Perjalanan Aneh dan Sebentuk Hati

Friday, August 23, 2013

Perjalanan aneh ini terjadi tanggal 25 Februari 2012. Gue emang nggak ketemu naga, kuda terbang, babi ngepet, kecoa buntung, dinosaurus, brontosaurus, kuntilanak hamil, atau makhluk abstrak lainnya dalam trip gue ini. Tapi cukup aneh.
Kenapa gue sebut perjalanan aneh? Dari awal persiapannya aja udah aneh. Jadi ceritanya gue lagi nongkrong bareng beberapa temen di sebuah restoran junk food. Satu diantara mereka tiba-tiba nyeletuk ngajakin naek gunung Burangrang di Bandung.
“Naek gunung? Di Bandung? Jauh juga. Gue belom packing.”
“Gue juga belom packing. Tenang, Burangrang medannya nggak terlalu berat, packing-nya nggak begitu ribet. Santailah…”
“Okelah.” Tanpa pertimbangan yang matang gue mengiyakan. Toh gue juga nggak ngapa-ngapain juga weekend itu. Ditambah lagi gue lagi ada masalah sama pacar gue. Udah dari beberapa hari lalu gue putus kontak sama doi. Telepon gue nggak diangkat, SMS ga dibales, BBM nggak digubris, mention di Twiter ga diretweet, nulis pesan di dinding Facebook nggak ngaruh, nekat nulis di dinding rumahnya malah dikejar-kejar bokapnya. Akh, sudahlah... akhirnya, gue memutuskan untuk ikut ke Burangrang.
Tuh, aneh kan? Dimana-mana yang namanya mau jalan-jalan apalagi naek gunung kudu ada persiapan matang. Lah ini, modal semangat dan hati galau doang. Gue sempet terhibur waktu temen gue bilang, “Biasanya sesuatu yang spontan itu asyik.”
Udah gitu sepulangnya dari restoran junk food gue nggak langsung balik ke rumah untuk packing, melainkan sempet-sempetnya maen futsal sampe tengah malem. Abis maen futsal terus pulang? Nggak. Gue masih sibuk minjem kesana-kemari equipment naek gunung yang belom komplit. Bersihnya, baru jam satu lebih dini hari gue sampe rumah. Itupun gue baru packing jam tiga pagi gara-gara nonton film cina dulu di TV yang seru abis. Kelar packing nggak bisa tidur ampe subuh. Abis sholat langsung berangkat ke Serang, tempat yang udah gue dan temen gue sepakati sebagai meeting point. Disini biar gue perjelas: Gue hari itu mau naek gunung, aktifitas yang menuntut kesiapan fisik luar biasa, tapi malemnya gue sama sekali belom tidur dan ketika berangkat nggak pake sarapan.
Oh iya, sebelum gue lupa, gue mau deskripsikan dulu partner sarap yang ngajakin gue naek gunung mendadak kali ini. Anak cowok lebih tua setahun dari gue. Dia ini punya mata sipit, jadi dulu temen-temennya manggil dia dengan panggilan ‘Chen’ biar agak kemandarin-madarinan. Seiring berjalannya waktu, Chen ini kulitnya menghitam dan udah agak kehilangan ciri mandarinnya, tinggal matanya aja yang sipit. Sebagai jalan tengah, dia akhirnya dipanggil Chenthong (read: Centong). Ciri khas mandarin nggak ilang, tapi juga tetep mempertahankan trademark lokal Indonesia. Si Centong ini emang udah dari sononya demen banget naek gunung, dia udah pernah ke Burangrang sekali, makanya gue percaya aja sama dia. Leadership dan gaya me-manage sebuah trip ala Centong nggak perlu diragukan lagi.
Kita ketemuan di dalem bus jurusan Merak-Bandung. Centong naek dengan mata kuyu,
“Gue nggak tidur semaleman.” Katanya.
“Gue juga.”
Beberapa kali gue ke Bandung tapi baru kali ini gue tau bentuk dan rupa dari terminal Leuwi Panjang. Sebelum-sebelumnya gue kalo ke Bandung naek mobil pribadi. Pernah sih naek bus waktu SMA, tapi itu pas study tour, dan Leuwi Panjang nggak masuk dalam daftar tempat yang dikunjungi. Lagian mau ngapain coba rombongan anak SMA ke terminal? Ngojek?
Nggak seperti bayangan gue, ternyata Leuwi Panjang ini nggak sebesar yang gue duga. Sebagai perbandingan, Terminal Kampung Rambutan di Jakarta lebih gede kemana-mana.
Gue dan Centong langsung kalap nyari tempat makan begitu turun dari bus, waktu itu pukul sebelas siang. Lama juga ya, gue berangkat dari Cilegon kira-kira jam lima lewat. Wajar aja kalo gue dan Centong laper berat. Kita makan batagor di salah satu warung tenda deket pintu masuk.
Di sini baru kerasa nggak nyamannya Leuwi Panjang. Sebentar-sebentar ada pengamen yang dateng dan yang gue nggak suka, mintanya itu loh yang agak maksa. Sekali dua kali sih iya masih wajar, nah yang seterusnya itu bikin makan gue nggak khidmat. Mana lagunya itu-itu aja, padahal pengamennya beda. Kayaknya pengamen di Leuwi Panjang punya lagu wajib deh.
