Wisata Masjid di Jakarta: Kisah, Sejarah, dan Ziarah

Batavia sedang dilanda isu. Pasar-pasar, dan pusat kegiatan perniagaan yang biasanya ramai oleh orang Tionghoa tidak sesemarak seperti biasa. Ketimbang berdagang, mereka lebih sibuk menajamkan telinga dan meninggikan waspada. Tidak ada yang berani memastikan, apakah benar kabar burung yang selama ini beredar bahwa Belanda sedang membangun benteng di Sri Lanka dan membawa orang-orang Tionghoa dari Batavia sebagai tenaga kerjanya secara paksa.

Mereka teringat kembali bagaimana dulu Belanda kekurangan tenaga kerja di Hindia Belanda, sehingga mereka membujuk orang-orang Tionghoa untuk bekerja bagi mereka. Mereka terbujuk. Dan ternyata Batavia adalah tempat yang cocok untuk mereka berusaha dan berdagang. Dan ketika mereka sudah memboyong keluarga, dan memiliki keturunan di Batavia, Belanda ingin mengirim mereka ke Sri Lanka sebagai budak? Tidak masuk akal!

Ketika firasat tertuang menjadi keresahan, dan keresahan memuncak menjadi ketakutan, kelompok Tionghoa itu berkumpul dan memutuskan untuk mengambil sikap berupa perlawanan. Sekali pun harus mengangkat senjata dan mempertaruhkan batang leher. Atas nama kejayaan dan keberhasilan menguasai jalur perdagangan rempah di Hindia, Belanda yang mendengar rencana ini tidak mau kena serangan lebih dulu. Sang Gubernur Jenderal, Adrian Valckeneir, mengambil langkah cenderung praktis. Sebelum pemberontakan terjadi, tangkap, dan bunuh orang-orang Tionghoa di Batavia!

Lalu di sebuah hari di awal abad 18 itu, orang Tionghoa yang rencananya ingin memberontak tidak berdaya menghadapi sergapan mendadak Belanda. Kalah jumlah, kalah persenjataan, dengan mudah Belanda menggelandang sekitar 14.000 (jumlah ini masih digugat karena diyakini lebih banyak) orang Tionghoa ke tepi Sungai Angke, lalu menyembelihnya. Air sungai menjadi merah, mayat-mayat hasil genosida tersebut konon katanya bisa menjadi jembatan. Dalam bahasa Tionghoa ‘Ang’ berarti merah, dan ‘Ke’ berarti sungai. Begitulah mengapa sungai yang mengalir dari barat Jakarta ke teluk di utara itu disebut Angke. Sumber lain mengatakan, mayat-mayat korban kekejaman Belanda itu dibuang ke sebuah daerah. Saking banyaknya tubuh tak bernyawa itu membentuk gunung hanya dalam waktu sehari. Oleh orang setempat disebut gunung sehari, kemudian diserap hingga kini menjadi Gunung Sahari.

Tersebutlah seorang perempuan keturunan Tionghoa bernama Tan Nio, yang bersembunyi berkat bantuan orang-orang Islam dari Banten, mendirikan sebuah masjid pada tahun 1761. Masjid tersebut selain sebagai tempat ibadah, awalnya menjadi tempat perlindungan etnis Tionghoa yang bersembunyi dari amarah tentara Belanda, kemudian menjadi markas pejuang dalam menyusun strategi melawan Belanda. Kebanyakan pejuang dari Cirebon, dan Banten.

Tidak jauh jarak ruang dan waktu dari peristiwa tersebut, di pesisir Sunda Kelapa, hidup seorang alim bestari penyebar agama Islam bernama Habib Husein al-Aydris. Saat itu, orang yang baru pulang dari Mekah (berhaji) sangat dihormati dan diikuti oleh banyak orang. Belanda tidak menyukai itu, karena orang pribumi dengan potensi seperti itu bisa membahayakan kekuasaan Belanda dengan pemberontakan. Sebagai upaya mengontrol orang yang baru pulang haji, Belanda memberikan gelar “Tuan Haji”, sebagai penanda bahwa orang tersebut dibawah pengawasan Belanda. Beberapa abad kemudian, orang akan banggak jika dipanggil “Pak Haji”.

Habib Husein jelas mendapat perlakuan seperti di atas. Karena ceramah-ceramahnya dianggap mengancam kelanggengan kepentingan Belanda, akhirnya Beliau di penjara. Ketika bebas, Habib Husein mendirikan sebuah masjid. Lalu Beliau wafat di masjid tersebut. Dan lagi-lagi dengan culasnya Belanda melarang jenazah Habib Husein dimakamkan dekat masjid karena dikhawatirkan banyak diziarahi pengikut yang berpotensi memberontak. Jenazah sang habib dibawa ke luar Batavia menggunakan kurung batang. Namun ketika sampai ditempat yang jauh, ketika tubuh tanpa nyawa sang habib akan dikebumikan, jenazah  tersebut raib dari kurung batang (dalam bahasa Betawi tertentu, “jenazah” disebut “batang”).

