ini.

Tapi, menurut yang punya hape ROG Phone 2 yang saya pinjam ini, sebaiknya kita pakai aksesori original seperti AeroActive Cooler yang merupakan kipas pendingin aktif eksternal jika kita ingin merasakan performa yang optimal saat X-mode diaktifkan. Karena kalau pakai mode ini, ROG Phone 2 akan terasa lebih panas dari normalnya akibat performa yang ditingkatkan tersebut.

Walau demikian, menurut saya tanpa X-mode pun sebenarnya hape ini sudah sangat powerful. Ia mampu menjalankan berbagai game dengan amat lancar di settingan grafis rata kanan. Dan demi menjaga temperatur agar tetap di batas aman saat digunakan bermain game, ROG Phone 2 juga punya sistem pembuangan panas dengan teknologi 3D Vapor Chamber yang terhubung ke heatsink. Nantinya, panas yang diterima oleh heatsink akan dilepaskan melalui ventilasi yang terdapat di bagian belakang body ROG Phone 2. Sehingga, panas yang dihasilkan oleh chipset super kencang tersebut tidak terjebak di dalam smartphone.



2. Layar


Pernah dengar nyinyiran netizen untuk para pemilik supercar? "Itu yang punya mobil super kenceng, mau ngebut dimana?". Nyinyiran yang menurut saya cukup beralasan. Yang menggambarkan betapa mubazirnya performa super dari mobil-mobil tersebut di jalanan Indonesia. Kecepatan mobil yang seharusnya bisa mencapai lebih dari 250km/jam itu tak akan bisa dirasakan benefitnya di tengah padatnya lalu lintas di Indonesia.

Hal serupa sebenarnya juga terjadi dalam dunia smartphone. Hampir semua smartphone flagship yang beredar saat ini memang punya performa tinggi. Tapi, mereka masih menggunakan layar dengan refresh rate standar yaitu 60Hz. Sehingga, mau setangguh apapun performanya saat digunakan bermain game, layarnya hanya mampu menampilkan animasi pergerakan game hingga maksimal 60 frame per detik saja. Lalu, untuk apa punya performa tinggi kalau tampilan layarnya tak bisa diajak ngebut? Mubazir!

Inilah hal yang membuat ROG Phone 2 berbeda dengan smartphone lain. Karena performa ngebut dari dapur pacunya akan dapat ditampilkan secara optimal. Berkat layar AMOLED beresolusi Full HD+ di hape ini yang sudah mendukung refresh rate hingga dua kali lebih cepat dibandingkan layar hape pada umumnya, yaitu 120Hz. Yang artinya, layar tersebut mampu menampilkan animasi pergerakan pada game hingga 120 frame per detik. Sehingga benefit performa tinggi dari hape ini akan bisa kita rasakan secara nyata dan terasa sangat berbeda.



Bukan cuma buat game sih. Karena saya rasa pergerakan di layarnya ini juga terasa sangat mulus ketika kita melakukan scroll pada tampilan layar. Jadi bisa disimpulkan bahwa layar dari ROG Phone 2 juga sangat menyenangkan untuk aktifitas rebahan sambil scroll layar. Anak socmed pasti suka.

Masih soal tampilan layar. Panel yang digunakan oleh ROG Phone 2 sudah didukung dengan teknologi 10-bit HDR. Dan memiliki tingkat reproduksi warna sebesar 100% pada color space DCI-P3. Yang artinya, akurasi warna yang ditampilkan adalah sesuai dengan apa yang ingin dihadirkan oleh developer game.

Kenyamanan saat mengontrol permainan juga mendapatkan perhatian khusus bagi ASUS sebagai pembuat hape ini. Mereka mengklaim bahwa waktu respon yang dibutuhkan setelah pemain menyentuh layar adalah hanya dalam waktu 49 milidetik saja! Pemain juga bisa mengontrol permainan dengan lebih akurat karena layar sentuhnya ini punya touch sampling rate secepat 240Hz. Dengan demikian, layar dapat merespon sentuhan dan pergerakan jari dengan sangat cepat. Sesuatu yang juga saya rasakan sendiri saat bermain game.

