Monday, 5 November 2018

Mendaki Gunung Papandayan, Dulu dan Sekarang


Tahun 2012

Cuaca sudah mendung ketika saya sampai di pasar Cisurupan, Garut, gerbang masuk ke kawasan pendakian Gunung Papandayan. Saya dan ketiga teman sependakian bergegas cari mobil untuk naik ke basecamp untuk mulai mendaki Gunung Papandayan. Tidak banyak pilihan transport untuk naik ke basecamp. Ikut mobil sayur dengan biaya Rp. 20.000 per orang, atau naik ojek dengan harga yang sama. Demi kenyamanan, kami memutuskan untuk naik mobil pengangkut sayur berbentuk kendaraan bak terbuka. Ternyata tidak senyaman perkiraan, sih. jalan yang berliku dan rusak membuat kami jadi waspada mencari pegangan sambil menahan tas keril supaya tidak jatuh. Niat untuk bersantai di bak mobil setelah perjalanan dari tengah malam hingga pagi Jakarta-Garut, musnah sudah. Ketimbang santai-santai, kami lebih memilih menjaga supaya tas tidak jatuh atau badan yang terlempar dari mobil.

Sampai di basecamp, yang belakangan saya ketahui bernama Camp David, kami disambut sebuah gapura tanpa plang tulisan apa-apa, kayu-kayu atapnya terlihat rapuh dan mengesankan bisa roboh sewaktu-waktu. Setelah itu ada tempat parkir sangat luas dengan deretan warung-warung berbentuk gubuk yang berdiri seadanya. Pelataran luas itu pun nasibnya tidak jauh berbeda dari jalan yang kami lalui tadi, rusak dan berbatu.

Gerimis turun ketika kami membayar biaya pendakian yang dipatok seikhlasnya. Selama pendakian hujan deras menyejukkan perjalanan. Butuh waktu tiga jam bagi saya untuk sampai di Pondok Salada, campsite tujuan. Sebuah padang edelweiss luas dan hutan-hutan kecil pohon daun pucuk merah. Terhitung hanya ada dua tenda yang berkemah hari itu.

Di tahun yang sama pula, saya mendaki Gunung Papandayan untuk kedua kalinya. Suasananya masih sama. Hanya saja kali itu saya diberi cuaca cerah dan berkesempatan hiking lebih jauh lagi ke sebuah tempat bernama Tegal Alun. Padang edelweiss di sini beberapa kali lebih luas dari Pondok Salada dan mengingatkan saya akan lembah Surya Kencana di Gunung Gede. Untuk mencapainya, kita harus menaiki medan berbatu yang curam dan licin. Lalu setelah itu masuk hutan yang menyerupai labirin, kabarnya banyak yang tersesat di sini.

Papandayan adalah gunung pertama yang saya daki. Dan walaupun yang pertama itu disambut hujan deras dan badai pada malam harinya, ternyata itu membuat kesan tersendiri bagi saya sehingga saya patut berterima kasih kepada Papandayan. Tanpa pendakian itu, mungkin saya tidak pernah tertarik naik gunung. Catatan-catatan pendakian saya pun di mulai. Untuk beberapa tahun saya tidak berjumpa dengan Papandayan.

Dan…selalu ada kesempatan untuk kembali.

2018 Tahun ini saya masih saja ganteng. Oke, nggak penting. Saya kembali ke Gunung Papandayan bersama teman-teman kantor. Mendaki Papandayan kali ini sedikit lebih ringan karena saya dapat fasilitas pinjam mobil kantor hingga ke Camp David. Dan saya cukup terkejut dengan kemajuan pembangunan di sekitar daerah wisata Pendakian Gunung Papandayan tersebut dibanding enam tahun yang lalu. Lupakan soal jalan jelek dan berbatu, jalan dari Pasar Cisurupan itu kini mulus berlapis aspal. Pemandangannya pun tidak melulu perkebunan dan hutan rimba, di kanan kiri bisa kita jumpai tempat-tempat wisata atau restoran dengan konsep yang menuruti ego milenial, yakni instagramable.