“Rencana selanjutnya gimana Tong?” Tanya gue disela-sela makan batagor.
“Abis ini kita menuju Cimahi.”
“Naek angkot?”
“Iya, noh yang warna ijo.”
“Kalo gitu ayo cepet.”
“Nanti, santailah…. Baru juga jam segini.”
Centong menjelaskan prosedur perjalanan sampe puncak Burangrang nanti. Jadi targetnya jam 3 sore kita mesti udah sampe pos pertama untuk lapor. Terus trekking sampe ketemu danau dan buka tenda di situ. Paginya baru summit attack ke puncak, turun dan pulang.
Selepas zuhur kita barada ditengah-tengah perjalanan menuju Cimahi dengan angkot reyot warna ijo tua. Di dalem angkot gue dan Centong ngobrol ngalor-ngidul dan ngomentarin apa aja yang kita liat sepanjang jalan. Centong banyak cerita tentang bagaimana dia ikut jadi pecinta alam di sekolahnya sebelum akkhirnya jatuh cinta pada gunung. Cukup berliku juga kisah partner gue yang satu ini. Dia juga cerita tentang keluarga, masalah-masalahnya, dan… asmaranya yang mentok. Sebelumnya gue nggak terlalu kenal mendalam temen gue ini, gitu-gitu aja. Tapi waktu di angkot itu gue seperti ngeliat sisi lain seorang Centong, dan mungkin dia juga gitu, bisa ngeliat sisi lain dari diri seorang Yosfiqar Iqbal. Dan mengenai apa yang gue dan dia bahas di angkot waktu itu, bukan kapasitas gue untuk mebeberkannya di cerita ini. Biar gue, Centong, mamang angkot, dan Tuhan yang tau.
Gue juga bercerita tentang hubungan pacaran gue yang statusnya nyamain muka gue, ancur. Centong cuma bisa bilang sabar. Jauh di dalam hati, gue sangat merindukan dia (pacar gue, bukan Centong). Waktu gue pamit untuk naek gunung aja dia nggak ngerespon. Boro-boro minta dibawain oleh-oleh kue mochi, ngucapin hati-hati di jalan aja kagak. Gue cuma berharap setelah gue pulang dari naek gunung nanti, muka gue jadi setampan Christian Sugiono dan hubungan gue dengan dia kembali membaik (Dengan pacar gue, bukan Christian Sugiono).
Sebenernya nggak terlalu jauh jarak Leuwi Panjang ke Cimahi untuk ukuran mobil, tapi perjalanan menjadi lama karena sebagian besar waktu tersita untuk lampu merah, macet, dan ngetem. Gokil aja, masa lampu merah di tiap perempatan Bandung durasinya bisa sampe dua ratus detik. Dengan durasi yang sama gue bisa berburu nyamuk sampe lima ratus ekor pake raket listrik.
Total waktu kira-kira satu jam dari Leuwi Panjang ke Cimahi, tepatnya gue turun di Pasar Antri, Cimahi. Ongkosnya ceban berdua. Nggak kerasa, gue udah agak jauh dari pusat kota. Di Cimahi pemandangannya lebih hijau dan udaranya sejuk, beda banget waktu gue masih di Leuwi Panjang.
Centong beberapa kali ngecek smart phone-nya untuk memastikan posisi dan membuka catatan perjalanan dia ke Burangrang yang pertama.
“Katanya elu pernah kesana sebelumnya, Tong?”
“Iya, tapi gue agak lupa. Harus buka blog yang pernah gue tulis waktu itu.”
“Terus, abis dari sini kita kemana?”
“Ummm… menurut catetan gue sih kita naek angkot jurusan Parimpong. Tuh yang warna ungu. Santailah, nggak bakal nyasar.”
Dengan semangat sambil memanggul keril yang beratnya naudzubillah, kita masuk ke sebuah angkot warna ungu. Syukur, masih kosong. Langit mendung dan gerimis mulai turun. Lama-lama angkot penuh penumpang. Kita berdua jadi pusat perhatian karena cuma kita yang bawa-bawa keril segede bajaj.
Jalur antara Cimahi-Parimpong dilewati angkot dengan trek menanjak. Itu adalah trek menanjak  terpanjang yang pernah gue lewatin. Sumpah, itu jalur nggak ada menurunnya sama sekali. Udah gitu luruuuussss terus, ga ada belok-beloknya. Semakin menanjak, pemandangan di kanan-kiri jalan makin asri dan menyejukkan. Suasana bising dan panas kota pelan-pelan mulai tergeser dengan rerimbunan kebun sayur, bunga, dan bukit-bukit kecil yang sedikit tertutup kabut.
“Noh, yang itu Burangrang.” Centong menunjuk ke arah sebuah siluet menjulang yang terlihat lebih tinggi dari siluet-siluet lainnya di kejauhan.
“Tinggi juga ya Tong.”
“Dari puncaknya kita bisa ngeliat Tangkuban Perahu.”
“Wuih, deket banget ya?”
“Iya. Mitos Burangrang juga konon katanya ada hubungan sama Tangkuban Perahu.”
“Oya? Gimana tuh?” Gue mulai antusias. Gue selalu excited kalo diceritain asal-usul dari suatu tempat.