3. Fitur Pendukung Gaming

Kalau kamu merasa bahwa apa yang sudah saya sebut tadi sudah lebih dari cukup untuk mendukung urusan gaming, maka tunggulah sampai kamu mencoba fitur AirTrigger pada ROG Phone 2. Fitur ini mirip seperti tombol L1 dan R1 pada controller console game. Letaknya juga persis berada di bagian atas ketika kita menggunakan hape ini dalam mode landscape. Peletakannya pun saya rasa sudah tepat karena ia berada persis dimana jari telunjuk saya sandarkan.

AirTrigger bukan merupakan tombol fisik. Namun akan ada sedikit feedback berupa getaran saat ia mendeteksi adanya input. Menurut keterangan dari ASUS, ia menggunakan sensor sentuh ultrasonic yang mampu mendeteksi dan membedakan antara input tap dan juga input slide (geser). Uniknya lagi, kita bisa mengatur sensitifitas dari sensor ini, lho!

Ia takkan merespon jika kita hanya meletakkan jari diatasnya. AirTrigger baru akan merespon jika ia mendeteksi adanya tekanan. Nah, kekuatan tekanan inilah yang bisa kita atur sensitifitasnya. Sesuai dengan preferensi dari masing-masing pemain. Selain dapat terhindar dari resiko salah input, kenyamanan pemain dapat tetap terjaga karena jari telunjuk tidak harus terus diangkat.



Fungsi dari AirTrigger sendiri bisa dibilang merupakan pintasan yang bisa kita setting untuk bantu menyentuh bagian pada layar yang juga bisa kita tentukan dengan leluasa. Misalnya, AirTrigger bagian kanan bisa kita setting untuk menekan tombol scope, sedangkan AirTrigger bagian kiri kita setting untuk menekan tombol tembak. Bagi saya yang terbiasa menggunakan kontrol dua jari saat main game fps macam PUBG Mobile, fitur ini amat sangat membantu untuk memudahkan dalam mengontrol permainan.  Perpaduan antara respon layar yang cepat serta bantuan dari AirTrigger memungkinkan kita untuk mengendalikan permainan dengan lebih lincah.

Yang membuat ROG Phone 2 bahkan lebih greget lagi, kita bisa mengatur untuk membatasi sinkronisasi background. Sehingga koneksi internet dapat dioptimalkan untuk penggunaan gaming. Dalam pengujian saya, fitur yang bisa kita temukan pada aplikasi Armory Crate tersebut mampu mengurangi latensi koneksi saat bermain game.



Dalam aplikasi Armory Crate, kita juga dapat melakukan berbagai setting yang berkaitan dengan game. Termasuk diantaranya adalah setting sensitifitas AirTrrigger, setting performa hape saat menjalankan masing-masing game, hingga melakukan setting lampu RGB yang ada di bagian belakang body ROG Phone 2. Temperatur serta aktifitas dari CPU dan GPU juga dapat dimonitor dari sini.



Lalu ada pula fitur Game Genie yang bisa kita akses dengan melakukan swipe bagian tepi kiri layar saat bermain game, untuk melakukan setting mapping AirTrigger pada masing-masing games, memblokir notifikasi, mengaktifkan X-mode, hingga melakukan perekaman layar ataupun live streaming. Para yucuber gaming pasti merasa terpanggil nih.

Hadirnya port 3.5mm Jack Audio pada ROG Phone 2 juga akan semakin memanjakan para gamers. Mengingat cukup banyak game populer seperti Mobile Legends dan juga PUBG Mobile yang memiliki fitur voice chat untuk berkomunikasi dengan team. Sebenarnya sih bisa kalau misal ingin mengaktifkan voice chat tanpa earphone atau headset. Tapi, kita tahu sendiri, kan? Terkadang ada saja pemain yang mengeluarkan kata-kata toxic layak sensor saat sedang dalam permainan. Ya malu lah kalau sampai didengar tetangga kosan. Apalagi pada game PUBG Mobile, detail suara bisa sangat mempengaruhi permainan. Karena kita dapat mendengarkan darimana asal bunyi jejak kaki dari musuh.



Dalam pengujian yang saya lakukan, hape ini sanggup untuk digunakan bermain game PUBG Mobile dengan settingan grafis rata kanan selama lebih dari 5 jam. Itupun baterainya masih sisa, lho! Kalau memakai settingan grafis yang lebih rendah serta menggunakan koneksi WiFi, tentu akan bisa lebih lama lagi.