***

Tibalah masa milenium. Di mana saya hidup di dalamnya. Masjid Angke kini namanya menjadi Masjid Jami Al-Anwar, walau masih lebih terkenal dengan nama Masjid Angke. Panas terik siang itu tidak bisa mengalahkan minat saya atas kisah, sejarah, dan ziarah yang terdapat di masjid tersebut. Jika ditempat lain banyak masjid yang merenovasi, dan memperluas bangunannya, Masjid Angke justru ‘membongkar’ bangunan, pelataran, dan plafon-plafon tambahan. Seorang pria yang merupakan pengurus masjid sekaligus keturunan ke-8 Ny. Tan Nio, menjelaskan bahwa dia ingin menjadikan masjid ini seperti aslinya, waktu pertama kali pembangunannya di abad 18 (1700-an). Jadi, kalau sekarang kita melewati jalan Tubagus Angke yang ramai itu, masjid ini seperti satu-satunya rekam sejarah yang tersisa secara fisik. Autentikasinya sangat valid, atau paling tidak mendekati. Hingga sekarang, belum ditemukan data, dokumen, atau kemungkinan bangunan fisik masjid yang lebih tua dari Masjid Angke ini. Jika begitu, masjid yang letaknya bersebrangan dengan makan keturunan Sultan Hamid sang pendiri Kota Pontianak ini adalah masjid tertua di Jakarta. 
Walaupun pendirinya adalah keturunan Tionghoa, namun arsitektur masjid ini begitu majemuk dan plural. Atapnya berupa punden berundak jelas bergaya Jawa. Ukiran pada pintu-pintunya khas Bali, jeruji-jeruji jendelanya sangat Eropa, dan mimbar tempat imamnya adalah adaptasi dari arab Maroko. Sebuah pesan Bhineka Tunggal Ika jauh sebelum para founding father Indonesia mencetuskan konsep Pancasila. Keren? Bingits! 

 Lalu kita beralih ke Masjid Luar Batang masa kini. Saya familiar dengan wilayah Luar Batang ini ketika gubernur Jakarta di era Pak Basuki Thahjapurnama hendak menertibkan kawasan ini. Saat itu terjadi banyak pertentangan. Ketika saya berkunjung langsung ke sana, saya jadi sedikit mengerti kenapa kawasan ini perlu ditertibkan. Derah masjid ini bisa dibilang terpencil di antara megahnya gedung dan apartemen di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa, yang sewaktu-waktu bisa banjir jika air laut pasang. Yang paling menyedihkan, sih, banyaknya pengemis di sini. Bukannya saya antiorang miskin, tapi siapa yang tega melihat pengemis di tengah terik matahari, terlungkup di aspal, berteriak minta-minta, dengan sebuah ember di depannya?

Secara struktur bangunan, sudah tidak ada yang asli dari Masjid Luar Batang ini. Sejak dibangun oleh Habib Husein, tidak terhitung sudah berapakali masjid ini dipugar. Faktor alam adalah penyebabnya, karena ada di daerah pesisir dan semakin tenggelamnya teluk Jakarta, masjid ini juga ‘memaksa’ lantainya untuk naik. Jadi masjid yang kita lihat sekarang, sesungguhnya sudah terendam satu setengah meter. Ada makam Habib Husein al-Aydris di depan masjid. Banyak peziarah yang memanjatkan doa di hadapan mendiang sang habib. Sayang saya tidak sempat mengambil foto di masjid ini.

Dan untuk asal muasal nama ‘Luar Batang’, sebetulnya ada versi yang lebih bisa diterima semua pihak. Syahdan, dahulu di hilir Ciliwung ada batang dari kayu dan besi yang membatasi sungai dan laut. Jadi apabila ada kapal yang melewati batang tersebut akan dikenakan denda. Nah, wilayah ini ada di luar dari batang tersebut.

Demikian cerita saya tentang masjid bersejarah di Jakarta. Ada beberapa masjid lagi yang memegang peranan penting dalam sejarah Jakarta, bahkan Indonesia. Suatu saat saya harus mengunjunginya, dan menemukan harta karun berupa cerita-cerita dan pesan adiluhung tak terkira.

Terima kasih untuk @wisatasekolah, @jktgoodguide, dan Mas Canda yang sudah mereka-reka ulang kisah dengan sangat baik dan menarik tentang rumah-rumah Tuhan di atas sehingga bisa saya tuliskan kembali di sini. Semoga Tuhan memberkati. Amin. =)

1 komentar

My Instagram