Wednesday, 11 April 2018

Khmer Noodle, Kuliner Halal di Tepi Sungai Mekong

Kuliner adalah bagian penting dari traveling. Bukan hanya karena ketika kita menginjungi suatu tempat kita harus mencoba makanan khas daerah itu. Tetapi, ya karena memang kita butuh kegiatan kuliner. Kebutuhan traveling juga sama seperti hidup, ada sandang, pangan, dan papan. Kuliner tentu saja masuk dalam kategori pangan. Dan namanya juga pangan, selama manusia masih bermulut dan berperut pasti butuh.

Semakin traveling menjadi hobi yang menjamur sekarang ini, semakin banyak pula tempat-tempat baru terekplorasi. Ragam makanan pun jadi semakin banyak terekspos. Ternyata semakin banyak pilihan kuliner tidak lantas membuat permasalahan para traveler selesai begitu saja. Mereka, saya khususnya, masih harus dihadapkan pada pilihan halal atau nonhalal. Saya yang selalu traveling dengan budget superminim, memang tidak pernah pilih-pilih makanan kalau soal rasa. Selama masih murah, ya sikat! Yang penting kenyang. Tapi kalau soal kehalalan, saya sangat aware. Bagi saya traveling juga merupakan proses pembersihan hati, dan pikiran. Jadi makanan, atau minuman yang saya konsumsi wajib halal.

Waktu kedinginan di Luang Prabang, ada teman yang mengirim pesan “Cobain Lao Beer, enak, dan murah”. Tergoda, sih. But again, saya masih berprinsip masih banyak cara menghangatkan badan. Toh udara Luang Prabang cuma sedikit lebih dingin dari Lembang.

Dan banyak pula yangbertanya, ketika saya di Kamboja, sulit kah mencari makanan halal. Sulit, itu jawaban saya. Butuh effort besar untuk mencari makanan halal. Lihat faktor-faktor berikut:

- Kamboja yang bukan negara mayoritas muslim

- Saya yang traveling dengan budget superminim

Variabel tersebut cukup membuat saya kesulitan. Makanan halal bukannya tidak ada. Ada. Di Siem Reap misalnya, kebanyakan makanan halal itu makanan India dengan konsep restoran. Jelas tidak masuk buat saya yang jatah makan saya alokasikan hanya 3 USD per sekali makan. Percaya atau tidak, di Siem Reap saya makan kebab turki tiga kali dalam sehari. Harganya pas, seporsi 3 USD dengan ukuran sama seperti kebab di Indonesia serta kehalalan terjamin. Kamboja negara murah? Think again, satu porsi kebab franchise saja kalau dirupiahkan 45.000. Di Indonesia, jual kebab dengan harga yang sama, yang jual bisa berangkatkan umroh tetangga dalam satu-dua tahun.

Pindah ke ibu kota, Pnom Penh, cerita berbeda lagi. Di Siem Reap saya menginap di dekat Pub Street, kawasan surga bagi turis yang berkunjung ke Kamboja. Di Pnom Penh, hostel saya berada di tengah pasar tradisional dekat pinggiran Sungai Mekong. Literally ‘di tengah’. Enaknya, banyak kedai kopi murah. Tidak enaknya ramai sekali, namanya di pasar. Banyak sopir tuktuk ngetem, mobil boks yang bongkar muat, di tambah sedikit bau daging karena dekat dengan tukang daging potong. Walau sudah di tengah pasar, makanan halal di sini masih sulit dijumpai.

Ada kejadian lumayan lucu. Jadi saya keluar hostel untuk cari makan siang. Waktu itu sudah menjelang sore, jadi kegiatan pasar sudah sepi dan berganti dengan para penjual jajanan malam. Ada gerai kebab lagi, persis seperti yang saya jumpai di Siem Reap. Aha, makan kebab lagi saja dulu, nanti malam baru cari yang lain. Begitu pikir saya.

Harganya 5 USD. Lebih mahal. Ah, mungkin karena ini ibu kota. Biarpun kalau dipikir-pikir lucu juga sebuah merek franchise tapi harganya berbeda. Penjualnya seorang ibu orang Kamboja asli, waktu di Siem Reap penjualnya bertampang Arab. Saya pesan satu porsi. Tanpa bertanya, si ibu memotong-motong daging dan membakar kulit kebabnya. Wangi danging terbakar begitu menantang lidah dan perut saya. Dan lalu saya teringat sesuatu, waktu di Siem Reap, penjual kebab bertampang Arab menanyakan saya mau kebab ayam atau kambing. Lah, ini kok tidak ditanya. Akhirnya saya inisiatif yang tanya,

“Sorry, it is chicken or goat?”