Sebelum sampai Camp David, ada loket pembelian tiket. Biaya untuk pengunjung yang akan berkemah dikenakan sebesar Rp. 65.000. Saya awalnya berpikir, “Wah mahal ya, sama kayak jatah paket internet sebulan.”. Lalu lupakan gapura bobrok nyaris roboh enam tahun yang lalu, berganti sebuah gerbang gagah solid selayaknya pintu masuk tempat wisata yang memang seharusnya dibuat semenarik mungkin. 


Lahan parkiran luas yang dulu bak kota mati berkabut sekarang begitu hidup dengan berbagai warung, penjual makanan, tempat penyewaan alat-alat mendaki gunung, toilet umum yang banyak dan lebih layak, musholla, hingga tempat pemandian air panas. Fafvorit saya, sih, wahana baru berupa menara pandang setinggi tiga lantai. Dari situ bisa melihat pemandangan Kota Garut dan siluet Perbukitan Gunung Papandayan, kalau cuaca cerah, bentuk kerucut Gunung Cikuray juga bisa terlihat.

Jalur pendakian Gunung Papandayan kini pun dipoles sana-sini demi kemudahan pendaki. Beberapa jalur berbatu di kawasan kawah dibuat tangga berlapis semen. Shelter-shelter permanen untuk beristirahat juga banyak dibangun. Ditambah hiasan dengan papan bertuliskan quote-quote penyemangat penuh petualangan. Tanda penunjuk arah pun sangat jelas, sehingga pendaki di Gunung Papandayan bebas memilih rute mana untuk sampai Pondok Salada.

Lalu, bagaimana dengan Pondok Salada? Enam tahun yang lalu, ketika saya mau pipis di tengah malam, saya tidak berani jauh-jauh dari tenda. Bahkan pernah saya pipis sambil memegang salah satu sisi cover tenda, karena saking gelapnya dan tebalnya kabut saya khawatir kehilangan arah dan gagal menemukan tenda. Sekarang jangan khawatir, banyaknya warung-warung yang mendapat pasokan listrik di malam hari lewat genset, dan adanya musholla, suasana malam tidak begitu gelap. Banyak petugas yang patroli juga memastikan kawasan kemah baik-baik saja dan tidak ada api unggun yang lupa dimatikan. 


Dulu pernah ada polemik bahwa Gunung Papandayan akan dikelola swasta. Dan ternyata memang benar, terlihat dari naik secara signifikan untuk biaya simaksi sebesar Rp. 65.000, sekadar informasi, harga segitu termasuk mahal buat simaksi mendaki gunung yang belum masuk kategori taman nasional. Awalnya sih saya apatis, seperti kebanyakan pendaki.

Tapi setelah ke sana setelah perubahan besar-besaran itu, kenyataannya ternayata tidak seburuk bayangan saya. Yang terlintas sebelumnya adalah, harga yang mahal, pungli di sana-sini, dan tata kelola yang kacau pasti terjadi. Pendaki dijadikan sapi perah untuk mengumpulkan keuntungan, aji mumpung karena hobi mendaki gunung sedang digandrungi. Saya salah. Saya harus minta maaf kepada Papandayan. Setelah mengobrol dengan penjaga toilet di Pondok Salada, setelah diambil alih swasta, pengelolaannya menjadi jelas. Lebih transparan. Aturan main bagi para pelaku usaha yang terlibat juga adil. Kekhawatiran saya akan Gunung Papandayan yang akan menjadi tidak terurus sama sekali tidak berujung pada sebuah bukti. Justru banyaknya petugas membuat gunung ini terjaga kelestariannya. Keamanannya juga terjaga karena jalur batu yang berbahaya menuju Tegal Alun sudah ditutup, dan dibuat rute baru yang lebih mudah. 


