Wednesday, 2 February 2022

Traveling ke Tagaytay, Wisata Kota Seputar Manila

Tulisan ini dibuat untuk melunasi utang saya kepada sebuah kota yang sebetulnya indah, namun keindahannya tidak muncul saat saya berkunjung ke sana. Tagaytay. Saya traveling ke Filipina sekitar awal tahun 2020, waktu itu kasus Covid-19 belum masuk ke Indonesia. Sebetulnya kota dataran tinggi ini tidak masuk list itenenary saya alias hanya plan B. Awalnya kepingin main di laut Palawan, tetapi karena kawan-kawan seperjalanan banyak yang undur diri dan biaya jadi membengkak, akhirnya saya dan beberapa teman tersisa memutuskan untuk eksplore Manila dan sekitarnya saja.

BACA JUGA: TRAVELING KE FILIPINA: 5 FAKTA TENTANG FILIPINA

Balik lagi soal traveling ke Tagaytay. Jadi apa yang bikin kota ini bisa masuk rencana saya untuk dikunjungi? Jujur, saya hanya bermodalkan Google. Saya punya waktu satu minggu untuk berplesir mengunjungi pulau-pulau tropis di Palawan. Namun, Palawan harus dicoret. Ke mana dong selain ke Palawan? Masak iya satu minggu Cuma ngider-ngider Manila yang katanya tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Ketemulah dengan rekomendasi ke Tagaytay, sebuah kota berjarak kurang lebih 3 jam perjalanan dari Manila.

  • ·       Cara ke Tagaytay

Ke Tagaytay sangat mudah. Sama dengan perjalanan dari Kp. Rambutan ke Bandung. Dari Manila, saya memulai dari terminal bus Quezon. Terminal ini merupakan terminal utama di Manila dan sekitarnya. Jadi tidak perlu bingung, semua transportasi umum mulai dari MRT sampai Jeepney pasti punya rute yang melewati atau berakhir di terminal ini. Masuk agak ke dalam terminal, banyak PO bus yang menjual tiket ke berbagai kota termasuk Tagaytay. Tiket dijual on the spot tanpa melalui booking atau online. Harganya berkisar Sembilan puluh ribuan rupiah (Kurs 1 Peso= 280 Rupiah) untuk satu orang.

  • ·      Tempat Wisata di Tagaytay

Perjalanan dari Manila ke Tagaytay melalui jalan yang menanjak dengan konsisten. Semakin lama udara pun makin sejuk, bahkan kadang kabut tipis turun. Ya udara dan ambience-nya mirip-mirip Lembang lah, walau tidak sehijau Lembang. Ketibaan saya disambut oleh sebuah landmark bertuliskan ‘TAGAYTAY’ segede bacot netizen.

Lalu apa yang bis akita kulik jika traveling ke Tagaytay? Ini yang saya sayangkan. Saya jadi tidak bisa menikmati Tagaytay secara menyeluruh karena dua hal. Pertama karena waktu itu gelombang Covid-19 sudah masuk Filipina, dan negara yang punya kaitan sejarah erat dengan Spanyol ini sudah menutup perbatasan dari kunjungan negara-negara tertentu seperti negara Asia Timur, Amerika, dan Eropa. Kedua, karena atraksi utama Tagaytay, yaitu Gunung Taal sedang mengalami erupsi. Jadi sangat wajar jika saat itu kota ini sudah seperti kota mati. Pandemi dan bencana alam, sebuah paket kombo komplit buat bikin orang berpikir sejuta kali untuk traveling ke Tagaytay.

Namun, setidaknya masih ada tempat wisata yang buka. Saya hanya mengunjungi dua tempat. Yang pertama adalah Tagaytay Sky Ranch. Sesuai namanya, tempat ini mengusung konsep sebuah theme park di dataran tinggi dengan pemandangan langsung ke arah Danau Taal dan perkotaan di pinggirannya. Pagi itu saya dan dua teman jadi yang pertama masuk, kami datang kepagian karena taman ini dibuka mulai pukul 09.00 waktu setempat. Wahana di Sky Ranch ini ya standar theme park pada umumnya, sih. Ada kincir, semacam kora-kora, hingga komidi dan gerai merchandise. Hingga siang tempat ini tetap sepi dan banyak wahana yang tidak beroperasi.

Gunung Taal di lihat dari Sky Ranch


Yang kedua, dan seharusnya jadi tujuan utama di Tagaytay, adalah Gunung Taal yang berada di tengah Danau Taal. Untuk menuju ke sana kami harus naik semacam ojek dengan tempat duduk tambahan, sebuah kompartemen yang dirakit sedemikian rupa di samping sepeda motor untuk menuruni bukit. Transportasi semacam ini lumrah di Filipina selain Jeepney. Saya agak lupa berapa ongkosnya, kalau tidak salah untuk bertiga sekitar 150 ribuan rupiah bolak balik. Perjalanan menuruni bukit dengan trek yang lumayan bikin adrenalin naik. Jalan aspal berkelok dengan jurang di tiap ujungnya, hutan-hutan yang cukup rapat, dan laju motor yang kami tumpangi seperti tidak ada niat untuk menurunkan kecepatan sama sekali. Perjalanan turun memerlukan waktu kurang lebih setengah jam, lumayan jauh juga ternyata. Padahal dari atas sana tujuan kami sudah kelihatan. 

Tepi Danau Taal yang sepi


Kami tiba di perkampungan di tepi Danau Taal. Mirip perkampungan di pesisir pantai dengan pasir putih dan perahu tertambat di belakang rumah. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan di atas. Sepi. Beberapa warung buka terlihat antusias dengan kedatangan kami, mengira kami ini turis. Dan tidak lama semangat mereka kuncup lagi karena kami Cuma bertiga. Dari sekian banyak perahu yang berlabuh, tidak satu pun terlihat yang berlayar. Ternyata sejak Gunung Taal Erupsi, memang tidak ada yang boleh mendekat ke sana. Kalau dalam keadaan normal, tempat ini ramai turis mancanegara yang berebut ingin hiking di Gunung Taal. Hasilnya, kami cuma jalan menyusuri desa pesisir itu. Di satu titik, Sky Ranch yang saya kunjungi pagi tadi terlihat di atas sana, di balik kabut tipis.

Sisa waktu traveling ke Tagaytay kami habiskan untuk sekadar ngopi-ngopi di kafe yang banyak tersebar di Tagaytay. Udara sejuk dan pemandangan sky view menjadi jualan utama pebisnis kafe di Tagaytay. Untuk makanan, kami sempat mencoba sarapan dengan jajanan lokal. Yaitu telur rebus yang dicelupin ke adonan terigu berwarna merah, lalu digoreng dan diberi saus. Bukan, Bukan balut yang terkenal itu. Ini telurnya full matang, kok. Untuk waktu makan yang lain, kami cari aman dengan makan di fast food lokal Mang Inasal (Ini asli Filipina, bukan punya warga Leuwi Liang yang bermigrasi ke sana). Sesekali ke McD dan KFC.

Well. Apakah suatu hari saya akan mengunjungi Tagaytay lagi? Entah lah. Karena rasanya Tagaytay belum bisa menawarkan sesuatu yang di Indonesia tidak ada. Jadi, yah, so so lah kesan saya terhadap kota ini untuk sementara. Ada yang mau bayarin? Nah, kalau begini skemanya, sih, ayok!

 

No comments:

Post a Comment

author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.