Sedangkan kalau dipakai untuk keseharian tanpa game, baterai berkapasitas 6000 mAh di hape ini sanggup bertahan hingga dua hari lamanya. Baterai jumbo tersebut menurut saya tak hanya akan membuat pengalaman gaming jadi semakin puas, namun juga bermanfaat untuk berbagai hal lain termasuk saat sedang dalam perjalanan jauh.



Berdasarkan keterangan dari ASUS, hape ini punya fitur yang diberi nama HyperCharge Technology yang memungkinkan untuk melakukan pengisian baterai hingga 4.300mAh dalam waktu 56 menit saja. Dengan catatan, ia harus menggunakan charger khusus 30W dari ROG. Sementara charger bawaan untuk versi RAM 8GB adalah 18W.

Keseriusan ASUS dalam membangun  ROG Phone 2 sebagai smartphone gaming semakin terlihat dari dengan dihadirkannya dua opsi port pengisian daya. Yaitu dari bawah ataupun dari samping. Port bagian samping atau disebut juga sebagai side-mouted port akan lebih cocok digunakan untuk melakukan pengisian daya ketika sedang aktif bermain game. Karena, posisi kabelnya takkan mengganggu tangan pemain.

4. Aksesoris Pendukung Gaming


Side-mounted port yang saya sebut tadi tak hanya berguna untuk charging saja. Karena tepat di sebelah port USB Type-C terdapat sebuah custom port yang berfungsi sebagai konektor untuk aksesoris original yang juga disediakan khusus untuk hape ini. AeroActive Cooler adalah aksesori paling sederhana yang merupakan sebuah kipas pendingin untuk menjaga temperatur dari ROG Phone 2 saat X-mode diaktifkan.

Lalu ada Kunai GamePad yang merupakan kontroler fisik berupa tombol dan juga joystick analog yang akan membuat ROG Phone 2 terasa seperti layaknya sebuah gaming console.



Aksesori yang lebih canggih yaitu TwinView Dock II akan memberikan sebuah layar tambahan dan juga baterai tambahan sebesar 5000mAh untuk ROG Phone 2.



Dan yang terakhir ada Desktop Docking yang dilengkapi dengan berbagai port, termasuk diantaranya ada LAN Port, HDMI, Display Port, Audio Jack, dan juga 4 buah USB 3.1 yang memungkinkan kita untuk mengontrol game menggunakan Mouse, Keyboard dan juga bisa menghubunkan dan menampilkan permainan di monitor eksternal. Wah, ini hape, atau PC portable?


5. Kamera

Walau ROG Phone 2 difokuskan untuk gaming, bukan berarti fitur kamera akan dilupakan begitu saja. Dan ya, buat travel blogger wanna be seperti saya, fitur ini amat sangat membantu dalam mengabadikan momen sebagai backup jika saya tak sempat mengaktifkan kamera dengan cepat. Atau, saat saya tak ingin ribet untuk membawa kamera DSLR yang cukup memakan ruang. Sehingga, peranan fitur kamera pada sebuah smartphone saya rasa menjadi cukup penting.

Kabar baiknya, ROG Phone 2 juga telah memiliki kamera dengan sensor Sony IMX586 beresolusi maksimal 48 megapixel. FYI, sensor tersebut adalah sensor yang juga banyak digunakan oleh smartphone kelas flagship. Ia memiliki teknologi yang disebut sebagai Quad-bayer technology. Fungsinya adalah untuk membuat hasil foto terlihat lebih cerah dengan menggabungkan 4 buah piksel menjadi satu. Dengan resolusi efektif adalah 12 megapixel.



Lensa yang digunakan adalah 6p Largan Lens ber-aperture f/1.79. Keuntungan dari aperture lensa yang besar tersebut adalah untuk dapat menangkap lebih banyak cahaya saat berfoto di area low light. Menariknya, aplikasi kamera pada smartphone ini juga sudah memungkinkan untuk melakukan setting manual pada ISO, shutter speed, fokus, hingga white balance, layaknya sebuah kamera mirrorless atau DSLR.

Fitur EIS alias Electronic Image Stabilization pada ROG Phone 2 juga sangat terasa manfaatnya ketika saya coba mengambil video sambil berjalan. Biar hasil videonya nggak kebanyakan gempa gitu. Siapa tau nanti bisa merambah ke dunia yucup juga yakan? Bisa record resolusi 4K 60fps, Timelapse, sampai slow motion 480fps pun ada.

