Mencoba Mudik ke Pandeglang Biar Kesannya Travelling

Tuesday, July 04, 2017

Sejak pindah ke Pandeglang, pulang ke rumah menjadi sedikit rumit bagi saya. Dulu waktu rumah orang tua masih di Cilegon, masih mudah mobilisasinya. Tinggal naik bus Arimbi jurusan Kalideres-Merak sekali dengan biaya 25 ribuan. Nah, ke Pandeglang beda cerita. Ada sih bus yang langsung dari Kalideres menuju daerah tujuan, tapi entah kenapa saya kurang cocok naik operator bus tersebut. Jarang ada yang AC, ngetemnya seabad, penumpangnya suka ngerokok seenaknya, sopirnya merasa James Bond sehingga menganggap bus berukuran besar adalah pesawat tempur yang bisa bermanuver, dan yang paling menyebalkan adalah tidak adanya sistem ongkos yang baku. Beberapa kali naik bus ini selalu ongkosnya berbeda. Main tembak. Saya malas berdebat dengan kondekturnya.

Jadi biasanya saya ambil cara yang lebih ‘manusiawi’. Naik Arimbi yang nyaman dari Kalideres sampai Serang, lalu naik microbus jurusan Pandeglang, kemudian menggunakan ojek sebagai tranportasi pamungkas ke rumah. Lebih lama, dan bisa jadi lebih mahal karena jika microbusnya tidak ada, saya harus mensubstitusinya dengan dua kali naik angkot. Sebagai perbandingan, kalau naik bus yang, katakanlah, ‘brutal’ tadi hanya memakan waktu 3 jam, maka dengan cara saya bisa sampai 4 jam.

Kemudian tiba-tiba teringat kalau kereta Commuterline kan sudah terhubung sampai Stasiun Rangkasbitung. “Rangkas kan deketan sama Pandeglang. Bisa nih dicoba”, demikian pikir saya, biar ala-ala travelling juga. Kebetulan bulan puasa ini saya tidak jalan-jalan sama sekali. Dan di suatu pagi yang cerah saat menjelang akhir Ramadhan, saya pun mencoba cara baru ini untuk ‘mudik’ ke Pandeglang. Pukul 07.00 saat itu.

Begini tahapannya

1. Naik Commuterline Kalideres-Rangkasbitung

Please, jangan berpikir ini akan berjalan dengan mudah. Apalagi saat itu sedang puasa, mesti sabar. Karena dari Kalideres saya harus transit di Stasiun Duri. Dan saya harus mengambil kereta yang menuju Tanah Abang.Wich is, itu berbarengan dengan banyaknya populasi ibu-ibu dengan niat mendapat pahala puasa karena membelanjakan nafkah dari suami secara sebagaimana mestinya dengan memborong beraneka sandang. Dari Tanah Abang, saya langsung ambil jalur tujuan Rangkasbitung. Di Stasiun Tanah Abang ini ada jembatan penyebrangan serupa skywalk di mal-mal. Dari atas pemandangan ke bawah lumayan keren. Pola rel kereta yang seperti lidi saling berpotongan dan tumpang tindih tak teratur sungguh menarik hati. Belum lagi langit biru yang cerah dengan selingan awan putih tipis-tipis. Saya foto-foto sebentar, mengacuhkan kereta di jalur tujuan saya yang sejak tadi berhenti. “Ntar juga ada lagi”, gumam saya. Puas foto-foto saya pun turun menuju peron, kurang dari dua anak tangga kereta tersebut, yang seharusnya saya naiki, berangkat. Oke, masih santai. Lima menit. Sepuluh menit. Es di kutub mencair beberapa juta kubik. Kok lama, ya? Saya bertanya ke petugasnya dan mendapat jawaban yang lagi-lagi sangat menguji kesabaran, “Lah keretanya barusan berangkat tadi. Paling nunggu satu jam lagi untuk kereta berikutnya”. Saya mulai kehabisan alasan untuk santai. Lalu ada kereta datang, jurusan Maja tapinya. Masih kurang dua stasiun lagi untuk ke Rangkasbitung. Tak apalah naik saja, daripada menunggu lama. Sekitar jam setengah sepuluh pagi ketika saya naik. Sampai di Maja jam setengah dua belas. Menunggu lumayan lama, dan sampai di Rangkas sudah setengah dua siang. Cairan tubuh rasanya berkurang lebih dari setengah. 