“Dulu kan si Dayang Sumbing minta dibikinin perahu sama Mas Sangkuriang, nah Mas Sangkuriang ini bikin perahu dengan berbagai bahan baku dan material. Ternyata nggak semua material itu kepake dan menumpuk begitu saja. Trus kan mas Sangkuriang ngamuk dan nendang perahunya yang kemudian jadi gunung Tangkuban Perahu, nah material-material sisa yang menumpuk dari perahu tersebut yang jadi gunung Burangrang.” Jelas Centong panjang lebar. Ini kerennya naek gunung, tiap gunung pasti punya cerita dan legenda.
Angkot kami terus menanjak dan kota Bandung semakin keliatan kecil dari atas. Rumah-rumah penduduk mulai jarang. Diujung tanjakan ada sebuah pertigaan, kata Centong kita mesti turun di situ. Ongkosnya Rp.20.000 untuk dua orang plus dua keril.
Ternyata di pertigaan tersebut ada sebuah universitas. Universitas Advent kalo nggak salah namanya. Gue agak nggak nyangka aja, di Bandung ada Universitas Advent ini padahal di depan kampusnya tertulis gede banget tulisan ‘SEJAK 1949’, udah lama banget kan? Ditambah lagi lokasinya yang jauh dari strategis, bener-bener dipinggiran kota.
Cukup lama juga gue dan Centong berhenti di depan kampus dengan warna tembok dominan biru itu, sambil terus ngobrol dan mengomentari kampus itu, khususnya, ehm, para mahasiswinya.
Nggak berapa lama angkot warna kuning jurusan Ledeng-Cisarua muncul. Gue dan Centong naek. Angkot di sini cukup unik, beda dari kebanyakan angkot yang pintunya bisa dilipet dan berada disamping bodi mobil. Kita sempet kayak anak monyet kehilangan bokapnya nyari-nyari dimana tuh pintu angkot.
“Tuh A’, pintunya di belakang!” Teriak si mamang agkot. Dengan muka dipolos-polosin kamipun masuk.
Oh iya, Cisarua disini bukan Cisarua di Bogor mau ke Puncak itu ya. It’s another Cisarua, dan jujur gue juga baru tau. Jalur mobil dari pertigaan Advent menuju Cisarua ekstrem banget. Kita menemui ujung aspal yang mulus dan mulai lewat jalan aspal bolong-bolong dan berkelok-kelok. Sebelah kanan pemandangannya hutan, sebelah kiri jurang yang menganga. Parahnya, nggak ada pembatas jalan.  Tapi pemandangannya asli, demi mahasiswi Bandung yang kecantikannya bisa bikin tuyul belajar ngaji, menakjubkan banget! Kota Bandung keliatan kecil banget di bawah sana berselimut kabut tipis. Tepat di bawah jurang ada sungai yang keliatan cuma segaris, entah apa nama sungainya. Udara mulai berubah tingkatan dari sejuk menjadi dingin. Gue dan Centong udah ada di tempat yang tinggi banget sekarang.
Kami sampai di sebuah tempat dimana angkot-angkot jurusan Cisarua memarkir kendaraannya di situ. Selain itu di sana juga banyak warung, rumah makan, mushola, dan ada sebuah obyek wisata bernama Curug Cimahi. Tempat ini seperti terminal tapi terlalu kecil untuk disebut terminal.
“Bal, liat tuh!” Centong menunjuk salah satu atap bangunan yang ada di sebuah sisi tempat itu. Gue mengikuti arah yang dimaksud Centong dan mendapati beberapa ekor monyet yang entah lagi ngapain, arisan mungkin. Monyet itu nggak diikat atau dirantai, mereka hidup bebas. Betapa dekatnya gue dengan alam sekarang.
Kami singgah dan istirahat di sebuah warung sekalian makan siang. Centong pesen nasi goreng untuk dua orang. Waktu  menunjukkan pukul dua siang, masih on track sama jadwal yang disusun, toh jadwalnya gue dan Centong baru naek sekitar jam tigaan.
Setelah semua beres, gue siap-siap packing lagi dan buru-buru ngabisin segelas kopi yang tadi gue pesen. Gue udah siap berangkat. Dan disinilah keanehan-keanehan yang lebih ekstrem dimulai.
“Tong, udah mau jam tiga. Ayo berangkat, kita belom beli logistik juga kan?”
“Santailah… Temen gue ada yang mau ikut, sekarang lagi dijalan menuju kesini. Barusan SMS.”
“Berubah jadwal dong? Nggak kesorean?”
“Nggak. Kalo kesorean juga nggak apa-apa, kita langsung ke puncak aja. Kira-kira sampe tengah malem terus nge-camp di sono.”
“Yaaahhh… Kalo jalan malem nggak liat danau dong?”
“Besok pas pulang kan lewat situ juga. Santailah…”
Perasaan gue mulai nggak enak. Centong kenapa ngerubah jadwal last minute gini sih? Tapi ya mau gimana lagi, dia lebih tau, gue ikut aja. Kira-kira satu jam kami nunggu akhirnya temennya Centong dateng juga.
Anggota baru ini cewek, anak ITB jurusan Teknik Kimia. Dia nggak bawa keril kayak gue dan Centong. Cuma ransel biasa, plus tentengan kecil berisi makanan dan air mineral. Kami manggil dia dengan nama ‘Eneng’.