Kalaupun misalnya ingin mengambil foto atau video panorama, ROG Phone 2 juga punya sebuah kamera wide-angle dengan sudut pandang 125 derajat beresolusi 13 megapixel. Lengkap dengan mode manual juga. Kamera depannya? 24 megapixel, ada mode kamera jahatnya, tapi harus diaktifkan terlebih dahulu. Berikut adalah hasil fotonya.






Kesimpulan


Gimana? Setelah baca ini, hapemu sudah berasa seperti hape kentang belum? Performa tinggi, tampilan output layar juga ngebut, kontrol akurat dan cepat, terus, fiturnya lengkap banget lagi. Saya yang cuma main game sesempatnya saja jadi betah pakai ROG Phone 2. Apalagi kamu, yang doyan nge-game berjam-jam?

Untuk keseharian pun oke. Karena ia punya fitur yang masih bisa dimanfaatkan untuk aktifitas non gaming. Misalnya soal ketahanan baterai, dan juga kameranya. Dengan baterai jumbo itu, sepertinya tak perlu khawatir akan lobat saat ingin mengambil banyak footage. Ya, saya belum coba, sih. Terlebih lagi, kapasitas penyimpanannya juga jumbo. 128GB cuy! Masalahnya cuma satu: hape ini agak berat. Jadi, pastikan kalian menggenggamnya dengan benar. Karena kalau sampai terlepas dan jatuh... Duh, jangan dibayangin deh! Ngeriii ...

#ASUSROGID #ASUSROGPhoneII #SmartphoneGamingPalingKeren
Finally, sampai juga saya di Filipina. Ini adalah negara ASEAN ke-7 yang saya sambangi. Sejujurnya trip ini tidak berjalan seperti yang saya mau. Karena di itinenary awalnya saya dan teman-teman memasukkan wisata pantai dan pulau-pulau ke El Nido, Palawan. Tiket promo dari Cebu Pacific PP Jakarta-Manila-Jakarta pun sudah diamankan dengan harga dibawah satu juta rupiah saja!

Lalu seperti kehidupan pada umumnya, keadaan “manusia hanya berencana takdir Tuhan lah yang menentukan” terjadi pada rombongan kecil kami. Beberapa orang mundur dari trip ini, lalu menyebabkan biaya yang membengkak jika harus dipaksakan ke El Nido. Saya bongkar itinenary, selama sembilan hari di Filipina diputuskan untuk sight seeing Manila dan Tagaytay saja. Dan hasilnya justru teman-teman saya akhirnya hanya tinggal bertiga yang benar-benar berangkat ke Manila. Ada yang tidak berminat kalau hanya traveling ke Manila dan sekitarnya saja, ada juga yang mebatalkan karena berita tentang corona virus yang kian hari semakin memburuk. Terkait soal corona virus di Filipina akan saya bahas sedikit di postingan ini, so, keep reading yak!

Saya katakana tadi saya sembilan hari di Manila dan Tagaytay. Waktu yang terbilang lama untuk ukuran bobot itinenary yang ‘cuma’ memasukkan dua kota di Filipina, tanpa ada wisata biru-biru angin sepoi dan indahnya pasir pantai yang mestinya jadi menu wajib jika traveling ke negara kepulauan. Sangat disayangkan memang saya melewatkan El Nido, tapi mau bagaimana lagi, keterbatasan budget menjadi handicap yan tidak bisa dikompromikan. 
Mabuhay!


Daripada tiket promo hangus dan saya benar-benar kehilangan kesempatan ke Filipina yang entah kapan datang lagi, sembilan hari hanya di Manila dan sekitarnya pun tak apa. Toh masih ada yang bisa saya dapatkan dari sembilan hari traveling di negara olahraga basketnya jago banget ini.