2. Naik Angkot Dari Stasiun Rangkasbitung ke Depan Terminal Mandala

Harus saya akui, kinerja PT KAI dalam membuat jalur commuterline sampai Rangkasbitung itu patut mendapat apresiasi besar. Kalau dilihat dari sisi komersil, jalur ini kurang menarik karena melewati Banten bagian selatan yang sebagian besar wilayahnya ‘belum kota’. Tapi harus dikritik juga tentang ketertiban di stasiun dan tata letaknya. Keluar dari Stasiun Rangkasbitung saya langsung disambut pasar. Stasiun dan pasar tidak berjarak. Banyak angkot dan becak ngetem. Pasarnya pun tergolong tradisional sehingga menyebabkan aroma sayuran dan ikan yang sudah tidak segar menyeruak kemana-mana. Saya bertanya kepada petugas jika ingin ke arah Serang, karena rumah saya adalah Pandeglang yang dekat Serang, angkot apa yang harus saya naiki. Petugas berambut cepak Guile Street Fighter itu mengarahkan saya untuk naik angkot warna merah di ujung jalan pertigaan pasar. Okelah, akhirnya saya jalan menantang panas dan bau pasar di hari yang demikian terik.

Di ujung jalan saya menemukan angkot yang dimaksud. Ada angkot yang sudah tua, dan ada yang masih bagus. Secara naluri, saya naik yang masih bagus dong. Tapi,

“A, jangan naik yang itu, A, yang belakang aja!” Sopir angkot tua meneriaki saya. Ya sudah, saya menurut. Saya naik yang angkot yang jelek. Penumpangnya baru ada saya seorang. Semenit, dua menit, sepuluh menit, Ayu Tingting liburan ke Swiss, satu jam…angkot tak kunjung jalan. Sampai akhirnya,

“A, pindah angkot yang depan aja, A. Akiknya soak kayaknya, nih!”

“BANGS…” Astagfirullah. Puasa.

Saya pindah ke angkot yang depan. Yang mana angkot pertama yang ingin saya naiki sejam lalu. Angkot pun berangkat. Mulai meninggalkan jalan besar dan jadi kecil karena banyaknya PKL yang jual ikat pinggang, action figure Sponge Bob berupa balon, sampai nomor perdana buat ponsel. Tidak berapa lama, saya dan beberapa penumpang lain disuruh turun.

“Abis..abis…abis..”

Lah? Sampe?

Ternyata tidak begitu jauh. Saya pun membayar dengan uang sepuluh ribu. Lalu berdiri dengan jaga wibawa menunggu kembalian.

“A, kurang atuh segini, mah”

“Hah?”

“Kurang dua ribu.”

“Deket kok, dari pasar tadi.”

“Iya kurang, tambah lah. Kan buat lebaran.”

Anjir! Siapa ini sarjana yang pertama nulis bahwa hari raya mempengaruhi tarif organda? Untung di angkot, coba kalo di ring tinju, itu sopir udah kena suplex ala Chris Jericho. 


3. Naik Angkot dari Mandala ke Pasar Pandeglang Angkotnya warna biru. Demografi penumpangnya kebanyakan seperti saya, mereka yang dari Jakarta mau pulang ke Rangkas, Lebak, atau Pandeglang. Sejengkal pun ini angkot tidak bergerak sebelum tiap inchi bangkunya penuh oleh penumpang. Ya Tuhan, sudah hampir jam setengah tiga. Ongkosnya sepuluh ribu, padahal jaraknya lebih jauh. Mendadak ilmu ekonomi mikro saya tidak berguna.


4. Naik Angkot dari Pasar Pandeglang ke Cadasari Rumah sudah semakin dekat. Dari Pasar Pandeglang angkotnya sudah mulai familiar bagi saya. Warna hitam. Saya naik sebuah angkot hasil karoseri merek Daihatsu yang masih baru. Asik. Tenaga saya sudah sisa-sisa hasil dari berdesakkan dan terpanggang panasnya hari. Ada ibu-ibu sama anak kecilnya yang nangis karena tidak kuat puasa. Akhirnya si ibu turun sebentar, beli teh botol dingin dan memberi anaknya minum. GLEK, GLEK, GLEK. Asli, suara lewatnya air di tenggorokan sampai terdengar. Dan si ibu juga ikut-ikutan minum. GLEK, GLEK, GLEK. Kalau tidak ingat akan adanya siksa yang pedih di hari akhir, mungkin saya sudah beli mijon.

“Kamu sih batal puasanya, ibu jadi ikut-ikutan batal nih.” Kata si ibu.

“APA HUBUNGANNYA, ANJIR!!!” Umpat saya dalam hati. Astagfirullah, puasa ih. 
Angkot pun jalan. Lumayan, ada udara masuk. Dan setelah beberapa menit perjalanan, angkot tiba-tiba berhenti dan mematikan mesin. Loh? Mogok? Ada godzilla lewat? Si sopir melongokkan kepalanya dan berkata,

“Punten yeuh, saya bayar listrik dulu. Takut besok tutup, kan mau lebaran.”

