Lebih Produktif Dengan Angkutan Umum

Untuk sebagian orang Jakarta, masalah hidup sudah dimulai ketika membuka mata di pagi hari setelah mimpi indah. Tidak bisa mereka bersantai sejenak, sarapan di meja makan bersama keluarga, baca Koran pagi, atau mencium anak-anak yang akan berangkat sekolah. Karena mereka harus segera bergerak sebelum matahari terbit, berlomba dengan satu momok menakutkan bernama macet.

Yang berdomisili di kota penyanggah ibu kota namun bekerja di Jakarta lebih parah lagi. Masalah sudah menghantui bahkan sejak mereka hendak pergi tidur, belum mimpi sudah harus berpikir jalur mana kira-kira yang akan ditempuh demi menghindari kemacetan besok. Akibatnya kualitas tidur seadanya dan kinerja yang menurun di tempat kerja.

Macet memang sudah menjadi masalah mengakar di Jakarta. Sebuah dampak wajar dari sebuah kota berpredikat pusat perekonomian, dan pemerintahan. Di kota-kota besar dunia dengan sentralisasi ekonomi dan pemerintahan di satu kota, pasti merasakan hal serupa. Yang berbeda adalah tingkat, durasi, dan kebijakan pencegahannya.

Kuala Lumpur memiliki bus Go KL yang gratis agar warganya mudah dan tertarik menggunakan angkutan umum. Singapura memanjakan penduduknya dengan transportasi canggih, nyaman, terintegrasi dan sistem satu kartu untuk pembayarannya. Negara-negara Eropa begitu rapih dengan kereta bawah tanahnya yang bahkan bisa lintas negara. Dan yang familiar di Bogota, Kolombia misalnya, menerapkan sistem transportasi bus dengan jalur khusus dan rute menggurita. Dan lalu sistem ini diadopsi oleh Pemerintah DKI Jakarta di era Gubernur Sutiyoso bernama Transjakarta. 
Di Solo, bus umum bisa dijadikan intrumen Pariwisata

Bus antarnegara Kamboja-Laos
Waktu pertama diluncurkan, saya optimis Transjakarta ini mampu memecahkan masalah kemacetan di ibu kota. Namun, seiring dinamika Jakarta, ternyata masalahnya bukan hanya di internal Jakarta saja. Daerah penyangga Jakarta juga ikut punya andil dalam menjadikan kemacetan sebagai hantu bagi tiap stake holder transportasi. Perlahan pamor Transjakarta sebagai solusi kemacetan redup.

Saya menghadiri diskusi bersama BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek) dan jajarannya, Senin, 16 April 2018, tentang sebuah premis mengapa kita harus beralih ke angkutan umum. Kepala BPTJ, Pak Bambang Prihartono, menyadari belum optimalnya peran Transjakarta. Ada 48 juta pergerakan perpindahan moda transportasi setiap hari di Jabodetabek. Sebagian besar menuju Jakarta pada pagi hari, dan keluar Jakarta sore harinya.

Untuk menyiasatinya, BPTJ sang pemegang peran dalam ketertiban bertranpostasi di Jabodetabek membuat beberapa kebijakan. Yaitu penerapan sistem ganjil-genap di tol yang sekiranya memiliki beban terbesar volume kendaraan yang melintas. Yang sudah diterapkan adalah di tol Cikampek-Jakarta, di mana kendaraan berplat ganjil atau genap sesuai tanggal sudah harus diseleksi di gerbang tol Bekasi Barat dan Bekasi Timur pada jam 06.00-09.00.

Kebijakan ini diambil selain untuk mengurangi beban banyaknya volume kendaraan, juga untuk mengubah pola pergerakan masyarakat yang tadinya pergi kerja dengan kendaraan pribadi, beralih ke angkutan umum. Karena itu BPTJ membuka layanan Transjabodetabek Premium lengkap dengan fasilitas park and ride di mall-mall yang dekat dengan gerbang tol terimbas ganjil-genap.

