Yogya, Setangkup Haru Dalam Rindu

Senin, Mei 05, 2014

Stasiun Tugu agak gerimis di suatu sore. Saat itu peralihan dari akhir Mei ke awal Juni 2013. Pasca turun dari kereta Gajah Wong gue langsung memegang tangan halusnya erat. Takut kehilangan. Ini bukan gombal, tapi emang beneran takut dia ngilang di antara para penumpang yang turun dan naik dari beberapa rangkaian gerbong. Belom lagi ditambah sama penyedia jasa angkutan mulai dari taksi sampe becak yang bikin suasana jadi tambah crowded. Gue mempercepat langkah dan menggenggam tangannya makin erat, nggak peduli kita baru aja melewati perjalanan lumayan melelahkan selama 8 jam dari Jakarta.
Kita berdua menghirup udara yang lumayan seger ketika sampai di pintu keluar. Bau tanah yang kesapu gerimis begitu khas. Wangi Yogyakarta! Nggak jauh di hadapan kita berdua adalah ruas jalan paling legendaris di Yogya. Tapi gue bakal cerita tentang jalan ini belakangan. Karena itu adalah bagian paling, let say, menguras energi.
Entah kenapa harus Yogakarta. Mungkin karena ini adalah jalan tengah dalam menentukan kemana kami akan ‘melarikan diri’ sejenak dari rutinitas kerjaan yang nggak ada habisnya, bos resek, dan partner kerja dengan sealaihumgambreng permasalahannya. Yogya bisa merangkum semua kegiatan yang kita butuhkan untuk berlibur. Alam, budaya, belanja, dan kuliner, semuanya bisa didapet dalam satu kayuhan dayung.
Misalnya aja nih ya, dengan modal seratus ribuan kami nyewa motor dari seputaran Jalan Dagen ke daerah Kaliurang, cari udara segar dan kesejukan yang langka. Waktu itu kami pake jaket couple warna hijau tua yang sengaja kami beli di Jakarta untuk trip kali ini. Jalanan nanjak melewati lereng gunung dan udara yang makin dingin sama sekali nggak berasa karena di atas motor matic itu kami ngobrol ngalor ngidul tanpa beban. Dan yang penting, tangannya memeluk pinggang gue. Kami merasa seperti Sultan dan Kanjeng Ratu pemilik jalan. Yang laen mah rakyat jelata, ngontrak aja deh.
Di depan peta perebaran gunung api. Keren ga petanya?

Kami mengunjungi Museum Gunung Merapi. Tapi apalah arti museum dan segala fakta-faktanya untuk dua orang yang sedang digandrung cinta. Harusnya gue dan dia berdiskusi tentang sejarah Gunung Merapi disertai dengan segala mitos-mitosnya. Karena tempat ini benar-benar menarik, penuh ilmu, dan membuka mata gue bahwa Indonesia harusnya bangga punya banyak gunung api. Tinggal bagaimana pemerintahnya melakukan manajemen bencana yang benar. Tapi apa mau dikata, gue malah asyik ngegombalin dia di depan maket Gunung Merapi beserta daerah-daerah yang mengelilinginya. Lukisan Merapi di dinding museum seolah mewakili perasaan gue. Perasaan yang membuncah, berpijar, mengalir, dan meletup-letup. Indahnya Merapi, selain lava pijarnya bisa menggemburkan tanah, ternyata dia juga pandai meniru perasaan hati manusia.
Di Depan Museum Gunung Merapi. Keren ga?