Saya mencoba mengumpulkan fakta-fakta menarik tentang Manila secara khusus, dan mungkin tentang Filipina secara umum menurut sepengamatan saya. Berikut fakta-faktanya, nomor lima akan membuatmu biasa saja:

1. PALING MIRIP INDONESIA, PALING MIRIP JAKARTA   
Pergilah ke Malaysia atau Singapura, di sana bahkan petugas di bandaranya bisa menebak kita orang Indonesia, atau setidaknya bukan dari negara mereka tanpa kita menujukkan paspor. Tapi di Manila tidak begitu. Saya baru menyadari bahwa secara ciri-ciri fisik, orang Indonesia bagian barat hingga tengah itu paling sama dengan Filipina. Di Manila setiap saya berbicara, membeli sesuatu, menanyakan lokasi, bayar angkutan umum, pasti diajak ngomong pakai bahasa Tagalog. Biasanya berujung mereka bete karena sudah berbicara panjang lebar, saya hanya membalas, “Sorry, I don’t speak Tagalog”. Ini tidak terjadi sekali-dua kali, tetapi di sepanjang perjalanan saya di Filipina. Awalnya saya kira yang peling dekat ciri-ciri fisiknya dengan kita adalah rumpun Melayu di Malaysia, ternyata bukan. Kita lebih mirip, bahkan sama, dengan orang-orang Filipina. Saat antri beli tiket masuk Fort Santiago, saya teman-teman bahkan disuruh antri di antrian turis lokal.

Itu dari segi ciri fisik manusianya. Fisik kotanya juga nyaris sama dengan Jakarta. Komposisi gedung-gedungnya, crowd-nya, Jakarta hanya unggul sedikit soal intensitas kemacetan lalu lintas. Misalnya Doctor Strange iseng memakai kekuatan teleportasinya ke seseorang dengan memindahkan orang itu dari Jakarta ke Manila, itu orang selama beberapa saat tidak akan sadar sudah berpindah negara. Manila ada MRT, Jakarta punya punya. Manila punya Bonifacio Global City, yang mirip plek plek sama kawasan SCBD, Sudirman, Thamrin. Di Manila ada America Cemetary, di Jakarta ada Ereveld Menteng Pulo. Berburu senja di Ancol? Di Manila Bay juga bisa! Setiap baliho, neon box, hingga papan pengumuman ditulis dengan huruf latin dan sebagian besar bahasa Inggris, jadi masih similar dengan Jakarta. Beda dengan di Bangkok, Ho Chi Min, atau mungkin Pnom Penh yang bisa langsung dikenali karena sebagian besar aksara di sana menggunakan huruf palawa dan Vietnam. Di kedua kota ini, Manila dan Jakarta, juga tumbuh subur mall dari mulai kelas ITC sampai kelas premium yang luasnya nyusahin kuli bangunan pas bikin itu mall. 


2. TENTANG CORONA VIRUS DI FILIPINA  
Saya berangkat ke Filipina ketika berita tentang corona virus sedang menguasai di hampir semua kanal berita. Filipina adalah salah satu negara yang sudah dikonfirmasi terpapar virus ini. Hingga tulisan ini dipublish, ada tiga pasien yang positif terjangkit dan satunya meninggal dunia. Tidak takut? Ya takut, dong. Sehari menjelang berangkat saja banyak yang mengingatkan saya. 

Tetapi mengapa saya memutuskan tetap berangkat? Sebagian besarnya, sih, karena belum ada semacam travel advice dari kedua negara baik Indonesia atau Filipina yang merekomendasikan untuk tidak bepergian ke Filipina. Artinya kedua negara masih pede untuk tetap membuka diri saling mengunjungi. Saya percaya saja, karena isu global yang WHO saja turun tangan, kedua negara pasti tidak main-main dengan keselamatan warga dan pengunjung. Pendeknya, saya tidak bilang menjamin Filipina aman dari corona virus, tetapi dibanding Singapura, Thailand, dan Malaysia, Filipina is clearly safer to visit.

Upaya di Filipina juga cukup antisipatif terhadap corona virus ini. Sesaat setelah mendarat di Ninoy Aquino International Airpot, ada screening suhu tubuh. Di semua tempat umum seperti hostel, mall, tempat wisata bertebaran pampflet atau selebaran tentang informasi pencegahan penyebaran virus yang berawal dari Wuhan itu. Pengecekan suhu tubuh juga dilakukan di tempat-tempat yang saya sebutkan di atas, lalu sebelum masuk pengunjung wajib membasuh tangan hand sanitizer.