“Maaf telat ya….”
“Ga apa-apa Neng, ayo berangkat. Beli logistik dulu.”
Gue sempet diskusi dengan Centong,
“Tong, tenda lu tipe tunnel kan?”
“Iyah. Kenapa?”
“Muat gitu bertiga?”
“Muat. Kita kan orang Indonesia, badan nggak terlalu gede. Santailah…”
Sekedar informasi, tenda tipe tunnel itu adalah tenda yang berbentuk seperti ummm...tunnel. Begitulah kira-kira.
“Terus kalo ujan gimana?”
“Takdir.”
“Geblek, maksud gue si Eneng kan equipnya pas-pasan tuh. Taroan deh, dia nggak bawa jas ujan.”
“Mudah-mudahan sih nggak ujan. Udah, santailah…”
Dan untuk kesekian kalinya gue manut aja, toh mind set gue masih beranggapan kalo Centong ini lebih tau.
Kita beli logistik di minimarket yang ada beberapa meter sebelum gerbang pendakian dimulai. Dibagian ini cara Centong memimpin keliatan. Dia ini sangat memperhatikan apa-apa aja yang musti dibeli dan nggak perlu dibeli.
“Mie instan beli empat bungkus aja, air mineral tiga botol cukup, cemilan sebungkus, roti satu, tisu basah ukuran kecil, kopi, sama batu batere, udah itu aja…. WOI, LU NGAPAIN NGAMBIL DETERJEN???MAU NYUCI????”
Dan seperti biasa, gue ikut aja, dia lebih tau. Setelah belanja logistik, kita langsung ganti kostum. Sendal gunung segera berganti jadi sepatu untuk mendaki. Ok, ready!
Pendakian dimulai ketika kami bertiga melewati sebuah gapura besar dan bermotif loreng tentara dengan tulisan, ‘KOMANDO’. Daerah pegungungan Burangrang memang sering digunakan Kopassus untu latihan perang. Di pos perizinan nanti kita juga minta izinnya sama anggota TNI.
Jalan menanjak dimulai, dan sekarang nggak ada lagi angkot. Kita harus benar-benar mengandalkan kaki setapak demi setapak. Jalan yang kami lewati lumayan bagus untuk ukuran jalur trekking, sebuah jalan tanah menanjak tapi ditutupi dengan batu-batu kali sehingga jalur nggak licin. Sepanjang jalan itu banyak rumah penduduk yang berdampingan langsung dengan…. kandang sapi. Ya, mata pencaharian penduduk di sini sebagian besar adalah peternak sapi perah. Di setiap rumah pasti ada wadah-wadah penyimpanan susu yang digunakan untuk mengangkut susu ke koperasi desa. Udara dingin semakin menggigit ketika kami juga semakin tinggi berjalan. Hingga akhirnya kami bertiga tiba disebuah jalan berbentuk huruf  ‘Y’. Centong bingung mana jalan yang mesti diambil.
“Gue lupa, waktu itu gue ambil jalur yang mana ya?”
“Sama aja mungkin.” Kata Eneng.
“Amannya sih tanya aja ke penduduk sekitar.” Saran gue.
Centong nanya ke ibu-ibu yang kebetulan lewat, mereka berbincang pake Bahasa Sunda dan gue sama sekali nggak ngerti.
“Jadi gini, kita ambil jalur kanan atau kiri itu sama aja, nanti tembusnya di jalur utama bukit itu.” Centong menunjuk ke kejauhan. Lumayan masih jauh.
“Jadi menurut lu kita mesti ambil yang mana nih?”
“Ummm…” Centong menerawang, berpikir sejenak, “….kalo lewat kiri kayaknya jalurnya lebih nanjak tapi lebih deket, udah gitu banyak rumah penduduk, kalo ada apa-apa kita gampang minta tolongnya. Kalo lewat kanan jalannya lebih landai tapi jauh, muter gitu. Lewat kiri aja kali ya?” Centong minta persetujuan.
“Oke.”
Ternyata lewat kiri itu adalah keputusan konyol. Kita kecele, ternyata bangunan yang kita liat di jalur kiri itu bukan rumah penduduk, melainkan kandang sapi. Kita berjalan begitu dekat dengan kandang sapi dan tiap ngelewatin satu kandang pasti ada aja sapi yang minta kenalan dengan menegeluarkan suara, “MOOOOOO!!!!”. Suaranya kenceng banget, pas di kuping, karena memang antara jalan setapak dan pager itu kandang nggak ada jarak. Sementara itu di sebelah kanan jalan ada sungai kecil dengan aliran deras. Sayangnya warna air itu ijo pekat, tau dong apa? Yak betul, kotoran sapi! Baunya jangan ditanya deh, gue lebih milih nyium bau ketek gue sendiri daripada terjebak diantara kandang sapi dan sungai kecil tempat sapi buang hajat. Huek! Semuanya diperparah dengan jalan menanjak yang cukup terjal dan beban dipundak yang nggak mau ngasih ampun. Jujur mata gue udah berkunang-kunang, bukan karena capek, tapi karena bau tidak sedap yang bener-bener menyengat. Biar bagaimanapun, sapi memang lebih bersahabat dalam bentuk sate atau tong seng.
Akhirnya penderitaan kami berkahir ketika jalur utama pendakian terlihat diujung sana. Gue setengah berlari menyongsong jalan itu, nggak sabar menghirup udara segar.