Pariwisata memang lahan menjanjikan bagi perekonomian. Siapa pun, pasti mau masuk di industri ini. Beragam tanggapan pasti muncul, ada yang mendukung, ada pula yang menentang jika ada pengelola swasta ikut nimbrung. Karena konsekuensinya pasti biaya menjadi mahal karena yang namanya swasta dari zaman Adam Smith main gundu, pasti menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Tapi jika melihat Gunung Papandayan kini, rasanya harga Rp. 65.000 menjadi murah.


13 comments:

  1. Wah aku belum ke sini nih. Ngeliat foto temenku yang ke Papandayan bareng anak-anak nya berarti ramah anak juga kah jalur pendakiannya?

    ReplyDelete
  2. Cerita masa lalu yg minim fasilitas menyeramkam tp menyenangkan juga yaa :3 naik gunug emang jadi senagih itu si

    ReplyDelete
  3. Cerita masa lalu yg minim fasilitas menyeramkam tp menyenangkan juga yaa :3 naik gunug emang jadi senagih itu si

    ReplyDelete
  4. Rasanya cerita ini kurang lengkap Karen belum menampilkan gerbang gagah solid itu, bikin penasaran bangettt

    ReplyDelete
  5. Jujur, awalnya aku udah berpikir kalau tulisan ini akan menjelekan "pembangunan untuk area wisata", seperti yang belakangan ini marak terjadi. Tapi aku suka banget sama ending. Seadainya orang-orang mau melihat dari sisi perekonimian daerah yang bisa jadi lebih baik. Meski kembali perlu ditekankan, semoga kecantikan alam tetap terjaga.

    ReplyDelete
  6. wuah, memang kesannya mahal sih
    tapi kan ini alam, yang pelestariannya atau pemulihan ekosistemnya butuh waktunya enggak cuma sebulan atau dua bulanan aja, melainkan bertahun-tahun
    maka wajar dan cukup adil bagi swasta untuk menaikkan harga, selama fasilitas dan pelayanan oke

    btw, yang naik ke mobil pengangkut sayur itu gak ada fotonya ya? kayaknya lucu dan berkesan tuh kalau dilihat-lihat

    ReplyDelete
  7. Ih seneng banget bisa mendaki dengan rekan sekantor. Pasti seru. Apalagi ke tempat yg bisa membuat nostalgia. Alhamdulillah, berarti kemajuan pariwisatanya bagus di sana.

    ReplyDelete
  8. Semoga lingkungan di sekitar Gunung Papandayan bisa mendatangkan banyak wisatawan. Karena sedah dikelola dengan baik oleh pihak swasta.

    ReplyDelete
  9. Tapi kok aku ├čangat menyayangkan kalau ada gunung yg disulap begini. Seperti semeru yg konon sekarang banyak warungnya. Jadi nggak ada 'keramat2nya' lagi di gunung yg dingin dan gelap

    ReplyDelete
  10. Satu-satunya gunung yang pernah saya datangi ya baru Gunung Bromo. Hasrat hati pengen naik gunung, kini harus dilepaskan.

    iya ya, kalau dipikir2, dg HTM 65 ribu trs bisa menikmati suasana pegunungan yang magic

    ReplyDelete
  11. Aku pernah ke Papandayan.
    Tapi dalam bentuk hotel yang di Jalan Gatot Subroto, Bandung.

    Hihii...
    Karena aku sebenarnya sangat takut naik gunung.
    Mungkin terlalu sering dilarang sama orangtua jaman dulu.

    ReplyDelete
  12. Dulu aku kuat mendaki gunung dempo.. skrg Naik tangga Aja aku mengas wkwkwwk

    Mayanlah cerita mas Yos lumayan bikin mupeng.. tunggu tahun depan ah.. siapa tahu fasilitas u yg kamping Makin bagus dan bikin mudah..

    Soal harga sepertinya ga terlalu Mahal kok.. 65000 yang Penting ga Ada teman yang bilang " pakai uangku dulu ya.. nanti aku ganti"

    ReplyDelete
  13. akutu kalo ke gunung kuatnya cuma ke toko buku gunung agung aja sih wkwkwkwkkw

    ReplyDelete

author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.