By the way, ini kok jadi galau gini yah? Ini kan ceritanya gue lagi liburan loh. Anyway, sampailah kita di Malioboro. Pusatnya Yogyakarta. Dimana seluruh elemen masyarakat Yogya mulai dari pengusaha sampai turis bertemu. Shoping di sini emang udah paling bener deh. Dia selalu ngomelin gue karena gue kurang pinter nawar. Akhirnya kita bagi tugas, gue yang pilih barang dan dia yang nawar. Seneng banget rasanya ketika dia suka sama batik warna abu-abu pilihan gue. Kita beli di Toko Batik Mirota. Sempet kecele juga sih, biarpun namanya toko batik, tapi ternyata di dalam toko ini segala rupa ada. Saking niatnya nih toko, mereka sampe mempekerjakan pembatik betulan untuk demo menulis batik di depan semua pengunjung. Harapan gue sih cuma satu, semoga batik pilihan gue masih dia pake sampe sekarang.
Lelah menyusuri Malioboro, kamipun lapar. Gerimis mulai turun. Lampu-lampu jalan berbentuk heksagonal itu bersinar temaram berwarna kuning tua. Kami duduk di sebuah lapak dan memesan bebek goreng. Nggak terlalu enak. Tapi siapa yang peduli. Just me, and her sweet killing smile. Gini, ada nggak yang bisa jawab: Adakah yang lebih romantis selain kombinasi rintik gerimis dan Yogyakarta?
Abis borong batik. Keren ya topinya?

Dan pada akhirnya bahkan Jalan Malioboro yang dicintai banyak orang itu juga memiliki ujung. Seperti sebuah hubungan yang memilih untuk tiba diujung lebih awal karena tergerus lelah dan frustasi. Pedes. Sepedes sambel nasi kucing yang gue dan dia makan di Angkringan Lek Man. Dan berat. Seberat mengayuh sepeda kerlap-kerlip aneka warna di alun-alun Yogya.
Di ujung Jalan Malioboro. Keren ya yang naek sepeda?

Jadi sekarang, jangan heran kalo ngeliat gue minta tolong seseorang untuk nahan gue nyilet-nyilet urat nadi pas denger lagu Yogyakartanya Bang Katon Bagaskara. Bahkan gue sempet berjanji, kalo nggak ada yang urgent-urgent banget semisal diundang nonton bola bareng Sri Sultan, gue nggak bakal balik ke Yogyakarta lagi. Mungkin karena seperti yang Bang Katon bilang dalam lagunya, ada setangkup haru dalam rindu  di sana. Harunya sih udah ilang, tapi rindunya itu loh, aeeeee mateeee….. *ngacak-ngacak jemuran tetangga*







You Might Also Like

10 komentar

  1. yooossss...... ngakak abis gue bacanya. Kacau banget dah itu sosok seseorang masih juga ikutan dipajang dengan muka di blur pula. Ampooon dah. Ini mah namanya cinta lama gagal move on. Btw anyway busway, jogja emang maknyus, buat gue kota itu kota seribu satu kenangan. Setel lagu KLA ah.... *sodorin silet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, ini sepanjang nulis juga diiringi lagu Aku Rapopo-nya Julia Perez =(

      Hapus
    2. Muahahahaha...
      *numpang ngakak*

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Yogya, Truly never ending Indonesia :)
    Tempat di mana selalu ingin kembali.
    Salam kenal, mas yos ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, nanti kalo udah punya istri mesti balik ke sana ='). Salam kenal juga Mbak Indah. *Jabat tangan*

      Hapus
    2. Nah ini... inget pesennya gol a gong. Bikin lg ntar tulisan dg judul... membunuh kenangan lama dengan menciptakan cerita baru ;)

      Hapus
  4. wanitaku, cintamu tak setulus jogja... :)

    BalasHapus
  5. aiiihh..liat foto yg diblur dan ditutup itu saya jadi bingung mau komen apa biar enggak nyilet2 perasaan Mas Yos :) Tenang aja Mas, saya yg KLanis level galaksi aja enggak suka sama lagu Yogyakarta koq, jadi gak bakalan ngajak Mas Yos ndengerin lagu itu :) Bener kata Mak Noe tuh, bunuh kenangan lama dg membuat cerita baru.

    Terima kasih sudah berpartisipasi di GA ini ya, good luck.

    BalasHapus

Google+ Badge

Arsip Blog