Monday, 20 August 2018

Berkemah di Pulau Semak Daun: Ada Horrornya

Sudah beberapa kali saya berlibur ke Kepulauan Seribu. Namun pengalaman liburan kali ini cukup berbeda dengan yang sudah-sudah. Ada pengalaman sedikit horror dan cukup membuat bulu kuduk saya meremang.

Jadi ceritanya saya dan dua teman kantor, Bhakti dan Mula,, berencana menghabiskan akhir pekan. Kebetulan dua teman saya tersebut hobi fotografi. Yang terpikir oleh saya untuk penggemar fotografi pasti suka memotret landscape atau bentang alam. Berarti kalau tidak ke pantai, yak e gunung. Kami sepakat kalau ke gunung repot bawa peralatannya. Jadi kami mencoret gunung dari daftar tujuan kami. Tersisa pantai. Pantai yang dekat dengan Jakarta, dan biaya terjangkau hanya Kepulauan Seribu. 


Kepulauan Seribu, seperti yang kita tahu terdiri dari pulau-pulau berpenghuni dan tidak berpenghuni. Pulau yang tidak berpenghuni bisa dikunjungi, bahkan kita bisa bermalam dengan menggunakan tenda. Salah satunya adalah Pulau Semak Daun. Ke sanalah kami akan menghabiskan akhir pekan. Walaupun judulnya berkemah, tapi barang bawaan dan perbekalan kami tidak serumit jika kemping di gunung.

Pulau Semak Daun adalah sebuah pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu. Cukup mudah akses ke pulau ini walaupun harus dua kali berganti moda transportasi dan transit. Kita bisa memulai perjalanan dengan naik kapal dari Pelabuhan Kaliadem, atau Pelabuhan Sunda Kelapa jurusan Pulau Pramuka. Dari Pulau Pramuka lanjut naik perahu kecil ke Pulau Semak Daun.

Cuaca cerah, dan tingkat keceriaan kami masih dalam tingkat maksimal. Selepas zuhur, perahukecil kami membelah selat-selat kecil Kepulauan Seribu menuju Pulau Semak Daun. Perjalanan dari Pulau Pramuka memakan waktu sekira setengah jam. Di sela-sela perjalanan, pemilik perahu berpesan supaya kami para pengunjung menjaga ketenangan dan kebersihan selama di Pulau Semak Daun.

Kontak pertama saya dengan Pulau Semak Daun adalah sambutan sebuah dermaga sederhana dari kayu namun panjang. Perahu bersandar di ujung dermaga yang terdapat sebuah bangunan kecil untuk pemilik perahu atau nelayan beristirahat. Kesan teduh saya rasakan ketika melewati batas pantai dan hutan cemara di bagian depan pulau.

Kami bertiga mencari tanah datar untuk buka tenda.

“Cari yang ngadep pantai, Bro, biar pas buka tenda langsung Instagramable gitu.”

“Yang ada pohon buat gantung hammock juga.”

Begitu kriteria kami untuk tanah yang layak dibangun tenda. Kami menyusuri tepian pulau, karena di bagian tengah pulau sudah ada beberapa tenda. Di sebuah sisi Pulau Semak Daun, di sebelah selatan, ada sebuah tanah kosong, pas sekali hanya untuk satu tenda. Di depannya, ada pantai landai dan dangkal menjorok jauh ke tengah laut. Sempurna untuk main air. Hammock? Tidak jauh dari bibir pantai sebuah batang pohon tumbang yang bisa digunakan untuk mengikat tali hammock. Keren, deh, pokoknya! 


Sore hingga malam itu kami habiskan benar-benar untuk bersenang-senang. Menikmati matahari dan angina sepoi-sepoi sambil berayun santai di hammock, atau mengeksplor panatai landai luas yang menjorok hingga tengah laut, sampai foto-foto norak. Saya sempat mencoba loncat dari atas dermaga yang ada bangunannya ke laut. Lumayan tinggi, empat meter. Dan kami mengakui, bahwa sunset di Pulau Semak Daun amatlah cantik. Pantai yang langsung menghadap ke barat tanpa ada penghalang apa pun, blas ke cakrawala Kepulauan Seribu. Matahari turun pelan-pelan dan secara periode hitungan detik, mengubah warna langit dari kuning, jingga, oranye, hingga warna tersier campuran antara ungu dan oranye. 


