Karena Inggris Adalah...

Rabu, Mei 28, 2014

Ada sejembreng alasan untuk seseorang, even buat mereka yang nggak suka jalan-jalan, untuk mengunjungi Inggris. Mulai dari alasan yang paling logis sampe yang paling absurd. Termasuk gue. Gue punya alasan yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan tapi cukup kuat untuk membuat Inggris menjadi tujuan gue.
Why? But, Why not?
Oke, tapi kalo emang harus dijabarkan alasan kenapa gue mesti ke Inggris adalah: Gue belom pernah ke Inggris, makanya mesti kesana. Simpel. Dan menjadi harus ke Inggris karena selain tobat, mengunjungi Inggris masuk dalam kategori ‘harus dilakukan’ sebelom gue mati.
Emang se-worth it apa sih Inggris? Keren banget apa? Untuk jawab pertanyaan itu sih gue bilang relatif. Tiap orang bisa suka, bisa juga nggak. Kalo gue ya udah pasti termasuk yang bilang Inggris itu kerennya very very outstanding!
Kekerenan negara Eropa barat ini dimulai dari bentuk negaranya. Salah satu mimpi gue di bidang traveling adalah, mengunjungi negara dengan bentuk monarki. Alias negara yang ngakuin raja atau ratu sebagai kepala negara. Inggris termasuk dong. Gue suka aja gitu sama negara kerajaan. Bayangin, di saat jaman udah maju gini masih ada populasi manusia yang menganggap seseorang adalah manifetasi Tuhan di dunia dalam bentuk raja atau ratu. Inggris adalah satu-satunya negara adi kuasa yang masih mempertahankan monarki parlementer sebagai bentuk negara. Coba bandingkan sama sekutunya AS yang liberal banget. Monarki di Inggris menjadi lebih punya nilai tambah karena ratu mereka bukan sekedar simbol pemersatu bangsa kayak di sebagian besar negara Eropa bahkan dunia yang bentuknya juga monarki. Ratu Inggris punya kedudukan politis dan pengaruh yang nggak kecil di dunia. Di Inggris atau di luar Inggris, sang ratu dan keluarganya sangat dicintai masyarakat dunia. Unik kan? Makanya gue pengen banget kesono. Nyobain hidup di antara manusia yang sangat mengkultuskan seseorang.
Inggris juga punya segudang identitas yang nggak dimiliki negara lain, khususnya di Eropa. Misalnya soal mata uang. Di saat negara-negara Uni Eropa sibuk mengkonversi mata uang mereka ke Euro, Inggris tenang-tenang aja dan pede tetep pakai Poundsterling. Cuma Poundsterling yang bisa mengimbangi kedigdayaan USD di Eropa. Makanya, gue pengen banget ke Inggris. Seenggaknya sekali seumur hidup dompet gue yang setipis tempe warteg ini pernah diisi oleh lembaran Poundsterling. Poundsteling coy, Poundsterling! Sebab Dollar dalem dompet udah mulai mainstream. Ihiw, asik dah gaya gue.
Apa lagi ya? Oh iya landmark. Bicara soal Inggris nggak enak rasanya kalo nggak ngomongin juga bangunan-bangunan yang jadi simbol negara ini. Inggris adalah negara dimana bangunan modern dan antik bisa berdiri secara harmonis. Siapa yang nggak tau Big Ben yang terkenal itu coba? Nggak usah minder, gue juga nggak tau. Lha wong gue belom pernah ke sana. Tapi pasti sensasinya lebih dari sekedar ‘maknyus’ kalo bisa foto-foto dengan latar belakang London Eye yang futuristik atau fasade gedung parlemen Inggris berhias Big Ben yang seolah masih belum move on dari abad pertengahan. Jadi makin pengen deh ke sana…
Lalu…tentu saja, sepak bola. Ngomongin Inggris, nggak bisa nggak ngomongin si kulit bundar. Inggris adalah tanah lahirnya sepak bola. Turnamen tertua di dunia berasal dari Inggris, yaitu Piala FA. Suporter sepak bola negara mana yang rela menyebrangi benua dengan modal nekat cuma demi nonton timnas mereka main? Jawabannya adalah Inggris dengan Hooligans-nya yang fanatik. Stadion mana di Eropa yang paling punya daya magis dan bergengsi? Jawabannya, lagi-lagi, di Inggris. Yaitu Wembley, stadion yang menjadi saksi sejarah The Three Lions sekali-kalinya (hingga tulisan ini dibikin) ngangkat trofi piala dunia di tahun 1966. Lalu gue nggak boleh ngelupain Old Traffrord. Bukan, gue bukan penggemar Manchester United. Gue penggmar AC Milan. Untuk para Milanisti, Old Trafford di musim 2002/2003 adalah kenangan manis. Di sanalah Paolo Maldini mencium trofi ‘si kuping besar’ untuk yang ke enam kalinya. Ahhh…gue pengen kesana, selfie di depan The Theatre of Dream sambil pakai jersey AC Milan. Top of all, sebagai penggila bola, gue mesti menginjak tanah tempat sepak bola dilahirkan.
Terakhir…kenapa gue mesti ke Inggris adalah untuk mengamalkan ilmu. Belasan tahun gue belajar Bahasa Inggris nyampe lidah keseleo dan itu pun nggak jaminan bisa, masa iya gue nggak minat ke sana? Emang nggak harus ke Inggris sih untuk ngetes gue fasih apa nggak berbahasa British style, tapi alangkah afdolnya kalo bahasa itu bisa gue pakai di negara aslinya.
 Sebagai penutup, muncul pertanyaan. Kenapa Old Trafford dijuluki The Theatre of Dream? Karena setiap pemain bola di seluruh dunia punya mimpi mempertunjukkan bakatnya di sana.  Setiap tim, ingin mempertontonkan drama terbaik di sana. Dan untuk scope yang lebih luas, buat gue Inggris adalah teater impian untuk siapa aja yang punya hobi jalan-jalan. Gue kepengen banget ke sana, untuk menunjukkan apa aja yang bisa gue bawa dari Indonesia. Walopun mungkin cuma menyapa penduduk sana dengan noraknya, “Hi, I’m Iqbal from Indonesia!”
Gue mesti ke Inggris!






You Might Also Like

2 komentar

  1. Kata guru gue.. belajar bahasa inggris memang kudu sampe lidah keseleo. Haha..
    Good luck Iqbal.. I am noe from nowhere :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kabar baiknya, entah kenapa guru bahasa Inggris saya di sekolah selalu cantik. Hahahaha.....Thank you, Mbak. Goodluck for you too... =)

      Hapus

Google+ Badge

Arsip Blog