“Gokil ya Tong, kalo ada yang ngerasa kuat mungkin dia belom pernah nyoba jalan nanjak sambil manggul keril dan lewat koloni sapi yang baunya lebih parah delapan kali lipat bau ketek manusia.”
Kita mulai mendaki punggung bukit, rumah penduduk udah nggak ada lagi, apalagi kandang sapi. Dan semoga nggak ada lagi kandang sapi. Hutan-hutan pinus mulai menyambut, suasana mulai hening. Nggak ada lagi bising kendaraan dan manusia, yang ada cuma gesekan-gesekan angin diantara dedaunan hutan, kicauan burung, dan kalaupun ada yang berisik itu adalah suara senda gurau kami bertiga. Sesekali kami berpapasan sama tentara yang sepertinya lagi latihan fisik dengan lari-lari di sekitar bukit.
Sinyal HP juga udah timbul tenggelam. Sebelum sinyal bener-bener ilang gue sempet ngecek HP dulu, siapa tau ada SMS dari si dia. Dan ternyata....ADA! Ada dua SMS masuk. Gue cek. Sial, SMS pertama cuma dari provider yang ngingetin supaya gue cepet isi pulsa. Padahal gue berharap itu dari dia yang ngingetin gue makan. Oke, oke, masih ada SMS ke-dua. Gue buka. Gubrak! Ternyata dari nyokap yang minta dibeliin tales Bogor. Padahal gue ngarep banget kalo itu dia yang minta dibeliin molen Kartikasari. Tapi yaaaahhh....sudahlah. HP gue matiin.
Pas jam lima sore kami sampai di pos perizinan. Ternyata disana udah rame sama para penggemar sepeda down hill. Bukit ini memang sempurna untuk jadi trek sepeda gunung. Centong sebagai pimpinan rombongan lapor ke seorang tentara berbadan kekar dan rambut cepak (Iya lah, kalo kurus dan gondrong mah anak band).
“Pak, kita bertiga mau kemping di Burangrang.”
“Wah, lagi nggak bisa tuh dek.”
 “Emang kenapa pak?”
“Jalur pendakian ke Burangrang sedang dipakai untuk latihan tempur. Bahaya, karena latihannya menggunakan peluru tajam.”
“Masih lama ya Pak? Kalo sampe malem nggak apa-apa saya tungguin.”
“Lama Dek, sampe tanggal 5 Maret.”
Dan sekarang tanggal 25 Februari, masih seminggu lebih lagi menuju 5 Maret. Lutut gue langsung lemes. Berasa sia-sia nanjak ngelewatin kandang sapi yang penuh ‘ranjau darat’. Kami bertiga terdiam sejenak. Menghirup nafas panjang.
“Jadi gimana?” Eneng yang pertama buka suara.
“Kita belok ke Tangkuban Perahu aja.” Centong kasih solusi.
“Lewat hutan?”
“Iya, kalo kita lewat jalur wisata nggak bakal sempet. Eneng tau jalurnya kan?”
“Tau sih, tapi kemungkinan jalur itu juga dipake latihan. Kan jalurnya deket dari sini.”
“Iya yah. Kalo kita ke Ciwidey aja gimana?” Centong ngasih opsi lain.
“Keburu nggak? Udah hampir magrib gini.” Gue mulai ragu.
“Kita mesti cepet turun, magrib harus udah dibawah. Mungkin masih sempet.”
Kami buru-buru turun dari bukit itu menuju terminal kecil Cisarua lagi, tapi kali ini nggak lewat kandang sapi. Sepanjang perjalanan ke bawah kita menggerutu sambil sesekali bercanda.
“Elu lupa bilang sih Bal kalo kita ini orang Banten. Peluru doang mah kebal.”
“Bahaya Tong, kalo mereka percaya dan kita diminta jadi sasaran tembak gimana?”
“Apes aja kita. Hahaha.”
Sudahlah mau gimana lagi, cara terbaik untuk mengatasi keadaan konyol kayak gini ya dengan ketawa-ketawa konyol juga.
Pas sampe terminal Cisarua, adzan Magrib berkumandang. Kami shalat. Hujan turun dengan deras. Centong mencoba menghubungi temennya yang tinggal di daerah Ciwidey, dia masih mengusahakan untuk bisa kemping di sana. Ternyata nggak bisa, temennya bilang angkot ke Ciwidey paling malem sampe jam 8 dari Leuwi Panjang. Sedangkan jam 7 aja kita masih ada di pinggiran banget kota Bandung.
Baguuuusssss, gue makin terjebak di keadaan aneh ini. Centong yang punya banyak pengalaman bingung, si Eneng yang orang Bandung bingung, apalagi gue yang nggak punya pengalaman dan bukan orang Bandung.
“Udah lah, kita keliling Bandung aja. Santai lah…”
“Bener, wisata kuliner ya. Malem minggu gini biasaya rame.” Eneng ikut semangat. Gue juga berusaha membangkitkan mood lagi.
Kami pun menunggu angkot jurusan Cisarua-Ledeng di depan sebuah warung. Hujan makin deras. Setengah jam kita nungguin angkot tapi nggak ada satupun yang lewat. Eneng bertanya kepada pemilik warung, dan memang angkot cuma ada sampe jam 6 sore. Gue agak kesel sama pemilik warung yang udah tau dari tadi kalo kita lagi nunggu angkot, KENAPA NGGAK BILANG DARI TADI????