Malam pun datang. Saat itu bulan purnama dan langit bersih. Saking terangnya, kami tidak perlu menyalakan senter atau headlamp. Cahaya bulan sudah cukup. Selepas makan malam, kami masuk tenda untuk tidur. Bulan tepat berada di atas tenda kami. Cahayanya yang kuat membuat bayangan siluet dedaunan dan ranting pohon terlihat dari dalam tenda seperti sesuatu yang menari.

Kami tertidur.

Untuk beberapa saat.

Sebelum selepas tengah malam kami kompak terbangun. Bhakti menyalakan senter. Kami semua berpandangan satu sama lain.

“Elu denger, nggak tadi?” Mula buka suara.

“Iya, kayak ada yang lewat.”

“Cuman daun ketiup angina kali.” Saya mencoba menemukan alasan paling masuk akal. Memang saat kami terbangun angina bertiup kencang dan deburan ombak semakin digdaya. Efek bulan purnama, sehingga air laut pasang. 

Kami tidur kembali. Walaupun saya yakin tidak ada dari kami yang benar-benar tidur. Tiba-tiba kami kembali mendengar seperti ada yang lewat dan sekarang ditambah ada sesuatu yang menyodok-nyodok bagian bawah tenda kami dari luar.

Kami bertiga kembali bangun dengan keadaan lebih tegang. Masa iya angina bisa menyundul-nyundul tenda dengan tingkat kepadatan seperti itu?

“Tolong dong jangan gangguin kami…” Mula dengan wajah pucat berkomat-kamit sambil melihat ke atas, seolah di atas ada…ada itu lah pokoknya. Siluet dedaunan masih terlihat, menambah suasana semakin mencekam.

Bhakti mengambil tripodnya, saya paham maksudnya, dia mau menggunakannya sebagai alat pukul. Saya membuka tenda, walau gemetaran tetapi penasaran luar biasa. Bhakti keluar dengan langkah ragu dan waspada, siap memukul dengan tripodnya. Jika benar yang menyentuh tenda kami adalah makhluk ghaib, saya ragu tripod tersebut bisa mengusirnya.

Beberapa detik saya, dan Mula menunggu di dalam tenda sebelum Bhakti kembali. Saya lega karena dia normal-normal saja, tidak minta kopi hitam dan teriak, “AINGGGG MAUNNNGGG!”.

“Kagak ada siapa-siapa, dan kagak ada apa-apa, Cuy!” Seru Bhakti.

“Babi hutan kali, ya?”

“Gue sih lebih takut uler.”

“Atau kunt…”

“Ahelah, udah! Yang penting kagak ada apa-apa.”

Sisa malam kami habiskan dengan menggelar matras dan menyeduh kopi di depan tenda hingga pagi. Kami tidak banyak bicara, menyimpan masing-masing pertanyaan apa atau siapa yang lewat dan menyentuh tenda kami semalam.

Pulau Semak Daun pada akhirnya memberi kami sunrise yang cantik di pagi harinya. Saya memasak sandwich, kedua teman saya hunting foto, dan ombak kembali tenang. Sangat tenang.

Begitu ceritanya. Masih mau ke Pulau Semak Daun? Saya titip salam buat si dia… =) 

7 comments:

  1. Bisa jadi cuman sugesti keheningan malam di tempat baru.

    ReplyDelete
  2. Eniwei pemandangannya keren. mantap

    ReplyDelete
  3. lebih asyik lihat keindahannya, keren banget

    ReplyDelete
  4. hiii siapa tuh
    tapi keren banget emang kabupaten administrasi kep seribu

    ReplyDelete
  5. Aku lgs jiper dgr kata ular. Lbh nakutin itu wkwkwkwk.. Mndingan mba kunti lwt dah, drpd ular yg lewat -_-

    ReplyDelete

author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.