Nasi Kebuli Bang Moch, Kuliner di Tangerang Selatan

Terkadang menemukan tempat makan enak tuh bisa secara tidak sengaja. Minggu lalu saya sebetulnya cuma niat menengok teman kantor yang sakit di Ciledug bersama beberapa rekan dan bos kantor. Selepas bersua dan menghibur si kawan yang sakit, bos saya mengajak untuk makan siang. Ya sebagai anak buah yang baik, dan ehm, oportunis, mana mungkin saya tolak ajakan beliau.

Pak Bos megajak kami makan di sebuah tempat dengan nama Nasi Kebuli Bang Moch. Lumayan menambah khasanah kuliner di Tangerang Selatan dan sekitarnya. Cukup melelahkan juga untuk sampai sini kalau menggunakan mobil. Bukan karena jauh, tapi karena macet. Rumah makan ini terletak di antara Ciledug dan Bintaro. Di jalan utama menuju Jombang. Kalau dari tol JORR, keluar saja di Bintaro, kemudian cari jalan raya Jombang-Ciledug, ambil yang ke arah Ciledug atau Pondok Aren. Nanti rumah makannya ada di sebelah kiri. Sudah saya spoilerkan di atas, sabar-sabar aja akan macetnya.

Nasi Kebuli BangMoch ini tampilannya standar rumah makan pada umumnya. Tidak instagramable, jadi bisa fokus makan tanpa harus repot memikirkan spot foto yang bagus untuk upload sosmed. Bercat merah, ada space untuk makan lesehan, dan jejeran foto artis yang pernah makan di situ. Ada Marissa Haque dan Ikang Fawzi, loh. Unch, my love!
 
Cocok nggak buat dua keluarga besar ketemu?
 
Artis cuy...
 Ada tiga menu utama nasi di sini nasi kebuli tentu saja, nasi biryani, dan nasi mandhi. Saya memesan nasi biryani kambing bakar madu. Dan teman saya sepakat untuk memesan nasi kebuli ayam bakar. Biar bisa saling icip. Mumpung ditraktir bos, feel free lah, ya.

Ketika nasi biryani saya datang, yang terbayang adalah pengalaman dulu saya pernah makan nasi sejenis di kantor waktu masih bekerja di perusahaan India. Nasinya betul-betul India asli, untuk lidah orang India. Rempahnya bikin hidung dan otak kehilangan chemistry. Dan langit-langit mulut terasa panas, seperti tidak sengaja menelan parfum. Tapi setelah saya mencoba beberapa suap, kekhawatiran saya sirna bersama daging kambing bakar madu empuk, lembut, yang mulus meluncur ke perut saya. Aroma jahe dan pala begitu kental, tapi tetap dalam batas toleransi lidah Indonesia saya. 
Biryani kambing, nih gaes....
 
Seingat saya, aroma dan rasanya mirip seperti nasi biryani ayam yang pernah saya nikmati di kedai milik keluarga India-Vietnam di tepi pantai Mui Ne, Vietnam. Walaupun chef-nya indiahe acha acha, tapi cita rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Asia Tenggara. Nah, di Nasi Kebuli Bang Moch ini hampir sama. Yang membedakan, biryani di Bang Moch ada topingnya berupa kismis. Jadi ada rasa asam manis plus mint meleleh yang segar ketika bercampur dengan pulennya beras basmati yang sudah tertanak. Oh iya, ada juga ‘acarnya’, lebih ke salad sih menurut saya. Mentimun, wortel, kol, dan potongan bawang Bombay berbentuk cincin. Rasanya jadi meriah! Kalau waktu di Mui Ne, nasi biryaninya polos. Hanya nasi dan ayam, tok.

Kalaulah ada yang saya sesali adalah, es teh manis di sini. Baiknya setiap rumah makan jangan meremehkan es teh manis. Kalau ada riset resminya, mungkin es teh manis ini adalah minuman paling banyak dipesan di semua rumah makan. Jadi bisa jadi representasi sebuah tempat makan. Di Nasi Kebuli Bang Moch ini es teh manisnya, amboi manisnya. Mungkin peraciknya sedang melihat list lagu-lagu Slank dan berhenti di judul Terlalu Manis. Rasanya tuh bikin gusi ngilu. Giung bahasa awamnya, mah.

Bos saya bilang, dia punya teman yang tinggalnya di depok dan suka bela-belain makan di sini. Tiga jam lah dari Depok untuk menikmati Kuliner di Tangerang Selatan ini. Tapi energi yang terbuang pasti kembali dengan porsi nasi biryani ini. Pesan saya, jangan dipesan nasi biryani di sini jika:

1. Perut tidak kosong-kosong amat

2. Diet

3. Nyari martabak

Porsinya bikin kenyang awet. Saya waktu makan ini di jam makan siang, dan sampai malam nafsu makan saya belum juga terbit karena perut masi terasa penuh. Akibatnya saya tidak sempat mencicipi nasi kebuli teman saya. 
Nasi kebuli yang pergi tanpa sempat aku cicipi =(
Jahat tidak sih, makan di Nasi Kebuli Bang Moch tapi tidak makan nasi kebuli? Jika itu disebut sebuah pengkhianatan, saya mohon maaf ya Bang Moch. Pokoknya terima kasih saya sebesar dan sedalam-dalamnya karena sudah menambah pilihan kuliner di daerah Tangerang Selatan. Range harga 40.000-70.000 Rupiah amat pantas. Di Tebet ada loh yang seporsi nasi kebuli sampai 125 ribuan.

Oh iya, saran, tempat parkirnya diperluas dong =)


7 komentar

  1. Kenyang bgt ya, sampe g sempat icipin nasi kebulinya

    ReplyDelete
  2. Aiiisshhhhh aku lgs tergoda inii :D. Nasi biryani, mandi ato kebuli itu memang paling mantap :D. Biasanya sih yg aku srg pesen nasi mandi mas. Tp biryani ama kebuli jg enak kok. Sayang ini jauh banget yaaa :( . Tp boleh lah kalo aku lg cuti sempetin ksana.. Dr rawamangun jauh banget :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum cek sih, tapi coba deh, siapa tau bisa digojek. Eh tapi gojeknya mau gak, ya? =D

      Iya, Mbak cobain deh. Minimal nggak nyesel, deh.

      Delete
  3. Berarti, kalo nanti gue ke sana ada foto lo yang dipajang ya, Yos.

    ReplyDelete
  4. thank u infonya.. nambah referensi lagi nih hihihi

    ReplyDelete
  5. wahhhh dipajang asik juga ;D

    ReplyDelete

My Instagram