3. MAKAN JUNK FOOD DENGAN SENDOK-GARPU
Gerai junk food sangat tumbuh subur di Manila, bahkan saya menganggapnya seperti tidak terkendali. Restoran seperti McD dalam satu kawasan bisa berjarak hanya hitungan satuan meter. Itu belum gerai lain seperti KFC, dan Junk Food lokal Filipina yang terkenal, JolliBee. Herannya, walaupun jarak antar gerai begitu rapat, tetapi tidak pernah ada yang sepi alias laku semuanya. Orang Filipina kayaknya terobsesi makan ayam goreng tepung dan minum cola.

Hidangan junk food di Filipina disajikan lengkap dengan sendok dan garpu. Pertama kali melihat itu, WHAT??? APA ENAKNYA MAKAN PAKET NASI AYAM DUA PAKAI SENDOK GARPU?!?!?! PERLU GUE PANGGIL PSIKOLOG GAK SIH, INI?. Ini membuat saya yang dari Indonsia, kalau makan junk food model KFC pakai tangan, terlihat amat bar-bar di mata warga lokal. Gila sih, apa rasanya makan ayam KFC tidak sampai tulang-tulangnya , coba?

4. TIDAK ADA KULINER ENAK 
Entah saya yang kurang eksplor atau bagaimana, tetapi selama sembilan hari di Filipina saya tidak pernah menjumpai makanan enak. Ada sih yang lumayan enak, semacam nasi goreng pingir jalan dengan beef soup, itu pun jadi enak karena ada kecap dicampur sama bawang goreng. Selebihnya, flat.

Di daerah Makati, sebuah kawasan terkenal di Manila, harapan sempat timbul ketika saya makan di sebuah bazaar street food. Beraneka daging mulai dari yang halal, sampai yang membawa kita selangkah lebih dekat kepada api neraka tersedia. Saya memesan tumis cumi-cumi karena sepertinya menggoda sekali. Oke, pesan.

“Spicy, sir?” Tanya yang dagang.

“Very spicy!” Jawab saya. Sekadar informasi, saya tidak suka pedas, tapi selama hampir seminggu makan dish yang tidak memiliki identitas rasa yang spesifik, makan superpedas boleh dicoba.

Tumis cumi datang. Tampilannya menggoda, terlihat sangat apetizing untuk dimakan pakai nasi panas langsung dengan tangan.

Coba sesuap, 
Gak ada rasa.


Sesuap lagi, 
Masih. Belum. Ada. Rasa.


Sesuap lagi,
Gue tadi pesen cumi pedes, apa hubungan yang udah dua tahun tapi udah saling bosen, sih? Hambar gini.


Sesuap lagi,
PENGEN NGAJAK RIBUT YANG JUAL YA ALLAH, TAPI HAMBA BUKAN ANAK KAMPUNG SINI *CRY*

Rasa flat yang biasa saja itu bukan hanya pada makanan, tetapi minuman juga. Saya sempat mencoba boba-bobaan, dan es kelapa beraneka rasa dan rasa manisnya hanya sampai diujung lidah. Kayaknya orang Filipina kalau nyobain Kopi Kenangan langsung pada diabetes. Ngopi di café juga begitu, kopi dan gula terpisah, kalo kopinya kurang manis tinggal tambah gulanya. Di sini problemnya, mau ditambahin gula berapa sendok pun kopinya tidak mau manis. Sudahlah, kayaknya selera kuliner orang Filipina memang yang flat-flat saja.


5. TENTANG BIOSKOP 
Untuk membunuh waktu sebelum kepulangan ke Jakarta, saya memutuskan untuk nonton. Waktu itu nonton Sonic The Hedhog yang lebih cepat beberapa hari rilisnya dari Indonesia. Yang menarik adalah, harga tiket bioskop di Filipina ini beda-beda tergantung film. Film Hollywoood baru keluar biasanya yang paling mahal, diikuti film Hollywood lama tetapi masih ada ditangga box office, dan yang paling murah adalah film asia atau lokal.

Kalau dipikir, strateginya oke juga. Film lokal sama film luar memang harusnya harganya beda, karena biayanya kan juga beda. Film lokal secara hitung-hitungan umum pasti lebih murah biayanya dari film luar yang harus diimpor, kena pajak, dan kendala distribusi lainnya. Ini membuat tiket film lokal lebih murah, dan itu memberi stimulus untuk orang mempertimbangkan nonton film lokal. Secara tidak langsung, penetapan harga seperti ini bisa jadi insentif buat film lokal. Bagaimana? Mau menirunya kah XXI, CGV, dan Cinepolis?

Oh iya, bioskop di Filipina tidak ada subtitle-nya loh, ya. Jadi pastikan kalau mau nonton di sini kita mengerti bahasa filmnya, kalau saya memutuskan nonton Sonic karena berbahasa Inggris. Tidak jago bahasa Inggris sih saya, tapi dibandingkan harus nonton film lokal berbahasa Tagalog atau film Korea, film berbahas Inggris jelas lebih masuk akal. Dan di daerah Makati, bioskop bahkan di gratiskan untuk manula.

Masih banyak sih sebetulnya fakta-fakta tentang Filipina ini. Akan saya ceritakan di posting berikutnya. Stay tune terus di blog kesayangan…kesayangan siapa hayoooo? =)



“Apa prestasi kamu sampe berani-beraninya ngelamar anak saya?”

“Saya waktu liburan ke Yogya gak ke Malioboro, Pak.”

“Mantap! Kamu menantu yang selama ini saya cari, fix, besok kita DP gedung!”

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Yogyakarta dan Malioboro memang bagai dua sisi mata uang. Seperti Julius Caesar dan Kota Roma. Laksana Leonel Messi dan FC Barcelona. Seolah jika keduanya dipisahkan, salah satunya akan kehilangan fungsi. Malioboro menjadi tolak ukur itinenari para wisatawan, dan pasti masuk rundown acara study tour sekolah-sekolah yang berkunjung ke Yogyakarta. Tepat di pusat kota, suasana yang nyaman, dekat dengan Pasar Beringharjo, dan romantisme tak berujung adalah sedikit dari melimpahnya alasan mengapa jika ke Kota Pelajar, maka harus ke Malioboro.

Namun, ketika saya terakhir ke Yogyakarta, tanpa sadar saya melewatkan Malioboro. Ternyata perjalanan saya tetap asyik, tetap berkesan, dan syukurnya mendapat nilai lebih berupa pengetahuan baru. Saya juga menemukan tempat-tempat baru dan kegiatan ‘alternatif’ yang sepertinya underrated jika dibandingkan dengan kedigdayaan turisme Malioboro.

Berikut adalah hal-hal yang saya lakukan selama berlibur di Yogyakarta tanpa ke Malioboro:

1. Makan di Gudeg Sagan
Ya namanya juga di Yogyakarta, kalau wisata kuliner, gudeg pasti ada dalam daftar ‘sikat’. Walaupun ada beberapa orang yang mungkin tidak begitu menyukai panganan dengan rasa dasar manis ini. Gudeg Sagan sangat saya rekomendasikan untuk dikunjungi. Rasa keseluruhannya masih bisa ditolelir oleh orang yang tidak menyukai gudeg karena manisnya. Bahkan sambalnya ada tingkatan kepedasannya. Menu protein utamanya ada ayam, ati ampela, dan telur yang bisa dicampur harmonis dengan krecek, nangka, dan tahu goreng dengan tekstur juicy. Harganya paling tinggi Rp. 34.000 untuk satu porsi gudeg dengan dada ayam. Gudeg Sagan ini terletak di Jl. Herman Yohannes, atau lebih dikenal dengan Jalan Sagan. Patokannya adalah permpatan Rumah Sakit Bethesda dan Galeri Mal. Soal hype, Gudeg Sagan memang masih kalah dengan Gudeg Yu Djum atau Gudeg Pawon. Tapi soal rasa, dan mungkin harga, Gudeg Sagan sangat bisa bersaing. 



2. Ngopi di Kopi Kumpeni
Bagi yang mewajibkan waktu minum kopi ketika berlibur, bersyukurlah karena kini Yogyakarta punya banyak sekali tempat ngopi dengan berbagai macam konsep dan rasa. Jika kegiatan berlibur bersinggungan dengan lokasi yang dekat dengan kawasan Kauman, cobalah mampir ke Kopi Kumpeni. Kedai sederhana ini berada di gang yang berseberangan dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Pencahayaan tungsten yang lembut akan menyambut begitu kita masuk melalui pintu depan bergaya kolonial. Furnitur beraksen tua menguatkan jalinan atmosfer suasana dengan nama kedai ini yang berbau istilah masa lampau. Pewarnaan dinding, lantai, dan kusen-kusen dengan dominan krem diselingi strip-strip hijau mempertegas kesan etniknya. Ruang kerja barista yang dibiarkan terbuka adalah sebuah zona pertemuan antara tradisional ambiance dengan modernitas. Di tengah furnitur bercorak jaman dulu, berjejer alat-alat pembuat kopi masa kini, moka pot, rok presso, french press, aeropress, V60, Vietnam drip, syphon, dan satu mesin kopi otomatis.

Saya hanya penikmat kopi, jadi hanya bisa memberikan pendapat sebatas bahwa rasa kopi di sini jelas tidak mengecewakan. Ada es krimnya juga. Harganya berkisar antara 15-25 ribu rupiah. Saya, sih, suka suasananya. Entah karena kedai kopi ini belum begitu dikenal atau apa, tetapi suasana hening dan sepi di kedai ini bikin betah. 



3. Ikut Walking Tour
Yogyakarta adalah kota dengan sejarah menakjubkan. Sayang sekali jika ke sini tapi tidak pernah tahu apa yang membuat kota ini ditakdirkan menjadi seperti sekarang. Mengikuti walking tour yang diadakan oleh Jogja Goodguide adalah sebuah pilihan tepat jika ingin mencari tahu tentang sejarah Kesultanan Ngayogyakarta. Ada beberapa spot-spot penuh cerita mulai dari mitos, legenda, hingga bukti sejarah sahih yang bisa dikunjungi. Saya mengunjungi Kota Baru, Kota Gede, dan Kauman. Di Kota Baru saya jadi tahu bahwa kawasan ini dibangun Belanda dengan Menteng (di Jakarta) sebagai contoh konsepnya. Kota Gede bercerita tentang Panembahan Senopati dengan Mataram Islamnya. Kauman menginspirasi saya lewat kisah tokoh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.

Wisata model seperti ini ke depannya saya prediksi akan mendapat banyak tanggapan positif. Perpaduan antara konsep wisata sejarah dan Yogyakarta adalah kombinasi sempurna untuk sebuah konten wisata edukasi. Bayangkan, kita bisa mengulik sejarah dari kesultanan yang masih eksis selama berabad-abad dan menjadi satu-satunya kerajaan di nusantara yang secara de facto maupun de jure, rajanya masih mempunyai kuasa atas rakyatnya. Istimewa!

4. Belanja di Pasar Kangen
Saya kurang tahu, apakah Pasar Kangen ini rutin buka atau karena event tertentu saja. Pasar ini letaknya di sebelah Taman Pintar. Seperti namanya, pasar ini menjual pernak-pernik dan segala sesuatu yang membuat kita kangen masa lalu. Vinil, kaset pita, jam tangan Kura-Kura Ninja, Brisk, action figur, komik-komik Gundala dan kawan-kawan, tustel, prangko, hingga poster-poster dengan gambar bintang film angkatan Chuck Norris masih magang semuanya ada. Kualitas barangnya tentu sudah tidak prima lagi, tetapi nilai nostalgianya mampu membuat pengunjung merogoh kocek untuk belanja. Milenial kelahiran 2000 ke atas pasti bingung masuk ke sini. 



5. Menginap di Kawasa Prawirotaman
Nah, biasanya kalau yang sedang berlibur ke Yogya pasti memilih Malioboro sebagai lokasi menginap karena dekat ke mana-mana. Coba sesekali untuk menginap di hostel-hostel budget di kawasan Prawirotaman. Saya pernah menuliskan review untuk satu penginapan bagus di kawasan ini. Ada apa di sini? Ada banyak bule backpackeran. Kalau di Malioboro biasanya bule keren-keren sekeluarga belanja-belanja fancy, di sini akan sering bertemu dengan bule singletan, sandal jepit, celana pendek, sedang mencari bar.

Di kawasan ini juga ada yang hype. Yaitu es krim Tempo Gelato yang memiliki rasa es krim kemangi, cabai, rendang. Ada juga restoran Via Via yang katanya tempat syuting Ada Apa Dengan Cinta 2, betul tidak, sih? Di scene yang mana, ya?



Nah, sekian liburan saya di Yogya tanpa ke Malioboro. Tetap asyik, walau tidak beli oleh-oleh =)
author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.