Si ibu bingung. Mungkin tidak bisa bahasa Inggris, namun dia mengerti apa yang saya tanya. Bertanyalah dia ke suaminya yang jaga kios rokok di sebelahnya. Mereka diskusi lumayan lama. Hingga akhirnya si suami yang datang dan berkata,

“It is pig.”

“Oh, I’m sorry, I don’t eat pig.”

“No problem.” Katanya sambil tersenyum, dan mencegah saya mengeluarkan uang dari dompet padahal kebabnya sudah hampir siap hidang. Penjual yang jujur, dan murah hati. Rejeki bagi saya, dan semoga hingga kini beliau dianugerahi berkah melimpah. Amin.

Saya berjalan ke arah pinggir sungai. Cukup menyenangkan juga berjalan di tepi Mekong di tengah Pnom Penh ini. Trotoar dan pedestriannya besar berpelur keramik, tersedia kursi panjang tiap beberapa meter, dan pepohonan palem membuat hijau jalur tersebut. Menjelang sore kawasan ini ramai baik oleh wisatawan asing, atau warga lokal. Kalau berjalan terus menyusuri pedestrian tersebut ke arah selatan, maka akan sampai di belakang Istana Raja Kamboja. Di sisi Sungai Mekongnya banyak bendera-bendera dari seluruh bangsa di dunia, termasuk Indonesia.

Di belakang Royal Palace ini ada sebuah taman sebagai pusat keramaian dan dimeriahkan oleh banyaknya populasi burung merpati. Mirip-mirip plaza-plaza di Eropa. Karena ramai pengunjung, maka pedagang pun banyak, termasuk makanan. Ada satu kuliner yang menarik perhatian saya.

Bentuknya mie, namun bukan jenis pad seperti yang biasa dijual di negara-negara Indochina. Penasaran, saya bertanya,

“What is it name?”

“Khmer Noodle.” Jawab pedanganya, seorang remaja perempuan.

“No pig?”

“No sir, just vegatable.”

“Great! How much?”

“One dollar.” 

Khmer Noodle, ini nih penampakannya

Deal. Seporsi Khmer Noodle ada di tangan saya. Porsi mienya jumbo dan murah hanya satu dollar, cocok untuk saya turis doyan makan tapi miskin. Komposisi utamanya tentu saja mie. Mienya bukan seperti mie kuning dari tepung atau terigu, tapi mie dari beras. Gampangnya, seperti mie pada laksa betawi yang dulu biasa dijual di Stasiun Benteng. Kuahnya tidak panas, tapi adem berwarna kuning. Aroma khas rempah ketika menyesap kuahnya begitu kuat, rasa ketumbar mendominasi dan cita rasa kunyit tipis-tipis. Topingnya berupa sayuran mentah, kacang panjang, daun kemangi, kol, kacang tanah, dan serundeng kelapa yang membuat kesatuan mie akan mengental jika diaduk. Efek kenyangnya pun lama, saya sampai tengah malam belum merasakan lapar.

Saya menikmati Khmer Noodle di pinggiran Sungai Mekong sambil menikmati matahari terbenam di balik Royal Palace ditemani ribuan burung merpati yang katanya tidak pernah ingkar janji. Puji Tuhan, selalu ada jalan buat saya untuk selalu makan yang halal. =)

5 comments:

  1. Aku ngebayangin loh, jika itu tidak tdk di tanya daging apah ????????

    Untung di tanya ? Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, soalnya ngerasa janggal aja kenapa cuma satu jenis daging kebabnya =)

      Delete
  2. No pig? Berani yaa.. Gw d jkta aja msuk resto thailand cuma nanya halalkan, di plotin ibu2. Pengen gw siram aja pake air wudhu 😁

    ReplyDelete
  3. baca ini sambil buka AA, nah kan jadi bingung mo beli tiket tujuan kemana. cita2 luang prabang, kamboja juga pingin, ehhmm

    ReplyDelete

author
Yosfiqar Iqbal
Penyuka jalan-jalan, dan pecinta tulis menulis. Melakukan keduanya sekaligus disela-sela kesibukan menjadi karyawan, anak kos, dan rindu yang jarang terbalas.