COBAAN APA LAGI NI!!!

Sebrutal-brutalnya angkot di Jakarta, belum pernah saya temui yang berhenti di tengah trayek karena sopirnya harus bayar listrik.

Saya sudah pasrah kalau harus pingsan saat itu.

5. Naik Ojek dari Pasar Cadasari ke Rumah Bahu abang ojek adalah yang ternyaman hari itu. Aku damai bersamanya.


Kesimpulannya.

Saya kapok pulang ke Pandeglang naik commuterline jurusan Rangkasbitung. Tidak efektif dan efisien. Dari segi waktu, biaya, atau kenyamanan. Sudah lah, naik Arimbi terus nyambung microbus sudah paling hakiki. Rangkasbitung-Pandeglang tidak sedekat dugaan atau skala minor di peta.

Hari itu saya menjadi pelaku perjalanan panjang yang dimulai jam 07.00 sampai rumah jam 16.00. Tujuh jam dong. Kalau pakai mobil pribadi, asumsi kondisi jalan normal, dengan waktu yang sama saya sudah sampai di Jawa Tengah. Sedih =(


You Might Also Like

18 comments

  1. Wkwkwkwkwkw... Ya ampun maaaas.. Maaf yaa aku sampe ngakak. Mana lg di trans bacanya.. Jd ga enak ama penumpang lain yg ngliatin aku :p. Tp ini emg perjuangan bgt cm mau ke pandeglang doang :p. Itu supir angkot emg minta dikeplak huehehe... Aku jg ogah kali kalo hrs 7 jam an naik kendaraan umum ga jelas gitu k daerah yg sbnrnya ga jauh2 amat hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, ndak apa-apa. Yang penting jangan sopir trans-nya aja yang ngakak.

      Eamang, kapok dah udah ke Pandeglang via Rangkasbitung =(

      Delete
  2. Wakwakkkk ane juga kapok naik commutterline rangkas bitung

    ReplyDelete
  3. Ya salam. Begini amat mau pulang ke rumah doang. Turut berduka cita, tapi aku pengen ngetawain juga. Wkwkkw..
    Tahun ini aku ada rencana mudik pake commuterline. Tapi alhamdulillah gak jadi. Krna karena dr awal udh ngebayangin keribetannya. Tapi gak nyangka, yg sampe Cadasari aja ribetnya kayak gitu. Wkwkkw
    Aku kl ke Pandeglang biasa naik bus ke Kalideres. Trus naik bus lagi ke Jurusan Labuan. Atau bisa juga naik yg jurusan ke Serang. Ada AC, dinginnya kayak di kamarnya dia..
    Baru deh sambung menyambung angkot kecil buat sampai di tujuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo bus langsung jurusan labuan aku ndak sanggup Nuy, ngebut gila-gilaan kayak bawa bebek. Kalo emang harus naek bus itu ya paling dari Serang.

      Delete
    2. Kenapa kalian ga mudik bareng aja, sih? Kan bisa saling ngenalin: 'Mak, ini yang ga mau sama aku"

      Delete
    3. Nah iya sih ngebutnya itu parah. Hahaha..
      Dari dulu kecil, aku sering diajak naik itu, Makanya suka sampe muntah-muntah. *eh..
      Pas SD - sekarang baru 1x naik bus umum, 3 tahun lalu, gak terlalu ngebut supirnya.

      Delete
  4. wah banyak juag angkutan umum yang digunakan ya, yg penting selamat sampai rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Tapi lelahnya itu loh, Masya Allah. Semoga dibalas dengan keadaan yang lebih niqmat. Ahsique.

      Delete
  5. Jiahhhh ntar aku juga musik ah, tapi cuma ke Situbondo. Kesannya Travelling nggak ya ? #DuniaFaisol

    ReplyDelete
  6. Wakakakakakakakakakakakakakakakakakakakakaka. Allahuakbar :))
    Gue ngamak. Ngakak paling kenceng pas supirnya mau bayar listrik :)) wakakakakakakakakakakak

    ReplyDelete
  7. Bangsat. Salah gue baca di kantor. Gue sedih bacanya yos.

    ReplyDelete
  8. Foto selfie dong bang di kereta. Foto selfie juga dong bang di pasar stasiunnya. Dan foto selfie juga dong sama kang supir angkotnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikut selfie dong biar jadi wefie. hehehe

      Delete
  9. Sabar bang, semua itu ada hikmahnya hehehehe..

    ReplyDelete
  10. Wah seru ya mudiknya... aku paling suka naik kereta kalo mudik. Bis? Kapok

    ReplyDelete
  11. wahhh,emang angkot biasa ngaret :)

    ReplyDelete

Google+ Badge

Arsip Blog