Akhirnya kita nyarter angkot seharga Rp.75.000 bertiga dari Cisarua ke terminal Ledeng. Tujuan kami atas rekomendasi dari Eneng adalah wisata kuliner di Punclut. Mantap ya, dari rencana semula naek gunung jadi wisata kuliner di tengah kota.
“Ntar kita nginep dimana Tong?” Tanya gue di dalem angkot.
“Kosan adek gue aja.”
“Dimana kosan adek lu?”
“Di Bandung.”
“Dodol. Maksud gue daerah mana. Deket nggak ama Punclut?”
“Gue juga belom pernah ke kosan dia. Nanti deh gue telepon.”
“Yaudah telepon sekarang aja.”
“Nanti aja, baru juga jam segini, santailah….”
Kami turun di terminal Ledeng, dua kali ganti angkot dan keujanan. Tiap orang yang papasan sama gue dan Centong pasti ngeliat keheranan, karena dimana-mana anak muda Bandung malem minggu gini pergi berdua sama pacarnya dengan dandanan necis. Lah kita keluyuran di tengah kota pake celana kargo pendek, sandal gunung, plus keril. Tapi gue cuek aja, semoga orang-orang itu nganggepnya gue turis dari Swedia.
Di sebuah perempatan kami turun.
“Ini Punclut, hayu langsung cari makan ajah. Yang enak dan khas, mana?” Centong semangat.
“Bukan di sini, Punclut masih naek ke atas lagi. Harus naek angkot dulu sekali.”
Setengah jam kemudian. Kami masih nunggu angkot dan belom ada yang lewat. Dari seorang bapak-bapak kami dikasih tau kalo angkot ke Punclut cuma ada sampe abis magrib doang. Alesannya, kalo angkot masih beroperasi sampe malem, maka tukang ojek di situ nggak kebagian penumpang. Tapi naek ojek itu mahalnya nggak ketulungan, mentang-mentang kita butuh.
“Udah jalan kaki aja, kita kan pendaki.” Centong memutuskan. Gue udah lelah banget, baik secara fisik maupun psikis. Gue ikutin aja apa yang dibilang Centong. Lama-lama Centong nggak kuat juga.
“Udah lah nggak usah ke Punclut, langsung ke kosan adek gue aja. Pake taksi biar cepet!” Centong hopeless.
“Mahal Tong.”
“GUE YANG BAYAR!” Mental juragan jengkolnya Centong muncul.
Yang nggak kami tau adalah, saat itu malem minggu, lagi rame-ramenya. Kuliner di Punclut sana pasti rame. Akibatnya taksi susah dicari. Taksinya doang sih banyak, nah yang kosong itu nggak ada. Tapi kebetulan ada taksi yang berenti di depan kami dan nurunin penumpang. Langsung gue setop.
“Pak, taksi!”
“Kemana dek?” Tanya si sopir.
“Tong, kemana?” Gue melempar pertanyaan ke Centong.
“Kosan adek gue.”
“Ke kosan adeknya dia pak.” Kata gue dengan dodolnya.
“Kosan adeknya dimana dek?”
Suasana mendadak hening. Angin bertiup makin kenceng dan dingin, petir menyambar-nyambar, gerimis makin rapat.
“Tong?”
“Oh iya, gue belom nanya adek gue. Bentar yah Pak saya telepon dulu.” Centong mengeluarkan HP dari tasnya. Dan….
“Bal, pulsa gue abis. Pake HP lu.”
Lowbatt.”
“@$%^&(&%$#@CCJKGGH###%&*$%$#@#$%”
“Pak, taksinya nggak jadi.” Kata gue sopan dan buru-buru pergi sebelum si sopir taksi ngeluarin senapan mesin dan memberondong kami.
Taksi pun pergi dengan tatapan nggak ikhlas.
Gue laper, lelah, ngantuk, keujanan pula. Sekedar mengingatkan, kemaren malemnya gue dan Centong belom tidur sama sekali. Gue nggak pernah liat Centong sebego ini dan juga gue nggak pernah ngerasa setolol ini sebelumnya pada diri gue sendiri.
Akhirnya kami melupakan kosan adeknya Centong, kami juga melupakan wisata kuliner ke Punclut. Ujung-ujungnya makan malam kami di malam minggu yang basah itu adalah, masakan Padang.
Tampang kami bertiga udah lecek. Udah nggak kayak pendaki keren lagi.
“Kita ini orang paling kaya sedunia Tong, sehingga mau makan nasi Padang doang jauh-jauh dateng ke Bandung.”
“Hahaha…”
Kita bertiga cuman bisa ketawa malam itu sambil menikmati rendang dan ayam pop. Kenyang makan, pikiran Centong langsung jernih.
“Gini aja, gue baru inget kalo gue punya junior waktu SMA yang kuliah di ITB. Gue isi pulsa dulu, trus telepon dia buat nebeng tidur dikosannya.”