Di sini akan terjawab mengapa kita harus beralih ke angkutan umum. Karena dengan beralih ke angkutan umum, produktifitas jelas meningkat. Khususnya untuk para pekerja, karena imbas dari macet ini sebagian besar berdampak pada pekerja produktif di Jakbodetabek. Ada beberapa alasan kenapa produktifitas bisa meningkat, misalnya:

1. Lebih Hemat
Dengan adanya Transjabodetabek Premium, pennguna mobil pribadi mengeluarkan ongkos PP Rp. 20.000 (sekali jalan Rp. 10.000) dan parkir seharian di tempat yang telah ditunjuk seharga Rp. 10.000. Satu hari Rp. 30.000. Bayangkan jika dengan mobil pribadi, bisa lebih. Bensin, tol, dan parkir per jam di tempat tujuan jika ditotal biayanya bisa lebih dari Rp. 50.000. Coba dikalikan dengan hari kerja dalam sebulan, sebuah angka penghematan yang tidak sedikit. Lebih hemat berarti menambah daya ekonomis , dan saving.

2. Kinerja Lebih Baik
Ketika naik angkutan umum, berarti kita hanya tinggal membayar dan menunggu hingga sampai tujuan. Apalagi di Transjabodetabek Premiun dengan fasilitas wifi, bisa sekalian browsing dan update berita terbaru. Sampai kantor pikiran masih fresh, badan masih bugar karena tidak harus stress memikirkan jalur macet, atau betis yang pegal karena bekerja keras menahan pedal kopling atau rem. Otak yang segar, dan fisik yang bugar membuat kinerja jauh lebih maksimal saat bekerja.

3. Ketepatan Waktu
Transjabodetabek dan Tranjakarta terus berbenah. Baik dari sisi penambahan armada atau revitalisasi halte. Ketika koridor 13 Transjakarta jurusan Ciledug-Blok M, saya sampai pindah tempat kos ke Ciledug dari Kalideres. Karena melelahkan sekali bermotor dari Kalideres ke Mampang, kantor saya berada. Koridor 13 ini merupakan jalur layang yang sudah terjamin steril dari kendaraan selain Transjakarta, jadi bebas macet. Transjabodetabek Premium pun di saat jam ganjil-genap mempunyai jalur khusus. Kombinasi cukupnya armada dan bebas hambatan membuat ketepatan waktu sampai ditempat tujuan jadi lebih pasti. Semakin sedikit waktu terbuang dan para atasan akan jarang mendengar alasan bawahan yang datang terlambat karena macet.

Memang masih banyak kekurangan yang tidak bisa diabaikan BPTJ supaya populasi 60% pengguna kendaraan pribadi bisa ditekan ke angka seminimal mungkin. Misalnya perlunya revitalisasi atau penambahan fasilitas di halte-halte Transjakarta. Taruhlah saya mengeluh, tapi halte Transjakarta di Ciledug, Puri Beta, sangat tidak proper. Haltenya kecil, padahal peminatnya banyak. Jalur antrean penumpang ke Blok M dan ke UKI jadi satu, sehingga desak-desakkan tak terhindarkan. Terkadang bus ke Blok M sudah tersedia, tapi yang ada di antrean depan adalah penumpang yang ke UKI. Penumpang Blok M-nya masih jauh di belakang.

Yang kedua adalah masalah parkir bagi pengendara motor. Para pengelola parkir, khususnya yang dikelola swasta, menerapkan tarif yang cenderung semena-mena. Di tempat saya misalnya, tarif parkir tadinya Rp.5.000 per hari bagi motor. Lalu naik jadi Rp. 8.000 per hari. Mari hitung-hitungan, ongkos Transjakarta untuk round trip adalah Rp. 7.000, lalu parkir Rp. 8.000, jadi sehari kami harus keluar uang Rp. 15.000. Jika naik motor, Rp. 15.000 bisa untuk dua hari. Ya untuk apa naik kendaraan umum kalo naik motor sendiri masih lebih murah. Tapi bukan kah waktu tempuh jadi lebih cepat? Begini, pengendara motor sebagian besar adalah kelas menengah, di mana margin biaya sekecil apa pun tetap yang utama. Jika pengguna motor tidak mau beralih ke angkutan umum, maka motor akan tetap banyak di jalan non-tol di Jakarta. Kita tahu bersama banyaknya motor juga jadi penyebab kemacetan.

Demikian alasan, pemikiran, dan saran saya soal mengapa kita harus beralih ke angkutan umum. Perubahan perilaku bertransportasi bisa mengubah tatanan sosial, dengan beralih ke angkutan umum saya bisa pastikan produktifitas yang meningkat.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram