Ribetnya Jadi Trip Organizer ke Gunung Anak Krakatau

Karena narik becak sudah amat sangat mainstream
Semua berwal dari obrolan di tanggal tua. Kalau lagi tanggal tua pasti pikiran macam-macam, dan tingkat surviving seseorang berada pada level tertingginya. Mau makan, pilihan terbatas. Mau nonton, tunggu ada yang ngajak dan syukur-syukur dibayarin. Mau jalan-jalan, sulit. Duh.

Untungnya di tanggal tua aliran darah yang mengalir ke otak lebih banyak daripada yang mengalir ke perut. Terbit ide. Kalau mau jalan-jalan, kenapa tidak menyusun trip sendiri, kerjasama dengan operator tur, dan minta free seat untuk saya karena sudah mengumpulkan massa yang lumayan banyak.

Lalu saya memilih membuka perjalanan ke Anak Gunung Krakatau. Alasannya, tidak terlalu jauh dengan Jakarta, dan memberikan experience naik gunung, hopping island, dan snorkeling secara bersamaan. Kebetulan saya juga kenal dengan teman di Serang yang suka arrange trip ke Gunung Anak Krakatau. Namanya Mbak Noe, begitu dia akrab disapa. Coba cek akun sosmednya di @noetraveler, ibu tiga anak ini aktif sebagai blogger. Dan terima kasih tak terperi untuknya karena waktu bekerja sama menyusun perjalanan ini, dia sedang hamil dan bawa satu anaknya yang lucu. *salim*

Ada beberapa hal yang membuat buka trip sendiri itu tidak semudah kelihatannya, dan cenderung repot:

1. Jualan Cari Massa

Saya dihadapkan oleh kenyataan ternyata ‘jualan’ trip tidak semudah kelihatannya. Kalau lihat Instagram akun jalan-jalan publish sebuah ajakan jalan-jalan, atau lazim dikenal dengan open trip, kok rasanya yang ikut antriannya panjang. Di saya, itu tidak terjadi. Saya harus mati-matian bujuk teman kantor, teman tongkrongan, temannya teman tongkrongan, mutual friends di sosmed, dan banyak lagi. Hasilnya ada, tapi tidak banyak. Sedangkan untuk sebuah trip yang di dalamnya terdapat unsur biaya sewa perahu, harus ada syarat minimal kuota supaya harganya tidak mahal. Di detik-detik akhir, saya sempat pesimistis kuotanya tidak akan terpenuhi. Paling tidak 25 orang. Eh begitu sudah satu minggu mau berangkat, justru banyak yang daftar. Dan ada pula yang mengundurkan diri. Ini menyebabkan saya meminta maaf berkali-kali ke Mbak Noe karena harus menyusun ulang lagi data untuk snorkel gear dan jumlah homestay yang diperlukan. Huft.

2. Bikin Peserta Nyaman *sodorin bahu* Dalam sebuah grup perjalanan, ada begitu banyak orang. Mereka memiliki ekspektasi yang berbeda-beda.

“Nanti naik kapal ke Lampungnya ber-AC, nggak?”

“Diperjalanan bisa liat lumba-lumba, nggak?”

“Makanannya kalo bisa jangan pedes, ya…”

“Homestaynya ada TV? Liga Inggris, keleus, MU, MU!”

“Kok di Anak Krakataunya nggak ada lava yang kayak gunung meletus gitu? Gimana sih panitia….”

----_____----

Semua mesti saya jawab satu-satu. Tapi saya menyadari satu hal, wawasan itu sangat perlu untuk siapa saja yang mau buat travel organizer. Selain supaya untuk peserta percaya, ya itu tadi, peserta jadi nyaman. Setidaknya timbul sense di antara parapeserta bahwa yang membawa mereka tahu mau ke mana dan ada apa di sana.

Selain ekspektasi, para peserta juga punya ulah masing-masing yang unik. Contohnya sewaktu perahu bersandar sebentar di pulau Sebuku Kecil untuk berfoto-foto di pasirnya yang putih, dan airnya yang jernih. Ketika waktu sudah habis dan peserta diminta naik kembali ke perahu, ada dua orang yang belum kelihatan. Saya melempar pandang ke arah sekeliling pulau, sudah sepi. Dua orang itu tidak nampak. Masa sih ke tengah laut? Di ujung cakrawala mana pun pandangan saya tidak menangkap adanya kehidupan. Kemungkinannya mereka berjalan mengitari sisi lain pulau, atau masuk ke hutan. Saya sepakat dengan nahkoda perahu untuk mencari ke sisi yang berbeda. Saya berjalan tertatih-tatih melewati batu karang, pasir, dan beberapa cekungan cukup dalam. Perahu mengitari dari sisi yang berlawanan. Puji syukur, mereka ketemu.

“Sori, Yos. Namanya kan Sebuku Kecil, gue liat di peta juga kecil, makanya gue coba kelilingin. Eh ternyata gede, ya?”
GEDE PALA LU! NEGARA RUSIA JUGA DI PETA MAH MASIH GEDEAN JIDAT GUE!
Saya diperingatkan nahkoda kapal, supaya lebih mengawasi peserta. Dengan nada tinggi belaiu berkata bahwa belum ada sejarahnya wisata ke Krakatau terus ada orang hilang. Alhamdulillah hari itu sejarah tidak terukir.

Puncaknya adalah ketika trekking ke puncak Anak Gunung Krakatau. Dua jam perjalanan dini hari hingga pagi dari Pulau Sebesi ke Pulau Anak Gunung Krakatau dengan gelombang lumayan tinggi membuat banyak peserta KO. Wajah-wajah gembira berubah menjadi ungu, dan tidak sedikit yang muntah sambil memanjatkan doa. Saya berulang kali menenagkan mereka, bahwa nahkodanya sudah berpengalaman, lautan luas ini bagai halaman belakang rumah baginya. Repot sih, tapi asyik. Jadi paham cara men-treat orang-orang yang berbeda. Pokoknya cuma harus telaten dan sabar. Cerita ribet di atas belum termasuk permintaan mengajari berenang, dan request peserta untuk foto underwater berlatar belakang terumbu karang Lagon Cabe tapi ogah lepas pelampung. Sabar.

Setelah trip tersebut, ada pemikiran yang terus membuat saya brainstorming dengan diri sendiri. Asyik juga ya, bikin trip sendiri. Selain bisa minta jatah free seat, ya pengalamannya itu yang priceless. Yang terpenting sih tujuan utama saya jalan-jalan, yaitu buka wawasan dan link seluas-luasnya.

Dan oleh sebab itu (mendadak kayak UUD), saya mencoba untuk buka trip lagi. Masih seputaran Banten-Lampung. Yaitu ke Pulau Tunda. Pulau yang secara administratif masuk ke Kota Serang, Banten. Kalau dikalkulasi biaya untuk:

- Transport dari Serang ke Pelabuhan Karangantu (Pelabuhan menuju Pulau Tunda)

- Sewa kapal untuk hopping island

- Makan 4 kali

- Snorkle gear

- Guide lokal

- Dokumentasi

- Dan kegiatan optional seperti menanam bakau

Maka semua biayanya adalah 450.000 IDR/Pax. Terjangkau, kan? Mau ikut? Boleh. Saya Yos, can reached on Whatsapp 081288351044 (curhat available) untuk detail itinenary. Ajak kawan biar rame! Kuy =)

10 komentar

  1. Wkwkwk seru baca pengalamannya, akhirnya jadi ketagihan buka open trip ya hehhe...sampe ada iklan terselubung di akhir cerita hahah...sip semangat selalu dan Salam Kenal

    Tim Goodbackpack ID | Tukang Jualan Tas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas. Semoga bisa jadi usaha di masa depan. Amin.

      Delete
  2. Meskipun ribet, tapi ada enaknya juga kan kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget, Mas. Ketagihan lah. Ikut atulah, yuk =)

      Delete
  3. wah pengen pengen
    tapi aku jauhnya minta ampun
    eh masa sampe ungu mas? horor gitu naik gunungnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang Mas Ikrom dari mana, kah?

      Iya Mas, horrornya sih ketika pas terombang-ambing di laut waktu otw ke pulau Gunung Anak Krakataunya. Pada mabok laut dan gelombang tinggi.

      Delete
  4. wah harus menghadapi banyak org dengan banyak karakter ya

    ReplyDelete
  5. wah hrs bisa menghadapi banyak karakter orang ya

    ReplyDelete
  6. INI yang paling hot issues...

    ... Ketika waktu sudah habis dan peserta diminta naik kembali ke perahu, ada dua orang yang belum kelihatan. Saya melempar pandang ke arah sekeliling pulau, sudah sepi. Dua orang itu tidak nampak. Masa sih ke tengah laut? Di ujung cakrawala mana pun pandangan saya tidak menangkap adanya kehidupan...

    ada-ada aja itu si mas botak madura..... :D

    ReplyDelete

My Instagram