Centong nelpon juniornya itu, sementara si Eneng pamit pulang. Gue dan Centong nunggu taksi lagi diperempatan untuk ke kosan temennya. Saat nunggu itu gue habiskan dengan diam. Centong juga, nggak mood buat ngomong. Udah terlalu lelah mungkin. Keril di punggung udah nggak ketahan beratnya, kaki juga udah lemes. Dan yang paling menyengsarakan adalah mata yang udah minta istirahat.
“Taksi nggak ada yang kosong, Tong. Minta jemput temen lu aja deh.”
Centong langsung nelpon, dan syukurnya temennya bersedia jemput. Agak nggak enak juga sih, udah numpang minta jemput juga. Tapi daripada gue tidur di perempatan jalan dan paginya kena razia Kamtibnas, mending ngerepotin orang sedikit deh.
Kami pun menunggu temennya Centong dalam gerimis dan temaram lampu kota Bandung yang membiaskan air hujan sehingga membentuk lingkaran pelangi disekitarnya. Suasana yang romantis kalo aja disebelah gue cewek cantik dan bukan Centong.
Tiba-tiba gue teringat dia. Gue cek HP dan belom ada satupun SMS dari dia yang masuk. Kangen. Gue coba telepon. Nyambung sih, tapi nggak diangkat. Gue coba lagi, nyambung lagi tapi nggak diangkat. Gue coba lagi, dan nyambung tapi di reject. Ah, sudahlah.
Disaat temennya Centong udah bersedia menjemput, ada taksi berenti di depan kami. Si sopir membuka kaca,
“A’, taksi?”
Gue dan Centong dengan kompak menggeleng. Emosi. Tadi aja susah banget dicari. Gue pengen banget ngelempar tuh taksi pake keril, tapi ini kan kampung orang dan gue takut dibakar massa. Maka gue urungkan niat jahanam itu.
Kami pun dijemput dengan dua motor. Menuju kos-kosan di deket kampus ITB. Sampe kos-kosan gue ngobrol sebentar dengan dua orang juniornya Centong ini. Sebelum akhirnya gue nyerah dan tidur nyenyak banget. Nggak pake ganti baju dan mandi. Nikmat!
*  *  *
Gue terbangun jam 6 pagi. Butuh waktu beberapa detik untuk gue sadar dimana gue terdampar. Wangi kopi jahe membantu gue untuk cepat-cepat sadar. Ternyata Centong udah bangun dan nyeduh kopi. Sementara temennya tertidur di samping gue. Entah kemana temennya yang satu lagi.
“Bal, mumpung lagi di Bandung, kita ke Trans Studio yuk!” Ajak Centong. Gue langsung bangun dari tempat tidur. Ide brilian nih. Gue mulai antusias lagi dan mulai melupakan tragedi Burangrang dan kandang sapi.
“Hayu, gue belom pernah kesono!”
“Ya udah sekarang mandi dulu sono. Trus berangkat.”
“Keril gimana? Masa mo naek roller coster pake keril, bisa ditahan satpam kita.”
“Ntar kita ke kosan adek gue dulu, naro keril. Gue udah tau alamatnya kok.”
Gue pun mandi dengan semangatnya. Pagi-pagi mandi aer dingin di Bandung dan terbayang-bayang naek wahana di Trans Studio, sebuah theme park indoor yang mengklaim sebagai yang terbesar di dunia. Mantap dah. Selesai mandi, ganti baju, dan siap berangkat.
“Ayo Tong, berangkat!”
“Sarapan dulu. Santailah…”
Oke, gue dan temennya Centong beli sarapan dulu diujung gang. Nasi kuningnya oke juga, enak banget. Udah gitu dapet bonus ngeliat mahasiswi-mahasiswi ITB yang belom pada mandi beli sarapan juga. Sebagian kecil kenikmatan surga terasa pagi itu.
Sekarang mandi udah, sarapan udah, ngecengin mahasiswi cakep tapi nggak berani kenalan juga udah, saatnya berangkat.
“Ayo Tong berangkat.”
“Ntar, baru juga jam berapa. Santailah…”
Gue mesti hati-hati kalo si Centong udah bilang, “Santai lah…”. Dari kemaren ngomong gitu terus dan jadi mulur jadwal perjalanannya. Hari itu bersihnya kita ninggalin kos temennya Centong jam sebelas siang. Kita naek Damri menuju Leuwi Panjang.
“Tong, gue balik aja deh ke Cilegon.”
“Kenapa? Ga ke Trans Studio dulu?”
Next time deh.”
Pertimbangan gue gini, udah tengah hari gini dan sampe kosan adeknya Centong aja belom. Ditambah lagi nih anak belom tau persis dimana tempatnya. Mau sampe Trans Studio jam berapa coba? Kalopun sampe Trans Studio, di hari minggu pasti rame dan antri, paling juga kebagian foto ama badut doang. Dan gue juga mesti mikirin pulang ke Cilegon juga. Pulang ke Cilegon adalah pilihan terbaik.
Gue dan Centong duduk terpisah di bus Damri. Dua-duanya memandang kosong ke arah luar bus. Bus lewat jalan-jalan utama kota Bandung yang banyak banget perempatannya. Sulit untuk melakukan pemetaan kota ini kalo baru dateng sebentar kayak gue. Lewat Dago banyak banget oleh-oleh yang seolah memanggil gue untuk turun dan beli. Centong juga ngajakin. Tapi dengan mood yang udah nggak enak, dan bawa-bawa keril berat kayak gini, nggak deh, makasih. Bandung…lain kali gue akan balik lagi dengan kondisi yang lebih baik.
Gue dan Centong berpisah di Leuwi Panjang, dia memutuskan untuk muter-muter dulu di Bandung dan ke kosan adeknya. Kita sempet makan siang bareng sebelum dia nganterin gue ke bus jurusan Merak. Gue dan Centong, si mister ‘santai lah’, akhirnya berpisah.
Di bus, semua yang gue alami dua hari ini kembali terlintas berkelebat. Mulai dari hati yang galau, rencana mendadak di restoran junk food, maen futsal, nggak tidur, bus Serang-Bandung, Centong, Leuwi Panjang, Cimahi, Universitas Advent, Cisarua, kandang sapi, tentara, latihan perang, peluru tajam, hujan, Eneng, Punclut, keril, taksi, masakan Padang, temennya Centong, nasi kuning, mahasiswi ITB, Damri, Dago, Trans Studio, dan akhirnya kembali ke Leuwi Panjang. Semuanya terjalin begitu rapih.
Lama-lama gue tersenyum dan menyadari benang merah dari itu semua. Gue emang gagal naek sampe puncak. Tapi coba resapi betul-betul. Gue dan Centong nggak dalam kondisi badan yang fit karena kurang tidur, udah gitu ada Eneng yang ikut gabung tapi dengan peralatan seadanya, terus malem itu hujan turun deras, coba banyangkan kalo saat itu gue, Centong, dan Eneng tetep naek. Badan capek kurang tidur, si Eneng pasti basah kuyup karena keujanan dan nggak bawa jas ujan. Betapa repotnya kami. Naek gunung kan betul-betul harus siap lahir-batin, salah-salah nyawa yang jadi taruhannya. Anggap aja Tuhan menganggap kami nggak siap lahir-batin saat itu. Jadi Tuhan nggak mengijinkan kami naek ke alam ciptaan-Nya yang suci. Kamipun nggak diizinkan keliling Bandung karena memang sudah seharusnya badan kami istirahat. Dia Mahatahu apa yang nggak diketahui hamba-Nya. Bahkan untuk urusan badan kami sendiri pun kami nggak tahu, manusia memang bodoh dan egois. Tuhan Mahabaik di segala kondisi. Gue terima apa yang terjadi dengan gue selama dua hari itu.
Ada banyak yang bisa gue ambil dari sebuah perjalanan, termasuk kali ini, seaneh apapun perjalanan itu. Pertama, jangan pernah percaya kata-kata “Santai lah…” dari partner jalan-jalan anda, atau anda akan nyasar ke kandang sapi.
Kedua, jalan-jalan bisa membuka paradigma baru akan sesuatu. Nggak usah jauh-jauh, gue nemuin sesuatu yang lain dalam diri sahabat gue, Centong. Dibalik jiwanya yang bebas dan penuh petualangan, ada juga bagian kelam, hitam, bahkan merah jambu dan sangat berbeda dari apa yang gue kira. Kalo mau mengetahui karakter sebenarnya dari seseorang, ajaklah dia jalan-jalan atau naek gunung dengan ngelewatin kandang sapi. Nggak perlu bertanya-tanya kenapa begini, kenapa begitu, orang itu akan bercerita dengan sendirinya tentang dirinya dan pandangannya akan sesuatu, lalu anda akan terkejut.
Ketiga, Leuwi Panjang mengingatkan gue bahwa sejauh apa pun kita pergi, setinggi apa pun kita mendaki, seluas apa pun impian kita bentangkan, selalu harus ada jalan untuk kita pulang dan memulai sesuatu yang baru lagi. Bandung, gue jatuh cinta sama kota ini, tapi gue tetap harus pulang juga kan? Cinta, I’m home.
Dan terkahir…. Tiba-tiba HP gue bergetar dan masuk sebuah SMS. Gue deg-degan. Gue buka. Dari dia!!!!. Gue baca. Hening. Dan akhirnya penantian gue selama beberapa hari tuntas sudah. SMS singkat itu seperti menjelaskan semuanya dan gue mengerti, gue terima. Walaupun buat gue itu nggak adil. Begini isinya, “Kita udahan aja.”
Tanpa ada niat untuk membalasnya, gue matiin HP.
 Bandung sore itu hujan deras, sangat deras tapi indah. Seperti sebentuk hati yang tersenyum lega dengan air mata dan tahu kapan harus mengakhiri sesuatu.
Dan gue pulang…. =)

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya….”



You Might Also Like

3 comments

  1. Seneng sekaligus sedih bacanya, seneng karna bisa ngakak dan sedih karna kepanjangan :D
    tapi keren, jadi inget juga pernah terdampar gebelek hampir seminggu di Bandung tanpa perencanaan juga ada sedikit insiden hati yang gue anggrp saja sudah selesai :D

    ReplyDelete
  2. Nggak bisa komeng pake link blog, cuma bisa google account, yasudah.. gue cuma mau bilang; "kita udahan aja"
    *krik krik* sepi.

    ReplyDelete
  3. entar kalo mau ke gunung via bandung kabari ane.ya..... salam kenal dari org bandung yang udah jadi warga banten alwin 0818 0900 2483

    ReplyDelete

Google+ Badge

Arsip Blog