Kong: Skull Island

Rabu, Maret 15, 2017

Ekspresi lo, ketika kelebihan pakai Wak Doyok. (Sumber: Google)

Kenapa saya akhirnya memutuskan untuk lebih tertarik Kong : Skull Island daripada Logan adalah, karena saya suka dengan dua versi film sejenis di tahun 1976 dan 2005 dengan judul King Kong. Entahlah Skull Island ini dimaksudkan untuk meremake King Kong atau memang Kong: Skull Island ini adalah ide yang benar-benar baru. Tapi kalau memang ide baru, premisnya masih sama, tentang hewan buas yang ternyata mempunyai hati seorang ksatria.

Perbedaan paling mencolok Kong: Skull Island dengan pendahulunya adalah dari segi cerita dan ritme alur film. Pemicu cerita memang masih seorang ilmuwan gila penuh ambisi yang percaya bahwa di bumi ini ada tempat yang belum pernah dipijaki manusia. Namun bedanya dengan King Kong, ilmuwan ini tidak ditemani sekelompok pembuat film dan artis Broadway.

Lalu bagaimana ritmenya? Nah ini. Dari awal, Skull Island tidak memberi ruang untuk misteri “apakah makhluk itu betulan ada?”. Rasanya, di awal film penonton sudah mendaki seperempat dari bukit-bukit cerita. Sangat sedikit dialog-dialog tentang adanya sebuah tempat misterius dan adegan perdebatan apakah itu mitos atau bukan. Saking cepatnya dialog-dialog itu, saya sampai luput menemukan alasan kenapa ahli hutan yang diperankan Tom Hidlestone bisa ditemukan di sebuah ‘karoke dangdut’ di Saigon, jago silat pula. Dan penonton tidak akan peduli dengan logika bagaimana bisa ada fenomena alam berupa aurora di sebuah pulau di Pasifik selatan.

Skull Island jauh lebih banyak actionnya tanpa ada romansa bikin baper atau cinta terlarang Gorilla raksasa yang kebuasannya takluk oleh tatapan bermuatan kasih dari mata seorang wanita. Yup, full action. Hide and seek. Jebret. Duar. Agh. Njing. Dan diselingi dengan lanskap hutan tropis dan set yang saya yakin berlokasi di Phi Phi Island, atau Ha Long Bay. Atau mungkin Raja Ampat. Pokoknya indah banget, anak pecinta alam kalau nonton film ini pasti bawaannya pengen buka tenda.

Tom Hidlestone, walaupun dia memerankan salah satu tokoh sentral, tapi rasanya kok ya tertutup dengan karakter Samuel L Jackson yang bossy, otoriter, dan nyebelin kampret. Mungkin karena saya terlanjur teracuni bahwa Tom adalah Loki yang jahat. Makanya ketika dia jadi protagonis seperti melihat gebetan yang dulunya bad menjadi nice. Menyenangkan sih, tapi ngebosenin.

Lalu sosok Kong di sini sangat berhasil dikesankan menjadi makhluk yang perkasa nan ksatria. Karena di sini plotnya mengharuskan sang makhluk perkasa ini mempunyai musuh bebuyutan. Jadi tercipta pemikiran good and bad guy. Tampilannya pun lebih gagah, tidak lagi realis seperti gorilla di kebun binatang tapi ukurannya gigantis.

Jadi secara keseluruhan, apa yang bisa didapat dari Kong: Skull Island? Selain kumpulnya tokoh Marvel seperti Tom (Loki), Samuel Jackson (Nick Fury), dan Brie Larson (Captain Marvel), penonton akan banyak terkaget dengan scoring ala film horror di mana banyak adegan munculnya sesuatu secara tiba-tiba. Kita tidak bisa istirahat barang sebentar, karena film ini adalah satu adegan action ke adegan action berikutnya.

Kalau memang pilihannya adalah film ringan tapi tetap menegangkan, ya Kong: Skull Island ini sangat boleh disaksikan.

You Might Also Like

2 komentar

Google+ Badge

Arsip Blog